Sunday, July 12, 2015

Berbagi di Bulan Ramadhan

Ramadhan ini, ada tiga acara menulis yang spesial. Saya katakan spesial karena baru kali ini saya mengisi acara pelatihan menulis di bulan ramadhan. Sebelum-sebelumnya, saya justru menyelesaikan naskah di bulan ramadhan supaya sebelum mudik semuanya sudah beres. Tahun ini, kebetulan saya tidak punya target naskah di bulan ramadhan. 

Alih-alih mencari-cari kesibukan seperti biasanya (saya tipe yang nggak bisa diam, jadi kalau nggak mengerjakan sesuatu, biasanya saya mencari-cari kesibukan hehe), saya menyibukkan diri dengan anak-anak. Nah, tanpa saya duga ada dua undangan datang. Yang pertama dari ibu-ibu kemuslimahan masjid di kompleks saya tinggal. Yang kedua dari salah seorang teman yang kebetulan, anaknya bersekolah di sekolah yang sama dengan anak-anak saya. Katanya ada tiga acara? Kok hanya dua? Hehe, yang ketiga adalah acara yang saya gagas bersama kedua teman saya. Seperti yang saya bilang, akhirnya saya nggak betah diam saja. Saya akan ceritakan satu per satu.

Wednesday, June 17, 2015

[Dimuat di Kompas] Kartini Bagi Lili



Tulisan ini dimuat di Rubrik Nusantara Bertutur, Kompas 19 April 2015. Versi cetak ditambah satu kalimat pembuka. Jika ingin mengirimkan tulisan untuk Nusantara Bertutur, berikut ini syaratnya (saya copas dari FB Nusantara Bertutur):
Cerita harus menyampaikan minimal satu pesan moral dari 10 karakter unggul Nusantara Bertutur, yaitu :
Religius, jujur.
Disiplin, kerja keras, mandiri.
Aktif, kreatif, bersemangat, rasa ingin tahu.
Demokratis, toleransi, cinta damai.
Semangat kebangsaan, cinta tanah air.
Menghargai prestasi.
Bersahabat, berkomunikasi.
Gemar membaca.
Peduli sosial.
Peduli lingkungan
Panjang naskah maksimal 2500 karakter.
Kirim melalui email nusantarabertutur@gmail.com


Kartini Bagi Lili

Nusantara Bertutur, Kompas 19 April 2015 

“Siapa mau pinjam buku?”
“Aku pinjam, Kak. Aku suka lihat gambarnya, bagus,” terdengar suara Dito, salah satu teman Lili.
“Kamu lagi,” kata Lili saat mendengarnya.“Anak-anak di sini sibuk kerja. Lagipula, mereka nggak sekolah. Tidak bisa baca,” ujar Lili ketus.
“Mereka pinjam buku-bukuku, lho,” kata Arin.
Lili terdiam. Sesungguhnya, Lili iri. Pasti, dalam buku itu banyak cerita menarik. Sayangnya, Lili tak bisa melihat, apalagi membacanya.
“Aku bacakan, ya,” Arin menawarkan. "Di sebuah istana tinggallah seorang putri...”
“Yang cantik, baik hati dan penolong,” potong Lili. “Bosan, ah dengar cerita itu,” omel Lili.
Tawa Arin terdengar, “Kamu kan belum tahu jalan ceritanya.”

Monday, April 20, 2015

[Resensi] Si Kembar Wajah, Beda Orangtua


Judul                          : Go, Keo! No, Noaki! Dobel Kacau
Penulis                        : Ary Nilandari
Ilustrator                     : Dyotami Febriani
Jumlah Halaman           : 140 halaman
Penerbit                     : Penerbit Kiddo
Cetakan                      : Maret 2015

Keo setuju pindah rumah dan sekolah supaya Mami bisa mengurus bisnis dari rumah. Keo tak menyangka di tempat baru, bertemu anak perempuan yang mirip sekali dengannya. Nama anak itu, Noaki. Keo bagai bertemu kembaran beda orangtua! Keo sebenarnya mau saja berteman dengan Noaki.  Sayangnya, Noaki luar biasa jutek!
Bertemu Noaki dan 6 orang teman akrabnya membuat perasaan Keo campur aduk. Senang sekaligus kesal. Senang, karena berkenalan dengan Noaki artinya sekaligus berteman dengan 6 orang temannya yang unik-unik karakternya. Kesal, karena mereka tak membiarkan Keo masuk ke kelompok mereka begitu saja. Ada saja cara Noaki dan teman-temannya untuk membuat Keo ragu mendekat.
Bayangkan, baru kenal saja, Keo sudah ditantang “duel secara beradab”. Untuk memenangkannya, Keo harus mencari sepatu paling bau! Tentu saja ini tidak mudah. Di mana Keo harus mencari sepatu bau?
Setelah itu, masalah lain datang bertubi-tubi.  Mulai dari teman yang sangat perhatian tapi bikin Keo tidak nyaman, pelajaran matematika yang menyebalkan buat Keo, hingga SMS misterius yang membuat Keo merasa selalu diawasi. Rupanya, pindah malah membuat hidup Keo semakin rumit. Apakah Keo berhasil menyelesaikan semua masalahnya?

Walaupun bersahabat, kita pasti pernah juga punya masalah dengan teman, kan? Dari Keo dan Noaki kita bisa belajar menyelesaikan masalah. Seru dan menarik!

Saturday, March 14, 2015

[Artikel Wisata] Keliling Bangkok, Naik Apa Pun Bisa

Salah satu tulisan pendek saya yang dimuat di media. Kali ini di Koran Pikiran Rakyat. Idenya sederhana kok, saya sedang ngubek file dan menemukan banyak foto-foto alat transportasi waktu jalan-jalan ke Bangkok.
Untuk mengirimkan tulisan ke rubrik Pariwisata Koran Pikiran Rakyat ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Buat tulisan sepanjang 2 halaman, 1,5 spasi. Nggak panjang kan?
2. Fokus saja pada satu topik yang ingin diangkat. Jujur, berdasarkan pengalaman kita.
3. Sertakan 3-5 foto. Pastikan fotonya kualitas bagus.
4. Kirim ke redaksi@pikiran_rakyat.com. Cc ke hiburan@pikiran_rakyat.com.
Di bawah ini tulisan saya yang dimuat di Pikiran Rakyat 14 Juni 2014. 

Foto dapat dari Mbak Asri Andarini

Jalan-jalan Keliling Bangkok, Naik Apa Pun Bisa

            Tidak perlu pusing memikirkan masalah transportasi di Bangkok. Pasalnya, alat transportasi massal di sini teratur, bersih, dan nyaman. Pilihannya pun beragam. Mau naik MRT (subway), silakan. Ingin menikmati pemandangan dari atas BTS (Bangkok Skytrain), boleh. Ingin melihat kehidupan di sepanjang Chao Praya melalui river cruise, ayo. Atau, ingin menjajal tuk-tuk?
            Enaknya, di Bangkok antara jalur transportasi satu dengan yang lainnya tertata apik. Di beberapa perhentian ada interchange yang memudahkan kita beralih dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Sebelum menjelajah Bangkok, mari kenali satu per satu alat transportasinya.

Airport Rail Link
Airport Rail Link adalah kereta yang bermuara di Bandara Svarnabhumi. Ada dua jenis kereta yaitu Airport Express dan Airport City Line. Sesuai namanya, Airport Express lebih cepat. Sedangkan Airport City Line berhenti di beberapa stasiun.

MRT
MRT atau subway tersedia mulai dari stasiun Hua Lamphong sampai Bang Sue. Keretanya sangat bersih, demikian pula stasiunnya. MRT melintas setiap beberapa menit sekali. Jadi, tak perlu khawatir menunggu lama. Untuk menaikinya, kita perlu menggunakan koin sejenis token. Awalnya, saya sempat berpikir, apakah mereka tak kesulitan mengelola sampah plastik dari token ini? Ternyata, jawabannya sederhana. Token itu kembali lagi pada mereka karena setelah digunakan, token harus dimasukkan kembali ke suatu alat di pintu keluar setiap stasiun. Kalau tidak, tentu saja kita tidak bisa keluar dari stasiun.

BTS (Bangkok Skytrain)
Mirip dengan MRT, monorel berjalan di atas rel. Bedanya, dari dalam BTS kita bisa melihat pemandangan kota Bangkok. Ada dua jalur BTS yaitu Sukhumvit Line dan Si Lom Line. Tiketnya, seharga 15-40 Bath. Saya terkesan dengan pola antri masyarakat Bangkok. Saat berada di sebuah stasiun BTS pada jam sibuk, calon penumpang rela mengantri berjajar ke belakang. Tidak ada yang sengaja mendahului di depan garis yang telah ditetapkan sebagai batas atau mendesak masuk saat penumpang keluar dari dalam BTS. Pemandangan yang langka saya temui di Indonesia.

River Cruise
Ada yang kurang rasanya kalau ke Bangkok tanpa naik river cruise atau boat. Chao Praya yang membelah Bangkok tidak membuat masyarakat Bangkok kesulitan bepergian ke seberangnya. Ada beberapa pilihan river cruise, yaitu yang berbendera oranye, kuning, dan hijau. Masing-masing memiliki panjang jalur yang berbeda, meski sebagian besar melalui perhentian yang sama. Yang perlu diperhatikan, river cruise berbendera kuning khusus untuk wisatawan dengan one day pass. Sedangkan yang berbendera oranye biasa digunakan masyarakat umum untuk bepergian, berangkat bekerja, ataupun pulang. Selain itu, ada juga express river cruise, yang tidak berhenti di setiap perhentian.
Di dalam river cruise masing-masing tempat duduk memiliki pelampung di bawahnya. Salah satu hal yang wajib dicontoh pula.

Tuk-tuk
Tuk-tuk atau “sam lor”, merupakan alat transportasi khas Bangkok yang tak sabar saya coba ketika menjejakkan kaki di sana. Bentuknya seperti becak, beroda tiga tapi bermotor. Kalau dilihat sepintas, kita akan sepakat bahwa inilah yang seringkali kita sebut bajaj, di Jakarta.
Kunci berkendara menggunakan tuk-tuk adalah pandai menawar. Jadi, sebaiknya kita tahu jarak yang akan kita tempuh supaya bisa memperkirakan kepantasan harganya. Menawar sekitar 10-5 Bath lebih rendah merupakan hal yang wajar.
Meski tuk-tuk lebih gesit ketimbang taksi, tetapi mengingat kendaraan ini terbuka, asap dan debu bisa dengan mudah masuk. Jadi,ada baiknya mengenakan masker agar terhindar dari debu.

Satu lagi tips menaiki tuk-tuk, waspadalah terhadap tuk-tuk yang menawarkan berkeliling dengan harga sangat murah. Terkadang, mereka memberhentikan atau memaksa kita ke suatu tempat supaya kita membeli sesuatu (misalnya ke toko souvenir). Apa untungnya bagi mereka? Mereka mendapatkan imbalan dari toko tersebut jika bisa membawa calon pembeli. [Fita Chakra]

Monday, March 9, 2015

[Resensi] Dengan Pujian, Bukan Kemarahan

Repost dari notes FB saya tanggal 16 Agustus 2010.


Judul     : Dengan Pujian, Bukan Kemarahan 
Penulis  : Nesia Andriana Arif
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2010

Buku ini saya "temukan" di deretan rak terdepan di Gramedia Central Park. Meskipun tidak ada di dalam list belanjaan saya, akhirnya buku ini tetap saya beli mumpung diskon lumayan :) Buku-buku parenting termasuk jenis buku yang saya sukai, jadi tak ada salahnya kan?

Dari awal, buku yang ditulis berlatar belakang negeri Sakura ini banyak membukakan mata dan hati saya. Berdasarkan pengalaman penulis tinggal selama kurang lebih 12 tahun di Jepang, banyak hal-hal yang ditangkap dan dituangkan di dalam tulisan-tulisan di buku ini. Buku ini sarat makna. Mengenai bagaimana rupa pendidikan formal di Jepang mulai dari hoikuen (tempat penitipan anak), youchien (TK), kids supporter hingga SD. Mengenai bagaimana umumnya orang tua di Jepang mendidik anak-anaknya. Dan, juga menanamkan kemandirian dan tanggung jawab.

Layaknya dua sisi mata uang, tidak semuanya yang baik-baik tergambar di sini. Namun demikian, banyak hal baik yang bisa saya ambil manfaatnya dari buku ini. Saya sangat terkesan dengan salah satu judul bahasan di dalam buku ini yang berjudul "Mangkuk Nasi yang Dibawa Berlari". Inilah refleksi kehidupan yang sering saya lihat sehari-hari, dimana para ibu atau asisten rumah tangga berupaya membuat anak-anak makan dengan cara menyuapi anak tersebut sambil berjalan-jalan. Seringkali, saya bahkan melihat anak-anak itu digendong sambil berjalan-jalan agar mau makan. Sementara di Jepang, mulai usia satu tahun anak sudah dilatih duduk manis saat makan. Pada usia 3 tahun, anak-anak sudah dilatih makan sendiri.

Saya tak mau munafik, saat anak pertama saya pernah mendapatkan perlakukan seperti ini dari saya. Syukurlah hal ini tak berlangsung lama. Lalu saat kelahiran adik-adiknya, mereka tidak pernah saya perlakukan seperti ini. Bukan karena membedakan, tetapi karena kedua adiknya adalah anak kembar yang membuat saya tak bisa menggendong mereka dua-duanya sambil menyuapi!Tetapi sesungguhnya  alasan terbesar saya adalah karena tidak mau membuat mereka terbiasa makan dengan cara seperti itu. Saya tidak mau hal ini menjadi kebiasaan yang berlanjut terus. Anak-anak harus bisa makan sendiri dan duduk manis di kursi saat makan.

Bagian lain dari buku ini yang berjudul "Saat Anak Jatuh" juga merupakan salah satu kisah favorit saya. Disitu dikisahkan bagaimana para ibu di Jepang sebagian besar akan bersikap biasa saja saat anaknya jatuh. Mereka tidak akan terburu-buru mendatangi anaknya lalu dengan suara panik mencemaskan keadaan anaknya. Sebaliknya, mereka bereaksi dingin, mengatakan "Jangan menangis!", "Tidak apa-apa!" jika anak-anak jatuh. Penulis menutip sebuah artikel yang mengatakan bahwa pola asuh seperti itulah yang menjadi salah satu faktor yang telah berhasil membentuk manusia-manusia Jepang sebagai sosok pekerja keras nan ulet.

Meskipun akhirnya penulis sendiri mengakui bahwa dia tidak yakin apakah sikap seperti itu yang pantas diperlihatkan saat anak jatuh, sedikit banyak saya menangkap maksud dari tulisan ini. Bahwa ada baiknya jika orangtua tidak bersikap berlebihan memperlakukan anaknya seperti kaca yang mudah pecah. Sikap seperti itu bisa membuat anak jadi mudah panik, takut melangkah,dan membayangkan hal-hal yang paling buruk saat tertimpa masalah.

Satu hal terakhir yang mengesankan di buku ini yaitu penggambaran pendidikan di Jepang yang tidak mengenal sistem peringkat di kelas.  Rapor siswa di sekolah untuk kelas satu dan dua dibuat tiga level yaitu perlu lebih berusaha, bisa, dan benar-benar bisa. Ini dibuat agar anak-anak tidak turun semangat belajarnya.Di sinilah saya sempat termenung sejenak dan membandingkannya dengan sistem pendidikan disini yang sangat berbeda.

Pendek kata, seluruh isi buku ini sepanjang 294 halaman habis saya baca dalam waktu sehari semalam. Menandakan bahwa isinya mudah dicerna dan cukup menarik bagi saya, hingga saya tak kuasa melepaskan buku ini sekejap saja.:)

Sunday, March 8, 2015

[Review] Mendidik Karakter dengan Karakter




Judul      : Mendidik Karakter dengan Karakter
Penulis    : Ida S. Widayanti
Penerbit : Arga Tilanta
Cetakan  : 1, Februari 2012


Have you seen my Childhood?
I'm searching for the world that I come from
'Cause I've been looking around
In the lost and found of my heart...
No one understands me

(Childhood-Michael Jackson)

Buku ini dibuka dengan penggalan lagu berjudul Childhood yang dinyanyikan oleh King of Pop alias Michael Jackson, yang ketika saya mencoba mendengar lagunya, saya bisa ikut merasakan kesedihannya. Berkaca dari Michael Jackson kita semua tahu bahwa masa kecil merupakan pondasi awal kehidupan manusia. Masa kecil Jacko yang habis untuk berlatih dan tampil membuatnya tak punya kesempatan bermain. Jacko yang mengaku tak pernah punya masa kecil yang bahagia ini, tumbuh menjadi sosok pencari kebahagiaan. Jacko membangun Neverland (sebuah taman bermain yang diimpikan), mengganti-ganti wajah dan melakukan apa saja yang disukai dengan uang yang diperoleh. Nyatanya, dia tetap merasa hampa. Itulah sebabnya dikatakan oleh penulis buku ini bahwa, kebahagiaan masa kecil tampaknya sepele, namun sungguh sangat penting (hal 8).

Selanjutnya, penulis menyajikan ilustrasi cerita pada setiap bab beserta pembahasannya. Saya akan ceritakan dan kutipkan beberapa cerita yang menarik perhatian saya. Pada cerita berjudul "Citra" penulis memberikan ilustrasi bagaimana lingkungan sekitar dan keluarga sangat memengaruhi pemikiran dan perilaku anak. Seorang ibu yang selalu membawa serta anaknya di salon untuk bekerja ternyata memberikan gambaran kuat tentang perempuan pada anak lelakinya. Tak heran, ketika dewasa, si anak cenderung memilih profesi yang dekat dengan wanita yaitu fashion designer. Sekilas tak ada yang salah dengan profesi ini. Bukankah wanita atau pria berhak menjadi fashion designer? Tunggu dulu... , rupanya si anak ini  merasa gelisah karena menyukai sesama jenis. Dia tahu bahwa hal ini berbeda, namun tak kuasa menghentikan perasaannya. Di dalam buku ini dikatakan, Ibu dan wanita dewasa di sekeliling anak pada masa kecil akan menjadi perwakilan dari (citra) wanita secara umum. (hal 35). Apabila ibu dan wanita dewasa di sekelilingnya tampak mulia dan terhormat di matanya, begitupun citra yang akan tercipta di pikiran si anak. Sebaliknya, jika ibu dan wanita dewasa di sekelilingnya memberikan citra yang negatif, kita akan paham apa yang dipikirkan anak.

Cerita lain yang tak kalah menarik berjudul "Anak dan Kegiatan Menulis". Seorang ibu terkejut ketika membaca tulisan anaknya yang berbunyi, "Bercanda itu tujuannya menyenangkan teman. jika kita bercanda lalu teman kita merasa tidak nyaman, itu berarti bukan bercanda." Tenryata, diam-diam, anak ini punya persepsi tentang bercanda berdasarkan pengalamannya. Sedangkan di tempat lain, seorang guru mengetahui anak didiknya sedang memiliki masalah saat melihat coret-coretan anak tersebut. Rupanya, ada hubungan yang erat antara anak dan kegiatan menulis. Kegiatan mencurahkan isi hati (self disclosure) dapat berpengaruh positif pada perasaan, pikiran, dan kesehatan tubuh dalam jangka panjang juga berpotensi melindungi tubuh dari kerusakan akibat stres yang tersimpan di dalam diri (hal 51). Saya senang mengetahui kegiatan menulis ini sangat bermanfaat. Sejujurnya, di kelas menulis yang saya bimbing, saya menemukan banyak sekali curahan hati anak-anak yang tergambar dari goresan tangannya. Misalnya, saya tahu seorang anak lelaki punya minat besar pada pesawat terbang ketika dia selalu menulis cerita tentang berbagai jenis pesawat; saya tahu si anak punya keluarga yang hangat dari caranya menceritakan ayah, ibu dan kakak-kakaknya; saya tahu si anak merasa disishkan karena kelahairan adiknya, juga melalui tulisan mereka. 

Bagaimana dengan bullying? Dalam cerita berjudul "Kasih Sayang dan Kelembutan" diceritakan bagaimana seorang sahabat bertanya pada Rasulullah mengapa induk anak merpati yang dimasukkan ke sakunya mau masuk ke dalam saku untuk memberi makan sedangkan ada risiko dia akan tertangkap. Rasullulah menjawab "Cinta induk merpati dengan segala risiko memberi makan agar anaknya selamat, masih jauh lebih besar cinta Allah pada manusia, makhluk terbaik ciptaan-Nya. Segala risiko ditanggung Allah pada manusia, maka segala pemberiannya adalah yang terbaik (hal 130). Oleh karenanya, semarah apapun, dengan alasan apapun orang tua seharusnya bisa memberi keteladanan pada anak tanpa kekerasan.

"Menolong Diri Sendiri, Menolong Dunia" adalah salah satu bab yang saya sukai. Ilustrasi cerita di dalam bab ini cukup menyentil saya. Diceritakan seorang Ibu menyuapi anaknya yang sudah duduk di SD sambil mengomel, "Sudah besar masih disuapi, pakai baju, pakai sepatu masih dibantu, mandi masih dimandikan. Kapan mau melakukannya sendiri?" Padahal, semabri mengomel, sang Ibu tetap menyuapinya. Ya, kapan bisa mandiri kalau kita, orangtua, selalu siap membantunya? Orangtua harus memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan semuanya sendiri. Jangan terlalu mengkhawatirkannya karena anak-anak akan belajar dari proses. Saya kutip satu kalimat menarik di akhir cerita ini yang disampaikan oleh seorang guru, "Orangtua sering kali lebih bangga anak-anaknya menyelesaikan soal-soal rumit matematika daripada kemampuan dasar, seperti tali mengikat sepatu dan membereskan tempat tidur. Bagaimana ia akan menolong dunia jika menolong diri sendiri saja tak bisa?" (hal 100).

It takes a village to raise a child, begitu kata Hillary Clinton. Ya, walaupun tanggung jawab membesarkan anak yang terbesar ada pada orangtua, semua orang di sekitar anak tersebut ikut memengaruhi pikiran dan tindakannya. Karena itu, orangtua sebaiknya bekerjasama dengan guru, sekolah, tetangga, dan lingkungan sekitar agar anak tumbuh dalam lingkungan terbaik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah walaupun di sekolah orangtua menyerahkan anak-anak untuk menuntut ilmu. Anak-anak mendapatkan pelajaran pertamanya dari orangtua. Seberapa keras kerja guru di sekolah, orangtua adalah role model yang dilihat oleh anak-anak. Bagaimana orangtua bersikap dan berbicara akan menjadi tolok ukur bagi anak-anaknya. 

Sesungguhnya, buku ini tak cukup saya ulas dalam beberapa paragraf saja. Ada banyak hal yang membuat saya sebagai orangtua sekaligus guru, merasa tertohok. Misalnya, bab tentang pentingnya mendengarkan ketimbang menceramahi atau memberikan role model yang baik ketimbang menasihati. Membaca buku ini, membuat saya ingin membaca judul lain dalam seri ini. Saya berharap semua orang tua dan pendidik  membaca buku ini karena menanamkan karakter seharusnya memang dilakukan saat usia dini. 

Before you judge me,
try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my childhood?

(Childhood-Michael Jackson)

Thursday, January 15, 2015

Persiapan Travelling Ala Semi Backpacker Saat Winter #TravellingtoEurope (Part 3)

Pergi jalan-jalan saat winter itu susah-susah gampang. Susahnya, bawaannya jadi banyak karena bajunya tebel-tebel. Enaknya, nggak perlu sering ganti baju karena relatif nggak berkeringat. Bagi saya dan suami yang baru kali ini bepergian saat winter, tentunya butuh persiapan. Terlebih untuk saya yang  well prepared. Mengenai persiapan, saya dan suami sempat beberapa kaliadu argumen. Pasalnya, suami saya tipe easy going, jadi kalau saya bilang butuh beli ini itu sebelum berangkat hampir selalu dijawab, "Beli di sana saja."

Wednesday, January 14, 2015

Mengurus Visa Schengen di Kedutaan Jerman #TravellingToEurope (Part 2)

Setelah urusan penyandang dana beres, saya mulai mencari info mengurus Visa Schengen.  Semakin banyak baca, saya semakin pusing.  Masalahnya, yang saya apply ini visa kunjungan atau visa turis ya?

Yang pasti karena tujuan utama kami ke Jerman, apply visanya ke Kedutaan Jerman. Karena saya belum pernah mengurus visa, saya datang ke sebuah travel agen. Habisnya, tanya ke suami juga percuma. Selama ini dia ke luar negeri untuk urusan kantor. Jadi tinggal berangkat karena semuanya sudah diurus kantor.

Sampai di travel agen, saya disodori list syarat yang harus saya siapkan untuk mendapatkan visa. Biayanya 1,3 juta untuk pengurusan sekaligus visanya. Saya pikir-pikir nggak papalah bayar segitu kalau bisa bikin saya bebas pusing. Sebenarnya biaya resmi visa sekitar 60 Euro atau 910 ribu.

Nah, setelah ngobrol-ngobrol sama salah satu petugas travel agen itu, entah kenapa saya malah jadi ragu. Masalahnya begini, saya kan nanya, “Bagaimana kalau saya nggak nginap di hotel tetapi nginap di tempat adik saya?”
Jawabnya, “Ibu nggak perlu menyertakan surat konfirmasi hotel tetapi harus mengurus surat gementee dari walikota setempat.”
“Terus saya ini pakai visa turis atau visa kunjungan, Mbak?”
“Ibu tetap pakai visa turis tapi Ibu harus mengurus gementee itu.”

Yang mana setelah saya tanyakan pada adik saya, di sana nggak ada istilah tersebut. Yang ada adalah Verplicthungserklarung (ini surat susah banget nyebutnya, jadi saya dan adik saya bilang “klarung” saja hehehe), yaitu surat jaminan dari keluarga adik saya. Untuk mengurus surat itu, adik ipar saya (adik saya belum bisa mengundang karena belum lama tinggal di sana, belum punya resident permit) harus menyerahkan sejumlah deposit ke imigrasi setempat.

Urusan ini sempat bikin saya galau to-the-max, soalnya si petugas travel agen ngotot bahwa saya juga harus membuktikan keuangan walaupun sudah ada surat jaminan itu. Ini bikin adik saya berkomentar, “Sudah tanya ke petugas imigrasi di sini dan dia bilang bukti keuangan atau deposit. Nggak perlu dua-duanya karena itu opsi.”

Sambil nunggu surat jaminan itu selesai diproses, sekitar 1 minggu, saya mengurus kelengkapan lainnya, yang berderet banyaknya. Apa aja itu?
  1. Paspor. Pastikan masa berlakunya lebih dari 6 bulan dari tanggal kedatangan kita ke tujuan. Lampirkan paspor lama jika ada.
  2. Pasfoto berwarna terbaru ukuran 3,5x4,5=2 lembar. Latar belakang putih, di-zoom 70%. Saran saya, datanglah ke studio foto yang menyediakan layanan foto visa. Saya googling dan akhirnya memutuskan ke Jl. Sabang, di tempat itu banyak studio foto untuk visa. Saya pilih Studio Djakarta. Pengalaman saya, nggak lama kok. Ditunggu 15 menit selesai.
  3. Surat sponsor berbahasa Inggris di atas kop perusahaan. Yang ini, suami yang mengurus karena dia yang bekerja formal. Nama saya dicantumkan di surat tersebut. Inti surat itu untuk menjamin bahwa kami pergi atas biaya sendiri dan akan kembali karena memiliki pekerjaan tetap di Indonesia.
  4. Bukti keuangan 3 bulan terakhir, berupa fotocopy rekening Koran dan surat referensi dari bank. Jumlah saldo nggak ada ketentuan pasti. Travel agen bilang minimal 50 jt per orang. Kenyataannya, saya googling, mungkin nggak harus segitu sih, yang penting cukup untuk keperluan selama tinggal di sana. Sumber lain mengatakan, asalkan ada aliran dana keluar masuk sebesar nominal yang cukup selama tinggal di sana itu sudah oke. Jangan sampai tiba-tiba ada dana besar di rekening karena itu akan dianggap dana pinjaman. Yang ini, ternyata langsung dikembalikan saat saya wawancara di kedutaan. Padahal udah repot-repot ngurus di bank huhuhu. Ya, ternyata benar kata adik saya. Kalau sudah ada surat undangan dan jaminan, kami sebagai orang yang diundang, nggak perlu membuktikan keuangan.
  5. Fotocopy akte nikah, karena di sini saya ikut suami bepergian.
  6. Print out tiket pesawat. Urusan ini cukup bikin pusing juga, karena dicoba-coba reservasi sendiri ternyata mesti ngelewati menu payment dulu supaya bisa di-print. Padahal kami nggak mau dong bayar dulu sementara visa belum beres. Lagipula, kedutaan hanya minta tiket yang belum dibayar kok. Akhirnya setelah utak-atik, kami dapat tiket Qatar Airways dengan cara on hold booking alias belum dibayar. Lucunya, sebelumnya suami sempat kirim email ke Etihad untuk dibantu dan hari berikutnya mendapatkan itinerary tiket yang dimaksud. Jadi kami punya 2 tiket untuk urusan visa.
  7. Surat konfirmasi hotel. Meski nggak nginap di hotel selama di Jerman, saya hunting hotel di Amsterdam. Kami rencananya mau ke sana utnuk mengunjungi sepupu saya yang menikah sama orang Belanda. Kalau teman-teman ada yang mau book hotel untuk syarat visa, sekarang tidak bisa pakai voucher dari agen-agen semacam agoda dan sebagainya. Harus dari hotelnya langsung.
  8. Asuransi perjalanan dengan uang pertanggungan USD 50.000 atau 30.000 Euro. Awalnya, adik ipar saya memberikan beberapa opsi asuransi dari Jerman serta menawarkan untuk menguruskan di sana. Setelah membaca dan garuk-garuk kepala (maklum pakai bahasa Jerman, saya mesti pakai Google Translate untuk nerjemahin. Thanks to Mbah Google!), akhirnya saya putuskan urus sendiri. Saya pilih Travel Pro dari Allianz. Urusannya cukup mudah. Tinggal kirim email, dibales hari berikutnya. Saya diminta kirim scan tiket dan paspor lalu mereka buatkan polisnya. Saya transfer biayanya, sekitar  500 ribu untuk paket Family. Besoknya polis asli dikirim ke rumah.
  9. Surat undangan dan Verplicthungserklarung. Yang ini dikirim adik saya dari Jerman. Saya print email-email kami. Sempat bingung lagi (kebanyakan bingung ya?) apakah Verplicthungserklarung ini mesti ditunjukan aslinya atau tidak? Akhirnya ngikut kata adik ipar saya. Katanya, waktu ngundang ibunya, ditunjukkan pun nggak ditengok karena ini akan dibutuhkan di sana saat mereka mencairkan deposit. Jadi cukup copy saja. Ya wis, kami bawa copy saja. Yang akhirnya, sempet ditanya aslinya dong waktu kami ke kedutaan. Tapi etika saya bilang nggak sempet kirim karena sudah appointment hari ini, petugasnya minta kami bawa saat pengambilan visa. Setelah merepotkan adik saya untuk mengirim surat itu via DHL (yang mana biayanya cukup besar, sekitar 60 Euro untuk paket kilat), surat itu kami terima 3 hari dari tanggal pengiriman. Sayangnya, pas ambil visa, ditengok pun nggak. Suami saya yang ngambil, sukses sakit hati hehehe.
  10. Fotocopy paspor, visa, akte lahir, dan surat nikah adik saya. Ini untuk membuktikan hubungan kekerabatan kami.
  11. Formulir online. Bisa diunduh di web kedutaan Jerman, disimpan jika masih belum lengkap mengisinya dan di-print untuk dibawa ke kedutaan.
Oya, pada akhirnya saya nggak lewat travel agen. Okelah kalau lewat travel agen bisa ngurangi stres. Tapi ini sama saja. Mana saya mesti nunggu kalau supaya diuruskan asuransi dan tiketnya pula. Alasannya, supaya sekalian, kalau sudah lengkap semua baru bisa diurus sekalian appointment, katanya. Daripada nunggu-nunggu semakin mepet waktunya, jadilah saya bikin appointment sendiri.

Cara membuat appointmentnya juga mudah. Tinggal klik menu appointment di web kedutaan Jerman (http://www.jakarta.diplo.de/). Pilih jenis visa yang akan di-apply. Pilih tanggal dan jam. Isi data (yang dibutuhkan hanya nomor paspor), lalu akan saya mendapatkan e-mail balasan. E-mail itu saya print untuk bukti appointment di kedutaan.

Setelah wawancara, kami mendapatkan sepotong kertas untuk bukti pengambilan 7 hari kemudian. Tepat di hari itu, suami saya berbekal surat kuasa dari saya mengambil visa. Alhamdulillah… Rasanya luar biasa lega.






Durian Runtuh Itu Adalah #TravellingToEurope (Part 1)

Jalan-jalan ke Eropa, siapa sih yang nggak kepingin? Demikian juga saya. Bahkan, sekitar 2-3 tahun lalu, saya sudah membuat rencana untuk pergi ke sana tahun 2016. Ya, tiap tahun saya selalu membuat resolusi. Salah satu poin yang masuk ke dalam resolusi tahunan adalah travelling. Nggak selalu tercapai sih, tapi alhamdulillah membuat resolusi bikin saya semangat menabung karena ada tujuan.

Setelah tahun 2014 saya dan suami berumroh, tahun depan  rencananya kami sekeluarga ingin pergi ke Singapura. Mau ngajak anak-anak jalan-jalan. Namun rupanya, Allah berkehendak lain. Akhir Oktober lalu, saat saya sibuk berburu tiket ke Singapura, tiba-tiba durian runtuh itu datang.

Let’s start this story. Jadi ceritanya begini.

Pertengahan Oktober, adik saya berangkat ke Jerman untuk melanjutkan sekolah S3. Dia dan suaminya, yang sama-sama berprofesi sebagai dosen, mendapatkan beasiswa di sana. Adik ipar saya sudah lebih dulu berangkat, sekitar 1,5 tahun lalu. Dia tinggal di Frankfurt. Adik saya dan anaknya yang berusia 3,5 tahun menyusul bulan Oktober ini setelah semua urusan beasiswa dan visa beres. Mereka pindah ke Heidelberg, tempat adik saya sekolah. Walaupun adik ipar saya kuliah di Frankfurt sedangkan adik saya di Heidelberg, itu tak masalah karena jarak Frankfurt-Heidelberg bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saja.

Saat adik saya berangkat, dia mengajak serta mertuanya. Ini karena mereka butuh bantuan selama 3 bulan pertama. Tadinya, ibu saya yang akan menemani mereka. Tapi berhubung ibu saya yang sudah pensiun itu (ternyata) punya banyak kesibukan, beliau tidak bisa pergi selama 3 bulan. Untuk itu, ibu saya berjanji akan datang di awal Januari untuk menjemput besannya. Kenapa perlu dijemput? Karena baru kali itu, mertua adik saya pergi ke luar negeri. Kalau tidak ada orang yang bersamanya, tentu saja mereka khawatir.

Udah dong, rencana sudah disusun rapi. Ibu saya sudah mau siap-siap bikin visa setelah adik saya dan keluarganya berangkat. Eh, tahu-tahu, ibu menelepon saya, “Gimana kalau kamu saja yang berangkat Januari nanti?”

Ekh.

Saya mau saja sebenarnya… Tapi, gimana anak-anak kalau saya pergi? Lagipula, saya pergi sama siapa? Sendiri? Haduh, saya juga belum pernah ke Eropa sendiri. Kalau masih Asia kelihatannya saya pede saja. Sempat terpikir untuk nekat, mumpung ada kesempatan. Tapi saya nggak berani kalau belum minta ijin suami.

Akhirnya, saya beranikan diri ngomong ke suami. Dan bener saja, dia langsung nolak dengan alasan macam-macam. Mulai dari siapa yang ngurus anak-anak sampai biaya. Pupus harapan saya untuk pergi ke sana.

Dengan jujur saya pun ngomong ke ibu saya. Ibu menjanjikan untuk menjaga anak-anak kalau saya pergi. Ternyata, bapak saya langsung menawarkan untuk menanggung tiketnya. Bahkan sekalian tiket suami kalau dia mau ikut. Memang sih, tiket ini merupakan komponen biaya yang cukup besar. Merasa dapat angin segar saya langsung bujuk suami. Kali ini masalahnya, bisakah dia mendapat cuti yang lumayan lama?

Alhamdulillah, pengajuan cutinya di-acc. Lumayanlah bisa pergi 12 hari, karena kebetulan di awal tahun ada beberapa hari libur, jadinya cutinya hanya sekitar 7-8 hari. Sisanya memang libur. Yay! Habis itu, saya nggak bisa tidur mikirin mau kemana saja nanti. Dengan visa Schengen, nggak mungkin dong ke Jerman aja. Maunya ke banyak tempat sekitar Jerman sekalian. Deg-degan rasanya memikirkan liburan tak terduga ini. Nggak henti-henti saya mengucap syukur. Kalau bukan karena keajaiban ini, tentu saja Eropa masih sebatas mimpi. Walaupun untuk biaya lainnya mesti nguras tabungan, ya gak papalah, memang sudah dniatkan tabungannya untuk jalan-jalan, kan.