Saturday, December 19, 2015

Kelas Menulis di Panti Asuhan Kiai Ageng, Semarang

Jumat, 18 Desember 2015 kami sekeluarga terbang ke Semarang. Kepergian kami ke Semarang bukan semata-mata untuk liburan, melainan karena saya sudah berjanji mengisi kelas menulis di sebuah Panti Asuhan. Acara ini digagas oleh teman-teman saya semasa SMA. Setelah 17 tahun berpisah, kami bertemu lagi dalam acara runi angkatan 98 yang diberi nama 98 Friendships Festival. Acaranya sendiri berlangsung selama 3 hari. Baksos ke panti asuhan merupakan salah satu dari rangkaian acara tersebut.

Singkat cerita, setelah sempat nyasar, sampailah saya di Panti Asuhan Kiai Ageng. Panti Asuhan ini berada di Pedurungan. Rupanya di daerah tersebut banyak panti asuhan serupa. Namun, saya perhatikan, Panti Asuhan Kiai Ageng ini termasuk yang kondisinya memerlukan bantuan. Ada sekitar 100 anak (sebagian besar remaja) di sini. 

Selain kelas menulis, panitia juga mengadakan kelas lain yaitu memasak dan melukis pada tas. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan ketrampilan pada anak-anak penghuni panti asuhan. Harapannya, jika mereka memiliki salah satu dari ketrampilan yang kami bagikan, mereka bisa mandiri dari segi finansial kelak. Entah dengan membuka warung makan, memproduksi barang seperti tas kain lalu menjualnya, atau mendapat penghasilan dari menulis.

Kelas dimulai pukul 14.00. Ada sekitar 20 anak yang mengikuti kelas saya. Umumnya mereka berusia belasan tahun, setara SMP-SMA. Saya dengar dari pendamping mereka, ada yang sudah kuliah.

Materi yang saya berikan kemarin berjudul Menulis dari Hati. Sengaja saya tidak memberikan materi cerpen karena saya ingin mereka belajar menulis nonfiksi. Salah satu tulisan nonfiksi yang sumbernya dari pengalaman sendiri adalah kisah inspiratif.



Saya memberikan beberapa tips menulis kisah inspiratif seperti:

  • Ambil satu peristiwa yang berkesan dan memiliki unsur konflik.
  • Pakai sudut pandang aku atau saya.
  • Gunakan rasa dalam menulis dan pertajam panca indera.
  • Mulailah menulis dengan dialog, kalimat kejutan atau menaruh kalimat judul dalam kalimat.

Setelah memberikan tips tersebut, saya juga memberikan beberapa contoh dari tulisan saya. Nah, supaya lebih menarik dan mengena, saya putarkan video kisah inspiratif. Alhamdulillah, mereka menyukai videonya. Bahkan mereka tersenyum dan berkomentar saat melihat video itu. Ketika saya minta salah satu maju menyimpulkan isi video tersebut, kebanyakan masih malu-malu untuk maju. Namun ketika saya bilang saya akan memberikan sebuah buku untuk anak yang berani maju, mereka berebut maju.

Setelah sesi tersebut, saya minta mereka menulis. Awalnya, mereka bingung mau memulai dari mana. Tetapi bebeberapa menit berselang, jari-jemari mereka sudah mulai lincah menulis. Suasana pun menjadi hening sejenak.





Selesai menulis, seperti biasa, saya minta mereka membacakan tulisan mereka. Kebanyakan dari mereka yang maju, menuliskan cerita tentang betapa beratnya meninggalkan rumah, betapa rindunya mereka pada orangtua, dan kenapa mereka harus semangat belajar. Walaupun ditulis dibaca dengan gaya yang lucu, ada nuansa yang menyentuh hati bagi yang mendengarkan. Alhamdulillah, sebagian besar bisa menuliskan dengan baik.

Di akhir pertemuan, saya berfoto bersama mereka. Saya minta mereka membawa beberapa buku yang saya berikan. Kebetulan saya membawa novel Rainy’s Days; Bullying, Siapa Takut? Dan I Have a Dream serta beberapa buku lainnya. Buku-buku tersebut saya berikan sebagai apresiasi atas keberanian mereka membacakan cerita.


Alhamdulillah, sesi tersebut berakhir juga. Senangnya, bisa berbagi bersama mereka hari itu. Semoga bermanfaat ya.

3 comments :

  1. Wah, biar ga ikut hadir. Aku mungutin ilmu Dari postingan ini

    ReplyDelete
  2. wah gurunya di import dari Depok

    ReplyDelete
  3. Semoga besok lahir penulis2 santri yg handal. Aamiin

    ReplyDelete