Friday, June 28, 2013

[Resensi] The Timekeeper, Pelajaran Berharga Tentang Waktu


Judul                                   : The Timekeeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis                                : Mitch Albom
Alih Bahasa                        : Tanti Lesmana
Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                              : Oktober 2012
Jumlah Halaman                  : 312 halaman

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya. –Dor (halaman 288)

Masih dalam rangka menghapus “dosa” (karena saya sering menumpuk buku, menunggu punya waktu "menghabiskannya”), ini adalah salah satu buku yang saya baca. The Timekeeper saya beli atas saran seorang teman, Dyah Rini. Dan ternyata, saya puas membacanya. Banyak kalimat bermakna yang saya sukai di dalam buku ini hingga saya tak kuasa untuk tidak menandai quote-qoute keren itu.
Setelah membaca The Timekeeper, yakin deh, bakal tergoda membeli buku-buku karya Mitch Albom yang lainnya, yaitu Tuesday with Morrie, For One More Day, dan Five People You Meet in Heaven. Saya sedang membaca Tuesday with Morrie dan terkesima dengan pelajaran bermakna dari Morrie, guru Mitch.
Nah, ini sinopsis The Timekeeper. Happy reading!

Tuesday, June 18, 2013

[Lomba Resensi Novel 12 Menit] Belajar Memercayai Impian



Judul                          : 12 Menit
Penulis                        : Oka Aurora
Penerbit                      : Noura Books
Cetakan                      : I, Mei 2013
Jumlah Halaman           : 343 halaman

Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang – Rene (halaman 307)

Bagi Rene, masalah terbesar saat mengajar anak-anak Marching Band Bontang Pupuk Kaltim bukanlah masalah teknik bermain, tetapi masalah kepercayaan diri. Mereka jauh dari mental juara yang ditemui Rene saat melatih tim-tim lain. Rene sempat bimbang dan meragukan dirinya sendiri. Meski beberapa kali tim Marching Band bimbingannya menjadi juara GPMB (Grand Prix Marching Band), Rene menghadapi kenyataan betapa susahnya membesarkan jiwa anak-anak Bontang. Saat mereka merasa “kecil”, Rene tahu, mereka akan kalah sebelum bertanding.