Saturday, January 31, 2015

Paris, Hari Itu #TravellingtoEurope (Part 7)

Tanggal 6 Januari malam, kami tiba di Paris. Malam itu kami berencana istirahat saja. Di hotel, kami memesan tiket masuk ke Musee de Louvre. Tiket masuk ke museum itu bermacam-macam jenisnya. Tapi kami memesan yang paling murah. Setelahnya, kami Auchan, supermarket yang ada di samping hotel untuk mengambil tiket.

Alhamdulillah, hotel yang kami pilih cukup nyaman. Letaknya sedikit di pinggiran kota. Namun tepat bersebelahan dengan supermarket besar. Yang terpenting, kami menemukan sebuah resto yang menyediakan nasi putih dan makanan halal. Cukuplah untuk mengobati rasa kangen pada masakan Indonesia. Sebelum-sebelumnya kami puas menyeling makanan dengan makanan yang kami bawa, seperti pop mie, rendang, dan abon. Setelah makan malam dan mengambil tiket, kami memutuskan beristirahat. Ya, mau gimana lagi udaranya dingin. Lagipula hujan. Memasuki winter, pukul 16.30 hari sudah gelap seperti malam.

Esok paginya, sekitar pukul 09.00 kami sudah berangkat ke Musee de Louvre. Sengaja, kami berangkat pagi-pagi, seperti petunjuk Mak Indah Nuria. Dia sudah wanti-wanti, museum itu luas sekali, bisa seharian kalau betah. Okelah, saya sih tipe yang betah di museum. Apalagi kalau cuacanya kurang mendukung, kayaknya seharian di luar bukan pilihan yang tepat. Kalau suami saya ngikut saja hehehe. Untung saja kami sudah punya tiketnya, kalau belum bisa-bisa mesti ngantre panjang.

Di depan Louvre, tetap promo :))

Sampai di sana kami masuk dan mengelilingi museum. Museum itu sangat ramai. Ada banyak section yang bisa dilihat. Pengunjung harus berhati-hati, karena banyak orang yang kecopetan di sini. Karena itu, saya selalu memerhatikan tas saya, juga ponsel.

Sempat beberapa kali saya dan suami menjepret lukisan Maryam yang di buku 99 Cahaya di Langit Eropa kabarnya mengenakan jubah bersulamkan syahadat di pinggirnya. Penasaran, kami memandanginya lama-lama. Mana sih syshadat yang dimaksud? Mungkin karena tulisannya bukan tulisan Arab seperti yang saya baca (lebih kotak-kotak hurufnya, kurang tahu itu jenis tulisan apa. Tapi menurut suami semacam kaligrafi). Oya, di museum ini boleh kok memotret. 

Beberapa benda koleksi museum

Kami sempat berkeliling ke section Islam. Ada sebuah video bagus yang mengisahkan kelahiran nabi Muhammad. Yup, saya menontonnya sampai selesai karena pengantarnya menggunakan bahasa Inggris. Sekadar info, kebanyakan info di museum ini pakai bahasa Perancis. Section tersebut sepertinya masih relatif baru dibandingkan section lainnya. Banyak hal menarik di sini.

Keluar dari Louvre, kami sengaja berjalan menyusuri Sungai Seine. Beberapa kali mengambil foto lalu berhenti di Ponts de Arts, jembatan yang terkenal dengan gembok cintanya. Rupanya, sekarang jembatan tersebut sudah tak diperbolehkan untuk menggantung gembok. Di sepanjang jembatan, gembok-gembok ditutup dengan triplek.

Sepanjang jembatan ditutup triplek, namun di ujung jembatan masih ada yang pasang gembok :))

Sepanjang perjalanan kami menyusuri Sungai Seine, sirine mobil polisi berulang-ulang berbunyi. Suami saya sempat bercanda bilang mungkin polisi Paris memang suka menyalakan sirine. Saya hanya tertawa mendengarnya.

Pesan untuk keluarga adik saya.

Nggak naik ke Eiffel cukuplah jalan di bawahnya.

Setelah berjalan beberapa saat kami memutuskan naik metro ke Eiffel. Di Eiffel pun, polisi tampak dimana-mana. Setelah Eiffel, kami ke Arc de Triomphe. Rupanya tempat itu favorit para turis. Rame sekali. Waktu kami sampai di Arc de Triomphe ada serombongan turis yang turun dari bus bertingkat. Bus itu adalah bus wisata yang atapnya terbuka. Kalau dalam kondisi cerah dan cuaca sejuk, akan menyenangkan menaikinya. Tapi berhubung suhunya masih di bawah 5 derajat Celcius, saya urungkan niat. Daripada masuk angin.

Di Arc de Triomphe
Capek berkeliling, kami pulang ke hotel. Betapa terkejutnya kami ketika menyalakan TV, rupanya telah terjadi penembakan di kantor Charlie Hebdo! Pantas saja dari tadi polisi berkeliaran. Pesan bertubi tak lama saya terima. Dari adik saya di Heidelberg yang meminta saya dan suami lebih berhati-hati. "Tutup jilbabmu pakai topi. Jaga-jaga kalau muslim di Paris dibenci." Pesan juga saya terima dari sahabat lama saya yang kebetulan tahu saya sedang di Paris. Jujur saja, hati saya jadi cemas walau saya bilang ke mereka untuk tenang. Ya, siapa sih yang nggak was-was berada di negara asing dalam keadaan seperti ini?

Kami langsung googling berita. Esok paginya kami menghindari tempat kejadian. Kami memutuskan pergi ke Galerie Lafayette saja. Galerie Lafayette adalah sebuah mall besar yang megah. Sebenarnya tak ada yang penting kami lakukan di sana. Saya tidak berniat belanja. Tapi kami ingin menghabiskan waktu sebelum kami berangkat ke stasiun untuk menuju Venezia malam harinya. Di mal tersebut, saya sempat membelikan buku cerita berbahasa Inggris untuk keponakan saya. Lalu kami melihat-lihat saja.

Keluar dari mal hujan menyergap kami. Di sepanjang jalan, polisi berseliweran. Kami cepat-cepat menuju metro. Tapi berkali-kali kami turun di stasiun metro, berkali-kali pula petugas menyuruh kami lewat jalan lain. Seolah-olah mereka sedang menyisir tempat itu. Keadaan sangat menegangkan. Entah mengapa, saya merasa orang-orang melihat kami dengan pandangan curiga.

Sempat saya menerima link berita dari adik saya tentang masjid yang diledakkan. Maka begitu sampai hotel dan suami saya mau sholat di masjid saya bilang mau ikut walaupun saya sedang berhalangan. Kami pun berjalan ke masjid terdekat. Sayangnya masjid itu ditutup rapat. Akhirnya kami kembali ke hotel. Karena sudah check out dari sebelum kami jalan maka tak bisa sholat di kamar. Suami pun terpaksa sholat di lobby. Sebelumnya saat masuk untuk mengambil barang, kami sempat digeledah. Duh, saya jadi luar biasa cemas. Inginnya cepat-cepat pergi dari Paris. Padahal, awalnya saya pikir Paris akan menjadi tempat paling menyenagkan untuk dikenang.



Rupanya, suami saya pun berpikiran sama. Suasana yang mencekam membuat kami memutuskan menunggu kereta ke Santa Lucia di Stasiun Gare de Lyon saja. Takutnya metro ditutup di sana sini membuat kami sulit bergerak. Sampai di Gare de Lyon suasana masih mencekam. Tentara ada dimana-mana. Di kereta pun beberapa kali polisi lewat. Alhamdulillah, Allah masih melindungi. Pagi harinya kami sampai di Venezia setelah saya menutup rapat kepala saya dengan topi. Fiuuh....


34 comments :

  1. Wau,,,, Paris kota romantis terkenal di dunia nih....

    ReplyDelete
  2. Pas insiden Charlie Hebdo ya mak...kebayang seperti apa mencekamnya. Tapi sebenarnya tidak perlu khawatir, karena muslim di Prancis, termasuk di Paris, pun makin banyak. Alhamdulilaaah perjalanan nya lancar...Louvre memang luar biasa, begitu banyak yang bisa dilihat. Sempet ketemu Monalisa mak :)?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketemu sama Monalisa, Mak :D Lagi sibuk foto sama orang-orang hahaha. Pingin ke sana lagi ih, nggak puas. :)

      Delete
  3. waah ternyata diparis ada copet juga ya mak :D
    kebayang gimana rusuh dan mencekamnya disana. syukurlah tidak apa apa.
    salam kenal ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, Mak. Hehehe. Salam kenal balik, Mak. Makasih sudah berkunjung. :)

      Delete
  4. Eifeeel... Aku pingin kesana jugaak, bismillah semoga mesampaian. Aamiin

    ReplyDelete
  5. waahhh, menegangkan sekali, mau jalan2 malah ketemu kejadian begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mak hehehe. tapi malah jadi cerita yang dikenang selamanya ya ciee

      Delete
  6. Kekhawatiran yang wajar ya mak.. Semoga Paris dan negara2 lain menjadi lebih damai dan nyaman bagi siapapun ya mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Jelas, Mak, dagdigdug rasanya :)

      Delete
  7. Miris ya mbak, akibat ulah orang yang gak bertanggung jawab, muslim baik-baik yang jadi korban, termasuk masjid yang sampai ditutup segala. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti itu yang membuat buruk nama Islam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... aamiin... Mudah-mudahan ya, Mak.

      Delete
  8. ikut deg-degan mak,,, syukurlah selamat sampe tujuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, aku juga napas lega setelah keluar Paris, Mak. Bukannya romantis malah deg-degan hehehe

      Delete
  9. Kapan saya bisa kesana. Setiap kali membaca cerita perjalanan para blogger yang keluar negeri, jadi pengen pergi kesana juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya doakan bisa ke sana, Mas. Aamiin :)

      Delete
  10. Syukurlah Mak Fit sudah kembali pulang dengan selamat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mbak udh kembali ke Indonesia dngn selamat :D

      Delete
  11. aku juga penasaran mak waktu nonton film 99 cahaya langit eropa. Apakah bener ada tulisan syahadat sampai tanya ke suami itu film beneran atau fiksi aja sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sudah melototin, Mak. Tapi nggak kebaca syahadar. Bentuk hurufnya kota-kotak soalnya :D

      Delete
  12. Kebayang pas insiden itu...pasti cemasnya kayak apa...bersyukur ga da yg curiga pake topi didalemnya hijab ya mak :)

    ReplyDelete
  13. Jadi Fit, akhirnya mendatangi berapa negara dalam 12 hari itu?

    Kebayang ngebutnya Fita jalan2 sama suami. Tapi happy banget kan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lima, Ma. Jerman, Belanda, Itali, Belgia, Austria. Seneng banget :) Kapan-kapan moga kesampaian kesana lagi. Aamiin :)

      Delete
  14. Kemarin sempat, beberapa teman share foto lukisan bunda Maria itu, Mak. Tapi nggak bisa langsung percaya, sebelum ke Paris langsung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada di dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa, kan Mak. Mari buktikan ehehe :)

      Delete
  15. Be in the right place at the wrong time. Hopefully next time you can go back to Paris.
    Salam kenal ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Erita, slaam kenal balik. Btw, saya tinggal di Depok. Saya baca, Mak Erita dulu tinggal di Depok ya?

      Delete
  16. Hyaaa..ngga ikut pasang gembok cinta dong, Mbak. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ikuta, Idaaah. Sudah ditutup tripleks bo! :D

      Delete
  17. Wah asyik juga ya mbak, btw allhamdulillah aja sampai kembali pulang dengan selamat.

    ReplyDelete