Monday, July 23, 2012

B4Beduk-Depok Bersama Bapak Bambang Trim

Awalnya, saat tahu ada acara gratis tapi sarat ilmu ini (di Depok pula, yang pastinya hanya sejengkal dari rumah saya) saya langsung mendaftar. Niatnya, menambah ilmu. Tapi, berdasarkan pengalaman, biasanya tidak hanya ilmu yang saya peroleh, tetapi juga teman baru.
Setelah mendaftar langsung ke inbox Pak Bambang, beliau bertanya, "Jika ada, tolong carikan moderator sekalian, Mbak Fita."
Saya ajukan salah seorang teman editor sebagai calon moderator di acara tersebut, tapi beliau menolak. Sambil bercanda saya bilang, "Atau saya saja, Pak?"
Jawabannya membuat saya kaget, "Ya sudah Mbak Fita saja ya."
"Serius nih, Pak?" tanya saya tak percaya. 
"Serius. Deal, ya," katanya.


Buku-buku yang dibedah

Thursday, July 19, 2012

Love, Aubrey


Posting ulang dari blog lama saya  http://fhyta.multiply.com/reviews/item/7

Category:


Books
Genre:Childrens Books
Author:Suzanne LaFleur

Buku yang diterjemahkan secara apik oleh Teh Ary Nilandari ini saya kenal ketika mampir di blognya. Setelah sekian lama terlupakan, saya teringat kembali buku ini saat perbincangan di suatu forum tentang buku-buku anak yang terbaik menghangat. Salah satu yang saya baca adalah komentar Teh Ary. Saya pun hunting buku ini. Karena tak menemukannya di toko buku, saya membelinya secara online. Mulai dari buku itu saya terima, saya tidak berhenti membaca sampai selesai. :)

Buku yang mengharu biru ini bercerita tentang Aubrey, gadis berusia 11 tahun yang ditinggalkan oleh ibunya sendirian di rumah pasca kecelakaan yang menimpa keluarganya. Keluarga Aubrey yang terdiri dari Mom, Dad, Aubrey dan Suzannah, adiknya mengalami kecelakaan mobil sepulang liburan. Ayah dan adiknya meninggal. Sedangkan ibunya yang sangat terpukul karena dialah yang mengendarai mobil, pergi entah kemana.

Aubrey pikir, ibunya hanya pergi sebentar. Ternyata dugaannya salah. Ibunya pergi berhari-hari lamanya. Selama itu, Aubrey mengurus dirinya sendiri, berteman sepi, dan kenangan akan keluarganya yang selalu membuatnya sedih. Aubrey diselamatkan Gram, neneknya. Beliau lalu membawa Aubrey pulang ke rumahnya.

Aubrey berjuang melawan kesedihan. Berulang kali dia bertanya mengapa ibunya meninggalkannya. Perutnya selalu mual mengingat kenangan-kenangan itu. Maka, dia menulis surat setiap kali dia ingin.

Gram, menarik Aubrey keluar dari jeratan kenangan-kenangan itu. Gram memberinya tugas setiap hari, memantaunya, dan memastikan dia baik-baik saja di sekolah barunya. Aubrey mendapatkan sahabat di tempat barunya. Bridget, sahabatnya itu mempunyai keluarga yang bahagia. Aubrey ikut merasakan kehangatan keluarga Bridget. Mereka membuatnya kembali tersenyum, meski kadang dia masih menangis dan merasa mual jika teringat ayah, ibu dan adiknya. Selain mereka, ada beberapa orang yang juga berempati padanya.

Gram terus mencari ibunya. Suatu hari, Gram mengatakan ibunya sudah ditemukan. Aubrey tak tahu harus senang atau marah. Dia kecewa karena ibunya meninggalkannya. Menurutnya, sangat berbeda antara meninggalkan karena mati, dan meninggalkan karena memang ingin pergi. Ibunya tinggal beberapa saat di rumah Gram. Lalu kemudian pergi lagi untuk memulihkan diri, berobat, dan mencari pekerjaan. Setelah semuanya dapat terlewati ibu memintanya kembali bersamanya. Aubrey dan ibunya menjalani saat yang berat sampai akhirnya dapat pulih.

Entah mengapa, saya menyukai cerita seperti ini. Cerita yang muram, membuat mata saya berembun selama membacanya. Kisah Aubrey membuat saya seolah ikut merasakan kesedihannya. Bagaimana perasaannya saat orang-orang yang dicintai hilang dalam kehidupan, baik karena harus pergi maupun karena memilih pergi, tergambar dengan baik disini. Suzanne LaFluer membuat cerita ini mengalir, disertai detil di setiap adegannya.

Salah satu kalimat yang menarik untuk dikutip adalah, "Aku memegang foto itu di hadapanku, menutup mata. Aku masih bisa melihatnya. Aku masih bisa merasakan kenangan itu ada di sana, dekat, tapi tidak menarikku masuk seperti dulu. Mungkin sekarang terserah aku."

Orang-orang yang kita cintai merupakan kenangan termanis dalam hidup kita. Mereka begitu berharga di hati kita. Perpisahan dengan mereka bisa terjadi kapan saja. Kita pasti akan merasa sedih dan kehilangan. Tapi hidup terus berjalan. Kita harus memilih, mau terjerat kenangan selamanya atau merasakan manisnya kenangan itu sambil terus berjalan.

Friday, July 13, 2012

Kuis Resensi #DiaryRamadhan dan #Mima&PutriJenna



Hai hai,

Sudah baca Diary Ramadhan atau Mima dan Putri Jenna? Kalau belum, sekarang saatnya beli, baca dan bikin resensinya. Kenapa? Karena saya mau bagi-bagi buku untuk tiga orang pemenang yang beruntung.
Begini caranya:

1. Tulis resensi buku Diary Ramadhan atau Mima dan Putri Jenna (kalau sudah baca semua boleh dua-duanya ditulis).
2. Pasang di notes FB atau blog (jika di blog pasang link-nya di wall) lalu tag minimal 10 teman. jika ada akun twitter silakan pasang link-nya di akun tersebut.
3. Copy paste link-nya di thread ini agar saya bisa ikut membacanya.
4. Jangan lupa sertakan cover buku dalam resensi.
5. Kuis ditutup tanggal 21 Juli 2012 pk.00.00
6. Tiga paket hadiah, masing-masing berisi kaos, buku, dan gantungan kunci sudah saya sediakan. :)

Buruan ya!

Tuesday, July 10, 2012

Dari Pelatihan Menulis Kisah Inspiratif di Semarang

Setelah mengisi pelatihan menulis untuk anak di Tembalang, Semarang, keesokan harinya Minggu, 1 Juli 2012 saya kembali mengisi sebuah pelatihan. Kali ini saya bertemu beberapa ibu yang putra dan putrinya mengikuti pelatihan sebelumnya. Ya, merekalah peserta pelatihan menulis kisah inspiratif yang saya adakan.

Tidak seperti pelatihan sebelumnya, pelatihan kisah inspiratif ini murni atas inisiatif saya. Dulu saat saya masih kuliah dan tinggal di Semarang, saya merasakan sendiri minimnya pelatihan menulis di kota itu. Kini alhamdulillah saya bisa mereguk ilmu dari berbagai pelatihan menulis yang diadakan di Jakarta dan Bandung. Jadi tak ada salahnya membagikannya untuk warga kota Semarang, kota kelahiran saya.

Wednesday, July 4, 2012

Menulis, Bermain dan Tertawa Bersama Anak-anak di Semarang

Sabtu, 30 Juni 2012 saya mendapatkan undangan dari Salimah PC Tembalang, Semarang untuk mengisi pelatihan menulis yang mereka adakan. Sekitar pukul 07.30 saya bersama Keisya dan salah seorang sepupu saya, Hisna, meluncur ke Kantor Kecamatan Tembalang. Sengaja saya mengajak Keisya agar dia bisa ikut melihat acara tersebut. Menurut Aan Wulandari, teman sekaligus salah seorang panitia yang jauh-jauh hari sudah meminta saya mengisi acara ini, peserta yang mendaftar sekitar 20 orang.

Tiba di tempat acara, saya langsung mempersiapkan diri. Beberapa peserta sudah duduk manis di kursi mereka. Saya ajak mereka mengobrol, ada tiga orang kakak beradik yang ikut pelatihan menulis tersebut, mereka nampak bersemangat, meski masih malu-malu.