Thursday, May 30, 2013

[Proses Kreatif] Kumpulan Cerita Princess Kocak



"Gimana ceritanya bisa menulis buku ini? Susah nggak?"

Beberapa orang teman bertanya pada saya ketika tahu buku duet saya dan Eka Dresti Swaranindita (akrab dipanggil Ditta) yang berjudul "Princess Kocak" terbit. Nah, biar nggak bertanya-tanya lagi, saya ceritakan saja di sini proses kreatifnya.

Awalnya, saya dan Ditta mengikuti sebuah kelas menulis. Di kelas itu, kami mendapatkan tugas akhir dari Mas Benny Rhamdani untuk berduet menulis cerita bertema "Princess Kocak." 

Jujur saja, kata "kocak" dalam tugas itu, malah membuat saya merinding. Ya iyalah, sejak saya mulai menyebut diri sebagai penulis tahun 2007 silam, saya belum pernah sekalipun menulis cerita lucu, kocak, dodol, dan semacamnya. Mau nawar tugas nggak mungkin juga. Emangnya beli sayur di pasar, pakai tawar menawar?

Singkatnya, saya dan Ditta menerima tugas ini dengan pasrah. Bener-bener pasrah dalam artian sesungguhnya. Soalnya, sama sekali nggak tergambar cerita yang akan kita tulis. Selama beberapa hari, kerjaan kita berdua hanyalah saling bbm sambil kasak-kusuk.

"Udah nulis, Dit?"

"Belum, Mbak. Belum dapat ide." *ikon sedih.

"Sama. Gimana, dong?"

"Nggak tahu. Huwaa...."

See? 

Tugas bertema lucu yang seharusnya bikin saya dan Ditta ketawa, malah jadi mimpi buruk. Tidur nggak tenang, makan ogah-ogahan... Duh, bingung!

Sampai akhirnya, saya mencoba mengorek trik dari beberapa pakar komedi seperti Kang Iwok dan Dedew. Saya ubek blognya dan memelototinya sepanjang hari. Saya juga sempat bertanya pada Mbak Dian Kristiani. Sesuai dengan masukan mereka, saya browsing tebak-tebakan lucu (yang sudah diingatkan oleh Mbak Dian Kris bahwa tebak-tebakannya banyak yang jorok. Tentu saja yang jorok nggak bakal saya ambil), baca buku-buku lucu, dan mengamati tingkah anak-anak lebih cermat.

Di hari ketiga, setelah saya nongkrong di Gramedia hampir seharian, terbayang juga cerita lucu tentang "Asrama Para Princess". Ceritanya tentang asrama yang dihuni para princess yang belajar menjadi seseorang yang lebih baik. Ada princess yang jorok, ada princess yang ceroboh dan sebagainya. Nah, suatu hari, datanglah seorang princess yang cantik, berjalan dengan anggun, wangi, pokoknya serba sempurna. Teman-temannya heran, kok bisa Princess Sempurna ini dimasukkan ke asrama.

Kehebohan baru terjadi saat diminta memperkenalkan diri. Mereka akhirnya  tahu kekurangannya. Apa kekurangannya? Baca deh, di buku ini hehehe 

Cerita pertama selesai saya tulis, ide pun mulai mengalir. Saya putar balikkan stereotype princess yang serba sempurna menjadi tidak sempurna. Saya selipkan juga kata-kata, adegan, dan dialog lucu supaya unsur kocaknya lebih terasa. Saya perhatikan anak-anak bercanda dan bercakap-cakap. Saya bahkan menulis beberapa kalimat yang lazim dipakai anak-anak sekarang, melalui socmed. Ketika sudah tahu kuncinya, ternyata menulis cerita lucu menjadi lebih mudah. Setiap dapat ide baru, langsung saya kontak Ditta supaya dia tidak menulis cerita serupa. 

Jadi begitulah. Saya dan Ditta senang sekaligus lega melihat buku ini terbit. Senang karena ini menjadi buku kocak pertama yang kami tulis. Lega karena berhasil menyelesaikan tantangan ini. Seperti yang saya yakini, apapun keinginan kita, akan terwujud jika kita punya niat dan kerjakeras.

Wednesday, May 29, 2013

[Resensi Buku] Jika Hantu Itu Ada di Pikiranmu

Judul                           : Teror Hantu Ungu
Penulis                         : Nelfi Syafrina
Penerbit                      : DAR! Mizan
Jumlah halaman            : 116 halaman
Harga                           : Rp 29.000,-

Kan, Om sudah bilang hantu itu tidak ada. Hantu itu hanya ada di pikiranmu. –Om Wahyu (Teror Hantu Ungu, halaman 55)

Apa yang terbayang saat membaca judul Teror Hantu Ungu?
Jujur, saya nggak bisa membayangkan hantu ungu itu seperti apa. Malah, yang muncul di benak hanyalah terong berwarna ungu, yang diolah menjadi terong balado kesukaan saya. Nggak nyambung? Iya, sih. Tapi bener-bener tidak terbayang sosok hantu dalam novel ini.

Nah, setelah membacanya baru saya tahu, yang dimaksud Hantu Ungu di sini adalah sosok gadis kecil yang suka warna ungu. Kalau begitu, mungkin judul yang cocok adalah Teror Gadis Berbaju Ungu. Tapi, ada pikiran lain yang muncul setelahnya. Mungkinkah penulis sengaja menggunakan judul Teror Hantu Ungu untuk mengulik rasa penasaran? Bisa jadi.

Cerita Teror Hantu Ungu dimulai ketika Zeta dan Owen, dua kakak beradik dititipkan kedua orang tuanya di rumah Kakek. Selama kedua orang tuanya pergi mereka dititipkan pada Om Wahyu, adik Ibu. Masalahnya, rumah Kakek sepi dan temaram. Suasana jadi menakutkan ketika malam tiba. Apalagi, saat Om Wahyu menceritakan hal seram tentang “orang bunian”.

Ketakutan mereka semakin menjadi ketika melihat seorang anak perempuan berbaju ungu memandang marah pada mereka. Padahal, waktu itu hujan deras. Rasanya tidak mungkin kalau dia seorang manusia. Lalu siapa dia?

Penyelidikan demi penyelidikan pun dilakukan Zeta dan Owen. Sampai mereka menemukan gadis itu ternyata Alea. Dari Helena (adik Alea) mereka tahu bahwa Alea marah karena mengira Zeta dan Owen menabrak kucing mereka. Untungnya, gadis tunawicara itu mereda marahnya saat Zeta memberikan hadiah berupa buku padanya.

Secara keseluruhan, buku ini menghibur. Suasana seram memang seringkali membuat kita tergiring membayangkan sesuatu yang membuat buku kuduk merinding. Tapi kan, tidak selalu yang menyeramkan itu hantu.

Beberapa kali saya juga sempat tersenyum sendiri karena buku ini juga membuat saya teringat masa kecil saya dan adik saya. Kami suka sekali bertengkar, seperti Zeta dan Owen. Lucu, kesal, tapi ngangenin!

Meski menampilkan kata “hantu”, buku ini sama sekali tidak membuat anak-anak membayangkan sosok hantu yang mengerikan, lho. Buktinya, Keisya, putri sulung saya, bisa tidur nyenyak setelah membaca buku ini. Inilah salah satu poin plus yang paling saya sukai.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah cara Alea berkomunikasi dengan Zeta dan Owen. Ada satu dialog (di halaman 112) saat Alea minta maaf pada Zeta. Tapi, dalam dialog itu tak tergambarkan caranya berdialog. Apakah menggunakan bahasa isyarat? Kalau iya, seperti apa? Kalau tidak, bagaimana dia berbicara?

Mungkin, akan lebih menarik jika penggunaan bahasa isyarat dan cara berkomunikasi Alea dibahas lebih rinci. Misalnya, minta maaf bisa diisyaratkan dengan tangan kanan bergerak melingkar di dada. Atau, terima kasih diisyaratkan dengan mengecupkan telapak tangan ke bibir dan digerakkan ke depan. Tujuannya, tentu saja untuk memberikan pengetahuan pada anak-anak. Jadi, saya sebagai orang tua juga tidak kebingungan kalau anak-anak bertanya, “Seperti apa bahasa isyarat 'maaf'?”

Keisya membaca Teror Hantu Ungu 
Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi Forum Penulis Bacaan Anak

Thursday, May 23, 2013

[Cerita Anak] Ketika Ibu Tak di Rumah

Cerita ini pernah dimuat di Majalah Girls



Aku sering kesal kalau teman-temanku bertanya padaku apa pekerjaan ibuku. Ibu mereka kebanyakan bekerja di luar rumah. Ada yang bekerja sebagai dokter, insinyur, pegawai bank, dosen, dan sebagainya. Sedangkan ibuku? Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga.
            Setiap hari ibu lebih sering berada di rumah, mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Kadang-kadang ibu keluar rumah jika ada keperluan dengan organisasi soaial yang diikutinya. Ibu banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Tapi, tetap saja kan profesi ibu seorang ibu rumah tangga? Soalnya ibu menulis hanya di waktu senggang saja, jadi tidak setiap hari ibu bekerja.
            Makanya hari ini aku kesal sekali ketika ibu guru memberi kami pekerjaan rumah menulis tentang pekerjaan ibu masing-masing. Padahal semua anak di kelas senang menerima tugas ini. Mereka bangga pada pekerjaan ibunya.
            Ketika aku pulang, Ibu menyapaku. Mungkin Ibu melihat wajahku yang merengut kesal.
            “Kenapa, Sayang? Ada masalah di sekolah?” tanya Ibu.
            “Bu, kenapa sih Ibu tidak bekerja di kantor seperti ibu teman-teman Mila?” aku langsung melontarkan pertanyaan tak sabar.
            “Lho, ada apa ini kok tiba-tiba bertanya seperti itu?” Ibu tersenyum.
            Aku memonyongkan bibir, kesal.
            “Mila kesal! Tadi di sekolah ibu guru bertanya apa pekerjaan ibu masing-masing murid,” kataku mengeluarkan kekesalanku.
            “Lalu?” Ibu bertanya sabar.
            “Sebagian besar ibu teman-teman Mila bekerja kantoran. Maksud Mila, bekerja di luar rumah. Mereka bisa bercerita panjang lebar mengenai kegiatan ibu mereka di kantor. Mila kan tidak bisa, Bu! Apa yang harus Mila tulis untuk tugas Mila nanti?” keluhku.
            Ibu tersenyum saja.
            “Mila kan bisa menulis tentang kegiatan Ibu seharian,” usul Ibu.
            Aku mencibir.
            “Huh, nggak seru dong! Memangnya Mila harus cerita Ibu masak, beres-beres, belanja…” omelku.
            “Lho, Ibu juga kerja kan meskipun dari rumah? Apa Mila tidak tahu kalau Ibu juga menulis untuk majalah dan menulis buku?”
            “Menulis kan nggak setiap hari, Bu. Lagipula Ibu tidak perlu keluar rumah untuk bekerja. Itu sih bukan bekerja namanya,” sahutku ketus.
            Ibu tertawa.
“Mila… Mila… Jaman sekarang kerja tidak harus di kantor. Ingat, sekarang ada internet. Bekerja juga tidak harus seharian penuh. Bahkan dengan bekerja di rumah, Ibu masih punya waktu buat keluarga,” jelas Ibu.
Aku diam saja, tidak mau berdebat lagi dengan Ibu. Aku tidak setuju perkataan Ibu. Bekerja dari rumah menurutku sama sekali tidak bergengsi. Lebih keren kalau Ibu bekerja kantoran yang mengharuskannya setiap hari masuk kerja. Aku membayangkan Ibu memakai setelan blazer dan make up lengkap. Hmm.. pasti Ibu kelihatan lebih cantik.
“La, besok Ibu pergi keluar kota ya,” suara Ibu mengagetkannya.
“Malamnya langsung pulang kan, Ibu?” tanyaku. Ibu jarang pergi keluar kota berhari-hari lamanya tanpa mengajak keluarga.
Ibu menggeleng.
“Ibu pergi selama seminggu. Jadi kamu dan adikmu harus bisa mengurus diri kalian sendiri,” pesan Ibu.
“Beres, Bu!” kataku singkat. Kepergian Ibu sama sekali tidak membuatku khawatir. Aku merasa sudah cukup besar. Mengurus diri sendiri sama sekali bukan masalah.
*
Aku sibuk membongkar-bongkar lemari di dapur. Aku hanya ingin mencari dimana Ibu menyimpan garam. Sejak Ibu pergi, Aku harus memasak sendiri. Padahal, aku tidak pernah memasak. Selama ini Ibu yang memasak untuk kami semua.
“Cari apa, Kak?” tegur Dita, adikku.
“Cari garam. Kakak mau masak telur mata sapi,” sahutku tanpa menoleh.
“Mau masak telur mata sapi saja kok sampai membuat dapur berantakan begini,” komentar Dita.
Aku menghela napas. Belakangan, aku baru sadar ternyata lebih enak kalau Ibu ada di rumah. Urusan rumah tangga semuanya beres. Selama Ibu pergi aku sering kebingungan mencari-cari barang meski di rumah sendiri. Rumah juga sering kubiarkan berantakan karena aku malas menyapu dan mengepel.
Duh, aku jadi menyesal sudah meremehkan peran Ibu. Aku baru tahu, menjadi ibu rumah tangga ternyata banyak tugasnya. Apalagi kalau masih harus menulis sampai larut malam. Meski malu mengakui, aku mulai rindu Ibu.
“Ada apa ini, kok berantakan?” tiba-tiba Ayah masuk.
“Kak Mila mau masak telur mata sapi tapi belum ketemu garamnya,” lapor Dita.
Ayah geleng-geleng kepala.
“Coba baca ini,” kata Ayah menyodorkan sebuah surat kabar.
“Wow, hebat sekali Ibu ya, Yah!” seru Dita.
Aku ikut membaca surat kabar yang dibaca Dita dari balik punggungnya.
Lho, kok ada foto Ibu?
Wah, ternyata Ibu sedang promo buku terbarunya. Pantas Ibu pergi agak lama. Aku malu pada diriku sendiri. Sebelum Ibu pergi aku sempat berdebat dengan Ibu mengenai pekerjaannya. Padahal, diam-diam, Ibu penulis yang terkenal.
“Lihat, apa kalian tidak bangga punya Ibu penulis?” kata Ayah.
“Tentu saja bangga, Yah,” kata Dita diikuti anggukan kepalaku.
“Ibu kalian tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi juga penulis. Bayangkan bagaimana Ibu harus mengatur waktunya secermatnya agar urusan rumah tangga dan pekerjaan bisa berjalan lancar. Meskipun bekerja dari rumah, menjadi penulis itu tidak kalah dengan profesi lain,” Ayah menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya bisa tertunduk diam. Dalam hati, aku sudah membayangkan apa saja yang akan kutulis untuk tugas yang diberikan Bu Guru.

Maafkan aku, Ibu. Aku bangga padamu! [Fita Chakra]

[Cerita Anak] Sepatu Tuk-Tuk

Cerita ini pernah dimuat di Majalah Bravo. Selamat membaca!


Bino adalah kurcaci yang membuat berbagai macam sepatu. Dia memiliki sebuah toko sepatu. Di dalam tokonya itu ada ratusan jenis sepatu, mulai dari sepatu anak-anak, sepatu berhak tinggi, sepatu boot, sepatu bertali, dan masih banyak lagi yang lainnya. Banyak kurcaci yang suka membeli sepatu di tokonya. Sepatu-sepatu yang dibuat Bino modelnya bagus-bagus, dan terbuat dari bahan terbaik. Meskipun harganya sedikit lebih mahal tetapi sepatu buatan Bino banyak yang membeli.
Sepatu buatan Bino memang istimewa. Bino menyebutnya sepatu tuk-tuk. Lho, kenapa disebut begitu? Karena sepatu buatan Bino dapat berbunyi tuk..tuk..tuk… setiap kali dikenakan. Mungkin kamu berpikir sepatu yang berbunyi tuk-tuk itu hanya sepatu berhak tinggi saja. Bukan. Semua sepatunya berbunyi tuk-tuk jika dikenakan. Bukankah semua bunyi tuk-tuk sama? Hohoho, jangan salah, sepatu buatan Bino bunyinya merdu. Lalu setiap kali mengeluarkan bunyi tuk-tuk, bau harum menyeruak keluar. Harumnya berbeda dengan parfum manapun.
Itulah sebabnya mengapa banyak kurcaci yang menyukai sepatu buatan Bino. Setiap kali mengenakan sepatu itu, perhatian kurcaci lainnya langsung tertuju pada mereka. Tentu saja mereka senang diperhatikan. Sepatu itu membuat mereka kelihatan keren dan wangi, tentu saja!
Tetapi yang paling menyenangkan saat berada di toko Bino adalah senyum Bino. Semua yang datang kesana menyukai senyum Bino. Bino ramah. Dia juga jujur. Jika ada suatu yang kurang pada sepatunya, meski pembeli tidak menyadarinya, dia akan menawarkan untuk memperbaiki. Tanpa biaya tambahan.
Tring… tring…!
Suara lonceng di atas pintu toko Bino berdenting. Itu tandanya ada calon pembeli yang datang. Bino langsung meloncat dari tempat duduknya, meninggalkan pekerjaannya menghias sepatu dengan pita, pagi itu.
“Selamat pagi,” sapanya riang.
Kurcaci yang baru saja masuk itu tak menjawab. Dia mengangguk saja lalu sibuk melihat-lihat sepatu yang berjajar di toko Bino. Bino tahu dia bernama Tuan Marcus, salah seorang kurcaci terkaya di kotanya.
“Ada yang bisa saya bantu?” Bino mengikutinya. Setiap calon pembeli yang datang selalu diperlakukannya dengan ramah. Tak heran, selain sepatunya yang bagus, para kurcaci senang datang ke tokonya karena keramahannya.
Berbeda dengan biasanya, kali ini senyum Bino tak membuat kurcaci itu balas tersenyum.
“Sepatu seperti apa yang Tuan cari?” tanyanya lagi.
“Hmm… Boot dari kulit. Saya mau yang terbaik,” jawabnya angkuh.
“Semua sepatu disini saya buat dengan bahan yang terbaik, Tuan,” Bino menjawab sambil tetap tersenyum. Diambilnya beberapa pasang sepatu yang kelihatannya sesuai dengan yang dicarinya. Boot hitam berhias gesper yang gagah, boot coklat muda dari kulit, dan boot merah tua dengan banyak kancing di salah satu sisinya.
Tuan Markus mencoba semuanya. Saat mencoba sepatu yang terakhir, sepatu yang berwarna merah tua, wajahnya terlihat cerah. Kelihatannya dia sudah menemukan apa yang dicarinya.
“Ini dia yang aku cari. Sepatu ini pasti cocok kukenakan,” katanya pada diri sendiri. Bino ikut tersenyum melihatnya. Dia lega melihat Tuan Markus mendapatkan sepatu yang sesuai dengan keinginannya. Kata teman-temannya, susah untuk menyenangkan Tuan Markus. Dia sangat pemilih, selalu ingin barang-barang yang terbaik. Ada cela sedikit, dia langsung tahu.
Tapi senyum keduanya mendadak hilang saat Tuan Markus mencoba sepatu itu untuk berjalan. Tidak ada suara tuk-tuk yang terdengar. Dan tak ada wangi yang tercium.
“Apa-apaan ini!” katanya. “Kudengar toko ini menyediakan sepatu berbunyi tuk-tuk yang wangi? Mana buktinya?”
Bino ketakutan. Bagaimana bisa ya? Padahal dia selalu bekerja dengan teliti. Mungkin dia lupa menaburkan bubuk ajaib dan memberi mantera dengan tongkatnya.
“Maaf, Tuan… Bagaimana kalau saya coba perbaiki?” tawarnya.
 Tuan Markus menatapnya tak percaya.
 “Saya tidak dapat menunggu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Besok saya kesini lagi. Saya mau sepatu itu sudah siap,” katanya.
 “Ba… Baik, Tuan. Saya akan kerjakan secepatnya,” Bino tergagap menjawabnya.
Tuan Markus keluar dari toko Bino dengan wajah cemberut. Sungguh tak enak melihat orang berwajah seperti itu. Bino merasa bersalah telah mengecewakannya. Selama dia membuka toko belum pernah ada calon pembeli yang seperti itu.
Bino segera membawa sepatu itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Dibukanya kotak berisi bubuk ajaib yang dapat membuat sepatunya berbunyi tuk-tuk dan menebarkan bau harum. Lalu dicarinya tongkat ajaibnya yang biasanya disimpannya di dalam lemari.
Betapa kagetnya Bino saat tahu tongkatnya itu tak berada di tempatnya!
Dia baru ingat, sebelumnya dia sudah mencari tongkatnya itu. Namun tiba-tiba ada pembeli yang datang, kemudian dia lupa mencarinya lagi karena hari sudah larut.
“Bagaimana ini? Tanpa tongkat itu akau takkan dapat membuat sepatu itu istimewa,” pikirnya bingung. Sepanjang malam Bino gelisah hingga tak dapat tidur karena memikirkan tongkatnya yang hilang. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi, seperti yang biasa dilakukannya.
Dalam hati, Bino berdoa semoga Tuan Markus tidak marah padanya. Karena jika sampai dia marah, pasti dia akan membicarakannya pada semua kurcaci di kita ini.
Meskipun sudah memutuskan seperti itu, Bino tetap saja merasa tak tenang saat mendengar bunyi lonceng di pintunya keesokan harinya.
“Selamat pagi, Tuan,” dia berusaha untuk tetap tersenyum.
“Bagaimana sepatu itu? Sudah beres?” tanyanya langsung.
“Maaf, Tuan. Saya tidak tahu harus bicara apa. Tongkat saya hilang. Saya tidak dapat membuat sepatu ini berbunyi,” Bino mengaku.
Sesaat wajah Tuan Markus memerah.
“Tuan dapat memilih sepatu yang lainnya, yang Tuan sukai,” tawar Bino, masih sambil tersenyum.
Tuan Markus memandang Bino. Tiba-tiba, tanpa disangka dia berkata, “Tidak apa-apa. Tidak penting apakah sepatunya berbunyi atau tidak, yang penting nyaman dikenakan. Lagipula saya suka kejujuran dan keramahanmu,” pujinya.
Bino terbelalak. Tuan Markus berkata begitu? Rasanya dia tak percaya. Tapi kemudian mau tak mau dia mempercayainya setelah Tuan Markus berkata, “Besok tolong buatkan saya beberapa sepatu seperti ini dengan warna berbeda ya. Kirimkan ke alamatku.”

Hari itu, Bino mendapatkan pelajaran berharga. Kejujuran dan keramahan, ternyata dapat menyelamatkannya dari segala hal buruk. [Fita Chakra]

Monday, May 20, 2013

Kata yang Istimewa


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Sekar Edisi 61/11 13-27 Juli 2011

“Kenapa Bunda selalu bilang terima kasih pada bapak itu?” tanya anak saya suatu hari. Saat itu kami akan keluar dari tempat parkir sebuah pertokoan. Seperti biasa, sambil mengeluarkan mobil dari tempat tersebut saya mengucapkan kata terima kasih pada tukang parkir.
            Saya terkejut mendengar pertanyaannya. Anak-anak sungguh peka dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Sebelumnya saya tak menyadari bahwa saya selalu berbuat demikian saat memberikan uang parkir pada setiap tukang parkir. Bahkan juga pada satpam, penjaga palang pintu kereta di gang kecil dekat rumah kami, dan pada asisten rumah tangga kami. Kenapa ya? Saya mengingat-ingat sejak kapan saya mulai melakukan hal tersebut. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin kebiasaan itu sudah saya pupuk sejak saya kuliah dahulu.
            Saya jelaskan pada anak saya berbagai alasan mengapa saya mengucapkan terima kasih pada orang-orang tersebut. Pertama, tentu  saja karena mereka telah membantu saya. Meskipun bantuan yang mereka lakukan kelihatan sepele, seperti “hanya” memberi aba-aba agar mobil bisa keluar dari deretan parkir dengan selamat atau membukakan pintu gerbang rumah kami saat kami pulang. Tetapi sekecil apapun bantuan itu saya selalu melihatnya sebagai sesuatu yang berarti.
            Kedua, saya memberikan gambaran pada anak saya bahwa mengucapkan terima kasih akan sangat menyenangkan, tidak hanya bagi mereka yang menerima ucapan terima kasih itu, tetapi juga bagi kita yang mengucapkannya. Ucapan terima kasih adalah kata-kata sederhana yang keluar dari mulut kita namun bermaksa sangat dalam. Apalagi jika kita menambahkan seulas senyum saat mengucapkannya. Saat kita mengucapkan terima kasih pada orang lain, kita membuat orang tersebut merasa dihargai.
            “Coba bandingkan. Jika Bunda meminta Kakak mengambilkan sesuatu tanpa berterima kasih dengan jika Bunda meminta Kakak mengambilkan sesuatu lalu berterima kasih. Bagaimana rasanya?” tanya saya padanya.
            “Ah, tentu saja Kakak lebih senang jika Bunda berterima kasih,” katanya ringan. Saya tersenyum mendengar jawabannya. Saya senang dia dapat mencerna apa yang saya katakan sekaligus lakukan. Saya yakin anak-anak peniru yang baik. Dengan mengajarkan berterima kasih, saya ingin mengajarkan pula cara menghargai orang lain. Saya pun katakan  mengucapkan terima kasih dengan hati tulus dan senyum akan lebih menyenangkan dibandingkan jika kita terpaksa melakukannya.
Suatu hari nanti saya yakin dia akan memahami bahwa berterima kasih atas bantuan yang kita terima sekecil apapun dan pada siapapun membuat diri kita juga merasa beruntung. Hati kita juga akan mengucap syukur atas apa yang diberikan Tuhan melalui tangan-tangan mereka. Apabila itu kita lakukan, saya percaya hari-hari akan terasa lebih menyenangkan, hati terasa ringan dan ikhlas jika kita mengucapkan terima kasih. Kata “terima kasih” memang sungguh istimewa.

[Cerita Anak] Sandra Si Pemungut Sampah


Cerita anak ini pernah dimuat di Majalah Bravo beberapa tahun lalu. Selamat membaca :)


Sandra memungut gumpalan kertas yang dibuang Nana di lantai. Dilicinkannya permukaan kertas itu dengan tangan lalu disimpannya hati-hati di laci mejanya.
            “Ih, seperti pemulung saja. Kertas itu kan sudah kubuang. Sudah tidak kugunakan lagi,” kata Nana jijik.
            “Kertasnya masih bagus kok. Bagian belakangnya masih kosong, jadi masih bisa digunakan,” sahut Sandra tenang. Nana tak mengerti bagaimana mungkin Sandra mau menggunakan kertas bekas itu. Menjijikan, pikir Nana.
            Diliriknya laci meja Sandra sekilas. Ternyata tak hanya kertas-kertas bekas yang ada di dalamnya. Ada beberapa bekas pembungkus snack tertata rapi di dalam sebuah kantung plastik. Nana jadi penasaran untuk apa Sandra mengumpulkan sampah-sampah itu?
            Sepanjang hari Nana memperhatikan tingkah laku Sandra. Setiap kali ada seorang teman yang membuang sampah sembarangan, Sandra akan dengan sabar membuangnya ke tempat sampah. Tetapi tidak semua sampah dibuang ke tempat sampah. Sebagian sampah seperti kertas-kertas bekas dan pembungkus makanan yang masih cukup bagus disimpannya di dalam laci mejanya.
            Saking penasarannya Nana tak tahan untuk bertanya pada Sita. Nana memang belum lama bersekolah di sekolah itu. Dia baru pindah seminggu yang lalu.
            “Sttt… Ta, lihat tuh, si Sandra,” bisiknya pada Sita, teman sebangkunya.
            “Ada apa, Na?”
            “Kok Sandra senang sekali memunguti sampah-sampah di kelas kita, sih? Memangnya buat apa?” Nana ingin tahu.
            Sita mengangkat bahu.
            “Nggak tahu, Na. Akhir-akhir ini dia memang sering mengumpulkan sampah. Kamu tanyakan saja padanya,” Sita menjawab. Sepetinya Sita dan teman-teman lainnya tak ada yang peduli pada apa yang dilakukan Sandra.
            Nana diam saja. Dia ingin sekali bertanya pada Sandra, tapi dia khawatir jika pertanyaannya membuat Sandra tersinggung. Dia tak ingin membuat teman-teman barunya menganggapnya buruk.
            Diam-diam Nana mengamati Sandra setiap hari. Ternyata, setiap kali pulang sekolah, Sandra selalu membawa serta kantung plastik berisi sampah-sampah itu. Nana bertanya-tanya dalam hati, apakah ayah Sandra bekerja sebagai pemulung dan Sandra ingin membantu pekerjaan ayahnya. Nana mengira-ngira.
            Tidak hanya sampah kertas dan bekas pembungkus makanan yan dikumpulkan oleh Sandra. Kadang-kadang, Sandra juga mengumpulkan botol dan gelas plastik bekas minuman dalam kemasan.
            Suatu hari, Nana memberanikan diri bertanya pada Sandra.
            “Ngg… Sandra, aku ingin tahu, mengapa kamu senang seklai mengumpulkan sampah-sampah itu? Memangnya mau kaugunakan untuk apa?”
            “Kamu benar-benar ingin tahu untuk apa sampah-sampah itu?” Sandra balik bertanya.
            Nana mengangguk kuat-kuat.
            “Lebih baik sepulang sekolah nanti kamu ikut saj ke rumahku. Nanti kamu akan lihat sendiri bagaiamana bergunanya sampah-sampah itu,” ajak Sandra.
            Akhirnya, siang itu sepulang sekolah Nana ikut ke rumah Sandra. Sepanjang perjalanan Nana sibuk menerka seperti apakah rumah Sandra. Dalam bayangannya, rumah Sandra berada di lingkungan kumuh yang penuh sampah. Nana bergidik jijik membayangkannya. Tetapi rasa ingin tahunya yang begitu kuat membuatnya tetap ikut ke rumah Sandra.
            “Kita sudah sampai, Na,” tiba-tiba Sandra berkata. Nana tersadar dari lamunannya. Ternyata rumah Sandra tidak seperti yang dibayangkannya tadi. Rumah Sandra kecil, mungil namun bersih dan asri. Di sekeliling halaman rumahnya penuh dengan tanaman-tanaman dan pepohonan besar.
            “Yuk, kita masuk,” ajak Sandra.
            Nana mengikuti Sandra masuk ke dalam rumah. Di kamar Sandra banyak kertas-kertas dan bekas bungkus makanan yang dikumpulkannya.
            “Sebenarnya aku mengumpulkan sampah-sampah itu untuk digunakan kembali, Na,” ujar Sandra menerangkan.
            Ditunjukkannya kertas-kertas bekas yang disusunnya menjadi sebuah buku kecil. Satu sisi kertas-kertas itu memang sudah berisi tulisan, tetapi sisi lainnya yang masih kosong masih bisa digunakan untuk menulis. Sama sekali tidak kelihatan kalau kertas-kertas itu berasal dari kertas bekas pakai. Bagian luarnya pun dihias dengan kertas warna-warni yang cantik.
            “Wow, bagus sekali buku ini, San! Kamu membuatnya sendiri?” Nana bertanya.
            Sandra mengangguk bangga.
            “Lalu, bekas pembungkus snack itu? Dan botol serta gelas minuman air kemasan?”
            “Aku membuatnya menjadi tas, pot-pot tanaman, tempat pensil, dan mainan untuk adikku,” jawab Sandra sambil menunjukkan hasil karyanya yang banyak menghiasi kamarnya itu.
            Nana berdecak kagum. Sandra ternyata sungguh kreatif!
            “Ah, aku tak menyangka ternyata barang bekas pun banyak gunanya ya, San,” kata Nana nyaris tak terdengar. Dia malu telah berpikiran buruk pada Sandra.
            “Benar, Na. Kalau kita mau menggunakan kembali barang-barang bekas ini menjadi sesuatu yang berguna, kita juga akan membantu mengurangi jumlah sampah, kan?” kata Sandra.
            Nana mengiyakan. Dia semakin kagum pada Sandra. Gadis pemungut sampah itu ternyata sangat mencintai lingkungan. Nana jadi ingin meniru jejaknya. [Fita Chakra]

Friday, May 17, 2013

[Tips Menulis] Selain "Katanya" Apa Lagi?

"Aku nggak mau makan nasi goreng lagi," katanya.

"Pakai saja sepedaku, asal jangan lupa membersihkan," katanya.

Pernah nggak membaca cerita yang akhir dialognya banyak dibubuhi "katanya"? Sebenarnya, banyak lho, kata lain yang bisa dipakai untuk menggantikan "katanya." Nah, ini beberapa kata yang kami (saya, Fasya, Fayanna, dan Keisya) temukan tadi sore saat kami bermain kata.

1. Teriaknya.
2. Omelnya.
3. Bentaknya.
4. Pekiknya.
5. Ujarnya.
6. Celotehnya.
7. Ucapnya.
8. Bantahnya.
9. Tegasnya.
10. Tantangnya.
11. Akunya.
12. Bisiknya.
13. Rintihnya.
14. Lirihnya.
15. Rengeknya.
16. Erangnya.
17. Elaknya.
18. Celetuknya.
19. Terangnya.
20. Jelasnya.

Saya pikir, masih banyak lagi kata lain yang bisa digunakan saat menuliskan dialog. Mau menambahkan?

Tuesday, May 14, 2013

[Refleksi] Pendengar yang Baik


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Parenting, Edisi Maret 2008.



Meski sudah menikah hampir empat tahun lamanya, bukan berarti saya dan suami sudah benar-benar saling memahami satu sama lain. Masa pacaran yang kami lalui selama sekitar dua tahun pun ternyata tidak menjamin bisa membuat kami selalu rukun tanpa adanya perbedaan pendapat. Seperti halnya pasangan lain, kami tidak luput berselisih paham.
            Satu hal yang sering kali kami membuat kami berselisih paham adalah keinginan saya (atau suami) untuk didengarkan. Kelihatannya ini merupakan hal yang sepele yang seharusnya tidak perlu kami ributkan. Tapi kenyataannya, justru masalah ’mendengarkan dan didengarkan’ inilah yang paling sering terjadi dalam kehidupan kami.
            Memang, kami berdua memiliki sifat yang bertolak belakang. Saya termasuk orang yang organized, yang melakukan segala sesuatunya sesuai planning. Sedangkan suami saya justru jarang melakukan sesuatu berdasarkan rencana, dan bahkan tidak memiliki target apa yang perlu dikerjakan.
            Hal lain yang membedakan kami yaitu sudut pandang melihat masalah. Saya tergolong tipe yang sering kali melihat suatu masalah dengan serius. Sementara suami saya tidak pernah ambil pusing dengan masalah yang ada. Bahkan, saking santainya bisa dibilang dia tipe cuek, yang melihat masalah sebagai hal yang tidak perlu terlalu dipikirkan.
            Mungkin perbedaan seperti ini yang akhirnya membuat saya merasa tidak didengarkan ketika berkeluh kesah. Suatu kali saya pernah dibuat kesal ketika saya mendapati rumah dalam keadaan yang luar biasa berantakan sepulang bepergian. Waktu itu, saya mudik ke rumah orang tua saya selama dua minggu. Ketika kembali, saya kaget melihat keadaan rumah yang kotor, pakaian kotor, koran, gelas dan piring yang belum dicuci ada dimana-mana. Saya yang suka keteraturan dan ingin rumah selalu tampak rapi, langsung mengomel panjang lebar.
            ”Ayah gimana sih? Masak rumah dibiarkan berantakan begini?”
            ”Nggak sempat beres-beres, Bunda. Ayah kan pulang malam terus,” begitu jawabnya.
            Tanpa mendengar jawabannya, saya katakan padanya, ”Ayah kan tidak harus beres-beres setiap hari. Lagipula, apa sih susahnya mengembalikan barang di tempatnya?  Lihat nih, koran kok ditaruh di meja makan, di kamar mandi, di sofa... Memangnya nggak ada tempatnya? Kan Bunda sudah sediakan tempat koran.”
            Dia diam saja. Saya lihat sekilas wajahnya tampak kesal mendengar ucapan saya. Tapi saya tidak peduli karena saya sudah terlanjur kesal dan capek, apalagi waktu itu hari sudah malam.
            Akhirnya malam itu, bukannya cepat-cepat tidur, saya malah sibuk membereskan rumah. Suami saya pun terus menerus menjadi sasaran omelan saya. Tidak tahan mendengar omelan saya, dia pun marah. Dengan suara keras dia memaparkan alasan-alasan mengapa rumah berantakan. Tentu saja saya justru menjadi semakin kesal. Menurut saya, alasan-alasan tersebut terlalu mengada-ada, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak membereskan rumah, apalagi untuk sekedar mengembalikan barang pada tempatnya. Malam itu pun kami lalui dengan perasaan marah dan kesal.
            Lain waktu, malam hari ketika suami pulang dari kantor dalam keadaan lelah, sambil bersantai-santai di depan tv saya menceritakan apa saja yang terjadi hari itu. Curhat. Seharian di rumah, mengurus anak dan rumah kadang membuat saya jenuh. Jadi, pada siapa lagi saya berkeluh kesah kalau tidak pada suami?
            Sembari bercerita, saya ikuti kemana suami berjalan, mulai dari nonton tv, makan malam, hingga menjelang tidur. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Saya bilang padanya betapa nggak mudah mengurus anak kami yang belum genap berusia 2 tahun, kemana-mana mesti diawasi, dan nggak bisa ditinggal sedikitpun saking aktifnya. Saya juga katakan bagaimana jenuhnya menjadi ibu rumah tangga, plus saya ajukan usul bagaimana jika saya beraktivitas dengan membuka bisnis sampingan.
            Setelah saya berbicara panjang lebar, saya tanya padanya, ”Bagaimana pendapatmu?” sambil menengok ke samping saya. Saya langsung terkejut mendapatinya tertidur!
            Akhirnya meskipun kesal, saya diam saja. Dalam hati sebenarnya saya kecewa mengetahui bahwa apa yang saya katakan mungkin tidak didengarkan sama sekali olehnya. Tapi apa boleh buat, karena orang yang seharusnya saya inginkan menjadi pendengar sudah tidur, saya pun tidak bisa protes padanya. Sebenarnya, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi kali ini saja. Di saat saya ingin didengarkan, saya merasa suami saya tidak peduli
            Pagi harinya, jam lima pagi, sementara saya masih sangat mengantuk, suami saya bersiap-siap ke kantor. Saya antar dia sampai di depan rumah, malas-malasan dia berangkat ke kantor, dia bilang masih mengantuk. Saya jadi iba melihatnya. Tiba-tiba saja saya teringat peristiwa tadi malam. Mungkin karena sayalah dia jadi kurang tidur. Mungkin jika saya tidak lama-lama berbicara semalam dia akan tidur lebih cepat. Meskipun ingin didengarkan seharusnya saya tidak memaksakan untuk mendengarkan dalam keadaan capek.
            Saya juga jadi teringat kejadian beberapa waktu yang lalu, ketika kami bertengkar karena keadaan rumah yang berantakan. Setelah saya renungkan, saat itu saya sama sekali tidak mendengarkan alasannya, apalagi memahami keadaannya. Sebaliknya, pada kejadian tadi malam sayalah yang seharusnya ingin didengarkan dan dipahami.
            Terlepas dari siapa yang ingin didengarkan, akhirnya saya menyadari bahwa menjadi pendengar yang baik ternyata tidak mudah. Mendengar, bukan hal yang sepele, karena tidak hanya membutuhkan telinga saja. Tetapi juga memerlukan kepekaan hati dan empati. Yang seringkali terjadi, kita terlalu egois, ingin didengarkan tapi tidak mau mendengarkan keinginan atau keadaan orang lain. Seharusnya, sebagai pasangan, saya dan suami bisa sama-sama berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Jadi tidak ada yang merasa diabaikan karena tidak didengarkan.
            Akhirnya saya sadar untuk menjadi pendengar yang baik, kita tidak hanya sekedar ’mendengarkan’, yang mungkin hanya lewat di telinga kita. Kita juga perlu ’mendengarkan’ dengan mata hati kita yang paling dalam, yang bisa membantu kita memahami perasaan dan keadaan orang lain. [Fita Chakra]

Sunday, May 12, 2013

Bukan yang Terhebat

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bravo Vo 2/No. 21 Tahun 2008



Di negeri peri, peri Nessa terkenal akan kehebatannya. Dia cerdas, bisa menghitung dengan cepat, pandai menyanyi dan menari, serta ringan tangan. Dia juga ramah dan periang. Selain itu, parasnya cantik jelita. Pokoknya, banyak hal bisa dilakukannya dengan baik. Hampir semua peri suka padanya. Mereka sering membicarakan kehebatan-kehebatannya.
            “Aku yakin pasti peri Nessa akan memenangkan lomba menyanyi dan menari di festival tahunan nanti,” kata peri Melissa.
Sebentar lagi negeri peri akan mengadakan festival tahunan untuk merayakan panen buah beri. Biasanya di festival tahunan itu selalu diadakan berbagai macam acara untuk meramaikannya.
            “Benar, dia hebat di banyak hal. Bisa-bisa semua lomba dimenangkannya seperti tahun kemarin,” sahut peri Lessie disertai anggukan peri-peri lain.
            Peri Sophie terdiam. Meski mengakui kebenaran perkataan teman-temannya di hatinya tersembul sedikit rasa iri. Bagaimana tidak, setiap hari selalu saja peri Nessa yang dibicarakan. Apa tidak bosan mendengarnya?
            Diam-diam, peri Sophie ingin sekali mengalahkan peri Nessa. Hmmm, bukan mengalahkan. Tepatnya, dia ingin semua peri tahu bahwa ada peri lain yang bisa memenangkan lomba di festival tahunan negeri peri.
            Dia pun memikirkan cara bagaimana caranya agar dia bisa memenangkan salah satu perlombaan. Setelah menimbang-nimbang peri Sophie mendaftar perlombaan berenang antar peri. Baru kali ini diadakan lomba berenang. Tahun-tahun kemarin tidak pernah ada.
            “Ikut lomba apa, Sophie?” tanya peri Audrey.
            “Berenang. Kamu sendiri?” peri Sophie balik bertanya. Dilihatnya formulir pendaftaran di tangan peri Audrey masih kosong.
            Peri Audrey mengangkat bahu.
            “Malas, ah… Kemarin-kemarin semua juara dimenangkan peri Nessa,” katanya. Peri Sophie ingat, tahun lalu, peri Nessa memenangkan lomba menari, terbang, menghitung buah beri… Uh, banyak sekali pertandingan yang dimenangkannya!
            “Eh, jangan patah semangat begitu dong. Yuk, ikut lomba berenang saja. Nanti kita latihan bareng,” bujuk peri Sophie.
            Peri Audrey masih ragu. Tapi akhirnya dia menganggukkan kepala juga.
            Mulai hari itu, mereka berdua giat berlatih berenang.
*
            Hari perlombaan tiba.
            Seharusnya pagi ini peri Sophie sudah bersiap di kolam renang negeri peri. Tetapi dia merasa tidak enak badan. Sejak semalam, tubuhnya menggigil kedinginan. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, dia memutuskan tidak ikut perlombaan tersebut. Dia pun segera memberitahu peri Audrey.
            “Yah, sayang sekali… Padahal kita sudah berlatih keras untuk perlombaan itu,” sesal peri Audrey.
            “Habis mau bagaimana lagi? Tidak apa-apa, toh kamu masih bisa ikut. Semoga berhasil ya,” kata peri Sophie menyemangati.
            Peri Audrey pun pergi ke tempat perlombaan. Puluhan peri sudah berkumpul disana ingin melihat perlombaan tersebut. Peri Audrey sedikit khawatir menghadapi pertandingan pertamanya. Apalagi saat melihat, beberapa peri meminta peri Nessa mengikuti perlombaan tersebut ketika tahu peri Sophie mengundurkan diri.
            “Ayolah, ikut saja kan tidak ada salahnya. Kami tahu kamu hebat, pasti kamu jadi juara,” bujuk salah seorang peri.
            “Ah, aku kan belum latihan…” peri Nessa menjawab ragu.
            “Ayolah, kamu pasti bisa. Hanya berenang saja kan,” peri lainnya ikut-ikutan membujuk.
            Akhirnya peri Nessa ikut perlombaan itu meski sedikit ogah-ogahan. Peri Audrey sedikit heran melihatnya. Biasanya peri Nessa sangat bersemangat menghadapi berbagai macam perlombaan. Kok sekarang kelihatan berbeda? Peri Audrey bertanya-tanya dalam hati. Tetapi dia berusaha memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Sebentar lagi perlombaan akan segera dimulai.
            Saat peluit mulai ditiup, semua peserta bersiap di tempatnya masing-masing. Peri Audrey melihat wajah peri Nessa kelihatan pucat pasi. Sepertinya dia sangat tegang.
            “Priiiit…!” peluit panjang ditiup. Semua peserta menceburkan diri ke dalam kolam renang dan mulai berenang.
            Peri Audrey berenang secepat mungkin. Sesampai di garis finish, semua orang bertepuk tangan. Ternyata dialah yang pertama sampai di garis finish!
            Peri Audrey rasanya tak percaya. Dia menengok ke belakang. Saat itulah dia tahu, peri Nessa ternyata tidak pandai berenang! Peri Nessa berada di urutan paling akhir, tangannya menggapai-gapai kesana kemari dengan lelahnya. Beberapa peri berusaha menolongnya, membawa peri Nessa ke pinggir kolam.
            Peri Audrey mendengar beberapa peri berbisik di belakangnya.
            “Ternyata peri Nessa tidak sehebat yang kita kira ya. Bayangkan, dia tidak pandai berenang.”
            Peri Audrey tersenyum dalam hati. Tentu saja tidak ada peri yang sempurna. Setiap peri pasti memiliki kekurangan. Meski peri Nessa sekalipun!
            Rasanya peri Audrey tidak sabar ingin menceritakan kemenangannya pada peri Sophie. Kalau bukan karena dia, tentu dia tidak akan ikut perlombaan ini dan menjadi pemenang. [Fita Chakra]