Monday, March 9, 2015

[Resensi] Dengan Pujian, Bukan Kemarahan

Repost dari notes FB saya tanggal 16 Agustus 2010.


Judul     : Dengan Pujian, Bukan Kemarahan 
Penulis  : Nesia Andriana Arif
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2010

Buku ini saya "temukan" di deretan rak terdepan di Gramedia Central Park. Meskipun tidak ada di dalam list belanjaan saya, akhirnya buku ini tetap saya beli mumpung diskon lumayan :) Buku-buku parenting termasuk jenis buku yang saya sukai, jadi tak ada salahnya kan?

Dari awal, buku yang ditulis berlatar belakang negeri Sakura ini banyak membukakan mata dan hati saya. Berdasarkan pengalaman penulis tinggal selama kurang lebih 12 tahun di Jepang, banyak hal-hal yang ditangkap dan dituangkan di dalam tulisan-tulisan di buku ini. Buku ini sarat makna. Mengenai bagaimana rupa pendidikan formal di Jepang mulai dari hoikuen (tempat penitipan anak), youchien (TK), kids supporter hingga SD. Mengenai bagaimana umumnya orang tua di Jepang mendidik anak-anaknya. Dan, juga menanamkan kemandirian dan tanggung jawab.

Layaknya dua sisi mata uang, tidak semuanya yang baik-baik tergambar di sini. Namun demikian, banyak hal baik yang bisa saya ambil manfaatnya dari buku ini. Saya sangat terkesan dengan salah satu judul bahasan di dalam buku ini yang berjudul "Mangkuk Nasi yang Dibawa Berlari". Inilah refleksi kehidupan yang sering saya lihat sehari-hari, dimana para ibu atau asisten rumah tangga berupaya membuat anak-anak makan dengan cara menyuapi anak tersebut sambil berjalan-jalan. Seringkali, saya bahkan melihat anak-anak itu digendong sambil berjalan-jalan agar mau makan. Sementara di Jepang, mulai usia satu tahun anak sudah dilatih duduk manis saat makan. Pada usia 3 tahun, anak-anak sudah dilatih makan sendiri.

Saya tak mau munafik, saat anak pertama saya pernah mendapatkan perlakukan seperti ini dari saya. Syukurlah hal ini tak berlangsung lama. Lalu saat kelahiran adik-adiknya, mereka tidak pernah saya perlakukan seperti ini. Bukan karena membedakan, tetapi karena kedua adiknya adalah anak kembar yang membuat saya tak bisa menggendong mereka dua-duanya sambil menyuapi!Tetapi sesungguhnya  alasan terbesar saya adalah karena tidak mau membuat mereka terbiasa makan dengan cara seperti itu. Saya tidak mau hal ini menjadi kebiasaan yang berlanjut terus. Anak-anak harus bisa makan sendiri dan duduk manis di kursi saat makan.

Bagian lain dari buku ini yang berjudul "Saat Anak Jatuh" juga merupakan salah satu kisah favorit saya. Disitu dikisahkan bagaimana para ibu di Jepang sebagian besar akan bersikap biasa saja saat anaknya jatuh. Mereka tidak akan terburu-buru mendatangi anaknya lalu dengan suara panik mencemaskan keadaan anaknya. Sebaliknya, mereka bereaksi dingin, mengatakan "Jangan menangis!", "Tidak apa-apa!" jika anak-anak jatuh. Penulis menutip sebuah artikel yang mengatakan bahwa pola asuh seperti itulah yang menjadi salah satu faktor yang telah berhasil membentuk manusia-manusia Jepang sebagai sosok pekerja keras nan ulet.

Meskipun akhirnya penulis sendiri mengakui bahwa dia tidak yakin apakah sikap seperti itu yang pantas diperlihatkan saat anak jatuh, sedikit banyak saya menangkap maksud dari tulisan ini. Bahwa ada baiknya jika orangtua tidak bersikap berlebihan memperlakukan anaknya seperti kaca yang mudah pecah. Sikap seperti itu bisa membuat anak jadi mudah panik, takut melangkah,dan membayangkan hal-hal yang paling buruk saat tertimpa masalah.

Satu hal terakhir yang mengesankan di buku ini yaitu penggambaran pendidikan di Jepang yang tidak mengenal sistem peringkat di kelas.  Rapor siswa di sekolah untuk kelas satu dan dua dibuat tiga level yaitu perlu lebih berusaha, bisa, dan benar-benar bisa. Ini dibuat agar anak-anak tidak turun semangat belajarnya.Di sinilah saya sempat termenung sejenak dan membandingkannya dengan sistem pendidikan disini yang sangat berbeda.

Pendek kata, seluruh isi buku ini sepanjang 294 halaman habis saya baca dalam waktu sehari semalam. Menandakan bahwa isinya mudah dicerna dan cukup menarik bagi saya, hingga saya tak kuasa melepaskan buku ini sekejap saja.:)

13 comments :

  1. Replies
    1. Nggak juga kok, Mbak. Kebetulan saya suka baca buku-buku parenting :)

      Delete
  2. bs diblg aku agak ngikutin cara jepang ini. Walopun ga sepenuhnya. Tp pernah diprotes ama ibuku katanya aku keras ama anak.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi sama, Mak. Aku tergolong disiplin sama anak. :)

      Delete
  3. mangkok yg dbawa brlari blm bsa sya trapkan pas anak sya umur 9 bln mbk.....smga pas stahun bsa.....

    tpi memang pndidikan dnegara mnapun ada plus minusnya.........qt ambil plusny y mbk :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener. Ambil yang baik saja, Mbak :)

      Delete
  4. Saya gak pernah menyuapi anak sambil jalan-jalan. Tapi di usia Fatih 28 bulan, masih juga makannya saya suapi. Sesekali dia mau makan sendiri. Meski berantakan ya, saya support saja. Jadi pengen beli buku ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya, saya juga membiasakan si kembar makan sendiri walau berantakan. :)

      Delete
  5. waah TFS ya Mak Fita, harus baca juga nih kayaknya bukunya. PR saya banyak banget membesarkan 3 krucils saya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Mak. Aku juga 3 orang krucils :)

      Delete
  6. mau bukunya...tapi buku lama ya kemungkinan di tokbuk masih ada kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Udah nggak terlihat di toko buku :)

      Delete