Tuesday, February 23, 2016

Mengelola Barang Tak Terpakai di Rumah

Saya suka geregetan lihat rumah penuh barang tak terpakai. Barang tak terpakai yang saya maksud adalah pakaian bekas, sepatu bekas, botol kaca, kardus-kardus, kantong plastik, dan sebagainya. Pokoknya barang-barang yang sudah jarang sekali kami pegang (atau bahkan kami ingat).

Kenapa saya geregetan? Pertama, karena pada dasarnya saya suka melihat rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Kedua, menurut saya, daripada barang-barang tersebut nggak terpakai akan lebih baik kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketiga, saya tidak mau rumah kami penuh dengan barang. Pinginnya sih, mulai belajar hidup simpel.

Friday, February 19, 2016

[Tips Menulis] Menulis Outline, Perlukah?

Awalnya, saya membebaskan murid-murid di kelas Ekskul Menulis untuk menulis apa saja. Mereka langsung mengetikkan ide mereka melalui komputer. Saya juga tidak memberi target jumlah halaman yang harus mereka tulis. Hanya tema saya biasanya yang saya tentukan.

Thursday, February 18, 2016

Lezatnya Nasi Pindang Kudus di Semarang

Memang lidah itu nggak bisa bohong ya. Anak-anak saya selera makannya Indonesia banget. Mungkin karena dari kecil mereka terbiasa makan masakan Indonesia (terutama Jawa). Mereka suka pecel, soto, gado-gado, rendang… hmm, sebut saja makanan Indonesia, sebagian besar mereka doyan. Nah, kebetulan sebelum ke Semarang awal bulan ini, anak-anak makan Nasi Pindang dari catering. Ternyata mereka suka banget. Saking doyannya, saya sampai nggak tega makan. Lha wong yang dipesan itu aja buat rebutan sama mereka bertiga hehehe. Itupun sepertinya masih kurang. Belakangan mereka memang doyan banget makan.

Friday, February 12, 2016

Jalan-jalan ke Hortimart Agro Center Bawen, Semarang

Sepulang dari Museum Kereta Api Ambarawa, kami mampir ke Hortimart di Bawen. Awalnya sih, karena kami sudah lapar hehe. Kata Opa, di sana ada restorannya, jadi sekalian saja deh.

Hortimart ini adalah sebuah agro wisata. Pengunjung yang datang bisa berkeliling kebun seluas sekitar 25 hektar menaiki mobil wisata. Kabarnya sih, selain di Bawen, ada Hortimart di lokasi lain yang jauh lebih luas, mencapai 200 hektar!

Thursday, February 11, 2016

[Proses Kreatif] Ketika Pasu Mencari Ibu

Ketika memutuskan akan mengikuti Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015 yang diadakan oleh Nusantara Bertutur, saya yakin akan banyak peserta yang ikut. Oleh karena itu, saya mesti menulis sesuatu yang unik, supaya juri terkesan dengan tulisan saya. Alhamdulillah, dongeng saya yang berjudul “Ketika Pasu Mencari Ibu” terpilih menjadi Dongeng Terbaik Kategori Sanitasi. Apa saja persiapan saya mengikuti lomba tersebut? Berikut ini yang saya lakukan:



Riset
Suka gemes saat mendengar komentar-komentar yang negatif tentang menulis cerita anak. Bagi sebagian orang, menulis cerita anak tampak mudah. Tetapi nggak demikian kenyataannya. Saya mengalami sendiri bolak-balik revisi untuk naskah pictorial book yang saat dicetak hanya 24 halaman. Padahal, satu halaman hanya memuat 3-5 kalimat.
Naskah anak juga perlu riset. Khusus untuk lomba ini, saya perlu waktu lebih dari seminggu untuk riset saja. Saya pegang aturan mainnya, cerita yang saya tulis harus mengandung unsur daerah dan lingkungan (terutama air). Dari awal saya sudah putuskan akan menulis tentang binatang yang hidup di air. Masalahnya, hewan apa yang akan saya tulis? Ikan? Katak? Berang-berang? Atau yang lainnya.
Saya ingin tokoh saya istimewa. Oleh karenanya, saya browsing dulu hewan air khas Indonesia. Yang muncul banyak hahaha. Di situlah kebingungan saya dimulai. Mana yang harus saya pilih?
Supaya bisa masuk ke setting khas Indonesia, saya memutuskan memilih pesut sebagai tokoh cerita saya. Pesut ini hidupnya di Sungai Mahakam. Ada sih pesut di daerah lain di luar Indonesia. Tetapi pesut di Sungai Mahakam dikabarkan sudah langka. Menurut saya, ini menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita.

Pesan
Pesan dalam cerita adalah keharusan buat saya. Tetapi, sebagai penulis, saya belajar untuk tidak menggurui. Oleh karenanya, saya tidak secara eksplisit mengatakan “jangan membuang sampah di sungai”. Saya hanya menampilkan kalimat-kalimat pesan (yang tidak menyerupai pesan, tetapi lebih pada penggambaran situasi dan tindakan) melalui dialog serta deskripsi.
Dalam suatu kompetisi, kita bisa melihat tema besar untuk mendapatkan pesan yang ingin ditampilkan. Nggak heran kalau umumnya cerita para peserta punya pesan moral yang serupa. Lalu bagaimana caranya supaya tulisan kita berbeda? Saya akan beritahukan di bawah ini, pada poin berikutnya.

Diferensiasi
Awalnya, saya menulis cerita dengan tokoh utama seorang anak perempuan. Pesut sebagai tokoh pendamping. Setelah sampai setengah jalan, saya merasa kurang bisa menjiwai tulisan saya sendiri. Tulisan saya terasa kering. 
Saya mencoba sudut pandang lain. Bagaimana kalau tokohnya benda? Misalnya sampah. Ternyata kurang enak juga dibaca. Akhirnya saya pakai pesut sebagai tokoh utama. Ketika pesut menjadi tokoh utama, saya merasa lebih nyaman menuliskannya.
Oya, memilih tokoh utama yang berbeda juga merupakan nilai plus. Apalagi untuk dongeng, tentu tidak apa jika tokohnya bukan manusia. Anak-anak toh suka hewan.

Revisi
Setelah selesai menulis, apakah saya langsung mengirimkan tulisan saya? Tidak. Saya peram dulu beberapa hari, lalu saya baca lagi. Setelah saya merasa fresh akan terlihat kesalahan saya. Mulai dari typo hingga ketidakkonsistenan. Saya juga mulai mengecek kebiasaan pesut, supaya pembaca bisa mendapatkan informasi yang benar. 

Itu saja sih tips dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk teman-teman. Aamiin. Kabarnya, cerita tentang Pasu ini akan diterbitkan dalam kumpulan cerita karya para finalis lomba menulis ini. Nanti kalau sudah terbit, pada beli ya. [Fita Chakra]

Wednesday, February 10, 2016

Berkunjung ke Museum Kereta Api di Ambarawa

Kebetulan saat pulang kampung kemarin, anak-anak diajak opanya jalan-jalan. Sempet bingung mau ke mana, karena hampir semua tempat di Semarang sudah pernah dikunjungi anak-anak. Akhirnya, Opa mengusulkan ke luar Semarang. Pilihan jatuh ke Ambarawa. Perjalanan Semarang-Ambarawa cukup dekat. Setidaknya begitulah menurutku. Jalanan juga relatif lancar. Apalagi kami melewati tol. Kira-kira 1-1,5 jam perjalanan mengendarai mobil.