Friday, December 28, 2012

Proses Kreatif "I Have a Dream"


Judul buku           : I Have a Dream (Marigold Girl School Series)
Terbit                  : Desember 2012
Jumlah halaman   : 208 halaman
Penerbit               : Noura Books

“Aku … aku dulu malu dengan tubuhku. Bentuknya aneh, seperti berpunuk. Aku malu kalau semua orang melihatku,” ujar Tari.
Ya, itu dulu. Meskipun Tari menderita skoliosis—sejenis kelainan pada tulang belakang, tapi Tari tidak ingin hidupnya terpuruk. Dia berusaha berpikir positif dan menjalani hari-harinya dengan ceria bersama Mila dan Felisha, sahabatnya. Bahkan, Tari berjuang keras untuk memenangkan Children Writing Contest agar mendapat hadiah uang untuk membeli alat penyangga tubuh sebagai bagian dari terapi sakitnya.
Berhasilkah Tari meraih mimpi-mimpinya? Bagaimana Tari menghadapi Nadine, si sempurna yang selalu “menjegal” langkahnya?
Baca tuntas buku keren ini, yuk! Ssttt …, siapkan tisu, ya. Ihiks!



Setiap buku baru terbit, saya selalu senang dan lega. Rasanya, seperti habis melahirkan seorang anak. Disayang-sayang, ditimang-timang, dan ingin mengabarkan ke semua orang, "Ini, lho, buku baru saya." Ya, penulis memang harus promosi, tapi postingan ini bukan sekadar promosi. Sebagian lebih karena kebahagiaan saya.

Buku ini merupakan novel anak pertama yang saya tulis, tapi bukan yang pertama terbit. First Novel saya yang berjudul Mima dan Putri Jenna kebetulan terbit lebih dulu, walau baru ditulis setelah saya menyelesaikan naskah I Have a Dream. Meski lumayan lama, saya puas dengan hasilnya. Pasalnya, menyelesaikan novel ini merupakan pembuktian bahwa saya bisa menulis lebih dari seratus halaman dalam waktu sebulan. Sebelumnya, saya maju mundur. Bisa tidak ya menyelesaikannya dalam waktu sebulan? Berbekal niat dan doa, ternyata selesai juga tepat waktu. Alhamdulillah.

Dari mana inspirasinya?

Nggak jauh-jauh, kok. Dari diri sendiri. Sudah sejak lama saya tahu, tulang belakang saya bengkok. Saya tahu bahwa itu yang disebut skoliosis, setelah punggung dan pinggang sakit sekian lama. Untungnya, bengkoknya masih derajat rendah dan terjadi setelah melewati masa pertumbuhan. Meski mesti menjaga agar tidak semakin parah, saya tak bisa berhenti menulis. Padahal, sebenarnya, kelamaan duduk saat mengetik itu bisa bikin punggung dan pinggang nyeri. Untuk mengatasinya, saya tidak mengetik dalam jangka waktu lama terus menerus. 

Karena itulah, saya jadi berpikir, bagaimana kalau skoliosis terjadi pada anak-anak atau remaja? Selain keluhan yang saya rasakan, skoliosis juga membuat bentuk tubuh tidak enak dilihat. Pundak tinggi sebelah, punggung seperti berpunuk, ya ... begitulah. Pada saya, mungkin tidak terlalu kentara. Dan lagi, saya nggak ambil pusing soal bentuk tubuh, selama saya masih bisa menulis. Saat saya browsing tentang skoliosis ini rasanya sedih sekali. Banyak anak-anak dan remaja yang mengalami skoliosis. Krisis percaya diri, mungkin saja terjadi pada mereka. Seperti yang dikatakan oleh Tari, di dalam novel ini:

"Sesungguhnya, ada yang lebih aku takutkan daripada bentuk tubuhku. Aku takut tak bisa melakukan hal-hal yang kusukai. Aku takut tak bisa menulis. Aku takut tak bisa banyak bergerak. Aku takut enggak punya teman kalau aku tidak bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan anak perempuan lainnya. Karena ... enggak punya teman itu lebih sakit daripada ngilu di punggungku." (I Have a Dream, hal 142)

Dalam pencarian data tentang skoliosis, saya berkenalan dengan seorang remaja yang juga skolioser (sebutan untuk seseorang yang skoliosis). Derajat kemiringan tulangnya mencapai 40-an derajat. Kami berbincang melalui message FB. Darinya, saya tahu selain nyeri, keluhan yang paling menganggu adalah sesak. Dia juga menjalani terapi dan sempat menggunakan brace. Saya salut padanya. Meski penyakit ini membuat hidupnya tak mudah, dia seperti remaja lainnya, yang ingin punya teman, yang punya cita-cita, yang ingin hidup normal. Rasa salut saya, bercampur kekaguman saat melihat blognya. Dia pandai menggambar dan menulis. Puisi-puisinya bagus sekali. Hasil coretannya ... Indah! Sekarang, dia kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama. 

Apa yang ingin saya sampaikan melalui novel ini?

Saya hanya ingin bilang, siapa pun punya impian, termasuk seorang skoliosis seperti saya dan anak itu. Tapi, untuk mencapai impian itu, butuh kerja keras, niat, dan kesungguhan. Tidak ada impian yang langsung tercapai tanpa usaha. Jadi, kalau kamu punya impian, kejar dan perjuangkan. Jangan berharap semua terwujud kalau kamu diam saja. Jangan pula ingin berhasil kalau masih punya seribu satu alasan.

Kalaupun kamu punya kekurangan pasti ada jalan lain. Berkompromi dengan kekurangan bukan berarti menyerah, kok. Yang saya lakukan selama ini, beristirahat sebentar ketika nyeri itu melanda, lalu menulis lagi.  Meski lama, meski sulit, saya tetap menulis. Karena saya terlanjur cinta pada dunia menulis. Dan, karena menulis adalah impian saya.

Bagaimana dengan kamu?