Friday, May 16, 2014

[Belajar Menulis] Memanfaatkan Momen di Perjalanan

Pergi bersama anak-anak bisa menjadi salah satu momen yang bagus untuk melatih kemampuan mereka bercerita dan menulis. Peristiwa yang dialami, dilihat, dan dirasakan selama dalam perjalanan adalah “bahan adonan” untuk membuat cerita. Bagaimana caranya?  Berikut ini saya share beberapa hal yang sering saya lakukan bersama anak-anak di perjalanan.

Ajak anak-anak menggunakan panca indera dengan baik.
Tanyakan pada anak-anak, apa saja yang mereka lihat, dengar, cium, kecap, dan rasakan selama di perjalanan. Pancing dengan pertanyaan seperti ini, misalnya:
“Apa saja yang kalian lihat di bandara?”
“Bagaimana suasananya?”
“Cuaca di pantai seperti apa?”
“Apa bedanya rasa udang yang Adek makan di sini, dengan yang biasa dimakan?”
“Dari semua binatang yang dilihat, mana yang paling Kakak suka? Kenapa?”
Biarkan anak-anak menjawab pertanyaan tersebut dan dengarkan. Usahakan untuk tidak menggunakan pertanyaan yang bisa dijawab dengan “ya” dan “tidak”. Dengan demikian, anak-anak akan lebih bebas berekspresi sekaligus belajar bercerita.

Beri notes atau recorder untuk mencatat hasil pengamatan.
Jika anak-anak sudah bisa menulis bekali mereka dengan notes untuk mencatat hasil pengamatan mereka. Alternatif lain, gunakan recorder. Sekali waktu, biarkan mereka belajar menjadi “wartawan cilik”. Mintalah anak-anak bertanya pada pedagang buah yang ditemui, satpam, atau pengunjung tempat wisata. Pastinya akan seru. Selain belajar mengumpulkan bahan tulisan, mereka juga akan belajar untuk lebih berani bertanya.

Minta mereka menuliskan sebagai holiday project.
Sampai di rumah, minta anak-anak menuliskan hasil pengamatan mereka sebagai holiday project. Biarkan mereka melengkapinya dengan gambar. Lalu pajanglah hasil karya mereka pada papan selama beberapa waktu. Beri apresiasi pada anak berupa pujian serta kata-kata penyemangat.
Terakhir, boleh juga mengarahkan anak-anak menuliskan ceritanya di blog. Tentu saja, dengan pengawasan orangtua.


Selamat mencoba!

Thursday, May 1, 2014

[A Place to Remember Give Away] Di Suatu Siang

Di suatu siang,

Di tepi Laut Merah, aku duduk memandangi lautan. Warnanya yang biru cerah, ditingkahi riak kecil air membuatku merasa tenang. Udaranya sungguh panas. Hanya sesekali angin bertiup, membelai rasa. Silau matahari kuhalau menggunakan sunglasses, berharap keindahan lautan bisa tetap kunikmati berkatnya.

Dengan seksama kuamati burung-burung yang terbang rendah, lalu hinggap. Rupanya mereka sibuk mematuki makanan. Riuhnya seolah pesta besar. Aku mengulum senyum melihatnya, teringat ketiga anak-anakku yang bertingkah seperti mereka saat aku datang membawa makanan kesukaannya.


Di suatu siang,

Aku bersama dia, duduk bersisian. Suatu kegiatan yang hampir tak pernah kami lakukan semenjak rumah kami ramai dengan celoteh anak-anak. Diskusi kami tak pernah bisa serius di rumah. Namun, kali itu, kami bicara banyak hal.

Tentang banyak perubahan yang akan kami lakukan sepulang umroh ini. Tentang keimanan yang mesti kami tingkatkan terus. Tentang cara mendidik anak-anak yang senantiasa harus kami perbaiki. Semuanya bermuara pada kebaikan, yang semoga saja bisa terus kami lakukan. Siang itu, kami berjanji akan mengingatkan satu sama lain.



Di suatu siang,

Aku dan dia, bicara dari hati ke hati. Sesuatu yang menenangkan, membuat hatiku terasa hangat. Aku merindukan perbincangan ini. Tapi rupanya, tak selalu semua harus dikatakan. Dalam diam, hati kami pun berbicara. Maka, setelah lelah berbicara, yang kami lakukan hanyalah memandang ke depan.

Lalu, dia ikut tertarik melihat tingkah burung-burung kecil itu. Disodorkannya makanan di telapak tangannya. Sayangnya, karena terlalu tiba-tiba bergerak, burung-burung itu malah berterbangan. Dan, aku tertawa, menertawakan kekecewaannya.


Di suatu siang,

Tak lama kemudian, adzan memanggil dari dalam masjid. Baru kutahu dari ustadz yang membimbing kami, nama asli masjid itu adalah Masjid Ar Rahman. Tapi kami mengenalnya sebagai Masjid Terapung atau Floating Mosque. Letaknya yang berada tepat di tepian laut membuatnya seakan melayang. Masjid ini menjadi persinggahan terakhir kami sebelum pulang ke tanah air melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.


Di suatu siang,

Damai memelukku. Hanya satu harap tersimpan. Kelak, kan kembali bersama ketiga buah hati kami.


Tulisan ini diikutsertakan dalam A Place Remember Give Away dari Mak Nurul Noe.