Wednesday, September 11, 2013

[Resensi] Ada Apa di Ladang Jagung?

Judul                   : Misteri Anak Jagung
Penulis                : Wylvera W
Penerbit              : Pelangi Indonesia
Cetakan             : Januari 2013
Jumlah Halaman  : 197 halaman

Sunyi! Mendadak senyap!
Tapi, di luar sana, di ladang jagung, justru sayup-sayup kudengar tangisan
Tangisan anak laki-laki. -Misteri Anak Jagung, halaman 1

Bagi Gantari, ladang jagung di Urbana itu menyimpan misteri. Gantari tahu ada yang tak beres  di sana. Tapi tak mungkin dia mengungkapkannya pada siapapun. Bagaimana mungkin dia bilang seorang anak lelaki terbakar di sana? Bahkan, orang-orang terdekatnya pun takut mendengar perkataannya. Itu karena perkataan Gantari biasanya terjadi. Banyak orang yang menganggapnya aneh. Kecuali Delia, sahabatnya.

Namun, ketika Gantari berkenalan dengan Aldwin, mereka langsung akrab. Aldwin berjanji akan mengenalkannya dengan Robin, sahabatnya. Meski demikian, Gantari merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aldwin.

Teka-teki Robin dan anak jagung masih tetap tak terjawab sampai Gantari pulang je jampung halamannya di Medan. Ladang jagung di Medan mengingatkannya pada ladang jagung di Urbana. Apalagi, sang nenek bercerita tentang seorang anak yang disebut-sebut anak dukun. Adakah hububgan antara anak itu dengan si anak dukun yang diceritakan sang nenek?

Cerita tentang anak indigo adakah salah satu favorit saya. Entah mengapa hal-hal semacam ini membuat rasa ingin tahu saya terusik. Kebetulan, saya suka membaca buku-buku psikologi dan pernah sekilas membaca tentang anak-anak spesial ini. Di dalam buku ini, penulis juga menyisipkan pengetahuan tentang anak indigo. Saya jadi paham karakter mereka yang cenderung penyendiri karena seringkali dianggap aneh. Belum lagi kenyataan bahwa mereka kerap susah membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. 

Aldwin dan Gantari merupakan anak-anak indigo. Dari buku ini saya memahami pula bahwa anak-anak ini butuh diakui. Meskipun mereka berbeda, nyatanya mereka butuh teman, dan butuh diakui.

Buat teman-teman yang suka cerita misteri sekaligus ingin tahu tentang istimewanya anak indigo, buku ini merupakan salah satu buku menarik yang bisa dibaca. Kita akan terhanyut oleh cerita yang mendebarkan sampai akhir cerita. Oya, satu hal lagi yang saya suka dari buku ini, penulis mendeskripsikan Urbana dari musim ke musim dengan baik. Saya jadi ikut membayangkan pemandangan di sana, seolah-olah saya melihat sendiri. Moga-moga apa yang saya bayangkan seindah kenyataannya.

Lalu, apa yang terjadi di ladang jagung? Silakan baca akhir cerita yang mengejutkan dalam buku ini. Dengan jeli, penulis menyisipkan ending yang mengesankan.

*Special thanks tuk Mbak Wiwiek, yang sudah mengirimkan buku ini untukku. :) Sukses ya!



Friday, September 6, 2013

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!

Cerita ini pernah dimuat di Bobo, 8 Agustus 2013. Saya kirim April 2012. Lumayan lama ya nunggunya. :)



Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
            “Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
            “Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
            “Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
            “Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
            “Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
            “Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
            Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
            Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
            “Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
            Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
            “Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
            Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
            Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
            “Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
            Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
            “Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
            Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
            “Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya. 


Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
            Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
            “Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
            Tutu semakin cemas mendengarnya.
            “Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
            Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.

Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya.

Si Sulit Makan!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, Mei 2008. Idenya berawal dari Keisya yang mogok makan. Siapa sangka, sekarang anak yang dulu jadi inspirasi tulisan ini mau melahap apa saja. Di rumah, kami menyebutnya "si selera Indonesia" karena makanan yang disukainya nggak jauh-jauh dari menu Indonesia. Teman-teman saya takjub saat melihat Keisya dengan lahapnya makan pecel! :D

Parenting, Mei 2008
Keisya terbilang anak yang susah makan. Makanya wajar saja kalau berat badannya bisa langsung turun drastis begitu dia sakit, meskipun hanya sakit ringan seperti batuk atau pilek saja. Pasalnya, begitu terasa sakit, dia akan lebih susah lagi disuruh makan.
            Suatu kali pernah terjadi Keisya mogok makan hingga tiga hari lamanya karena pilek. Yang namanya mogok makan, bagi Keisya berarti benar-benar tidak makan sesuap nasi pun! Paling-paling hanya susu yang tetap mengisi perutnya. Oleh sebab itu, saat Keisya sakit, dia bisa menghabiskan lebih banyak susu, yang artinya lebih banyak lagi pengeluaran kami untuk membeli susu karena Keisya sudah tidak minum ASI sejak usia delapan bulan.
            Tentu saja, saya sudah berupaya berbagai macam cara menyiasati pola makan Keisya yang kacau balau. Sehari makan, sehari berikutnya bisa tidak makan sama sekali, itu sudah sering terjadi. Seperti halnya ibu-ibu yang lainnya yang mempunyai anak picky eater seperti Keisya, seringkali saya kebingungan ketika Keisya mulai terlihat kurus atau tidak mau makan di saat sakit.
            Dari beberapa referensi yang saya baca, saya mulai menginstruksikan beberapa resep makanan untuk balita kepada Atun, pembantu rumah tangga kami. Saya memang tidak lihai memasak. Jadi, karena khawatir masakan yang saya masak tidak enak sehingga justru merusak selera makan Keisya, saya selalu mendelegasikan urusan masak memasak pada Atun.
            Setiap hari, saya memilihkan menu lengkap untuk Keisya dari menu sarapan, makan siang, makan sore, dan makanan selingan untuk camilan. Saya jelaskan pada Atun, bahan-bahan apa yang harus digunakan lalu bagaimana cara memasaknya. Agar tidak salah mengartikan apa yang saya baca dari majalah atau buku, Atun selalu saya minta membaca pula resep tersebut.
            Namun demikian, jarang sekali saya ikut turun tangan sendiri ke dapur untuk meracik masakan yang akan dibuat. Bukannya apa-apa, saya benar-benar tidak pede memasak! Alih-alih membuat makanan enak, saya takut masakan yang saya masak tidak enak di lidah. Soalnya sebelum Keisya lahir, saya sering memasak makanan yang rasanya ajaib alias tidak enak. Bisa dibilang saya ahli membuat masakan gosong, keasinan, atau campur aduk rasanya. Suami saya bahkan lebih mahir memasak dibandingkan saya.
            Khusus untuk Keisya, tidak sedikit resep yang sudah Atun coba praktekkan berdasarkan petunjuk buku-buku dan majalah yang telah saya baca sebelumnya. Dari makanan khas Indonesia seperti nasi goreng yang sudah dimodifikasi dengan keju serta campuran sosis dan daging, hingga makanan yang sudah biasa dimakan keluarga kami tetapi dihias atau dibentuk menjadi kelinci, wajah, dan sebagainya. Yang jelas segala jenis masakan kami coba demi untuk membangkitkan selera makan Keisya.
            Tidak seperti yang kami bayangkan, Keisya sepertinya tidak terlalu antusias makan makanan yang disiapkan untuknya. Meski tertarik dengan tampilan makanannya yang sudah dihias sedemikian rupa, tetapi tetap saja dia hanya makan sesuap dua suap saja, sekedar mencicipi saja. Tidak enakkah rasa masakan Atun? Diam-diam saya ikut mencoba makanan yang dimasak Atun. Hmm... rasanya lezat, tidak kalah dengan tampilannya yang menarik. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa Keisya tidak mau makan makanan seenak itu?
            Akhirnya, meski dimasakkan secara khusus, tetap saja selera makan Keisya tidak berubah. Jika sedang tidak ingin makan, dia tahan hanya makan sekali sehari atau bahkan tidak makan seharian. Bahkan jika dipaksa, dia tidak mau membuka mulut sama sekali. Seringkali, dia memuntahkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya kalau tidak suka makanan tersebut.
            Berat badannya yang naik dengan lambat, namun bisa turun dengan drastis jika sakit membuat saya bolak-balik ke dokter hampir setiap bulannya. Meskipun dokter sudah turun tangan menyiasati dengan berbagai macam vitamin atau penambah nafsu makan tidak ada perubahan yang signifikan pada pola makan Keisya. Lama kelamaan karena capek mencoba berbagai macam cara, saya tidak lagi berusaha memaksanya makan atau meminta Atun membuatkan masakan khusus untuknya. Keisya hanya makan jika dia memang mau lapar, karenanya dia jadi lebih banyak minum susu.
            Suatu ketika, karena Atun sakit ketika pulang kampung. Dia pamit untuk sementara waktu tidak bisa bekerja samapai sembuh. Akibatnya, tidak ada orang yang bisa memasak untuk kami berhari-hari lamanya. Saya pun memilih membeli makanan di luar untuk makan kami sekeluarga. Alasan saya, selain praktis, saya juga jadi terbantu karena selama Atun sakit, tentu saja sayalah yang harus mengurus semua pekerjaan rumah (yang tidak pernah ada habisnya) dan mengurus Keisya. Ternyata setelah beberapa hari membeli makan di luar, pengeluaran untuk makan jadi lebih besar. Selain itu, saya pun mulai bosan makan makanan yang itu-itu saja setiap harinya. Saya benar-benar rindu masakan rumah!
            Akhirnya saya nekad memasak. Hari itu mulailah saya mempersiapkan makanan yang gampang dimasak. Karena tidak ada yang menemaninya bermain selama saya memasak, saya biarkan Keisya duduk-duduk di dapur sambil melihat saya memasak. Belum juga makanan yang saya masak matang, Keisya sudah merengek minta makan. Hei..., tidak biasanya dia seperti itu. Biasanya, sayalah yang harus membujuk dia untuk makan.
            Saya pun terheran-heran melihat Keisya makan makanan hasil masakan saya dengan lahap. Bahkan sayurnya pun dihabiskan hingga tandas. Berulang kali dia bilang, ”Lagi... lagi...”, minta nambah makan. Padahal, saya hanya masak sayur bayam dan omelet, yang menurut saya, rasanya standar banget!
            Keheranan saya tidak juga sirna setelah beberapa hari saya memasak, Keisya masih juga melahap masakan saya hingga ludes. Sop ayam, tumis tauge, nasi goreng, dan sebagainya, semua dimakannya tanpa protes. Keisya, si picky eater itu, ternyata doyan masakan saya.

            Berkat Keisya, sekarang saya jadi lebih pede memasak. Saya pun jadi mengerti, mengapa Keisya dulu susah sekali makan. Masakan saya memang tidak lebih enak dari makanan yang dimasak Atun, tetapi tentu saja masakan saya dibuat dengan bumbu cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Tidak ada yang bisa melebihi rasa masakan yang dibuat dengan cinta dan kasih sayang, bukan? Mungkin, karena itulah Keisya mau makan dengan lahap. Kini saya tidak lagi harus bersusah payah memaksa Keisya makan karena kalau saya yang memasak, Keisya selalu mau makan. [Fita Chakra]

Sunday, September 1, 2013

[Resensi Buku] Menggapai Cita, Setinggi Rembulan

Judul                       : Menggapai Rembulan
Penulis                    : Ridwan Abqary
Penerbit                  : Penerbit Andi
Jumlah Halaman       : 130 halaman
 
“Orang-orang selalu bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Nah, kamu bisa menggantungkan cita-citamu pada rembulan. Kejar dan gapailah rembulan, karena di sanalah cita-citamu berada.” –Abah

Rembulan Safitri, senang sekali ketika Bu Lusi memilihnya menjadi salah satu perwakilan sekolah mengikuti Story Telling. Dia tak menyangka, kemampuannya berbahasa Inggris dianggap baik. Sayangnya, Delia tak berpikiran sama. Dia iri karena Bulan, seorang anak tukang becak sekaligus penjaga makam itu terpilih menjadi perwakilan utama, sedangkan dia hanya cadangan.

Belum sempat Bulan mengabarkan berita gembira itu pada Abah, emak dan kedua adiknya, musibah datang. Emak dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Bulan harus menjaga Bintang dan Mega yang masih kecil. Bulan kehabisan waktu untuk berlatih mendongeng dalam bahasa Inggris. Nyatanya, kedua adiknya justru senang ketika dibacakan cerita dalam bahasa Inggris. Bulan, semakin bersemangat karenanya.

Ketika Emak pulang, Bulan menyangka semuanya akan kembali seperti semula. Tapi, semuanya tak akan sama lagi saat Abah memintanya bekerja pada Bu Mira sebagai pembantu rumah tangga. Biaya pengobatan Emak yang besar membuat mereka berhutang. Abah tak bisa mengembalikan pinjaman itu tanpa bantuan Bulan.

Meski merasa sesak dadanya, Bulan menyanggupi. Dia berhenti sekolah demi bekerja. Namun, Bu Lusi seolah tak membiarkan Bulan pergi. Beliau mendatangi Bulan ke rumah Bu Mira, membujuknya tetap ikut lomba Story Telling. Bulan tak ingin berharap terlalu banyak. Namun dia tak kuasa pula menolak permintaan Bu Lusi.

Kalau kamu membaca buku ini, siapkan diri untuk ikut terhanyut dan terharu. Ini karena penulisnya terampil menjalin kata-kata yang menyentuh. Penyajiannya menawan, dibumbui sedikit humor khas anak-anak. Bulan, sebagai tokoh utama, tak tampil super perfect. Namun itu justru menarik, karena jadi lebih manusiawi. Misalnya, di suatu adegan, digambarkan pula bagaimana saking sedihnya, Bulan menahan tangis karena tidak ingin adik-adiknya mendengar tangis itu.

Bulan, mungkin tak selalu bersinar terang. Tapi dia tetap ada di langit. Demikian juga impian Rembulan Safitri, tak pernah hilang sedikitpun dari benaknya.