Monday, April 28, 2014

[Kelas Inspirasi] Sehari yang Menginspirasi

Ingin dikenang sebagai apakah engkau kelak?
Pandai, kaya dan terpandang. Atau sederhana, pengasih dan suka berbagi?

Ingin tampak seperti apa engkau di mata-Nya?
Banyak menerima. Atau banyak memberi?

Saya tidak tahu kapan tepatnya kalimat itu berdengung di telinga saya. Yang saya sadari,
selepas umroh awal Januari lalu dengungnya menjadi sangat mengganggu. Mungkin, salah satu doa yang saya panjatkan yang menjadi penyebabnya. Waktu itu, saya sudah siapkan banyak doa dari tanah air. Tapi di depan Baitullah, lidah saya mendadak kelu. Malu hati ini kalau banyak meminta hal duniawi. Malahan, saya menangis sejadinya mengingat kesalahan-kesalahan saya. Maka, saya ganti doa-doa saya. Salah satunya, menjadi permohonan agar ilmu saya bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang.

Rupanya, Allah mendengar doa saya. Tak heran ada beberapa kesempatan berbagi ilmu yang muncul kemudian. Salah satunya datang dari Kelas Inspirasi. Saya begitu excited menanti datangnya Hari Inspirasi ini. Selain karena ini adalah pengalaman pertama saya, saya juga sudah membayangkan serunya mengajar. Apalagi, di saat briefing, saya sudah bertemu beberapa teman yang sekelompok dengan saya. Mereka datang dari berbagai
profesi, usia dan minat. Bahkan ada yang usianya hampir mendekati usia Bapak saya, lho. Hebat.

Walau baru kenal, kami bisa kompak berbagi tugas dan membicarakan persiapan kelompok kami. Saya rasa, hanya satu yang merekatkan kami, yaitu keinginan berbagi yang demikian
kuat. Tak hentinya saya bersyukur bertemu dengan mereka, karena aura positif seakan menular. Saya bahkan bisa merasakan ketulusan hati mereka.

Kamis, 24 April 2014 selepas sholat subuh, saya berangkat. Tim kami terdiri dari 9 orang relawan inspirator, 3 fotografer dan seorang fasilitator berjanji tiba pukul 06.00 di
SD Paseban 02, sebuah sekolah di kawasan Salemba, tepatnya di tepi lintasan kereta. Bisa dibayangkan riuhnya suasana sekolah, karena hampir setiap kali ada kereta yang melintas. Kami sengaja datang pagi karena jam belajar dimulai pukul 06.30. Jam belajar yang tergolong pagi itu rupanya disebabkan oleh keterbatasan ruang kelas. Kelas 1 dan 2 harus bergantian memakai sebuah ruang karena jumlah ruang yang bisa dipakai hanya 5 ruang kelas.
Beberapa kegiatan kami. Foto: Tim fotografer
Tiba di gedung sekolah, saya dan teman-teman langsung naik ke lantai 3. Gedung 3 lantai ini
digunakan bersama dua sekolah lainnya yaitu SD Paseban 01 dan 03. Kebetulan SD Paseban 02 mendapat jatah lantai 3. Entah mengapa dada saya berdegup kencang. Padahal, sehari-hari saya mengajar anak SD. Mungkin, karena kali ini yang bakal menjadi murid saya punya latar belakang yang berbeda.

Tak sempat berlama-lama merasakan ketegangan, saya mesti masuk kelas. Kelas pertama yang mesti saya masuki adalah kelas 6. Dari awal saya sapa kelas ini tampak tenang. Dengan mudah saya mendapatkan perhatian mereka. Di kelas ini, saya bisa menjelaskan banyak hal tentang profesi penulis termasuk alur penerbitan buku. Senangnya lagi, anak-anak bisa menikmati permainan merangkai kalimat menjadi sebuah cerita yang saya siapkan. Satu jam pun berlalu tanpa terasa.

Asyik merangkai kalimat menjadi sebuah cerita. Foto: dokumen pribadi
Selanjutnya saya masuk kelas 1 pada jam pelajaran ketiga. Kelas 1 masuk sampai pukul 09.30. Artinya waktu saya hanya 35 menit. Waktu yang sangat singkat dibandingkan waktu untuk kelas 6. Suasana kelas 1 ramai luar biasa waktu saya masuk. Mereka bahkan
ada yang masih makan.

Butuh kesabaran untuk mendapatkan perhatian mereka. Begitu saya bilang, "Siapa mau
didongengin?" Semua serempak bilang, "Sayaaa!" 

Mendengarnya membuat saya bersemangat. Wah, sepertinya ini akan berjalan sesuai rencana,pikir saya. Sayangnya, baru beberapa menit mendengar cerita konsentrasi mendadak buyar ketika salah seorang anak mengambil buku saya yang lain, "Kakak, aku baca ini yaa!"
Waktu masih manis-manis mendengar cerita. Foto: Tim fotografer
Wuss... mendadak teman-temannya mengikuti aksi anak ini. Mereka pun sibuk membaca sendiri. Aduduh... ampun dah! Bisa dibayangkan yang terjadi setelahnya. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Ada yang berebut taplak meja. Ada yang berebut buku.Ada yang naik meja untuk mengintip kereta yang melintas dari kereta. Ada yang ngumpet di bawah meja. Superkacau!

Panik. 
Tapi saya berusaha mengingat-ingat yang harus dilakukan untuk menertibkan suasana. Saya
coba berhai-halo, minta mereka bertepuk tangan jika mendengar suara saya, sampai meminta dua orang yang bertengkar untuk bergantian membaca buku di depan. Berhasil, namun hanya dalam... ehm hitungan menit. Selanjutnya, tebak sendiri deh. Nightmare hehehe...

Menit-menit berikutnya semangat saya menguap. Tetap saja... sebagian besar berlari keliling kelas. Parahnya, suara saya mendadak hilang karena kebanyakan bicara. Puncak kepanikan terjadi ketika salah seorang anak berteriak, "Kakaaak, ada yang
pingsan!" 

Saya langsung berlari mendekat. Seorang anak perempuan terbaring di antara dua kursi. Saya guncang-guncang tubuhnya menastikan dia pingsan atau
tidur. 

"Kamu kenapa? Ngantuk?"tanya saya. 
Jangan tanya perasaan saya saat itu. Saya pikir anak ini dipukul temannya karena sebelumnya mereka bertengkar. Tahu-tahu gadis kecil itu membuka mata sambil tertawa. Hayaah, rupanya dia menipu saya! Hahaha...

Bersama kelas 1. Foto: Tim fotografer
Setelah sesi yang menguras tenaga itu, giliran saya masuk kelas 3. Jujur saja, saya sedikit
down setelah jumpalitan mengatasi kelas 1 yang sepertinya kelebihan tenaga. Maka sebelumnya saya sempat bertanya-tanya setelah anak pura-pura pingsan, jebakan Batman macam apa yang akan saya temui?

Meneruskan cerita. Foto: dokumentasi pribadi
Well, rupanya kelas 3 masih lebih ramah dibandingkan kelas 1. Mereka bisa meneruskan cerita yang saya tulis. Meski demikian saya masih merasa kurang puas karena belum semua materi tersampaikan namun waktu terlanjur habis, hiks. Lagipula, saya terlanjur kehilangan sebagian besar semangat saya. Ternyata, butuh lebih dari kesabaran untuk mengajar anak-anak.

Di akhir jam pelajaran bersama teman sekelompok, kami mengadakan penutupan. Masing-masing anak menempelkan cita-citanya di pohon cita-cita. Lalu kami bersama-sama menonton video kegiatan kami selama sehari itu. Senang rasanya melihat wajah bahagia mereka.

Setelah sesi foto bersama tibalah saat berpisah. Tanpa saya duga mereja bersalaman dan
mencium tangan kami semua. Mendadak hati saya menghangat. Saat salah seorang bertanya, "Kakak akan datang lagi kan?" Air mata mendesak-desak keluar dari sudut mata. Mati-matian saya berusaha menahannya, semata-mata supaya tidak menangis di depan mereka.

Terus terang, ada rasa tak puas dengan cara mengajar saya. Tapi saya berjanji dalam hati, suatu saat akan lebih baik. Dan untuk itu saya rela belajar terus. 

Foto bersama sebelum pulang. Foto: Tim fotografer
Hari itu, saya mungkin hanya membagi sedikit. Tapi percayalah, tak ada yang terasa hilang dari saya selain meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan keringat. Justru, yang saya peroleh jauh lebih banyak. Rasa bahagia yang tak terlupa di suatu hari yang menginspirasi. Kelak, ini akan jadi kenangan yang indah. 

Supaya lebih tergambar suasananya, silakan nikmati video ini ya. Mungkin, setelah ini, ada yang tergerak menjadi relawan kelas inspirasi mendatang. Cek di web Kelas Inspirasi, ya. 




Terima kasih untuk,
Allah Swt, yang memberi saya kesempatan belajar lagi.
Fasilitator kelompok 22 yang mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengarkan kami: Mbak Luluk.
Teman-teman relawan inspirator. You rock!: Elisa, Ibu Dyah, Ibu Nana, Ibu Elda, Aisha, Riri, Agi, dan Cikna.
Teman-teman fotografer dan videografer yang mengabadikan momen istimewa ini dalam gambar yang cantik: Bongky, Coky, dan Yosi.

Tuesday, April 22, 2014

[Cerpen Remaja] Anggrek Ungu

Anggrek Ungu, dimuat di Gadis, 21 Mei 2013.

“Ciee… Fans baru, nih,” goda Vina. “Dari siapa?”
Maira mengangkat bahu. Tidak ada kartu ataupun surat di dalam buket tersebut. Hanya seikat anggrek ungu berpita ungu muda dibalut plastik bermotif bunga-bunga ungu kecil dan huruf “O” di sana-sini. Serasi.
Maira memandang teman-teman cowok di kelasnya, menerka-nerka pengirim anggrek ungu itu. Mariokah? Si tampan jago basket yang hampir setiap hari menelepon. Atau Dude? Cowok paling pintar di kelasnya yang selalu menawarkan PR-nya dicontek semena-mena oleh Maira. Atau… Bram? Adit? Ah, terlalu banyak kemungkinan.
Mata Maira bertatapan dengan Edwin, teman sekelasnya yang sering kedapatan sedang melamun. Edwin spontan menunduk ditatap seperti itu oleh Maira, murid baru yang mendadak jadi idola.
Apakah dia? Maira menebak dalam hati. Si misterius ini sama sekali tidak terdengar suaranya jika tidak diajak bicara. Dia benar-benar seperti vampir. Hidup tapi seolah tak bernyawa. Maira tak tahu segala sesuatu tentangnya. Bahkan, percakapan Maira dengannya bisa dihitung dengan sebelah tangan selama beberapa bulan sejak Maira menghuni kelas tersebut.
Ih, semoga bukan. Kalau Mario atau Dude, bolehlah. Mereka super keren.
“Misterius,” komentar Vina. “Siapa lagi yang bakal jadi korban kejutekanmu?” Vina menggoda.
Maira mendesah. Semua orang tahu, meski banyak yang mengejarnya, dia terlalu jutek untuk didekati. Itu semua karena Maira ingin terlihat tidak murahan.
“Anggrek ungu, artinya memang misteri. Apa maksudnya mengirim anggrek ini? Siapa pelakunya?” Maira semakin bingung.
Vina menahan tawa, “Dari mana kamu tahu artinya?”
“Dari majalah yang pernah kubaca. Mawar artinya cinta, anggrek artinya misterius… Sebut saja nama bunga, aku tahu artinya,” tukas Maira kesal.
“Bagaimana kalau dia hanya mau nunjukin kalau dia punya taman anggrek,” Vina terbahak. “Selalu anggrek ungu. Kayak nggak ada bunga lain. Mawar, kek.”
Maira tertegun. Sudah tiga kali dia mendapatkan buket berisi anggrek ungu. Ini bukan kali pertama Maira mendapatkan bunga dari seseorang. Tetapi, biasanya para cowok yang mengejarnya mengirimkan mawar. Artinya jelas, mereka naksir. Kalau anggrek ungu? Aneh.
*
The Orchids. Maira membaca papan di depan sebuah toko bunga.
“Selamat sore! Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang lelaki dengan sopan.
“Edwin,” Maira spontan berkata ketika matanya bertatapan dengan lelaki itu. “Kamu…”
 Edwin tersenyum. “Setiap sore, sepulang sekolah aku berada di sini, melayani pembeli.”
Pipi Maira memanas. Malu. Saking cueknya, dia tak tahu temannya punya toko bunga!
“Tokomu?” Maira memerhatikan celemek yang dikenakan Edwin. Motifnya familiar. Bunga-bunga kecil ungu dan huruf “O”.
Edwin menggeleng, “Milik ibuku. Dia sudah meninggal beberapa bulan lalu.
Mata Maira terpaku pada plastik bermotif yang sama dengan celemek Edwin. Deg!
“Kamu… yang mengirim anggrek ungu itu?” Maira terbata berkata.
Edwin meremas celemeknya, salah tingkah. Lalu keluarlah pengakuannya.
“Iya, aku yang mengirimnya. Jangan marah, ya. Aku tidak bermaksud menakutimu.”
“Maksudmu?” Jantung Maira berdebar. Bertatap langsung dengan Edwin membuat Maira menyadari, wajah Edwin tampan, sekilas seperti Zayin Malik, salah satu personil One Direction.
“Aku mengirimnya, karena kamu mirip sekali dengan ibuku,” katanya pelan. Matanya terlihat berkaca-kaca. “Kamu cantik sekali… ”
Maira ganti tertunduk. Entah mengapa, dia merasakan ketulusan Edwin. Dari semua cowok yang mencoba menarik perhatiannya, Edwin berbeda. Cowok yang menyukai anggrek itu pasti bukan cowok sembarangan.
“Seandainya saja, kamu nggak jutek,” Edwin meneruskan kalimatnya sambil tersenyum.
Maira mengangkat wajah. Sekarang, dia tahu alasan Edwin mengirimkannya anggrek ungu. Dia berharap, hati Maira secantik hati ibunya.
“Terima kasih sudah mengingatkanku,” kata Maira. “Tapi, lain kali kasih tahu kalau anggrek ungu darimu itu artinya cantik, bukan misterius.”

Edwin tertawa terbahak. Tawa yang baru kali ini didengar Maira. [Fita Chakra]

Sunday, April 20, 2014

[Sharing Session] Belajar Menulis Kisah Inspiratif

Bermula dari obrolan di grup WA ibu-ibu di kompleks perumahan saya, muncullah pembicaraan tentang dunia tulis menulis cerita. Lalu tercetuslah keinginan mereka untuk belajar menulis pada saya. Awalnya sih, saya mikir, saya ini apalah artinya dibandingkan penulis-penulis lain yang lebih banyak jam terbang. Tapi, kemudian melihat semangat para ibu-ibu ini, saya jadi merasa berkewajiban membagi secuil ilmu yang saya punya. Toh, sesedikit apapun akan lebih bermanfaat daripada saya simpan sendiri. Ya, kan? Iyaaa....

Maka, mulai bulan Maret 2014, saya mulai membuka kelas online. Mengapa online? Kan tinggal sekompleks, mestinya gampang ketemunya. Iya, sih, tapi, kenyataannya ibu-ibu ini kesibukannya segudang dan profesinya bermacam-macam, sehingga baru longgar waktunya di malam hari. Setelah diskusi, diputuskan untuk mencoba kelas online setiap Jumat malam. Alhasil, setiap Jumat jam 21.00-23.00 saya kencan dengan kompie sambil nonton Idol hehehe.

Berapa biayanya? Untuk kelas ini, saya tidak menarik bayaran sepeser pun. Saya menamainya "Sharing Session", bukan kelas menulis. Materi yang saya berikan materi dasar menulis kisah inspiratif, karena banyak yang baru berkenalan dengan dunia menulis cerita. Sebagian mengaku pernah sangat suka menulis dulu, tapi karena tertimbun kesibukan jadi merasa kaku. Ada juga yang sering menulis berdasarkan data dan penelitian sehingga mati gaya saat menulis kisah inspiratif. Padahal, saat saya baca, tulisannya sudah bagus, lho!

Sempat saya mengulik motivasi mereka, hasilnya pun beragam. Ada yang ingin belajar menulis sekedar untuk curhat. Ada yang punya mimpi ingin menulis buku. Macam-macam. Saya sendiri berharap, hasil pelatihan menulis ini bisa diterapkan dalam tulisan mereka. Paling tidak di dalam blog. Syukur-syukur kalau bisa jadi kebiasaan.

Screenshoot komentar tentang Sharing Session
Akhirnya, April ini genap sebulan kelas berjalan. Alhamdulillah, meski tetap saja terkadang waktunya nggak cocok untuk bertemu secara online (saya siap, pesertanya masih ngeloni anak-anak. Peserta siap, saya sakit dan sebagainya hehehe), pesertanya tetap semangat. Saya sendiri menyadari kelas ini masih punya banyak kekurangan, yang malah memberi saya ide untuk menulis tentang Tips Mengikuti Kelas Menulis. Insya Allah akan saya tulis dalam postingan terpisah. Namun, yang terpenting bagi saya, berani mulai berbagi merupakan langkah awal yang baik.

Harapan saya, semoga semua yang telah saya saya bagi di kelas tersebut bermanfaat untuk mereka. Aamiin.


Friday, April 11, 2014

[Aisyah] Si Cantik Hati

Namanya Aisyah.

Tutur katanya lembut dan santun. Terkadang, saking asyiknya ngobrol dengan putriku, logat Jawa-nya yang medok keluar. Membuat siapa pun yang mendengar mengulum senyum. Termasuk aku.

Hari itu, seperti biasa, aku meminta beberapa orang maju untuk menceritakan ulang hasil karyanya. Kali ini, Aisyah yang menawarkan diri. Aku masih ingat, suaranya lantang dan percaya diri. Tanpa menanggalkan kesantunan -dia mengucap salam terlebih dahulu- Aisyah mulai bercerita. Judul ceritanya "Berlomba Kebaikan".

Suara beningnya lalu terdengar, membuat seisi kelas yang awalnya hiruk pikuk karena semua berebut maju, mendadak senyap. Kurasa, karena semua ingin mendengar ceritanya.

"Ah, kamu yang menang hari ini. Kamu menolong banyak orang."

"Memangnya apa hadiahnya kalau kita berlomba kebaikan?"

"Hadiahnya bukan piala. Bukan barang. Tapi hadiah lomba kebaikan adalah pahala menuju surga."

Aku terdiam sejenak mendengar akhir ceritanya. Hangat diam-diam memenuhi ruang hatiku. Selalu ada pelajaran berharga bersama anak-anak ini. Kali ini, kudapat dari Aisyah.

Dan, ini sangat berharga.


Friday, April 4, 2014

[Proses Kreatif] Perjalanan Menulis Misteri Taman Berhantu

Sebenarnya, naskah Misteri Taman Berhantu ini bukan naskah baru. Sudah beberapa tahun lalu saya tulis. Sempat dikirim pada dua penerbit, tapi berakhir dengan penolakan. Setelah itu, saya melupakannya hingga teronggok sekian lama di folder.

Hasil akhir cover yang diilustrasi oleh Mas Indra Bayu
Saya baru ingat lagi naskah ini, setelah saya main ke kantor KPG, sesaat setelah memenangi Lomba Menulis Novel Bluestroberi yang diadakan Ice Cube Publisher. Kebetulan Penerbit Kiddo, yang menerbitkan naskah Misteri Taman Berhantu, berada satu atap dengan Ice Cube Publisher. Mbak Winda Veronica, yang memegang naskah Rainy’s Days mengenalkan saya pada Mbak Pradikha Bestari.

Ngomong-ngomong soal Mbak Dikha, demikian panggilan akrabnya, saya nggak nyangka bisa ketemu dia, lho. Soalnya, biasanya cuma lihat tulisannya di majalah Bobo. Soal tulisan misteri, Mbak Dikha ini jagonya. Pantes saja, murid-murid saya, juga Keisya, suka banget baca Bobo. Apalagi yang ditunggu kalau bukan cerita misterinya Mbak Dikha.

Kembali ke naskah, seperti biasa, saat editor ketemu penulis yang ditanyakan sudah pasti naskah hehe. Saya tiba-tiba saja ingat punya naskah yang nganggur. Beberapa hari kemudian, saya kirim naskah itu ke Mbak Dikha. Dan ternyata, mereka mau menerbitkan! Jawabannya nggak pakai lama pula. Hiyaa, langsung saja saya tambah semangat.

Sayangnya, Mbak Dikha minta revisi banyaaak… karena naskah ini mau dimasukkan ke dalam Seri Misteri Favorit. Pastinya harus menyesuaikan dengan konsep judul di dalam seri ini yang sudah terbit duluan. Saya mesti menambahkan fakta unik, mengubah settingnya yang tadinya nggak jelas ada di negeri mana alias khayalan menjadi sebuah tempat di Indonesia, juga mengutak-atik lagi alurnya supaya enak dibaca.

Naskah tentang kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung pun saya revisi penuh semangat. Soal setting, saya sempat bertanya-tanya pada beberapa teman yang pernah ke sana. Saya juga browsing gambar dan berita melalui internet. Lumayan, saya jadi ada gambaran mengenai settingnya.

Supaya lebih menarik, tokoh utama di dalam cerita ini, yaitu dua anak kembar bernama Sekar dan Laras, ditemani tokoh-tokoh lain. Selain tokoh yang sejak awal sudah ada di dalam cerita, yaitu Pak Rico, guru yang berambut aneh; Pak Wisnu, penjaga penangkaran kupu-kupu; dan Amel, murid yang perkataannya sering menjadi kenyataan, saya tambahkan sosok Pak Rudy, sang jagawana.

Selain revisi di atas, saya juga mesti menambahkan fakta unik tentang kupu-kupu, Bantimurung, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penangkaran. Tujuannya supaya pembaca novel ini, mendapatkan tambahan pengetahuan tentang kupu-kupu dan juga Indonesia. Asik, kan?

Saya ingat, waktu itu, saya minta waktu sampai akhir Januari karena awal Januari saya berangkat umroh. Saya pikir, saya sempat mengutak-atiknya sebelum berangkat, supaya setelahnya tinggal membaca ulang dan self editing. Nyatanya, saya baru bisa total merevisi naskah setelah pulang. Lega dong, setelah saya kirim. Ternyata… Mbak Dikha kembali mengirimkan e-mail revisi.

Jujur saja, kepala saya mulai cenut-cenut. Begini risikonya punya editor superteliti, ada yang nggak konsisten sedikit dia akan tahu. Okelah, saya pun merevisi lagi. Ada beberapa bab yang diubah total. Berharap revisi ini lebih baik dari sebelumnya, karena saya mengubah kurang lebih sepertiga bagian isinya, saya pun mengirimkan kembali.

Tahukah apa yang terjadi kemudian?
Tepat di tanggal 14 Februari, Mbak Dikha mengirimkan kembali naskah saya beserta poin-poin yang harus saya revisi, dengan catatan, waktu revisi hanya seminggu. Doeeng! Rasanya mau pingsan.

Saya tidak langsung menjawab e-mail itu. Butuh beberapa hari sampai saya berani menjawab e-mail itu. Saya bilang pada Mbak Dikha, saya butuh waktu lebih dari seminggu mengingat dua kali revisi ternyata hasilnya kurang memuaskan. Tetapi, jika penerbit tidak bisa memberikan waktu lebih, lebih baik saya menarik naskah tersebut.

Deg-degan rasanya menunggu jawaban selanjutnya. Namun saya berusaha ikhlas. Rupanya, naskah itu masih menjadi rezeki saya. Saya diberi waktu hingga 3 minggu untuk menyelesaikannya.

Di revisi ketiga, saya tidak mau menyiakan kesempatan itu. Niat saya, naskah ini harus mulus supaya saya tidak diminta revisi lagi. Revisi terus bikin capek hati, Sodara-sodara! Saya pun mulai dari awal. Saya buat mindmap untuk mengurai benang kusut di otak. Nggak tanggung-tanggung, mindmap saja sampai beberapa kali saya ganti hehe. 

Mindmap yang berubah beberapa kali
Terakhir, barulah saya tulis ulang ceritanya. Catat, tulis ulang alias rewrite, bukan revisi saja. *nyengir lebar. Akhirnya, menjelang batas waktu yang ditentukan, naskah tersebut sudah mengalami perombakan besar-besaran. Sekitar 75% berbeda dari naskah awal. Puaskah saya? Belum, karena saya belum dengar komentar Mbak Dikha.

Setelah mengirim e-mail, saya gelisah luar biasa. Rasanya seperti nunggu hasil tesis dulu, hehehe. Dan saya baru bisa tersenyum ketika Mbak Dikha bilang yess!

Buat teman-teman yang ingin baca novel ini, tunggu tanggal terbitnya, ya. Novel ini dijadwalkan terbit 14 April 2014. Novel yang tadinya berjudul Misteri Taman Kupu-kupu ini diubah judulnya menjadi Misteri Taman Berhantu bukan tanpa sebab. Baca sendiri, deh.