Tuesday, December 31, 2013

Jejak Langkah di Tahun 2013

Jelang akhir tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan kepenulisan. Bukan untuk narsis, melainkan untuk evaluasi diri sendiri, sekaligus motivasi supaya bisa berbuat lebih baik tahun depan. Harapan saya, semua langkah tersebut bermanfaat untuk diri sendiri, lingkungan dan orang lain.
Alhamdulillah, di tengah hiruk pikuk kegiatan di tahun 2013 ini, saya masih diberi kesehatan. Sekali dua kali mesti melambatkan sejenak ritme hidup. But, overall, everthing it's okay. :)




Januari
Awal tahun 2013 saya mendapatkan order naskah dari sebuah penerbit. Bulan itu saya habiskan untuk menulis kelima naskah picbook yang telah saya dan editor diskusikan bersama. Beberapa hari sebelum deadline tiba, saya sudah mengirimkan naskah ke editor. Setelah melakukan revisi minor, alhamdulillah naskah dianggap bisa memasuki proses selanjutnya. Kenyataannya, hingga hari ini, saya belum menerima bukti terbit meski setelah saya tanyakan, penerbit mengatakan dijadwalkan terbit Desember atau paling lambat Januari 2014. Semoga saja tidak terlalu lama molornya.
Tanggal 27 Januari, saya mengisi workshop menulis cerita anak di Gedung Sarinah. Acara tersebut diadakan oleh Writing Training Center. Liputan workshop ini dimuat di Jawa Pos, 28 Januari 2013.

Monday, December 16, 2013

[Cerita Anak] Duet Balet


Duet Balet, dimuat di Bobo 7 Maret 2013
“Stt… Bulan, anter dong. Aku kebelet pipis,” bisik Rania pada Bulan.
Tanpa bertanya-tanya, Bulan mengangguk. Mereka berdua lalu beriringan pergi ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi perempuan, Bulan menunggu Rania di depan pintu kamar mandi. Rania masuk tanpa menguncinya.
“Jagain ya. Jangan ke mana-mana,” kata Rania membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit.
“Sip,” sahut Bulan pendek. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Napasnya sesak. Kepalanya pusing dan jantungnya berdebar-debar. Meski sudah sering masuk ke dalam kamar mandi itu, selalu saja ketakutan menyergapnya. Tapi melihat Bulan ada di dekatnya, dia tak terlalu khawatir.

Thursday, December 12, 2013

[Cerita Berima] Bunga Dandelion

Tulisan ini dimuat di Majalah Mombi, 20 Oktober 2010


Mataku terpaku pada sebentuk bunga.
Bentuknya tidak seperti bunga biasa.
Hmm… aku tertarik mendekatinya.
Hatiku tergoda memetiknya.

Kuamati kau, bunga yang cantik.
Kuelus dengan jemari lentik.
Bentuknya bulat diselimuti bulu-bulu halus.
Aha, sepertinya bisa untuk menyapu lantai hingga mulus!

Saturday, December 7, 2013

[Cerita Anak] Permen Ajaib

Permen Ajaib, Bravo 2008
Sebentar lagi Mama berulang tahun, Lolita ingin sekali memberikan kado istimewa untuk Mama. Tetapi Lolita tidak punya uang. Dia lalu berpikir, bagaimana caranya memperoleh uang untuk membelikan kado buat Mama. Terlintas sebuah pikiran untuk bekerja di toko permen milik Pak Galetto agar bisa mengumpulkan uang.
         Dia pun datang ke toko Pak Galetto dan memohon padanya supaya menerimanya sebagai penjual permen di tokonya.
            “Baiklah, mulai besok kamu bisa bekerja disini,” kata Pak Galetto.
            Lolita senang sekali mendengarnya.
            “Tapi dengan satu syarat…”
            “Aa… Apa syaratnya, Pak?” tanya Lolita takut-takut.

[Cerita Anak] Pencuri Bulan

Cerita ini pernah dimuat di Mombi Volume 36 Tahun 2008.

Pencuri Bulan
Beberapa hari belakangan Mimi senang melongok ke luar jendela kamar ketika akan bersiap tidur. Dari jendela kamarnya, Mimi bisa melihat bulan dengan jelas. Mimi baru menyadari, ternyata bulan bisa begitu indahnya bersinar terang. Warnanya kuning keemasanan dan berbentuk bulat, membentuk satu lingkaran utuh yang sempurna. Betapa indahnya bulan itu! Pikir Mimi dalam hati.

Wednesday, October 30, 2013

Suatu Jumat di Sekolah Lentera Insan

Awalnya, salah seorang member KEB, bernama Mak Ririn Sjafriani mengirimkan message pada saya. Dia ingin, saya mengisi kegiatan Writing Club di tempatnya mengajar, yaitu di Sekolah Lentera Insan. Lentera Insan, bukan nama yang asing buat saya. Kebetulan, si kembar sudah beberapa bulan ini menjalani terapi wicara (panjang ceritanya ketika saya memutuskan mereka menjalani terapi ini di usia hampir 4,5 tahun).
Kembali ke obrolan kami, saya pun jadi tahu bahwa Mak Ririn sudah mengajar ekskul menulis di sekolah ini hampir setahun. Jadi lebih lama dari yang saya lakukan di sekolah lain. Tapi, dia bilang, “Background saya lebih ke jurnalistik. Sementara anak-anak punya minat besar menulis fiksi. Mau nggak datang ke sini sebagai guru tamu, Mak?”

Wednesday, October 23, 2013

[Writing Course] Alya, The Smart Girl

Ini murni keinginan pribadi untuk mendokumentasikan keunikan anak-anak yang belajar menulis di rumah saya. Awalnya, hanya untuk mengenang kehadiran mereka dalam hidup saya. Supaya kelak, jika mereka sudah tidak lagi belajar menulis bersama saya, ada hal yang tetap bisa kami ingat bersama. Seringkali, membuka cerita-cerita ini menjadi pengingat, bahwa kehadiran mereka justru membuat ide-ide berdatangan. Dan pastinya, saya jadi belajar terus ketika membagikan ilmu, sesedikit apapun.

Nah, postingan kali ini, akan bercerita tentang Alya. Alya duduk di kelas 4 SD. Dia sudah sebulan belajar menulis bersama saya. Awalnya, dia masih ditemani sang ibu saat les. Lama kelamaan, saat dia sudah akrab dengan Keisya, sang ibu hanya mengantar jemput saja.

Monday, October 21, 2013

[Writing Tips for Kids] Menceritakan Kembali



Pernah, seorang Ibu bertanya pada saya, "Bagaimana caranya melatih anak saya menulis cerita?"


Salah satu yang selama ini saya lakukan adalah menceritakan ulang cerita. Hal ini saya terapkan pada anak-anak saya sendiri dan murid-murid saya. Menceritakan ulang, tidak selalu dalam bentuk tulisan, tetapi bisa juga lisan. Kalau hanya bicara apakah ini berhubungan dengan kemampuan mereka menulis cerita?


Iya, karena dengan menceritakan ulang dan menarasikan anak-anak terbiasa merangkai poin-poin penting dalam tulisn dengan bahasa mereka sendiri. Manfaat lain, mereka jadi belajar menyusun peristiwa demi peristiwa sesuai urutan waktu. 


Dalam buku Cinta yang Berpikir (Ellen Kristi) menceritakan kembali atau disebut menarasikan besar sekali manfaatnya. Lewat narasi, anak secara swadaya mencerna isi bacaannya, sehingga pengetahuan menjadi milik pribadi (halaman 93).

Friday, October 4, 2013

Bermain Kata di Ekskul Menulis

Mulai tahun ajaran ini, saya mengajar ekskul menulis di SDIT dan SMPIT Darul Abidin. Awalnya, saya tidak berharap banyak karena ekskul menulis di sekolah ini masih merintis. Ya, ekskul ini baru pertama kali diadakan. Tak heran jika sekolah menetapkan kuota. Jadi, apabila pesertanya kurang dari kuota, ekskul belum bisa dilaksanakan.

Setelah libur lebaran, pihak yayasan mengundang saya mengikuti acara perkenalan ekskul. Rupanya, mereka memang serius menginginkan murid-murid di sekolah ini belajar menulis. Pada acara tersebut, saya ikut mempromosikan ekskul menulis. Dengan demikian, para murid mendapatkan gambaran tentang perlunya ekskul itu, apa yang mereka akan pelajari, dan hasil yang akan mereka peroleh.

Wednesday, September 11, 2013

[Resensi] Ada Apa di Ladang Jagung?

Judul                   : Misteri Anak Jagung
Penulis                : Wylvera W
Penerbit              : Pelangi Indonesia
Cetakan             : Januari 2013
Jumlah Halaman  : 197 halaman


Sunyi! Mendadak senyap!
Tapi, di luar sana, di ladang jagung, justru sayup-sayup kudengar tangisan
Tangisan anak laki-laki. -Misteri Anak Jagung, halaman 1

Bagi Gantari, ladang jagung di Urbana itu menyimpan misteri. Gantari tahu ada yang tak beres  di sana. Tapi tak mungkin dia mengungkapkannya pada siapapun. Bagaimana mungkin dia bilang seorang anak lelaki terbakar di sana? Bahkan, orang-orang terdekatnya pun takut mendengar perkataannya. Itu karena perkataan Gantari biasanya terjadi. Banyak orang yang menganggapnya aneh. Kecuali Delia, sahabatnya.

Friday, September 6, 2013

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!

Cerita ini pernah dimuat di Bobo, 8 Agustus 2013. Saya kirim April 2012. Lumayan lama ya nunggunya. :)



Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
            “Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
            “Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
            “Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
            “Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
            “Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
            “Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
            Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
            Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
            “Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
            Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
            “Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
            Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
            Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
            “Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
            Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
            “Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
            Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
            “Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya. 


Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
            Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
            “Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
            Tutu semakin cemas mendengarnya.
            “Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
            Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.

Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya.

Si Sulit Makan!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, Mei 2008. Idenya berawal dari Keisya yang mogok makan. Siapa sangka, sekarang anak yang dulu jadi inspirasi tulisan ini mau melahap apa saja. Di rumah, kami menyebutnya "si selera Indonesia" karena makanan yang disukainya nggak jauh-jauh dari menu Indonesia. Teman-teman saya takjub saat melihat Keisya dengan lahapnya makan pecel! :D


Parenting, Mei 2008
Keisya terbilang anak yang susah makan. Makanya wajar saja kalau berat badannya bisa langsung turun drastis begitu dia sakit, meskipun hanya sakit ringan seperti batuk atau pilek saja. Pasalnya, begitu terasa sakit, dia akan lebih susah lagi disuruh makan.

Sunday, September 1, 2013

[Resensi Buku] Menggapai Cita, Setinggi Rembulan

Judul                       : Menggapai Rembulan
Penulis                    : Ridwan Abqary
Penerbit                  : Penerbit Andi
Jumlah Halaman       : 130 halaman
 
“Orang-orang selalu bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Nah, kamu bisa menggantungkan cita-citamu pada rembulan. Kejar dan gapailah rembulan, karena di sanalah cita-citamu berada.” –Abah

Rembulan Safitri, senang sekali ketika Bu Lusi memilihnya menjadi salah satu perwakilan sekolah mengikuti Story Telling. Dia tak menyangka, kemampuannya berbahasa Inggris dianggap baik. Sayangnya, Delia tak berpikiran sama. Dia iri karena Bulan, seorang anak tukang becak sekaligus penjaga makam itu terpilih menjadi perwakilan utama, sedangkan dia hanya cadangan.

Belum sempat Bulan mengabarkan berita gembira itu pada Abah, emak dan kedua adiknya, musibah datang. Emak dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Bulan harus menjaga Bintang dan Mega yang masih kecil. Bulan kehabisan waktu untuk berlatih mendongeng dalam bahasa Inggris. Nyatanya, kedua adiknya justru senang ketika dibacakan cerita dalam bahasa Inggris. Bulan, semakin bersemangat karenanya.

Saturday, July 27, 2013

[Puisi] Hari Ini, Sayang...

Repost dari note FB di hari ulang tahun Keisya yang ke-5, 30 Juli 2010. Beberapa hari lagi, Keisya akan berulang tahun ke-8. Hingga sekarang, cita-citanya tak berubah, "Menjadi penulis seperti Bunda." Karena itulah, saya tetap ingin menulis, sampai kapanpun.


Hari ini, Sayang…
Hari ini usiamu tepat lima tahun.
Hari yang kautunggu-tunggu sejak beberapa bulan yang lalu.
Hingga tak bosan kautanyakan padaku
“Kapan hari ulang tahunku, Bunda?”

Hari ini, Sayang…
Mari kita mulai hari ini dengan doa-doa.
Doa terindah yang bisa Bunda panjatkan untukmu.
Doa yang selalu Bunda bisikkan sejak Allah hadirkan kau di dunia ini.
Semua doa yang yang terbaik untukmu.
Kumpulan doa yang kuyakin juga didengungkan ribuan ibu di luar sana.
Hanya doa sederhana, yang datang dari ketulusan hati terdalam seorang ibu.

Saturday, July 13, 2013

[Resensi Buku] Unfriend You, Antara Persahabatan dan Bullying

Judul                            : Unfirend You, Masihkah Kau Temanku?
Penulis                         : Dyah Rinni
Penerbit                       : Gagas Media
Cetakan                       : Pertama, 2013
Jumlah Halaman            : 275 halaman

Cover yang menarik
The ones that you love the most are usually the one that hurt you the most. -Unkown 

Katrissa Satin, adalah angsa baru. Dia diangkat kastanya dari kelompok itik buruk rupa oleh Aura Amanda. Sebagai angsa baru, dia membatasi diri berhubungan dengan orang-orang di masa lalunya, yaitu itik-itik seperti Langit Lazuardi, cowok geeky, yang entah kenapa selalu muncul di saat-saat yang tak diinginkannya. Atau Sachita, sahabat lamanya yang ditinggalkan sejak Katrisaa bergabung dengan kelompok angsa. Bertemu dengan mereka adalah nitghmare baginya.

Friday, June 28, 2013

[Resensi] The Timekeeper, Pelajaran Berharga Tentang Waktu


Judul                                   : The Timekeeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis                                : Mitch Albom
Alih Bahasa                        : Tanti Lesmana
Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                              : Oktober 2012
Jumlah Halaman                  : 312 halaman

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya. –Dor (halaman 288)

Masih dalam rangka menghapus “dosa” (karena saya sering menumpuk buku, menunggu punya waktu "menghabiskannya”), ini adalah salah satu buku yang saya baca. The Timekeeper saya beli atas saran seorang teman, Dyah Rini. Dan ternyata, saya puas membacanya. Banyak kalimat bermakna yang saya sukai di dalam buku ini hingga saya tak kuasa untuk tidak menandai quote-qoute keren itu.
Setelah membaca The Timekeeper, yakin deh, bakal tergoda membeli buku-buku karya Mitch Albom yang lainnya, yaitu Tuesday with Morrie, For One More Day, dan Five People You Meet in Heaven. Saya sedang membaca Tuesday with Morrie dan terkesima dengan pelajaran bermakna dari Morrie, guru Mitch.
Nah, ini sinopsis The Timekeeper. Happy reading!

Tuesday, June 18, 2013

[Lomba Resensi Novel 12 Menit] Belajar Memercayai Impian



Judul                          : 12 Menit
Penulis                        : Oka Aurora
Penerbit                      : Noura Books
Cetakan                      : I, Mei 2013
Jumlah Halaman           : 343 halaman

Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang – Rene (halaman 307)

Bagi Rene, masalah terbesar saat mengajar anak-anak Marching Band Bontang Pupuk Kaltim bukanlah masalah teknik bermain, tetapi masalah kepercayaan diri. Mereka jauh dari mental juara yang ditemui Rene saat melatih tim-tim lain. Rene sempat bimbang dan meragukan dirinya sendiri. Meski beberapa kali tim Marching Band bimbingannya menjadi juara GPMB (Grand Prix Marching Band), Rene menghadapi kenyataan betapa susahnya membesarkan jiwa anak-anak Bontang. Saat mereka merasa “kecil”, Rene tahu, mereka akan kalah sebelum bertanding.

Thursday, May 30, 2013

[Proses Kreatif] Kumpulan Cerita Princess Kocak



"Gimana ceritanya bisa menulis buku ini? Susah nggak?"

Beberapa orang teman bertanya pada saya ketika tahu buku duet saya dan Eka Dresti Swaranindita (akrab dipanggil Ditta) yang berjudul "Princess Kocak" terbit. Nah, biar nggak bertanya-tanya lagi, saya ceritakan saja di sini proses kreatifnya.

Awalnya, saya dan Ditta mengikuti sebuah kelas menulis. Di kelas itu, kami mendapatkan tugas akhir dari Mas Benny Rhamdani untuk berduet menulis cerita bertema "Princess Kocak." 

Wednesday, May 29, 2013

[Resensi Buku] Jika Hantu Itu Ada di Pikiranmu

Judul                           : Teror Hantu Ungu
Penulis                         : Nelfi Syafrina
Penerbit                      : DAR! Mizan
Jumlah halaman            : 116 halaman
Harga                           : Rp 29.000,-

Kan, Om sudah bilang hantu itu tidak ada. Hantu itu hanya ada di pikiranmu. –Om Wahyu (Teror Hantu Ungu, halaman 55)

Apa yang terbayang saat membaca judul Teror Hantu Ungu?
Jujur, saya nggak bisa membayangkan hantu ungu itu seperti apa. Malah, yang muncul di benak hanyalah terong berwarna ungu, yang diolah menjadi terong balado kesukaan saya. Nggak nyambung? Iya, sih. Tapi bener-bener tidak terbayang sosok hantu dalam novel ini.

Nah, setelah membacanya baru saya tahu, yang dimaksud Hantu Ungu di sini adalah sosok gadis kecil yang suka warna ungu. Kalau begitu, mungkin judul yang cocok adalah Teror Gadis Berbaju Ungu. Tapi, ada pikiran lain yang muncul setelahnya. Mungkinkah penulis sengaja menggunakan judul Teror Hantu Ungu untuk mengulik rasa penasaran? Bisa jadi.

Cerita Teror Hantu Ungu dimulai ketika Zeta dan Owen, dua kakak beradik dititipkan kedua orang tuanya di rumah Kakek. Selama kedua orang tuanya pergi mereka dititipkan pada Om Wahyu, adik Ibu. Masalahnya, rumah Kakek sepi dan temaram. Suasana jadi menakutkan ketika malam tiba. Apalagi, saat Om Wahyu menceritakan hal seram tentang “orang bunian”.

Ketakutan mereka semakin menjadi ketika melihat seorang anak perempuan berbaju ungu memandang marah pada mereka. Padahal, waktu itu hujan deras. Rasanya tidak mungkin kalau dia seorang manusia. Lalu siapa dia?

Penyelidikan demi penyelidikan pun dilakukan Zeta dan Owen. Sampai mereka menemukan gadis itu ternyata Alea. Dari Helena (adik Alea) mereka tahu bahwa Alea marah karena mengira Zeta dan Owen menabrak kucing mereka. Untungnya, gadis tunawicara itu mereda marahnya saat Zeta memberikan hadiah berupa buku padanya.

Secara keseluruhan, buku ini menghibur. Suasana seram memang seringkali membuat kita tergiring membayangkan sesuatu yang membuat buku kuduk merinding. Tapi kan, tidak selalu yang menyeramkan itu hantu.

Beberapa kali saya juga sempat tersenyum sendiri karena buku ini juga membuat saya teringat masa kecil saya dan adik saya. Kami suka sekali bertengkar, seperti Zeta dan Owen. Lucu, kesal, tapi ngangenin!

Meski menampilkan kata “hantu”, buku ini sama sekali tidak membuat anak-anak membayangkan sosok hantu yang mengerikan, lho. Buktinya, Keisya, putri sulung saya, bisa tidur nyenyak setelah membaca buku ini. Inilah salah satu poin plus yang paling saya sukai.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah cara Alea berkomunikasi dengan Zeta dan Owen. Ada satu dialog (di halaman 112) saat Alea minta maaf pada Zeta. Tapi, dalam dialog itu tak tergambarkan caranya berdialog. Apakah menggunakan bahasa isyarat? Kalau iya, seperti apa? Kalau tidak, bagaimana dia berbicara?

Mungkin, akan lebih menarik jika penggunaan bahasa isyarat dan cara berkomunikasi Alea dibahas lebih rinci. Misalnya, minta maaf bisa diisyaratkan dengan tangan kanan bergerak melingkar di dada. Atau, terima kasih diisyaratkan dengan mengecupkan telapak tangan ke bibir dan digerakkan ke depan. Tujuannya, tentu saja untuk memberikan pengetahuan pada anak-anak. Jadi, saya sebagai orang tua juga tidak kebingungan kalau anak-anak bertanya, “Seperti apa bahasa isyarat 'maaf'?”

Keisya membaca Teror Hantu Ungu 
Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi Forum Penulis Bacaan Anak

Thursday, May 23, 2013

[Cerita Anak] Ketika Ibu Tak di Rumah

Cerita ini pernah dimuat di Majalah Girls



Aku sering kesal kalau teman-temanku bertanya padaku apa pekerjaan ibuku. Ibu mereka kebanyakan bekerja di luar rumah. Ada yang bekerja sebagai dokter, insinyur, pegawai bank, dosen, dan sebagainya. Sedangkan ibuku? Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga.
            Setiap hari ibu lebih sering berada di rumah, mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Kadang-kadang ibu keluar rumah jika ada keperluan dengan organisasi soaial yang diikutinya. Ibu banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Tapi, tetap saja kan profesi ibu seorang ibu rumah tangga? Soalnya ibu menulis hanya di waktu senggang saja, jadi tidak setiap hari ibu bekerja.

[Cerita Anak] Sepatu Tuk-Tuk

Cerita ini pernah dimuat di Majalah Bravo. Selamat membaca!


Bino adalah kurcaci yang membuat berbagai macam sepatu. Dia memiliki sebuah toko sepatu. Di dalam tokonya itu ada ratusan jenis sepatu, mulai dari sepatu anak-anak, sepatu berhak tinggi, sepatu boot, sepatu bertali, dan masih banyak lagi yang lainnya. Banyak kurcaci yang suka membeli sepatu di tokonya. Sepatu-sepatu yang dibuat Bino modelnya bagus-bagus, dan terbuat dari bahan terbaik. Meskipun harganya sedikit lebih mahal tetapi sepatu buatan Bino banyak yang membeli.

Monday, May 20, 2013

Kata yang Istimewa


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Sekar Edisi 61/11 13-27 Juli 2011

“Kenapa Bunda selalu bilang terima kasih pada bapak itu?” tanya anak saya suatu hari. Saat itu kami akan keluar dari tempat parkir sebuah pertokoan. Seperti biasa, sambil mengeluarkan mobil dari tempat tersebut saya mengucapkan kata terima kasih pada tukang parkir.
            Saya terkejut mendengar pertanyaannya. Anak-anak sungguh peka dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Sebelumnya saya tak menyadari bahwa saya selalu berbuat demikian saat memberikan uang parkir pada setiap tukang parkir. Bahkan juga pada satpam, penjaga palang pintu kereta di gang kecil dekat rumah kami, dan pada asisten rumah tangga kami. Kenapa ya? Saya mengingat-ingat sejak kapan saya mulai melakukan hal tersebut. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin kebiasaan itu sudah saya pupuk sejak saya kuliah dahulu.

[Cerita Anak] Sandra Si Pemungut Sampah


Cerita anak ini pernah dimuat di Majalah Bravo beberapa tahun lalu. Selamat membaca :)


Sandra memungut gumpalan kertas yang dibuang Nana di lantai. Dilicinkannya permukaan kertas itu dengan tangan lalu disimpannya hati-hati di laci mejanya.
            “Ih, seperti pemulung saja. Kertas itu kan sudah kubuang. Sudah tidak kugunakan lagi,” kata Nana jijik.
            “Kertasnya masih bagus kok. Bagian belakangnya masih kosong, jadi masih bisa digunakan,” sahut Sandra tenang. Nana tak mengerti bagaimana mungkin Sandra mau menggunakan kertas bekas itu. Menjijikan, pikir Nana.
            Diliriknya laci meja Sandra sekilas. Ternyata tak hanya kertas-kertas bekas yang ada di dalamnya. Ada beberapa bekas pembungkus snack tertata rapi di dalam sebuah kantung plastik. Nana jadi penasaran untuk apa Sandra mengumpulkan sampah-sampah itu?

Friday, May 17, 2013

[Tips Menulis] Selain "Katanya" Apa Lagi?

"Aku nggak mau makan nasi goreng lagi," katanya.

"Pakai saja sepedaku, asal jangan lupa membersihkan," katanya.

Pernah nggak membaca cerita yang akhir dialognya banyak dibubuhi "katanya"? Sebenarnya, banyak lho, kata lain yang bisa dipakai untuk menggantikan "katanya." Nah, ini beberapa kata yang kami (saya, Fasya, Fayanna, dan Keisya) temukan tadi sore saat kami bermain kata.

Tuesday, May 14, 2013

[Refleksi] Pendengar yang Baik


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Parenting, Edisi Maret 2008.



Meski sudah menikah hampir empat tahun lamanya, bukan berarti saya dan suami sudah benar-benar saling memahami satu sama lain. Masa pacaran yang kami lalui selama sekitar dua tahun pun ternyata tidak menjamin bisa membuat kami selalu rukun tanpa adanya perbedaan pendapat. Seperti halnya pasangan lain, kami tidak luput berselisih paham.
            Satu hal yang sering kali kami membuat kami berselisih paham adalah keinginan saya (atau suami) untuk didengarkan. Kelihatannya ini merupakan hal yang sepele yang seharusnya tidak perlu kami ributkan. Tapi kenyataannya, justru masalah ’mendengarkan dan didengarkan’ inilah yang paling sering terjadi dalam kehidupan kami.

Sunday, May 12, 2013

[Karya Keisya] Jalan-jalan Ke Kota Tua


Hai, Adik-adik!
Suka jalan-jalan? Dan pengen tulisannya dimuat di majalah? Yuk, coba tulis pengalamanmu jalan-jalan. Panjang tulisannya sekitar 1,5 halaman (spasi 1,5. font 12). Jangan lupa, sertakan juga foto-fotonya ya. 
Nah, kalau tulisanmu bagus, pasti redaktur memuatnya di majalah. Seperti tulisan Keisya ini. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Irfan, Juni 2012. Baca, yuk!


Halaman 1
Halaman 2

Bukan yang Terhebat

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bravo Vo 2/No. 21 Tahun 2008



Di negeri peri, peri Nessa terkenal akan kehebatannya. Dia cerdas, bisa menghitung dengan cepat, pandai menyanyi dan menari, serta ringan tangan. Dia juga ramah dan periang. Selain itu, parasnya cantik jelita. Pokoknya, banyak hal bisa dilakukannya dengan baik. Hampir semua peri suka padanya. Mereka sering membicarakan kehebatan-kehebatannya.
            “Aku yakin pasti peri Nessa akan memenangkan lomba menyanyi dan menari di festival tahunan nanti,” kata peri Melissa.
Sebentar lagi negeri peri akan mengadakan festival tahunan untuk merayakan panen buah beri. Biasanya di festival tahunan itu selalu diadakan berbagai macam acara untuk meramaikannya.
            “Benar, dia hebat di banyak hal. Bisa-bisa semua lomba dimenangkannya seperti tahun kemarin,” sahut peri Lessie disertai anggukan peri-peri lain.

Thursday, May 2, 2013

"Cepat Habiskan!"


           
Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, edisi Februari 2011. Idenya datang ketika, saya berada di sebuah restoran bersama putri saya. 


“Cepat habiskan!”

Gadis kecil itu, yang saya taksir usianya sekitar empat tahunan, dengan takut-takut berusaha memasukkan potongan makanan sambil mendesiskan mulutnya, tanda dia merasa kepedasan. Ketakutan membuatnya memaksakan diri menelan makanan itu, meski dia tak suka makanan itu. Sementara wajah sang ibu di hadapannya terlihat gusar.

Monday, April 29, 2013

(Writing Course) Meet Fasya, The Talkative Girl

Perkenalan saya dengan Fasya bermula ketika sang mama menghubungi saya melalui e-mail. Beliau mengatakan Fasya membaca blog saya dan tertarik mengikuti les menulis seperti Danu, yang pernah saya ceritakan di sini (satu lagi rezeki yang saya peroleh dari blog, alhamdulillah). Ternyata oh ternyata, Danu adalah teman mengaji Fasya (saya jadi nyengir sendiri ketika tahu kenyataan ini. Dunia ternyata sempit, ya)

Fasya baru beberapa kali datang ke rumah saya untuk belajar menulis. Tapi, saya punya kesan luar biasa dari gadis kecil satu ini. Pertama, jemarinya lumayan terampil mengetik untuk anak-anak seusianya (usia Fasya 8 tahun). Kedua, dialah murid yang paling banyak bertanya. Ini bukan sesuatu yang saya keluhkan karena justru dengan banyak bertanya, saya jadi tahu dia mengerti atau tidak.

Wednesday, April 24, 2013

[Travelling Bangkok Day 1] I'm Coming!

Ini memang bukan kali pertama saya pergi ke Bangkok. Hampir dua tahun lalu, usai banjir besar melanda Bangkok, saya dan suami nekat pergi ke Bangkok. Ya iyalah, udah beli tiket promo. Sayang kalau batal gara-gara banjir itu hehe.

Nah, kali ini, saya pergi bersama rombongan penulis, editor dan ilustrator. Total rombongan terdiri dari 7 orang, yaitu saya, Nunik, Ichen, Mbak Erna, Kang Iwok, Kang Odoy dan Mas Benny. Sebelum berangkat sudah kebayang serunya perjalanan ini. Berkali-kali bongkar pasang jadwal perjalanan dan mencari informasi jalur terbaik menuju hotel membuat saya termimpi-mimpi. Saking senangnya, saya mimpi koper saya ketinggalan. Benar-benar nightmare!

Apa sih tujuan kami datang ke sana? Tentu saja yang utama adalah berkunjung ke Bangkok International Book Fair 2013. Selain itu, kami juga sudah akan bertemu dengan perwakilan Minmie Bag Factory, sebuah perusahaan tas Thailand yang lisensi penerbitannya di Indonesia dipegang oleh Mizan. Yah, meski saya belum pernah menulis serial Minmie ini, moga-moga saja saya tetap diajak jalan-jalan ke kantornya. *komat-kamit baca doa. Soalnya, dalam hati kecil saya, tentu saja saya ngarep tas Minmie yang cute itu.

Tuesday, April 23, 2013

Perjalanan yang Menyenangkan

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, Oktober 2010


Tahun ini adalah tahun ketujuh pernikahan kami. Itu artinya, sudah tujuh tahun pula kami hidup jauh dari orangtua, baik orangtua saya maupun suami. Selama itu pulalah setiap tahun kami melakukan perjalanan menggunakan mobil, menempuh jarak berkilo-kilo meter jauhnya demi merayakan lebaran bersama keluarga besar kami.
            Perjalanan mengendarai mobil memang menjadi pilihan kami karena tentu akan lebih mudah dan hemat jika kami membawa barang bawaan kami yang tak pernah sedikit jumlahnya itu ke dalam mobil, ketimbang menggunakan pesawat atau kereta api. Hingga kini, setelah anak-anak kami lahir, mobil tetaplah menjadi satu-satunya alat transportasi yang membawa kami mudik ke kampung halaman selama bertahun-tahun. Ekonomis dan cukup nyaman.

Sunday, April 14, 2013

Resolusi Tahun Baru



Dimuat di Majalah Parenting Edisi Desember 2009



“Bunda jahat!” teriak Keisya, gadis kecil saya yang sekarang berusia 4 tahun. Saya terperanjat kaget. Seumur-umur baru kali ini saya mendengarnya berkata demikian. Batin saya tidak siap menerima kalimat kasar yang terlontar dari bibir mungilnya. Marah, kecewa, dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Saya “hanya” menolak menemaninya menggambar dan seperti itu responnya? Sungguh tak bisa dipercaya!

Wednesday, April 3, 2013

Arti Kemerdekaan


Dimuat di Rubrik Refleksi Majalah Parenting, Agustus 2009. Sekarang, rubrik itu sudah tidak ada.



Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa menjadi seorang fulltime mother akan sibuk luar biasa dari pagi menjelang hingga malam tiba. Apalagi saya juga bekerja dari rumah sebagai penulis lepas. Kalau dulu selama hampir empat tahun saya ‘hanya’ mengurus rumah, seorang anak plus suami. Sekarang semuanya sungguh berbeda. ‘Kemerdekaan’ saya berkurang dibandingkan dulu. Kemerdekaan yang bagi saya berarti kesempatan mendapatkan waktu untuk diri sendiri alias ‘me time’ sekarang merupakan barang langka yang hanya sesekali waktu saja saya peroleh. Itupun dengan perjuangan yang ekstra.

Jidat Harry Potter


Dimuat di Majalah Girls Tahun 2010. Idenya saya peroleh dari Keisya yang jidatnya luka waktu main. :)

Gara-gara dahinya terantuk batu saat berlari-lari di halaman, Arya harus rela mendapatkan beberapa jahitan di dahinya. Dokter mengatakan dia baru boleh masuk sekolah paling cepat tiga hari lagi. Padahal besok Arya akan tampil untuk pentas seni di sekolah.
            “Lebih baik Arya istirahat dulu di rumah minimal tiga hari,” saran dokter itu.
            Arya sudah merengek-rengek pada Ayah agar diijinkan masuk sekolah besok. Tetapi jawaban Ayah tegas. Sekali tidak tetap tidak. Kali ini dia mencoba membujuk Ibu.
            “Bu, besok Arya masuk sekolah ya? Kalau tidak nanti peran Arya digantikan orang lain.”
            Ibu menggeleng tanpa banyak bicara. Arya terdiam. Dia kecewa karena besok dia tidak bisa tampil di acara pentas seni di sekolah. Padahal dia sudah rajin berlatih beberapa minggu belakangan. Ini kesempatan besar yang sudah ditunggu-tunggunya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa berakting. Lagipula dia berperan sebagai peran utama. Baru kali ini dia diminta menjadi seorang Pangeran yang menyelamatkan Putri. Arya sudah membayangkan betapa kerennya menjadi seorang Pangeran! Gara-gara ceroboh, dia tidak bisa naik pentas! Arya menggerutu pada dirinya sendiri.