Monday, December 16, 2013

[Cerita Anak] Duet Balet


Duet Balet, dimuat di Bobo 7 Maret 2013
“Stt… Bulan, anter dong. Aku kebelet pipis,” bisik Rania pada Bulan.
Tanpa bertanya-tanya, Bulan mengangguk. Mereka berdua lalu beriringan pergi ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi perempuan, Bulan menunggu Rania di depan pintu kamar mandi. Rania masuk tanpa menguncinya.
“Jagain ya. Jangan ke mana-mana,” kata Rania membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit.
“Sip,” sahut Bulan pendek. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Napasnya sesak. Kepalanya pusing dan jantungnya berdebar-debar. Meski sudah sering masuk ke dalam kamar mandi itu, selalu saja ketakutan menyergapnya. Tapi melihat Bulan ada di dekatnya, dia tak terlalu khawatir.

Thursday, December 12, 2013

[Cerita Berima] Bunga Dandelion

Tulisan ini dimuat di Majalah Mombi, 20 Oktober 2010


Mataku terpaku pada sebentuk bunga.
Bentuknya tidak seperti bunga biasa.
Hmm… aku tertarik mendekatinya.
Hatiku tergoda memetiknya.

Kuamati kau, bunga yang cantik.
Kuelus dengan jemari lentik.
Bentuknya bulat diselimuti bulu-bulu halus.
Aha, sepertinya bisa untuk menyapu lantai hingga mulus!

Saturday, December 7, 2013

[Cerita Anak] Permen Ajaib

Permen Ajaib, Bravo 2008
Sebentar lagi Mama berulang tahun, Lolita ingin sekali memberikan kado istimewa untuk Mama. Tetapi Lolita tidak punya uang. Dia lalu berpikir, bagaimana caranya memperoleh uang untuk membelikan kado buat Mama. Terlintas sebuah pikiran untuk bekerja di toko permen milik Pak Galetto agar bisa mengumpulkan uang.
         Dia pun datang ke toko Pak Galetto dan memohon padanya supaya menerimanya sebagai penjual permen di tokonya.
            “Baiklah, mulai besok kamu bisa bekerja disini,” kata Pak Galetto.
            Lolita senang sekali mendengarnya.
            “Tapi dengan satu syarat…”
            “Aa… Apa syaratnya, Pak?” tanya Lolita takut-takut.

[Cerita Anak] Pencuri Bulan

Cerita ini pernah dimuat di Mombi Volume 36 Tahun 2008.

Pencuri Bulan
Beberapa hari belakangan Mimi senang melongok ke luar jendela kamar ketika akan bersiap tidur. Dari jendela kamarnya, Mimi bisa melihat bulan dengan jelas. Mimi baru menyadari, ternyata bulan bisa begitu indahnya bersinar terang. Warnanya kuning keemasanan dan berbentuk bulat, membentuk satu lingkaran utuh yang sempurna. Betapa indahnya bulan itu! Pikir Mimi dalam hati.

Wednesday, October 30, 2013

Suatu Jumat di Sekolah Lentera Insan

Awalnya, salah seorang member KEB, bernama Mak Ririn Sjafriani mengirimkan message pada saya. Dia ingin, saya mengisi kegiatan Writing Club di tempatnya mengajar, yaitu di Sekolah Lentera Insan. Lentera Insan, bukan nama yang asing buat saya. Kebetulan, si kembar sudah beberapa bulan ini menjalani terapi wicara (panjang ceritanya ketika saya memutuskan mereka menjalani terapi ini di usia hampir 4,5 tahun).
Kembali ke obrolan kami, saya pun jadi tahu bahwa Mak Ririn sudah mengajar ekskul menulis di sekolah ini hampir setahun. Jadi lebih lama dari yang saya lakukan di sekolah lain. Tapi, dia bilang, “Background saya lebih ke jurnalistik. Sementara anak-anak punya minat besar menulis fiksi. Mau nggak datang ke sini sebagai guru tamu, Mak?”

Wednesday, October 23, 2013

[Writing Course] Alya, The Smart Girl

Ini murni keinginan pribadi untuk mendokumentasikan keunikan anak-anak yang belajar menulis di rumah saya. Awalnya, hanya untuk mengenang kehadiran mereka dalam hidup saya. Supaya kelak, jika mereka sudah tidak lagi belajar menulis bersama saya, ada hal yang tetap bisa kami ingat bersama. Seringkali, membuka cerita-cerita ini menjadi pengingat, bahwa kehadiran mereka justru membuat ide-ide berdatangan. Dan pastinya, saya jadi belajar terus ketika membagikan ilmu, sesedikit apapun.

Nah, postingan kali ini, akan bercerita tentang Alya. Alya duduk di kelas 4 SD. Dia sudah sebulan belajar menulis bersama saya. Awalnya, dia masih ditemani sang ibu saat les. Lama kelamaan, saat dia sudah akrab dengan Keisya, sang ibu hanya mengantar jemput saja.

Monday, October 21, 2013

[Writing Tips for Kids] Menceritakan Kembali



Pernah, seorang Ibu bertanya pada saya, "Bagaimana caranya melatih anak saya menulis cerita?"


Salah satu yang selama ini saya lakukan adalah menceritakan ulang cerita. Hal ini saya terapkan pada anak-anak saya sendiri dan murid-murid saya. Menceritakan ulang, tidak selalu dalam bentuk tulisan, tetapi bisa juga lisan. Kalau hanya bicara apakah ini berhubungan dengan kemampuan mereka menulis cerita?


Iya, karena dengan menceritakan ulang dan menarasikan anak-anak terbiasa merangkai poin-poin penting dalam tulisn dengan bahasa mereka sendiri. Manfaat lain, mereka jadi belajar menyusun peristiwa demi peristiwa sesuai urutan waktu. 


Dalam buku Cinta yang Berpikir (Ellen Kristi) menceritakan kembali atau disebut menarasikan besar sekali manfaatnya. Lewat narasi, anak secara swadaya mencerna isi bacaannya, sehingga pengetahuan menjadi milik pribadi (halaman 93).

Friday, October 4, 2013

Bermain Kata di Ekskul Menulis

Mulai tahun ajaran ini, saya mengajar ekskul menulis di SDIT dan SMPIT Darul Abidin. Awalnya, saya tidak berharap banyak karena ekskul menulis di sekolah ini masih merintis. Ya, ekskul ini baru pertama kali diadakan. Tak heran jika sekolah menetapkan kuota. Jadi, apabila pesertanya kurang dari kuota, ekskul belum bisa dilaksanakan.

Setelah libur lebaran, pihak yayasan mengundang saya mengikuti acara perkenalan ekskul. Rupanya, mereka memang serius menginginkan murid-murid di sekolah ini belajar menulis. Pada acara tersebut, saya ikut mempromosikan ekskul menulis. Dengan demikian, para murid mendapatkan gambaran tentang perlunya ekskul itu, apa yang mereka akan pelajari, dan hasil yang akan mereka peroleh.

Wednesday, September 11, 2013

[Resensi] Ada Apa di Ladang Jagung?

Judul                   : Misteri Anak Jagung
Penulis                : Wylvera W
Penerbit              : Pelangi Indonesia
Cetakan             : Januari 2013
Jumlah Halaman  : 197 halaman


Sunyi! Mendadak senyap!
Tapi, di luar sana, di ladang jagung, justru sayup-sayup kudengar tangisan
Tangisan anak laki-laki. -Misteri Anak Jagung, halaman 1

Bagi Gantari, ladang jagung di Urbana itu menyimpan misteri. Gantari tahu ada yang tak beres  di sana. Tapi tak mungkin dia mengungkapkannya pada siapapun. Bagaimana mungkin dia bilang seorang anak lelaki terbakar di sana? Bahkan, orang-orang terdekatnya pun takut mendengar perkataannya. Itu karena perkataan Gantari biasanya terjadi. Banyak orang yang menganggapnya aneh. Kecuali Delia, sahabatnya.

Friday, September 6, 2013

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!

Cerita ini pernah dimuat di Bobo, 8 Agustus 2013. Saya kirim April 2012. Lumayan lama ya nunggunya. :)



Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
            “Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
            “Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
            “Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
            “Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
            “Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
            “Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
            Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
            Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
            “Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
            Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
            “Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
            Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
            Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
            “Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
            Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
            “Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
            Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
            “Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya. 


Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
            Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
            “Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
            Tutu semakin cemas mendengarnya.
            “Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
            Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.

Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya.

Si Sulit Makan!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, Mei 2008. Idenya berawal dari Keisya yang mogok makan. Siapa sangka, sekarang anak yang dulu jadi inspirasi tulisan ini mau melahap apa saja. Di rumah, kami menyebutnya "si selera Indonesia" karena makanan yang disukainya nggak jauh-jauh dari menu Indonesia. Teman-teman saya takjub saat melihat Keisya dengan lahapnya makan pecel! :D


Parenting, Mei 2008
Keisya terbilang anak yang susah makan. Makanya wajar saja kalau berat badannya bisa langsung turun drastis begitu dia sakit, meskipun hanya sakit ringan seperti batuk atau pilek saja. Pasalnya, begitu terasa sakit, dia akan lebih susah lagi disuruh makan.

Sunday, September 1, 2013

[Resensi Buku] Menggapai Cita, Setinggi Rembulan

Judul                       : Menggapai Rembulan
Penulis                    : Ridwan Abqary
Penerbit                  : Penerbit Andi
Jumlah Halaman       : 130 halaman
 
“Orang-orang selalu bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Nah, kamu bisa menggantungkan cita-citamu pada rembulan. Kejar dan gapailah rembulan, karena di sanalah cita-citamu berada.” –Abah

Rembulan Safitri, senang sekali ketika Bu Lusi memilihnya menjadi salah satu perwakilan sekolah mengikuti Story Telling. Dia tak menyangka, kemampuannya berbahasa Inggris dianggap baik. Sayangnya, Delia tak berpikiran sama. Dia iri karena Bulan, seorang anak tukang becak sekaligus penjaga makam itu terpilih menjadi perwakilan utama, sedangkan dia hanya cadangan.

Belum sempat Bulan mengabarkan berita gembira itu pada Abah, emak dan kedua adiknya, musibah datang. Emak dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Bulan harus menjaga Bintang dan Mega yang masih kecil. Bulan kehabisan waktu untuk berlatih mendongeng dalam bahasa Inggris. Nyatanya, kedua adiknya justru senang ketika dibacakan cerita dalam bahasa Inggris. Bulan, semakin bersemangat karenanya.

Saturday, July 27, 2013

[Puisi] Hari Ini, Sayang...

Repost dari note FB di hari ulang tahun Keisya yang ke-5, 30 Juli 2010. Beberapa hari lagi, Keisya akan berulang tahun ke-8. Hingga sekarang, cita-citanya tak berubah, "Menjadi penulis seperti Bunda." Karena itulah, saya tetap ingin menulis, sampai kapanpun.


Hari ini, Sayang…
Hari ini usiamu tepat lima tahun.
Hari yang kautunggu-tunggu sejak beberapa bulan yang lalu.
Hingga tak bosan kautanyakan padaku
“Kapan hari ulang tahunku, Bunda?”

Hari ini, Sayang…
Mari kita mulai hari ini dengan doa-doa.
Doa terindah yang bisa Bunda panjatkan untukmu.
Doa yang selalu Bunda bisikkan sejak Allah hadirkan kau di dunia ini.
Semua doa yang yang terbaik untukmu.
Kumpulan doa yang kuyakin juga didengungkan ribuan ibu di luar sana.
Hanya doa sederhana, yang datang dari ketulusan hati terdalam seorang ibu.

Saturday, July 13, 2013

[Resensi Buku] Unfriend You, Antara Persahabatan dan Bullying

Judul                            : Unfirend You, Masihkah Kau Temanku?
Penulis                         : Dyah Rinni
Penerbit                       : Gagas Media
Cetakan                       : Pertama, 2013
Jumlah Halaman            : 275 halaman

Cover yang menarik
The ones that you love the most are usually the one that hurt you the most. -Unkown 

Katrissa Satin, adalah angsa baru. Dia diangkat kastanya dari kelompok itik buruk rupa oleh Aura Amanda. Sebagai angsa baru, dia membatasi diri berhubungan dengan orang-orang di masa lalunya, yaitu itik-itik seperti Langit Lazuardi, cowok geeky, yang entah kenapa selalu muncul di saat-saat yang tak diinginkannya. Atau Sachita, sahabat lamanya yang ditinggalkan sejak Katrisaa bergabung dengan kelompok angsa. Bertemu dengan mereka adalah nitghmare baginya.

Aura Amanda, mungkin sudah ditakdirkan menjadi angsa sejak lahir. Segala yang ada dirinya serba sempurna. Tubuhnya langsing seperti model. Matanya indah, hidung mancung, dan kulit bersih. Senyumnya, sangat menawan. Kalau Aura berjalan membelakangi matahari, dialah matahari itu.

Milani Atmaja, tak lain adalah bayang-bayang dari sang matahari dalam versi lain. Kalau Aura Amanda langsing, Milani kebalikannya. Tapi, dalam hal kekayaan, dia beruntung. Milani terlahir sebagai anak dari orang terkaya di Egan (begitulah Eglantine High School, tempat mereka bersekolah biasa disebut).

Kalau Aura dan Milani sudah bersahabat sejak SMP, Katrissa baru bergabung dengan clique mereka (Aura lebih suka menyebutnya clique ketimbang geng, salah satu yang membedakan mereka dengan kelompok itik adalah mereka ingin sesuatu yang berkelas, termasuk dalam menyebut sesuatu). Entah karena kebetulan atau apa, Aura mendekati Katrissa untuk minta bantuannya membuatkan prakarya dari kertas, yang menjadi hobi Katrissa. Awalnya, Katrissa tentu saja senang bergabung dengan clique populer tersebut. Tapi ternyata, itulah nightmare yang sesungguhnya bagi Katrissa.

Awalnya, Priska datang. Murid baru itu punya “sesuatu” yang membuat Aura ingin mengajaknya bergabung. Dia cepat akrab dengan siapapun, termasuk dengan Jonas, pacar Aura. Tapi bagi Katrissa, Priska mengingatkannya pada Winda, sahabat lama yang merebut cowok yang disukainya. Karena itu, Katrissa tak terlalu menyukai Priska. Namun apa dayanya kalau Aura malah memberikan tiket pada Priska untuk bergabung?

Masalah mulai datang, ketika Priska ketahuan menaruh hati pada Jonas. Katrissa mulai melihat Aura kerasukan setan. Dia menjebak Priska, menantangnya “memetik bunga” (suatu istilah untuk mengutil barang sebagai syarat uji kesetiaan pada anggota clique baru), dan menindasnya habis-habisan. Diam-diam, Katrissa takut Aura mengetahui bahwa dia pun naksir Jonas. Selain mengkhawatirkan diri sendiri, Katrissa juga mencemaskan Priska. Pasalnya, Priska ternyata tak berdaya menghadapi kekejian Aura dan Milani.

Teror Aura dan Milani pada Priska membuat gadis itu ketakutan. Dia nyaris mati karena bunuh diri. Keputusasaan akibat dijauhi, dicemooh, dan dipermalukan membuatnya depresi. Katrissa tahu pasti penyebabnya, tapi dia tak kuasa melaporkannya. Hanya saja, ketika Langit menyatakan akan berada di sisinya selalu dan Aura berbalik mem-bully-nya, Katrissa berharap, belum terlambat untuk bertindak.


Dapat kiriman langsung dari penulis plus tanda tangan pula. Yay!

Novel yang menarik ini adalah novel kedua karangan Dyah Rinni yang saya baca. Seperti yang sebelumnya (baca review Marginalia di sini), saya membacanya dalam waktu beberapa jam saja. Ini pertanda, novel ini terlalu sayang untuk saya lepaskan.
Apa yang menarik di novel ini?

Banyak. Jalan cerita yang tak membosankan, penggambaran tokoh yang detil, dan tema khas remaja merupakan beberapa di antaranya.

Bullying, merupakan hal yang sering terjadi, namun nggak semua orang punya keberanian melawannya. Melalui novel ini, penulis mengajak kita untuk membuka hati terhadap masalah ini. Karena, sering kali orang-orang yang mengalaminya nggak sadar bahwa mereka telah di-bully. Atau yang lebih buruk, sadar sepenuhnya telah diperlakukan buruk, namun tak kuasa melawan. Seringkali yang membuat orang bertahan adalah karena berada kelompok angsa atau kelompok populer itu sangat membanggakan. Padahal, bertahan di kelompok tersebut seringkali hanya merupakan kebahagiaan semu. Tampak menyenangkan, namun sebetulnya terasa menyakitkan.

Gosip, ejekan, panggilan nama jelek, pengucilan bisa mengirimkan sahabatmu ke palung derita paling dalam. Kita tak pernah menyadarinya. Dan saat sadar, kita telah kehilangan sahabat kita, dan berteman dengan penyesalan. –Katrissa, halaman 265

Novel ini mengingatkan saya pada masa remaja yang saya lalui di sekolah ternama. Waktu SMP, saya hanyalah anak udik (yang pindah dari sebuah sekolah di desa ke kota). Nggak heran kalau saya kena gegar budaya. Perkataan nyelekit dari kelompok angsa kerap saya dengar. Dan itu membuat saya nggak pede. Maka masa SMP saya tidak bisa dikatakan sebagai salah satu momen tidak menyenangkan, meski saya (syukurlah) nggak mengalami perlakuan menyakitkan lebih dari itu.

Untungnya, masa SMA saya sangat menyenangkan. Bukan karena saya naik kasta ke kelompok angsa. Tapi karena saya dikelilingi teman-teman yang menyenangkan. Lingkaran pertemanan saya, mungkin bukan yang paling populer di sekolah kami, tapi entah mengapa, saya bahagia bersama mereka. Tapi, di sisi lain, saya melihat juga beberapa perlakuan buruk pada kelompok itik.

Oke, kembali ke novel ini. Saya sempat menyangka Jonas akhirnya tertarik pada Katrissa. Tapi ternyata nggak. Endingnya malah berbeda dengan yang saya pikirkan hehe.

Terakhir, ada satu kalimat berkesan tentang bullying di sini:

Teman tidak saling melukai. Teman saling menghormati, mencintai, menghargai. Hentikan sebelum terlambat. Tidak ada yang berhak hidup dalam luka. –Katrissa, halaman 265

Buat remaja, kamu harus baca buku ini!


Janganlah berjalan di depanku, aku tak’kan mengikutimu. Janganlah berjalan di belakangku, aku tak’kan menunjukkan jalanmu. Berjalanlah di sisiku, dan jadilah sahabatku –Albert Camus

Keterangan:
Quote awal dan akhir saya kutip dari awal dan akhir novel ini. Nice qoutes!

Friday, June 28, 2013

[Resensi] The Timekeeper, Pelajaran Berharga Tentang Waktu


Judul                                   : The Timekeeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis                                : Mitch Albom
Alih Bahasa                        : Tanti Lesmana
Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                              : Oktober 2012
Jumlah Halaman                  : 312 halaman

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya. –Dor (halaman 288)

Masih dalam rangka menghapus “dosa” (karena saya sering menumpuk buku, menunggu punya waktu "menghabiskannya”), ini adalah salah satu buku yang saya baca. The Timekeeper saya beli atas saran seorang teman, Dyah Rini. Dan ternyata, saya puas membacanya. Banyak kalimat bermakna yang saya sukai di dalam buku ini hingga saya tak kuasa untuk tidak menandai quote-qoute keren itu.
Setelah membaca The Timekeeper, yakin deh, bakal tergoda membeli buku-buku karya Mitch Albom yang lainnya, yaitu Tuesday with Morrie, For One More Day, dan Five People You Meet in Heaven. Saya sedang membaca Tuesday with Morrie dan terkesima dengan pelajaran bermakna dari Morrie, guru Mitch.
Nah, ini sinopsis The Timekeeper. Happy reading!

Dor
Sejak kecil Dor menyukai Alli. Demikian juga sebaliknya, meski Alli tahu Dor punya kebiasaan yang berbeda. Dor suka menghitung segalanya.

Dia menandai batu-batu, menakik tongkat-tongkat, menyusun ranting-ranting, kerikil-kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya (halaman 22)

Dor dan Alli menikah. Sementara Nim, teman sepermainan mereka menjadi seorang raja. Dor dan Alli punya tiga anak. Sedangkan Nim membangun menara yang tinggi. Dor menghabiskan harinya bersama tulang dan kayu, mengamati bayangan matahari, dan memperkirakan waktu. Sedangkan Nim menyerbu desa-desa tetangga untuk merampas kekayaan mereka.
Suatu ketika, hidup Dor berubah untuk selamanya. Alli terkena penyakit yang tak diketahuinya dan meninggal. Dor berlari menuju menara yang dibangun Nim. Tujuannya satu, dia ingin menghentikan waktu. Namun Dor malah terkurung di dalam gua, dihukum karena telah lancang mengukur waktu. Dia harus tetap di sana sampai dia memahami konsekuensi mengukur momen.

“Bagaimana caranya?” tanya Dor.
“Dengan mendengarkan penderitaan yang ditimbulkannya.” (halaman 68)


Sarah Lemon
Di belahan bumi lainnya, Sarah Lemon punya masalah lain. Gadis yang tidak populer ini jatuh cinta. Sarah bisa saja cerdas dalam pelajaran, tetapi dia buta soal lelaki.  Hidupnya terasa berwarna ketika mengenal Ethan, cowok yang dikenalnya di tempatnya bekerja.

Kalau sedang bersamanya, Sarah ingin menit-menit berlalu lebih lambat, tetapi kalau sedang menunggu-nunggu bertemu dengannya, waktu berjalan terlalu lambat. (halaman 37)

Maka ketika suatu ketika Ethan mengajaknya bercanda, minum, dan mabuk, Sarah bingung.
Apakah dia telah bertindak benar, bertindak salah, atau salah bertindak dengan melakukan hal yang benar? (halaman 138)

Sarah ingin memberikan Ethan sebuah hadiah. Jam tangan yang bermakna, bertuliskan: “Waktu serasa terbang bersamamu.”
Di toko itulah, dia bertemu Dor, yang ditugaskan mencari seseorang yang menginginkan waktu berhenti dan seseorang lainnya yang menginginkan satu masa kehidupan lagi.


Victor Delamonte
Victor adalah pengusaha yang sedang sakit keras. Usianya 80 tahun. Dan dia dinyatakan sebaai orang terkaya keempat belas di dunia. Ketika dokter memberikan vonis bahwa usianya sebentar lagi berakhir, Victor menolaknya. Dia terbiasa berpikir, menemukan masalah, dan memecahkannya. Jadi, dia memilih mencari cara supaya bisa hidup lebih lama.
Krionika adalah jawabannya. Dengan memberikan sejumlah uang, Victor mendapatkan tempat berupa tabung untuk mengawetkan tubuhnya. Dia akan dibangkitkan kembali saat pengobatan sudah lebih maju. Victor merencanakannya dengan baik. Bahkan, istrinya pun tak tahu.
Sebelum mengabadikan tubuhnya, Victor pergi ke toko jam. Dia ingin membeli sebuah jam saku paling tua. Ketika penjaga toko mencarikannya, dia berkata:

“Yah, tapi jangan sampai makan waktu seumur hidup. Atau satu masa kehidupan lagi.” (halaman 160)

Begitulah, akhirnya Dor menemukan kedua orang yang dicari. Tapi cerita tak berhenti hanya di sini.
Sarah Lemon, hampir bunuh diri, ketika mendapati dirinya menjadi bahan ledekan Ethan. Di social media, Ethan mempermalukannya. Sarah putus asa dan malu.
Victor, sudah berangkat ke ruang krionika untuk membuat dirinya kekal.
Dor bertugas memberikan gambaran tentang apa yang terjadi jika Sarah meninggal dan jika Victor hidup lebih lama.
Sarah terkejut, mendapati hidup Ethan tetap berlanjut. Dia tak merasa kehilangan Sarah. Justru, ibunya yang tidak dipedulikan sangat kehilangan Sarah.  Jadi, apa gunanya dia mati?
Victor mendapati, hidup di masa depan bukanlah sesuatu yang enak. Dia dijadikan tontonan oleh orang-orang yang hidup bukan di masanya. Mereka menonton ingatan-ingatannya. Warisan yang ditinggalkan untuk istrinya tak berarti karena hukum sudah berubah seiring waktu. Jadi, apa gunanya dia hidup lebih lama?

“Kenapa?”
“Supaya ingat bagaimana caranya merasa.” (halaman 286)

Dor, Sarah, dan Victor sama-sama belajar mengenai waktu. Begitupun saya.

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”
“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.” (halaman 288)

Tuesday, June 18, 2013

[Lomba Resensi Novel 12 Menit] Belajar Memercayai Impian



Judul                          : 12 Menit
Penulis                        : Oka Aurora
Penerbit                      : Noura Books
Cetakan                      : I, Mei 2013
Jumlah Halaman           : 343 halaman

Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang – Rene (halaman 307)

Bagi Rene, masalah terbesar saat mengajar anak-anak Marching Band Bontang Pupuk Kaltim bukanlah masalah teknik bermain, tetapi masalah kepercayaan diri. Mereka jauh dari mental juara yang ditemui Rene saat melatih tim-tim lain. Rene sempat bimbang dan meragukan dirinya sendiri. Meski beberapa kali tim Marching Band bimbingannya menjadi juara GPMB (Grand Prix Marching Band), Rene menghadapi kenyataan betapa susahnya membesarkan jiwa anak-anak Bontang. Saat mereka merasa “kecil”, Rene tahu, mereka akan kalah sebelum bertanding.
Selain masalah kepercayaan diri, Rene menghadapi masalah lain. Masing-masing pemain dalam tim, punya persoalan yang datang dari dalam diri dan keluarga mereka. Masalah-masalah ini membuat tim beberapa kali hampir kehilangan pemain karena mereka mengundurkan diri. Coba tengok kisah beberapa anggota ini.
Elaine, baru pindah dari Jakarta ketika bergabung di tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Dia merasa menemukan dunianya di tempat itu. Sejak mengenal biola, baginya musik adalah segala-galanya. Sayang, sang ayah Josuke Higoshi menentang kecintaannya pada musik. Elaine dan mamanya, mati-matian berjuang supaya Elaine tetap bisa berlatih. Bahkan, saat Josuke mensyaratkan nilai ulangan tak boleh kurang dari 95,  Elaine menyanggupi. Terbukti, nilai Elaine bisa tetap cemerlang meski latihan marching band sangat menyita waktu.
Persoalannya, ayahnya marah besar ketika tahu Elaine melepas kesempatan bertanding di Olimpiade Fisika karena saatnya bersamaan dengan hari GPMB dilaksanakan. Josuke melakukan segala cara untuk menghalangi Elaine meski tahu pada Elaine-lah timnya bergantung. Karena Elaine terpilih sebagai Field Commander, pemimpin tim marching band.
Tara, gadis yang pendengarannya terbatas. Kecelakaan merenggut jiwa ayahnya sekaligus mengurangi daya dengarnya. Tara terpuruk, karena tidak bisa lagi mendengar nada-nada snare drum dengan baik tanpa alat bantu. Namun penyesalan terbesar Tara adalah dia merasa dialah penyebab kematian ayahnya. Bersama Opa dan Oma, Tara melalui naik turunnya semangat bermusik. Tara sempat merasa down karena lelah dengan kecaman Rene dan keterbatasannya. Dia butuh dukungan ibunya. Namun, ibunya tak pernah memenuhi harapan Tara untuk pulang dari Inggris, tempatnya menuntut ilmu.
Lahang, seorang pemuda yang tinggal di pedalaman. Untuk berlatih dia harus menempuh jarak berkilo-kilometer melewati rawa-rawa yang dihuni buaya. GPMB adalah satu-satunya jalan bagi Lahang untuk melihat Monas, memenuhi impian ibunya yang sudah tiada. Lahang berada dalam dilema ketika ayahnya kritis sementara saat itu dia mesti berangkat ke Jakarta. Lahang tidak ingin meninggalkan ayahnya karena khawatir ayahnya tiada tanpa dia di sisinya, seperti saat ibunya meninggal. Tapi sang ayah berjanji akan menunggu Lahang, sehingga Lahang tetap berangkat. Lahang tak menyangka, di hari besarnya, ayahnya pergi untuk selamanya.
Rene berpacu dengan waktu. Meski awalnya ragu, sifat keras kepalanya membuatnya jauh dari kata menyerah. Ketika bentakan dan sikap keras tak membuahkan hasil, Rene baru menyadari dia perlu pendekatan lain: melihat dengan mata hati.
Rene melihat sendiri bagaimana marahnya Tara pada diri sendiri. Diam-diam, dia melihat Tara memainkan stik drum asal-asalan pada jirigen saking marahnya. Tara putus asa karena telinganya membuatnya kesulitan menyelaraskan irama. Perlu waktu bagi Tara sampai dia mau “didorong melewati tanjakan” seperti kiasan Opanya.
“Kadang-kadang, hidup itu ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil di tanjakan,” jelas Opa, “susah. Berat. Capek. Tapi kalau terus didorong, dan terus disoain, insya Allah akan sampai” (halaman 160).
Tidak hanya itu, Rene juga berdebat dengan Josuke yang dengan keras melarang Elaine karena ingin Elaine jadi ilmuwan, bukan dirigen. Ini sebanding susahnya saat membangkitkan semangat Lahang supaya tetap berangkat ke GPMB. Namun semuanya terbayar, saat tim mereka berteriak lantang di akhir acara menyerukan yel. Vincero!
Berkaca pada mereka, remaja di kota kecil yang berjuang ribuan jam untuk dua belas menit penampilan membuat saya teringat masa kecil saya. Masa kecil saya, saya habiskan di pedesaan. Saya melihat sendiri bagaimana susah payahnya guru-guru saya membangkitkan kepercayaan diri kami untuk bersaing dengan tim cerdas cermat dari kota. Ketika akhirnya kami menang, baru saya percaya, saya bisa meraih impian yang lebih besar. Dan masa itu, yang hanya berlangsung selama satu jam, saya kenang untuk selamanya.
Novel yang bertabur istilah Marching Band ini adalah novel tentang GPMB yang pertama kali saya baca. Saya sempat membaca beberapa ulasan “12 Menit Untuk Selamanya” yaitu film yang diangkat dari novel ini, disebut-sebut pula sebagai film pertama yang mengulas tentang kehidupan anak-anak marching band. Membaca novel ini membuat saya sedikit mengenal beberapa istilah marching band seperti battery, cadet band, drum corps, legato, rudiment, dan sebagainya. Kalimat-kalimat menggugah semangat banyak saya temukan di dalamnya. Dan ini membuat saya berpikir, buku ini pantas saya rekomendasikan.
Namun sesungguhnya, kesan yang mendalam yang saya peroleh adalah pelajaran tentang kerja keras, pantang menyerah, dan kepercayaan diri merupakan awal dari keberhasilan. Tanpa itu semua, seseorang tak akan berani melangkah. Apalagi menjadi pemenang. Karena, seorang pemenang sejati tidak akan pernah berpikir kalah sebelum bertanding. 
Last but not least, saya tuliskan quote keren dari novel ini:
Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan, Anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian.” – Bapak Lahang (halaman 104)
Bermimpilah, dan percayai mimpi itu, niscaya impianmu akan terwujud. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit 



Thursday, May 30, 2013

[Proses Kreatif] Kumpulan Cerita Princess Kocak



"Gimana ceritanya bisa menulis buku ini? Susah nggak?"

Beberapa orang teman bertanya pada saya ketika tahu buku duet saya dan Eka Dresti Swaranindita (akrab dipanggil Ditta) yang berjudul "Princess Kocak" terbit. Nah, biar nggak bertanya-tanya lagi, saya ceritakan saja di sini proses kreatifnya.

Awalnya, saya dan Ditta mengikuti sebuah kelas menulis. Di kelas itu, kami mendapatkan tugas akhir dari Mas Benny Rhamdani untuk berduet menulis cerita bertema "Princess Kocak." 

Jujur saja, kata "kocak" dalam tugas itu, malah membuat saya merinding. Ya iyalah, sejak saya mulai menyebut diri sebagai penulis tahun 2007 silam, saya belum pernah sekalipun menulis cerita lucu, kocak, dodol, dan semacamnya. Mau nawar tugas nggak mungkin juga. Emangnya beli sayur di pasar, pakai tawar menawar?

Singkatnya, saya dan Ditta menerima tugas ini dengan pasrah. Bener-bener pasrah dalam artian sesungguhnya. Soalnya, sama sekali nggak tergambar cerita yang akan kita tulis. Selama beberapa hari, kerjaan kita berdua hanyalah saling bbm sambil kasak-kusuk.

"Udah nulis, Dit?"

"Belum, Mbak. Belum dapat ide." *ikon sedih.

"Sama. Gimana, dong?"

"Nggak tahu. Huwaa...."

See? 

Tugas bertema lucu yang seharusnya bikin saya dan Ditta ketawa, malah jadi mimpi buruk. Tidur nggak tenang, makan ogah-ogahan... Duh, bingung!

Sampai akhirnya, saya mencoba mengorek trik dari beberapa pakar komedi seperti Kang Iwok dan Dedew. Saya ubek blognya dan memelototinya sepanjang hari. Saya juga sempat bertanya pada Mbak Dian Kristiani. Sesuai dengan masukan mereka, saya browsing tebak-tebakan lucu (yang sudah diingatkan oleh Mbak Dian Kris bahwa tebak-tebakannya banyak yang jorok. Tentu saja yang jorok nggak bakal saya ambil), baca buku-buku lucu, dan mengamati tingkah anak-anak lebih cermat.

Di hari ketiga, setelah saya nongkrong di Gramedia hampir seharian, terbayang juga cerita lucu tentang "Asrama Para Princess". Ceritanya tentang asrama yang dihuni para princess yang belajar menjadi seseorang yang lebih baik. Ada princess yang jorok, ada princess yang ceroboh dan sebagainya. Nah, suatu hari, datanglah seorang princess yang cantik, berjalan dengan anggun, wangi, pokoknya serba sempurna. Teman-temannya heran, kok bisa Princess Sempurna ini dimasukkan ke asrama.

Kehebohan baru terjadi saat diminta memperkenalkan diri. Mereka akhirnya  tahu kekurangannya. Apa kekurangannya? Baca deh, di buku ini hehehe 

Cerita pertama selesai saya tulis, ide pun mulai mengalir. Saya putar balikkan stereotype princess yang serba sempurna menjadi tidak sempurna. Saya selipkan juga kata-kata, adegan, dan dialog lucu supaya unsur kocaknya lebih terasa. Saya perhatikan anak-anak bercanda dan bercakap-cakap. Saya bahkan menulis beberapa kalimat yang lazim dipakai anak-anak sekarang, melalui socmed. Ketika sudah tahu kuncinya, ternyata menulis cerita lucu menjadi lebih mudah. Setiap dapat ide baru, langsung saya kontak Ditta supaya dia tidak menulis cerita serupa. 

Jadi begitulah. Saya dan Ditta senang sekaligus lega melihat buku ini terbit. Senang karena ini menjadi buku kocak pertama yang kami tulis. Lega karena berhasil menyelesaikan tantangan ini. Seperti yang saya yakini, apapun keinginan kita, akan terwujud jika kita punya niat dan kerjakeras.

Wednesday, May 29, 2013

[Resensi Buku] Jika Hantu Itu Ada di Pikiranmu

Judul                           : Teror Hantu Ungu
Penulis                         : Nelfi Syafrina
Penerbit                      : DAR! Mizan
Jumlah halaman            : 116 halaman
Harga                           : Rp 29.000,-

Kan, Om sudah bilang hantu itu tidak ada. Hantu itu hanya ada di pikiranmu. –Om Wahyu (Teror Hantu Ungu, halaman 55)

Apa yang terbayang saat membaca judul Teror Hantu Ungu?
Jujur, saya nggak bisa membayangkan hantu ungu itu seperti apa. Malah, yang muncul di benak hanyalah terong berwarna ungu, yang diolah menjadi terong balado kesukaan saya. Nggak nyambung? Iya, sih. Tapi bener-bener tidak terbayang sosok hantu dalam novel ini.

Nah, setelah membacanya baru saya tahu, yang dimaksud Hantu Ungu di sini adalah sosok gadis kecil yang suka warna ungu. Kalau begitu, mungkin judul yang cocok adalah Teror Gadis Berbaju Ungu. Tapi, ada pikiran lain yang muncul setelahnya. Mungkinkah penulis sengaja menggunakan judul Teror Hantu Ungu untuk mengulik rasa penasaran? Bisa jadi.

Cerita Teror Hantu Ungu dimulai ketika Zeta dan Owen, dua kakak beradik dititipkan kedua orang tuanya di rumah Kakek. Selama kedua orang tuanya pergi mereka dititipkan pada Om Wahyu, adik Ibu. Masalahnya, rumah Kakek sepi dan temaram. Suasana jadi menakutkan ketika malam tiba. Apalagi, saat Om Wahyu menceritakan hal seram tentang “orang bunian”.

Ketakutan mereka semakin menjadi ketika melihat seorang anak perempuan berbaju ungu memandang marah pada mereka. Padahal, waktu itu hujan deras. Rasanya tidak mungkin kalau dia seorang manusia. Lalu siapa dia?

Penyelidikan demi penyelidikan pun dilakukan Zeta dan Owen. Sampai mereka menemukan gadis itu ternyata Alea. Dari Helena (adik Alea) mereka tahu bahwa Alea marah karena mengira Zeta dan Owen menabrak kucing mereka. Untungnya, gadis tunawicara itu mereda marahnya saat Zeta memberikan hadiah berupa buku padanya.

Secara keseluruhan, buku ini menghibur. Suasana seram memang seringkali membuat kita tergiring membayangkan sesuatu yang membuat buku kuduk merinding. Tapi kan, tidak selalu yang menyeramkan itu hantu.

Beberapa kali saya juga sempat tersenyum sendiri karena buku ini juga membuat saya teringat masa kecil saya dan adik saya. Kami suka sekali bertengkar, seperti Zeta dan Owen. Lucu, kesal, tapi ngangenin!

Meski menampilkan kata “hantu”, buku ini sama sekali tidak membuat anak-anak membayangkan sosok hantu yang mengerikan, lho. Buktinya, Keisya, putri sulung saya, bisa tidur nyenyak setelah membaca buku ini. Inilah salah satu poin plus yang paling saya sukai.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah cara Alea berkomunikasi dengan Zeta dan Owen. Ada satu dialog (di halaman 112) saat Alea minta maaf pada Zeta. Tapi, dalam dialog itu tak tergambarkan caranya berdialog. Apakah menggunakan bahasa isyarat? Kalau iya, seperti apa? Kalau tidak, bagaimana dia berbicara?

Mungkin, akan lebih menarik jika penggunaan bahasa isyarat dan cara berkomunikasi Alea dibahas lebih rinci. Misalnya, minta maaf bisa diisyaratkan dengan tangan kanan bergerak melingkar di dada. Atau, terima kasih diisyaratkan dengan mengecupkan telapak tangan ke bibir dan digerakkan ke depan. Tujuannya, tentu saja untuk memberikan pengetahuan pada anak-anak. Jadi, saya sebagai orang tua juga tidak kebingungan kalau anak-anak bertanya, “Seperti apa bahasa isyarat 'maaf'?”

Keisya membaca Teror Hantu Ungu 
Tulisan ini diikutkan dalam lomba resensi Forum Penulis Bacaan Anak