Monday, December 16, 2013

[Cerita Anak] Duet Balet


Duet Balet, dimuat di Bobo 7 Maret 2013
“Stt… Bulan, anter dong. Aku kebelet pipis,” bisik Rania pada Bulan.
Tanpa bertanya-tanya, Bulan mengangguk. Mereka berdua lalu beriringan pergi ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi perempuan, Bulan menunggu Rania di depan pintu kamar mandi. Rania masuk tanpa menguncinya.
“Jagain ya. Jangan ke mana-mana,” kata Rania membiarkan pintu kamar mandi terbuka sedikit.
“Sip,” sahut Bulan pendek. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Napasnya sesak. Kepalanya pusing dan jantungnya berdebar-debar. Meski sudah sering masuk ke dalam kamar mandi itu, selalu saja ketakutan menyergapnya. Tapi melihat Bulan ada di dekatnya, dia tak terlalu khawatir.
Bulan sudah terbiasa dengan kebiasaan Rania. Sementara Rania pipis, mata Bulan sigap mengawasi orang yang lalu lalang di depan kamar mandi perempuan. Di tempat les balet mereka ada empat kamar mandi. Saat itu hanya kamar mandi yang digunakan Rania yang terisi. Kamar mandi itu yang paling dekat pintu keluar. Namun tak lama kemudian seorang anak masuk, hampir saja dia menuju kamar mandi yang digunakan Rania.
“Sudah belum?” tanya Bulan dengan suara keras.
“Sebentar,” jawab Rania dari dalam kamar mandi.
Anak perempuan yang hampir masuk ke dalam kamar mandi Rania langsung mundur. Bulan sengaja berteriak karena Rania tidak pernah mengunci pintu kamar mandi saat pipis.
“Maaf, aku nggak tahu kalau kamar mandi itu terisi,” katanya. Dia lalu masuk ke kamar mandi lain.
Rania ke luar dari kamar mandi.
“Hampir saja ada yang masuk ke kamar mandi ini,” lapor Bulan.
“Makasih ya, Bulan,” kata Rania.
Bulan hanya mengangguk.
“Sampai kapan kamu minta ditemani saat ke kamar mandi, Rania? Aku sih nggak keberatan menemani. Tapi, kurasa suatu saat kita pasti nggak bisa bersama. Jadi kamu harus berlatih ke kamar mandi sendiri,” kata Bulan serius.
Rania mengangkat bahu. Dia juga membayangkan jika itu terjadi. Tapi nggak pernah bisa melepaskan ketakutannya berada di dalam ruangan sempit.
Kamar mandi di tempat les balet itu merupakan salah satu tempat sempit yang membuatnya takut. Rasanya seperti tempat itu akan memakannya. Bagian atas kamar mandi itu nggak setinggi kamar mandi di rumahnya. Lagi pula ukurannya hanya sekitar 2 meter persegi.
“Kata Ibu kamu menderita Claustraphobia, takut tempat sempit,” kata Bulan.
“Aku tahu. Aku juga benci berada di lift,” keluhnya. “Stt… jangan keras-keras. Ada Fira,” Rania mengingatkan. Kalau sampai Fira tahu, gawat! Fira suka sekali mengolok-oloknya.
“Besok kita lihat siapa yang bisa menari lebih bagus,” kata Fira sambil berputar-putar. Hari ini adalah hari terakhir mereka latihan. Besok mereka akan duet menarikan sebuah tarian balet. Meskipun menari bersama, Fira masih saja menganggap Rania sebagai saingannya.
“Kalian berdua sama bagusnya,” ujar Bulan.  
Fira mendengus kesal.
“Tentu saja tetap aku yang paling bagus,” dia tak mau kalah. “Sampai ketemu besok.”
*
Rania gelisah bukan main. Sudah sejak tadi dia menahan pipis. Tapi dia tak bisa meminta Bulan menemaninya. Bulan sedang tampil sekarang. Setelah penampilan Bulan, gilirannya dan Fira yang tampil. Kedua orang tuanya tentu sudah duduk di depan panggung. Tak mungkin minta tolong mereka menemani ke kamar mandi. 
“Kenapa kamu?” tanya Fira tiba-tiba.
“Pengen pipis…” jawab Rania akhirnya.
“Ya sudah pipis saja sana,” kata Fira cuek. Dia lalu sibuk melihat-lihat penampilan Bulan dan beberapa orang temannya yang sedang menampilkan adegan peri-peri berkumpul di awan.
Rania diam. Tapi dalam hati dia ingin sekali minta tolong pada Fira untuk mengantarkannya ke kamar mandi. Meskipun sesungguhnya Rania tak suka padanya.
“Ngg… Fira,” panggilnya ragu-ragu.
“Apa?” sentak Fira judes. “Buruan pipis sana. Bentar lagi giliran kita.”
“Tolong antarkan aku dong. Aku… Aku takut ke kamar mandi sendirian,” pinta Rania memelas.
Mata Fira membelalak tak percaya. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.
“Kamu takut di kamar mandi?”
Rania mulai berkeringat. Sekarang selain menahan pipis, dia juga khawatir jika Fira mengatakan pada semua orang tentang ketakutannya pada tempat sempit.
“Aku… Aku takut berada di tempat sempit. Aku… claustrophobia,” ujar Rania tersendat-sendat.
Fira memandangnya. Tadinya dia ingin membiarkan saja. Tapi bagaimana kalau nanti Rania tak bisa menari balet dengan baik karena menahan pipis? Bisa-bisa mereka berdua ditertawakan. Bagaimana pun mereka tampil duet, jika penampilan Rania buruk, Fira juga akan terlihat menari buruk. Tiba-tiba dia jatuh kasihan pada Rania.
“Ya sudah yuk cepat,” katanya sambil menarik tangan Rania.
 Mereka segera menuju ke kamar mandi. Usai pipis, Rania merasa lega.
“Terima kasih, Fira,” katanya. “Ngomong-ngomong, kok kamu mau sih mengantarkan aku? Kan kamu benci banget sama aku.”
“Kita kan tampil duet, Rania. Sebuah tim nggak akan terlihat bagus jika salah satu orang berpenampilan buruk. Aku nggak mau timku tampil buruk,” sahut Fira.
Rania tersenyum senang.  Rupanya Fira nggak seburuk yang dibayangkan.
“Tenang saja, aku nggak akan bilang kalau kamu takut tempat sempit,” janji Fira.
“Terima kasih sekali lagi,” ucap Rania tulus.

Mereka lalu berlari menuju panggung. Kali ini Rania yakin penampilan mereka sangat bagus. [Fita Chakra]

Thursday, December 12, 2013

[Cerita Berima] Bunga Dandelion

Tulisan ini dimuat di Majalah Mombi, 20 Oktober 2010


Mataku terpaku pada sebentuk bunga.
Bentuknya tidak seperti bunga biasa.
Hmm… aku tertarik mendekatinya.
Hatiku tergoda memetiknya.

Kuamati kau, bunga yang cantik.
Kuelus dengan jemari lentik.
Bentuknya bulat diselimuti bulu-bulu halus.
Aha, sepertinya bisa untuk menyapu lantai hingga mulus!

Bunga dandelion namanya.
Sungguh cantik rupanya.
Kutiup bunga itu perlahan.
Bulu-bulu halusnya terbang melayang pelan.

Wow! Bulu-bulu halus beterbangan kemana-mana.
Bunga dandelion yang menawan,
Kutitipkan pesan untuk teman-temanku yang jauh disana.
Semoga kau dapat menyampaikan pada mereka yang kurindukan. [Fita Chakra]

Saturday, December 7, 2013

[Cerita Anak] Permen Ajaib

Permen Ajaib, Bravo 2008
Sebentar lagi Mama berulang tahun, Lolita ingin sekali memberikan kado istimewa untuk Mama. Tetapi Lolita tidak punya uang. Dia lalu berpikir, bagaimana caranya memperoleh uang untuk membelikan kado buat Mama. Terlintas sebuah pikiran untuk bekerja di toko permen milik Pak Galetto agar bisa mengumpulkan uang.
         Dia pun datang ke toko Pak Galetto dan memohon padanya supaya menerimanya sebagai penjual permen di tokonya.
            “Baiklah, mulai besok kamu bisa bekerja disini,” kata Pak Galetto.
            Lolita senang sekali mendengarnya.
            “Tapi dengan satu syarat…”
            “Aa… Apa syaratnya, Pak?” tanya Lolita takut-takut.
           “Selama bekerja kamu tidak boleh memakan permen-permenku. Permen-permenku adalah permen ajaib.  Jika sampai ada yang memakannya tanpa ijin, akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Jadi aku akan tahu siapa yang memakannya tanpa ijin,” ujar Pak Galetto panjang lebar.
            Lolita menarik napas lega.
            “Jika hanya seperti itu syaratnya, aku pasti bisa,” jawab Lolita.
           Lolita pun pulang dengan hati riang. Dia membayangkan betapa senangnya hati Mama mendapatkan kado darinya.
            Pagi harinya, Lolita datang ke toko Pak Galetto. Sebelum toko buka, dia harus membantu Pak Galetto membuat permen-permen yang akan dijualnya. Di dapur, Pak Galetto sibuk membuat berbagai macam permen. Ada permen loli, permen coklat, permen buah, permen susu, dan permen kacang. Bentuknya pun beraneka macam. Ada yang berbentuk bulat, bertangkai panjang, berbentuk bintang, dan beraneka hewan. Lolita membantu Pak Galetto mengemas permen-permen itu sebelum dijual.
            Hmm… air liur Lolita sudah hampir menetes melihat deretan permen berwarna-warni itu. Ingin sekali rasanya mengambil satu dan mengantonginya di dalam sakunya. Tetapi dia selalu teringat perkataan Pak Galetto.
            “Lolita, bawalah permen-permen ini ke toko. Tunggulah disana, siapa tahu ada pembeli yang datang. Aku masih harus membuat beberapa jenis permen lagi,” perintah Pak Galetto.
            Lolita membawa permen-permen yang sudah jadi ke dalam toko. Beberapa pembeli mulai berdatangan untuk membeli permen. Permen Pak Galetto memang terkenal enak. Tetapi Lolita belum pernah sekalipun mencicipi rasa permen Pak Galetto.
Ketika Lolita sedang membayangkan rasa permen Pak Galetto datanglah dua orang gadis. Mereka membeli sekotak permen dengan berisi permen coklat beraneka rasa. Mereka berdua langsung membuka kotak permen itu di hadapan Lolita dan memakannya.
“Hmm, enak sekali permennya,” kata salah seorang gadis itu sambil mengulum permen coklat berbentuk bunga.
Temannya menganggukkan kepala. Mulutnya tak henti bergerak mengunyah permen yang mereka beli. Harum permen menyebar ke seluruh toko. Lolita menelan ludah, berusaha menahan diri agar tidak tergoda mengambil permen dan memakannya. Tetapi sesaat kemudian, ketika kedua orang gadis itu sudah pergi meninggalkan toko, Lolita melirik kesana kemari.
Pak Galetto masih sibuk di dapur. Sementara di toko sedang tidak ada pembeli. Jadi tidak akan ada yang melihat jika aku mengambil sebuah permen, pikir Lolita.
Lolita pun mengambil sebuah permen kacang. Ah, permen-permen Pak Galetto masih sangat banyak, dia tidak akan tahu kalau aku ambil satu. Lolita mengulum permen kacang itu tanpa teringat pesan Pak Galetto yang melarangnya memakan permen-permen tersebut. Matanya mengerjap menikmati rasa permen kacang yang dimakannya. Pantas saja banyak orang yang berdatangan ke toko permen ini, rasa permennya enak sekali, kata Lolita dalam hati.
Tiba-tiba, Lolita merasa punggungnya gatal. Digaruknya dengan sebelah tangan. Belum usai gatal di punggungnya, wajahnya pun ikut gatal. Beberapa detik kemudian sekujur tubuhnya terasa gatal!
“Aaa..! Aduh… gatalnya!,” jerit Lolita sambil menggaruk badannya di sana sini. Merasa tidak tahan merasakan gatal-gatal, akhirnya Lolita berteriak minta tolong.
“Pak Galetto..! Tolooong…!”
Pak Galetto tergopoh-gopoh berlari ke dalam toko.
“Apa yang terjadi? Kenapa badanmu?” tanya Pak Galetto khawatir.
Lolita masih terus menggaruk-garuk wajah, punggung, tangan, dan kakinya. Bintik-bintik kemerahan mulai bermunculan.
Melihat tingkah Lolita, Pak Galetto pun mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu pasti memakan permenku!” Pak Galetto sangat marah.
Lolita menunduk. Dia merasa bersalah telah melanggar perkataan Pak Galetto.
“Bukankah aku sudah bilang berkali-kali bahwa permen ini adalah permen ajaib. Siapa saja yang mencurinya pasti akan mengalami kejadian buruk. Andai kamu mau mendengarkan perkataanku pasti tidak akan terjadi seperti ini.”
“Maafkan aku, Pak Galetto,” sesal Lolita.
“Jika kamu tidak memakan permenku, sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah permen istimewa untukmu, Lolita…” keluh Pak Galetto. “Tapi sekarang sudah terlanjur. Permen itu tidak akan kuberikan untukmu. Pulanglah sekarang juga….”

Lolita menangis tersedu. Hanya karena tergoda untuk memakan permen Pak Galetto, dia tidak jadi memperoleh permen istimewa. Dan yang lebih menyedihkan, Lolita tidak bisa memberikan kado untuk Mama dari hasil kerjanya. [Fita Chakra]

[Cerita Anak] Pencuri Bulan

Cerita ini pernah dimuat di Mombi Volume 36 Tahun 2008.

Pencuri Bulan
Beberapa hari belakangan Mimi senang melongok ke luar jendela kamar ketika akan bersiap tidur. Dari jendela kamarnya, Mimi bisa melihat bulan dengan jelas. Mimi baru menyadari, ternyata bulan bisa begitu indahnya bersinar terang. Warnanya kuning keemasanan dan berbentuk bulat, membentuk satu lingkaran utuh yang sempurna. Betapa indahnya bulan itu! Pikir Mimi dalam hati.
Mimi memperhatikan bulan itu. Terkadang saat awan melintas, sesaat bulan menghilang terhalang awan. Tetapi kemudian sinarnya kembali menerobos sela-sela awan yang tipis. Dan bulan pun nampak kembali ketika awan menjauh darinya.
Bulan membuat Mimi berlama-lama di depan jendela. Langit berhias bulan dengan bintang-bintang di sekelilingnya sungguh menarik hatinya. Mimi jadi tak sabar menanti malam. Sambil memandang bulan di atas sana, dia membayangkan rasanya terbang ke bulan.
Pada hari ketiga Mimi mengamati bulan, Mimi merasa ada yang janggal. Bentuk bulan tak lagi bulat sempurna. Namun bagian tepinya hilang sebagian.
”Mengapa bulan tidak kelihatan utuh? Kemana hilangnya tepi bulan itu, Pusi?” tanya Mimi pada Pusi, kucing kesayangannya.
Pusi mengeong pelan. Tidak mengerti apa yang dimaksudkan Mimi.
Mimi berpikir mungkin ada awan yang melintas dan menutupi sebagian bentuk bulan. Ditunggunya sesaat. Semenit, dua menit, sampai satu jam...
Bentuk bulan masih tetap seperti semula. Tepi bulan hilang, membuat bulan tak lagi berbentuk utuh. Mimi sedih. Siapa yang memakan bulan? Batinnya bertanya-tanya.
Beberapa hari berikutnya, semakin banyak tepian bulan yang hilang. Bahkan bulan kini berbentuk sabit. Sudah separuh bagian lebih yang hilang. Mimi mulai merasa cemas.
”Pusi, jika bulan diambil sedikit demi sedikit, lama kelamaan bulan akan habis. Kita tak akan bisa lagi memandanginya di malam hari,” keluh Mimi pada Pusi.
Pusi mengibaskan ekornya sambil mengeong-ngeong, seakan mengerti apa yang dikatakan Mimi.
Kukuk....! Kukuk....! Kukuk....!
Tiba-tiba terdengar suara burung hantu. Mimi menoleh. Ada seekor burung hantu bertengger di atas pohon. Burung hantu itu mengusap-usap mulut dengan sebelah sayapnya. Mungkin burung hantu itu usai makan. Apa yang dimakan burung hantu itu?
”Pusi, jangan-jangan burung hantu yang memakan bulan...” celetuk Mimi sambil berpikir. Burung hantu di ranting pohon tersebut terbang entah kemana. Meninggalkan suara yang sayup-sayup hilang tertiup angin.
Kukuk...! Kukuk...!
Mimi termenung. Masih memikirkan ada apa gerangan dengan bulan? Benarkah burung hantu yang memakannya?
”Tapi... Tidak mungkin burung hantu bisa terbang jauh sampai ke bulan. Kata Ibu, bulan jauh sekali letaknya.” Mimi berkata pada dirinya sendiri.
”Iya, pasti bukan burung hantu yang memakannya. Jika bukan karena terhalang awan dan bukan karena burung hantu memakannya, lalu mengapa bulan tak lagi berbetuk bulat?” tanya Mimi resah. Bulan yang cantik, yang selalu dirindukannya setiap malam, kini tak lagi berbentuk bulat.  Warnanya pun tak lagi kuning keemasan, melainkan berwarna kuning pucat, seperti memudar warnanya.
Hari demi hari, Mimi semakin sering mengamati bulan. Dia ingin tahu siapakah yang mengambil bulan sedikit demi sedikit. Hingga suatu hari, Mimi sungguh terkejut ketika memandang keluar jendela sebelum tidur.
Bulan itu hilang!
Sama sekali tidak terlihat sedikitpun sisa-sisanya. Mimi cemas. Siapa yang mencuri bulan?
”Hei, siapa sebenarnya mencuri bulan?!” teriak Mimi keluar jendela.
Hanya suara hembusan angin yang terdengar.
”Ayo, tunjukkan dirimu, si pencuri bulan!” kata Mimi lagi. Dia benar-benar merasa kesal karena bulan kesayangannya lenyap tak berbekas.
Mendengar Mimi berteriak-teriak di dalam kamarnya, Ibu masuk ke dalam kamar Mimi dan bertanya dengan khawatir, ” Ada apa, Mimi? Kenapa berteriak-teriak begitu?”
Mimi menceritakan semuanya pada Ibu.
”Bagaimana mungkin bulan bisa menghilang begitu saja, Bu? Siapa yang mencuri bulan?” tanya Mimi mengakhiri ceritanya.
Ibu tersenyum mendengar cerita Mimi.
”Mimi, bulan tidak menghilang. Bulan tetap ada tetapi kita tidak bisa melihatnya karena bulan sedang berada di belahan bumi yang lain.”
”Bagaimana itu bisa terjadi, Bu?”
”Bulan dan bumi merupakan benda langit yang bergerak memutar. Karenanya kita tidak bisa selalu melihat bulan dalam bentuk yang utuh. Bulan bisa berada menghadap belahan bumi lainnya. Jika itu terjadi, kita akan melihatnya dalam bentuk sabit, setengah lingkaran, dan lingkaran yang tidak sempurna. Bulan hanya bisa terlihat sempurna setiap bulan sekali,” jelas Ibu panjang lebar.
”O, begitu ya, Bu. Mimi kira ada yang mencuri bulan...” kata Mimi tersipu malu.
Ibu tersenyum lagi.
”Ayo, sekarang Mimi harus tidur. Jangan khawatir bulan akan muncul kembali sedikit demi sedikit.”
Mimi pun merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Rasa khawatirnya hilang.
”Bulan yang cantik, aku akan menunggumu muncul kembali,” bisik Mimi sebelum tidur. [Fita Chakra]

Wednesday, September 11, 2013

[Resensi] Ada Apa di Ladang Jagung?

Judul                   : Misteri Anak Jagung
Penulis                : Wylvera W
Penerbit              : Pelangi Indonesia
Cetakan             : Januari 2013
Jumlah Halaman  : 197 halaman

Sunyi! Mendadak senyap!
Tapi, di luar sana, di ladang jagung, justru sayup-sayup kudengar tangisan
Tangisan anak laki-laki. -Misteri Anak Jagung, halaman 1

Bagi Gantari, ladang jagung di Urbana itu menyimpan misteri. Gantari tahu ada yang tak beres  di sana. Tapi tak mungkin dia mengungkapkannya pada siapapun. Bagaimana mungkin dia bilang seorang anak lelaki terbakar di sana? Bahkan, orang-orang terdekatnya pun takut mendengar perkataannya. Itu karena perkataan Gantari biasanya terjadi. Banyak orang yang menganggapnya aneh. Kecuali Delia, sahabatnya.

Namun, ketika Gantari berkenalan dengan Aldwin, mereka langsung akrab. Aldwin berjanji akan mengenalkannya dengan Robin, sahabatnya. Meski demikian, Gantari merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aldwin.

Teka-teki Robin dan anak jagung masih tetap tak terjawab sampai Gantari pulang je jampung halamannya di Medan. Ladang jagung di Medan mengingatkannya pada ladang jagung di Urbana. Apalagi, sang nenek bercerita tentang seorang anak yang disebut-sebut anak dukun. Adakah hububgan antara anak itu dengan si anak dukun yang diceritakan sang nenek?

Cerita tentang anak indigo adakah salah satu favorit saya. Entah mengapa hal-hal semacam ini membuat rasa ingin tahu saya terusik. Kebetulan, saya suka membaca buku-buku psikologi dan pernah sekilas membaca tentang anak-anak spesial ini. Di dalam buku ini, penulis juga menyisipkan pengetahuan tentang anak indigo. Saya jadi paham karakter mereka yang cenderung penyendiri karena seringkali dianggap aneh. Belum lagi kenyataan bahwa mereka kerap susah membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. 

Aldwin dan Gantari merupakan anak-anak indigo. Dari buku ini saya memahami pula bahwa anak-anak ini butuh diakui. Meskipun mereka berbeda, nyatanya mereka butuh teman, dan butuh diakui.

Buat teman-teman yang suka cerita misteri sekaligus ingin tahu tentang istimewanya anak indigo, buku ini merupakan salah satu buku menarik yang bisa dibaca. Kita akan terhanyut oleh cerita yang mendebarkan sampai akhir cerita. Oya, satu hal lagi yang saya suka dari buku ini, penulis mendeskripsikan Urbana dari musim ke musim dengan baik. Saya jadi ikut membayangkan pemandangan di sana, seolah-olah saya melihat sendiri. Moga-moga apa yang saya bayangkan seindah kenyataannya.

Lalu, apa yang terjadi di ladang jagung? Silakan baca akhir cerita yang mengejutkan dalam buku ini. Dengan jeli, penulis menyisipkan ending yang mengesankan.

*Special thanks tuk Mbak Wiwiek, yang sudah mengirimkan buku ini untukku. :) Sukses ya!



Friday, September 6, 2013

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!

Cerita ini pernah dimuat di Bobo, 8 Agustus 2013. Saya kirim April 2012. Lumayan lama ya nunggunya. :)



Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
            “Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
            “Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
            “Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
            “Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
            “Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
            “Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
            Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
            Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
            “Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
            Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
            “Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
            Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
            Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
            “Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
            Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
            “Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
            Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
            “Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya. 


Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
            Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
            “Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
            Tutu semakin cemas mendengarnya.
            “Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
            Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.

Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya.

Si Sulit Makan!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, Mei 2008. Idenya berawal dari Keisya yang mogok makan. Siapa sangka, sekarang anak yang dulu jadi inspirasi tulisan ini mau melahap apa saja. Di rumah, kami menyebutnya "si selera Indonesia" karena makanan yang disukainya nggak jauh-jauh dari menu Indonesia. Teman-teman saya takjub saat melihat Keisya dengan lahapnya makan pecel! :D

Parenting, Mei 2008
Keisya terbilang anak yang susah makan. Makanya wajar saja kalau berat badannya bisa langsung turun drastis begitu dia sakit, meskipun hanya sakit ringan seperti batuk atau pilek saja. Pasalnya, begitu terasa sakit, dia akan lebih susah lagi disuruh makan.
            Suatu kali pernah terjadi Keisya mogok makan hingga tiga hari lamanya karena pilek. Yang namanya mogok makan, bagi Keisya berarti benar-benar tidak makan sesuap nasi pun! Paling-paling hanya susu yang tetap mengisi perutnya. Oleh sebab itu, saat Keisya sakit, dia bisa menghabiskan lebih banyak susu, yang artinya lebih banyak lagi pengeluaran kami untuk membeli susu karena Keisya sudah tidak minum ASI sejak usia delapan bulan.
            Tentu saja, saya sudah berupaya berbagai macam cara menyiasati pola makan Keisya yang kacau balau. Sehari makan, sehari berikutnya bisa tidak makan sama sekali, itu sudah sering terjadi. Seperti halnya ibu-ibu yang lainnya yang mempunyai anak picky eater seperti Keisya, seringkali saya kebingungan ketika Keisya mulai terlihat kurus atau tidak mau makan di saat sakit.
            Dari beberapa referensi yang saya baca, saya mulai menginstruksikan beberapa resep makanan untuk balita kepada Atun, pembantu rumah tangga kami. Saya memang tidak lihai memasak. Jadi, karena khawatir masakan yang saya masak tidak enak sehingga justru merusak selera makan Keisya, saya selalu mendelegasikan urusan masak memasak pada Atun.
            Setiap hari, saya memilihkan menu lengkap untuk Keisya dari menu sarapan, makan siang, makan sore, dan makanan selingan untuk camilan. Saya jelaskan pada Atun, bahan-bahan apa yang harus digunakan lalu bagaimana cara memasaknya. Agar tidak salah mengartikan apa yang saya baca dari majalah atau buku, Atun selalu saya minta membaca pula resep tersebut.
            Namun demikian, jarang sekali saya ikut turun tangan sendiri ke dapur untuk meracik masakan yang akan dibuat. Bukannya apa-apa, saya benar-benar tidak pede memasak! Alih-alih membuat makanan enak, saya takut masakan yang saya masak tidak enak di lidah. Soalnya sebelum Keisya lahir, saya sering memasak makanan yang rasanya ajaib alias tidak enak. Bisa dibilang saya ahli membuat masakan gosong, keasinan, atau campur aduk rasanya. Suami saya bahkan lebih mahir memasak dibandingkan saya.
            Khusus untuk Keisya, tidak sedikit resep yang sudah Atun coba praktekkan berdasarkan petunjuk buku-buku dan majalah yang telah saya baca sebelumnya. Dari makanan khas Indonesia seperti nasi goreng yang sudah dimodifikasi dengan keju serta campuran sosis dan daging, hingga makanan yang sudah biasa dimakan keluarga kami tetapi dihias atau dibentuk menjadi kelinci, wajah, dan sebagainya. Yang jelas segala jenis masakan kami coba demi untuk membangkitkan selera makan Keisya.
            Tidak seperti yang kami bayangkan, Keisya sepertinya tidak terlalu antusias makan makanan yang disiapkan untuknya. Meski tertarik dengan tampilan makanannya yang sudah dihias sedemikian rupa, tetapi tetap saja dia hanya makan sesuap dua suap saja, sekedar mencicipi saja. Tidak enakkah rasa masakan Atun? Diam-diam saya ikut mencoba makanan yang dimasak Atun. Hmm... rasanya lezat, tidak kalah dengan tampilannya yang menarik. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa Keisya tidak mau makan makanan seenak itu?
            Akhirnya, meski dimasakkan secara khusus, tetap saja selera makan Keisya tidak berubah. Jika sedang tidak ingin makan, dia tahan hanya makan sekali sehari atau bahkan tidak makan seharian. Bahkan jika dipaksa, dia tidak mau membuka mulut sama sekali. Seringkali, dia memuntahkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya kalau tidak suka makanan tersebut.
            Berat badannya yang naik dengan lambat, namun bisa turun dengan drastis jika sakit membuat saya bolak-balik ke dokter hampir setiap bulannya. Meskipun dokter sudah turun tangan menyiasati dengan berbagai macam vitamin atau penambah nafsu makan tidak ada perubahan yang signifikan pada pola makan Keisya. Lama kelamaan karena capek mencoba berbagai macam cara, saya tidak lagi berusaha memaksanya makan atau meminta Atun membuatkan masakan khusus untuknya. Keisya hanya makan jika dia memang mau lapar, karenanya dia jadi lebih banyak minum susu.
            Suatu ketika, karena Atun sakit ketika pulang kampung. Dia pamit untuk sementara waktu tidak bisa bekerja samapai sembuh. Akibatnya, tidak ada orang yang bisa memasak untuk kami berhari-hari lamanya. Saya pun memilih membeli makanan di luar untuk makan kami sekeluarga. Alasan saya, selain praktis, saya juga jadi terbantu karena selama Atun sakit, tentu saja sayalah yang harus mengurus semua pekerjaan rumah (yang tidak pernah ada habisnya) dan mengurus Keisya. Ternyata setelah beberapa hari membeli makan di luar, pengeluaran untuk makan jadi lebih besar. Selain itu, saya pun mulai bosan makan makanan yang itu-itu saja setiap harinya. Saya benar-benar rindu masakan rumah!
            Akhirnya saya nekad memasak. Hari itu mulailah saya mempersiapkan makanan yang gampang dimasak. Karena tidak ada yang menemaninya bermain selama saya memasak, saya biarkan Keisya duduk-duduk di dapur sambil melihat saya memasak. Belum juga makanan yang saya masak matang, Keisya sudah merengek minta makan. Hei..., tidak biasanya dia seperti itu. Biasanya, sayalah yang harus membujuk dia untuk makan.
            Saya pun terheran-heran melihat Keisya makan makanan hasil masakan saya dengan lahap. Bahkan sayurnya pun dihabiskan hingga tandas. Berulang kali dia bilang, ”Lagi... lagi...”, minta nambah makan. Padahal, saya hanya masak sayur bayam dan omelet, yang menurut saya, rasanya standar banget!
            Keheranan saya tidak juga sirna setelah beberapa hari saya memasak, Keisya masih juga melahap masakan saya hingga ludes. Sop ayam, tumis tauge, nasi goreng, dan sebagainya, semua dimakannya tanpa protes. Keisya, si picky eater itu, ternyata doyan masakan saya.

            Berkat Keisya, sekarang saya jadi lebih pede memasak. Saya pun jadi mengerti, mengapa Keisya dulu susah sekali makan. Masakan saya memang tidak lebih enak dari makanan yang dimasak Atun, tetapi tentu saja masakan saya dibuat dengan bumbu cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Tidak ada yang bisa melebihi rasa masakan yang dibuat dengan cinta dan kasih sayang, bukan? Mungkin, karena itulah Keisya mau makan dengan lahap. Kini saya tidak lagi harus bersusah payah memaksa Keisya makan karena kalau saya yang memasak, Keisya selalu mau makan. [Fita Chakra]

Sunday, September 1, 2013

[Resensi Buku] Menggapai Cita, Setinggi Rembulan

Judul                       : Menggapai Rembulan
Penulis                    : Ridwan Abqary
Penerbit                  : Penerbit Andi
Jumlah Halaman       : 130 halaman
 
“Orang-orang selalu bilang, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Nah, kamu bisa menggantungkan cita-citamu pada rembulan. Kejar dan gapailah rembulan, karena di sanalah cita-citamu berada.” –Abah

Rembulan Safitri, senang sekali ketika Bu Lusi memilihnya menjadi salah satu perwakilan sekolah mengikuti Story Telling. Dia tak menyangka, kemampuannya berbahasa Inggris dianggap baik. Sayangnya, Delia tak berpikiran sama. Dia iri karena Bulan, seorang anak tukang becak sekaligus penjaga makam itu terpilih menjadi perwakilan utama, sedangkan dia hanya cadangan.

Belum sempat Bulan mengabarkan berita gembira itu pada Abah, emak dan kedua adiknya, musibah datang. Emak dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Bulan harus menjaga Bintang dan Mega yang masih kecil. Bulan kehabisan waktu untuk berlatih mendongeng dalam bahasa Inggris. Nyatanya, kedua adiknya justru senang ketika dibacakan cerita dalam bahasa Inggris. Bulan, semakin bersemangat karenanya.

Ketika Emak pulang, Bulan menyangka semuanya akan kembali seperti semula. Tapi, semuanya tak akan sama lagi saat Abah memintanya bekerja pada Bu Mira sebagai pembantu rumah tangga. Biaya pengobatan Emak yang besar membuat mereka berhutang. Abah tak bisa mengembalikan pinjaman itu tanpa bantuan Bulan.

Meski merasa sesak dadanya, Bulan menyanggupi. Dia berhenti sekolah demi bekerja. Namun, Bu Lusi seolah tak membiarkan Bulan pergi. Beliau mendatangi Bulan ke rumah Bu Mira, membujuknya tetap ikut lomba Story Telling. Bulan tak ingin berharap terlalu banyak. Namun dia tak kuasa pula menolak permintaan Bu Lusi.

Kalau kamu membaca buku ini, siapkan diri untuk ikut terhanyut dan terharu. Ini karena penulisnya terampil menjalin kata-kata yang menyentuh. Penyajiannya menawan, dibumbui sedikit humor khas anak-anak. Bulan, sebagai tokoh utama, tak tampil super perfect. Namun itu justru menarik, karena jadi lebih manusiawi. Misalnya, di suatu adegan, digambarkan pula bagaimana saking sedihnya, Bulan menahan tangis karena tidak ingin adik-adiknya mendengar tangis itu.

Bulan, mungkin tak selalu bersinar terang. Tapi dia tetap ada di langit. Demikian juga impian Rembulan Safitri, tak pernah hilang sedikitpun dari benaknya.


Saturday, July 27, 2013

[Puisi] Hari Ini, Sayang...

Repost dari note FB di hari ulang tahun Keisya yang ke-5, 30 Juli 2010. Beberapa hari lagi, Keisya akan berulang tahun ke-8. Hingga sekarang, cita-citanya tak berubah, "Menjadi penulis seperti Bunda." Karena itulah, saya tetap ingin menulis, sampai kapanpun.


Hari ini, Sayang…
Hari ini usiamu tepat lima tahun.
Hari yang kautunggu-tunggu sejak beberapa bulan yang lalu.
Hingga tak bosan kautanyakan padaku
“Kapan hari ulang tahunku, Bunda?”

Hari ini, Sayang…
Mari kita mulai hari ini dengan doa-doa.
Doa terindah yang bisa Bunda panjatkan untukmu.
Doa yang selalu Bunda bisikkan sejak Allah hadirkan kau di dunia ini.
Semua doa yang yang terbaik untukmu.
Kumpulan doa yang kuyakin juga didengungkan ribuan ibu di luar sana.
Hanya doa sederhana, yang datang dari ketulusan hati terdalam seorang ibu.

Jadilah kau anak yang sholekhah.
Sehat jiwa dan ragamu, panjang usiamu, cerdas akalmu, lancar rizkimu, bahagia hidupmu, santun perilakumu, sopan tutur bicaramu, sayangi sesama seperti kau mencintai keluargamu.
Juga selalu ingat pada Allah Yang Maha Besar.

Hari ini, Sayang…
Kuingat kembali masa-masa dulu, yang pernah kita lalui bersama.
Saat tangismu pertama kali kudengar subuh itu.
Saat kubawa serta dirimu mengikuti ujian pasca sarjana itu.
Saat kau goreskan tulisan tanganmu pertama kalinya di usia tiga tahun.
Saat wajahmu berurai airmata ketika kutinggalkan dirimu sejenak hanya untuk memenuhi panggilan jiwaku yang lain, menekuri sebuah mesin bernama laptop untuk menulis.

Tawa, tangis, duka, bahagia
Semua telah kita lewati bersama.
Meski kusadari, aku bukanlah Bunda yang sempurna.

Kadang aku marah.
Ketika kukira tak kaupahami perkataanku.
Seberapa besar luka hatimu karena kata-kataku, Sayang?

Kadang aku kesal.
Ketika kau memaksaku bersamamu, sementara kuingin berbaring sejenak.
Banyakkah lubang kekecewaaan dalam dirimu, Sayang?

Berkali-kali kusesali apa yang kulakukan dengan bertanya.
Berapa banyak duri yang menancap di hatimu, mendengar marahku?
Berapa banyak benih harapan yang musnah, mendengar kesalku?

Tapi bukan balasan amarah dan kekesalan yang kuperoleh.
Kau tetap memelukku, saat akan berangkat tidur.
Kau tetap memintaku membacakan buku cerita kesayanganmu.
Kau tetap berharap akulah yang mendampingimu membaca doa sebelum tidur.
Kau tetap bahagia saat aku mau menuliskan ide-ide cerita di dalam benakmu ke dalam ketukan-ketukan keyboard.
Lalu kau baca pelan-pelan, “Ditulis… oleh… Bunda dan Keisya!” sambil meloncat-loncat riang.
Kau menunggu dengan sabar waktumu bersamaku.
Kau tetap berkata, “Aku sayaaaaaang, Bunda…” dengan “a” yang panjang disertai pelukan hangatmu.

Hari ini, Sayang…
Kusadari bahwa dari kamulah aku belajar banyak hal.
Kamulah yang membuatku belajar bersabar, belajar memahami, belajar mendengarkan.
Bukan aku yang mengajarimu.
Tetapi kamu yang mengajariku menjadi orang yang lebih baik.

Hari ini, Sayang…
Mari kita berdoa bersama-sama
Agar kita selalu menyayangi satu sama lain.
Agar kita saling memaafkan.
Agar kita dapat saling mengingatkan di kala kita lupa.
Untuk kebaikan kita bersama.

Hari ini, Sayang…
Kuucapkan selamat ulang tahun untukmu.
Kusiapkan sebuah kue beserta lilin di atasnya yang sederhana.
Tiuplah lilin ulang tahunmu, penuh rasa syukur pada-Nya.
Cicipilah sepotong kue ulang tahunmu.
Yang sarat dengan rasa cinta dariku.
Dan tebarkan rasanya yang manis dan lezat, melalui senyum manismu, tawa riangmu, dan ocehanmu yang menggemaskan.
Biarkanlah semakin banyak orang yang menikmatinya.
Seperti aku menikmatinya.


*Untuk ananda Keisya (yang arti namany: gadis cantik yang berbahagia dan baik hati) di usia kelimanya. Malaikat kecil yang ketika kutanya kemarin, bercita-cita menjadi seorang penulis. Sebelumnya dia ingin menjadi koki. :) Entah apa yang kaucita-citakan esok hari. 
Bebaskan semua impianmu, Nak. Tak ada mimpi yang mustahil untuk dikejar, selama kau percaya mimpi itu ada. 

Link postingan di FB ada di sini