Tuesday, December 27, 2016

Menginap di Taman Safari Lodge

Bismillah....

Awal liburan semester ini, kami sekeluarga pergi ke Taman Safari. Tadinya kami mau pulang pergi saja, mengingat jarak antara Puncak-Depok tak terlalu jauh. Tetapi kemudian, setelah menimbang-bimbang, kami memutuskan untuk menginap. Pasalnya, Kiera, suka sekali dengan binatang. Biar lebih puas, nggak buru-buru dan nggak khawatir kalau pulangnya macet. 

Sebelum liburan mulai, saya dan suami sudah sibuk mencari penginapan. Awalnya, kami ingin menginap di Pesona Alam. Kebetulan dulu sudah pernah menginap di sana, dan kami sangat puas. Sayangnya, setelah kami cek, kamar yang seharga budget kami ternyata sudah full booking. Sayang banget kalau mau upgrade ke kamar yang lebih mahal *emak irit mode on :D

Pencarian penginapan pun berlanjut. Saya usulkan pada suami, untuk menginap di Taman Safari Lodge saja.
"Siapa tahu bisa dapat diskon masuk ke Taman Safari," kata saya *masih dengan emak irit mode on :D. Ya, dulu saja waktu kami menginap di Pesona Alam, ada diskon khusus untuk tamu yang ingin membeli tiket masuk Taman Safari sebesar 20%. Sayangnya, waktu itu kami udah terlanjur ke Taman Safari baru kemudian check in.

Setelah menelusuri berbagai macam web akhirnya dapatlah kami kamar penginapan yaitu di caravan Taman Safari Lodge. What? Caravan? Saya kaget ketika suami saya bilang mau memesan kamar caravan. Soalnya, saya membayangkan kamar caravan itu dekat dengan kandang-kandang hewan. Demikian juga dengan si Kakak. Sebaliknya, si kembar malah senang. Karena hasilnya 3 lawan 2, saya pun harus mengalah. Lagipula, saya tak punya alasan untuk menolak karena tarif semalam menginap di caravan ini masuk ke budget kami. Kami dapat harga Rp 700.000/malam.

Pada hari yang telah kami rencanakan, kami berangkat pagi-pagi. Sampai sana masih sekitar pukul 09.30. Kami langsung menuju Taman Safari Lodge untuk membeli tiket masuk. Nah, karena kami tunjukkan bukti booking hotel maka kami mendapat tiket khusus seharga Rp 100.000/orang. Alhamdulillah. 

Seharian itu, kami habiskan di Taman Safari hingga sore. Sekitar pukul 16.00 kami baru check in. Di dalam caravan yang kami pesan terdapat satu bed besar dan satu bed bertingkat. Lumayan sempit sih, namanya juga caravan. Tetapi cukuplah untuk tidur kami berlima semalam. Si kembar tidur di bed bertingkat, sedangkan kakaknya maunya tidur di sofa. Di dalam caravan ada kamar mandi juga dengan water heater

Paginya, kami baru tahu, di depan kami ternyata ada sebuah kolam berisi angsa-angsa cantik. Di tengahnya ada siamang. Dekat kolam tersebut ada rusa-rusa yang bisa diberi makan oleh pengunjung. Setelah sarapan, kami bisa masuk lagi ke Taman Safari, gratis. Hanya saja, masuknya ke baby zoo dan taman bermain.



Alhamdulillah, kami cukup puas menginap di sini. Next, insya Allah mau diulang lagi, mau lihat Safari Malam hehehe.

Nah, buat teman-teman yang ingin menginap di caravan Taman Safari Lodge, ada beberapa catatan dari saya nih.
1. Siapkan selimut tambahan, karena udaranya cukup dingin. Jangan lupa menutup jendela ya.
2. Lebih baik datang pagi, beli tiket di reception hotel untuk masuk ke Taman Safari, baru check in, supaya tidak kehilangan waktu untuk main-main di taman bermainnya.
3. Kalau datangnya sudah sore, skip dulu taman bermain karena bisa dilakukan besok paginya.
4. Untuk peak season, seperti akhir tahun, kemungkinan tarif caravan naik. Cek dulu harganya ya.







Wednesday, December 14, 2016

Perjalanan Merapikan Rumah Bersama Marie Kondo

Bismillah....

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis oleh Marie Kondo. Buku ini sudah lama saya incar. Ya, maklumlah, dari dulu saya terobsesi dengan seni beres-beres hehehe. 



Sebelum mulai, saya kupas sedikit tentang penulisnya ya. Siapakah Marie Kondo? Marie Kondo adalah seorang konsultan kerapian. Beliau penemu KonMari Method, sebuah seni beres-beres yang populer saat ini. Dari kecil, Marie Kondo suka sekali bebenah. Dalam perjalanannya membereskan segala sesuatu di dalam rumah, Marie Kondo menemukan cara yang efektif untuk beres-beres (yang disebutkan, dengan metode yang diperkenalkan tersebut, kita tak perlu lagi beberes sering-sering dalam hidup kita). Saking ngetopnya Marie Kondo ini, untuk menjadi calon kliennya, kita mesti rela masuk dalam daftar tunggunya selama tiga bulan!

Apa saja yang saya pelajari dari buku ini? Berikut ini saya coba tuliskan poin-poinnya:

Beberes sekaligus.
Kesalahan pertama yang saya buat selama ini ternyata adalah beberes sedikit demi sedikit. Ketika beres-beres dilakukan sedikit demi sedikit, maka efeknya tidak akan terlihat jelas. Lagipula, beberes secara bertahap dalam kurun waktu yang lama membuat semangat menghilang pelan-pelan. 
Saya menocba melakukan beres-beres ini sekaligus. Ternyata benar. Saya bisa melihat lebih banyak barang yang bisa dengan "tega" saya singkirkan dibandingkan ketika saya melakukannya sedikit-sedikit. Misalnya, saya bisa mengeluarkan sekitar sepertiga barang dari lemari saya sekaligus dan lebih ikhlas memberikannya pada orang lain. Motivasinya jelas, kalau saya simpan, jadi nggak kelar-kelar beres-beresnya.

Buku-buku yang berhasil saya singkirkan. Ini baru sebagian.

Membuang dulu sampai tuntas.
Kesalahan lain yang saya lakukan adalah saya membereskan satu bagian lemari pakaian, menyortir beberapa yang tidak saya butuhkan lalu menyingkirkannya. Saya mengeluarkan per bagian karena mau melakukannya sedikit demi sedikit supaya tidak capek.
Yang disarankan oleh Marie Kondo adalah mengumpulkan barang-barang sejenis, mengeluarkan semuanya dari lemari, menyortir, lalu membuangnya sekaligus. Ketika saya lakukan ini, saya bisa melihat betapa banyaknya barang yang saya miliki tetapi bahkan tidak pernah saya pakai. Lalu buat apa saya miliki barang tersebut?


Saat mulai dibereskan dan ketika udah rapi

Membereskan sesuai urutan.
Cara saya membereskan barang-barang selama ini menyesuaikan mood saja. Ketika saya lihat lemari buku sudah penuh dan perlu dibereskan, saya akan membereskannya. Ketika lemari pakaian sudah berantakan, saya akan bereskan. Demikian juga dengan yang lainnya.
Menurut Marie Kondo, sebaiknya membereskan barang sesuai dengan urutan yang telah dibuatnya. Alasannya, supaya semangat untuk beres-beres tidak menurun ketika kita membereskan barang-barang sentimentil lebih dahulu. Urutannya adalah:
1. Pakaian (atasan, bawahan, kaus kaki, baju dalam, tas, aksesori, pakaian khusus, sepatu).
2. Buku.
3. Kertas.
4. Komono (pernak-pernik).
5. Barang sentimentil (foto, surat dan sebagainya).
Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menjaga semangat membereskan rumah, saya bisa melalui semua tahap membuang dan membereskan barang di dalam rumah. Tahap satu, pakaian, bisa terlewati setelah saya berhasil menyingkirkan 5 kantung besar (seukuran plastik sampah 50x100 cm). Semua itu berasal dari lemari kami sekeluarga. 
Tahap kedua, yang paling sulit. Kami sekeluara suka buku. Memilih mana yang harus disimpan dan mana yang dibuang sungguh membutuhkan keikhlasan yang luar biasa. Saya berhasil mengurangi beban lemari buku saya setelah menyingkirkan sekitar 300 eks buku. Untuk mengurangi rasa berdosa saya, saya jual buku-buku tersebut dengan harga yang cukup murah.
Tahap ketiga, sedikit membutuhkan konsentrasi. Saya tipe yang takut kalau sampai membuang kertas yang dibutuhkan di masa depan. Misalnya bukti pembayaran asuransi dan SPP. Akhirnya, saya berhasil membuang satu kantung plastik besar berisi kartas-kertas. Tidak semuanya saya buang. Sebagian saya masukkan ke infak sampah. Sebagian lagi yang berisi dokumen-dokumen data, saya rusak sebelum dibuang.
Tahap keempat, berjalan cukup lancar. Saya berhasil menyingkirkan 2 kantung nesar komono. Isinya, peralatan rumah tangga, pigura yang sudah kusam, peralatan mandi dari hotel-hotel yang kami kunjungi, barang-barang gratisan dari berbagai event, mainan anak-anak, dan sebagainya. Barang-barang tersebut sebagian dibawa oleh ART pulang pergi yang bekerja di rumah saya.
Tehap kelima, koleksi foto cetak yang kami miliki tidak banyak. Sebaliknya, koleksi foto yang ada dalam bentuk file banyak sekali. Foto-foto yang sudah rusak, saya buang. Sedangkan file yang ada di PC, saya bersihkan. Ada ribuan file yang berhasil saya delete. Sebagian berisi foto-foto yang sudah tidak saya pakai (foto event yang sudah lama sekali saya datangi, foto-foto yang kualitasnya buruk, dan foto-foto yang dobel).

Banyak peralatan mandi yang saya buang karena ternyata udah expired.

Tempat penyimpanan sepatu, akhirnya bisa di-make over.

Tidak perlu membeli barang khusus untuk menyimpan.
Saya akui, yang ini sulit saya praktikkan. Saya suka melihat barang-barang tersusun rapi dalam storage yang menarik. Padahal, menurut Marie Kondo, yang dibutuhkan hanyalah boks bekas, seperti kardus sepatu dan semacamnya. 

Menyimpan dengan teknik melipat seperti ini, memudahkan untuk mencari barang.

Ingat kata kunci, "membangkitkan kegembiraan".
Saya sering menyimpan barang dengan alasan, siapa tahu kelak dibutuhkan. Setelah membaca buku ini, saya tahu, yang harus saya simpan hanyalah barang-barang yang membangkitkan kegembiraan. Yang tidak menimbulkan kegembiraan harus disingkirkan. Mengapa? Karena hidup akan lebih indah jika kita dikelilingi barang-barang yang membuat kita bahagia.
Cara mengethaui apakah barang tersebut menimbulkan kegembiraan atau tidak begini: pegang satu persatu barang yang ingin kita bereskan, rasakan dengan hati, lalu putuskan. Semakin sering kita mempraktikkan ini, akan semakin cepat kita memutuskan mana barang yang disimpan dan mana yang disingkirkan.

Nah, itulah perjalanan saya merapikan rumah. Apakah teman-teman sudah membaca dan mencoba mempraktikkan KonMari Method? Yuk, share. [Fita Chakra]

Alhamdulillah, perpustakaan sudah rapi.