Friday, October 31, 2014

Blog, Pintu untuk Ke Mana Saja

Kebetulan, saya mengajar ekskul menulis di sebuah sekolah. Kami belajar di ruang ICT. Anak-anak bisa mengakses internet melalui komputer masing-masing. Saya pun memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan blog pada anak didik saya.

Awalnya, saya meminta mereka membuka blog saya supaya bisa melihat lebih banyak contoh-contoh cerpen yang pernah saya tulis. Lama kelamaan, ada yang bertanya, “Bu, gimana sih, cara bikin blog seperti ini?” Tentu saja, rupanya pancingan saya kena juga hehehe. Untuk anak-anak SD, saya baru jelaskan secara garis besar karena keterbatasan waktu mengajar (saya mengajar hanya 1,5 jam). Sedangkan untuk anak-anak SMP, saya minta mereka mencoba sendiri di rumah.

Tampilan blog saya
Bagi saya, banyak yang bisa mereka peroleh dari blog. Pertama, anak-anak akan tahu, internet bukan sekadar bisa dipakai untuk socmed. Di blog, mereka bisa belajar menulis. Kedua, mereka juga belajar melek tekhnologi, mengutak-atik blog butuh ketrampilan, lho. Juga kesabaran dan ketelatenan tentu saja. Ketiga, melalui blog, mereka bisa belajar apa saja. Saya berharap banyak hal positif yang mereka bisa ambil dari blog, karena itu saya juga memberikan ‘rambu-rambu’ yang berkaitan dengan penggunaan blog.
Suasana belajar mengajar di ruang ICT
Lalu apa kaitan blog dengan pintu ke mana saja seperti yang saya tulis di awal tulisan saya ini? Bagi saya, blog ini mirip pintu Doraemon, yang bisa membuat saya mengajak anak-anak didik saya ‘terbang’ ke mana saja dan ke masa kapan saja. Maksudnya bagaimana? Begini, lho.

Pintu Masa Lalu : Belajar dari Karya Orang Lain
“Bu, aku mau lihat cerpen-cerpen Ibu yang pernah dimuat. Boleh nggak?” tanya salah satu muridku dengan mata penuh harap.
“Tentu saja boleh,” jawabku.
“Asyik. Minggu depan Ibu bawa fotocopiannya kan?” ujarnya penuh semangat.
Aku tersenyum, lalu berkata, “Kamu buka blog Ibu saja. Di sana banyak cerpen-cerpen Ibu. Sini, Ibu ajari.”

Saya lalu memberitahukan pada anak-anak alamat blog saya dan tag yang saya pakai untuk cerpen-cerpen anak yang saya tulis. Saya memang sengaja mengumpulkan cerpen-cerpen itu ke dalam blog untuk dokumentasi. Sekaligus supaya orang lain yang membaca bisa mengambil manfaatnya. Bukan bermaksud pamer, saya tahu banyak teman-teman penulis yang mungkin karyanya jauh lebih hebat dibanding saya.

Saya sendiri pun banyak belajar dari karya-karya mereka yang dipajang di blog. Sekali waktu, saya juga mengajak mereka berkunjung ke blog penulis lainnya, supaya mereka bisa membaca karya orang lain selain saya. Saya memilihkan blog yang tulisannya sesuai dengan usia mereka. Misalnya, blog para penulis cilik (seperti, blog milik Laksita Judith)

Bayangkan kalau saya harus fotocopy semua karya saya untuk dibagikan pada murid-murid saya. Jelas lebih merepotkan dan membutuhkan banyak kertas. Di sekolah tempat saya mengajar bahkan midterm progress report pun dikirim melalui e-mail ke orangtua murid untuk menghemat kertas. Saya sengaja mengurangi penggunaan kertas untuk mendukung program sekolah ramah lingkungan.

Contoh cerita yang saya berikan pada anak-anak
Kembali lagi pada kegiatan kami tersebut. Anak-anak yang belum puas membaca cerpen-cerpen saya melalui blog bisa meneruskannya di rumah. Terkadang, saya minta mereka membaca salah satu judul lalu menyebutkan poin-poin penting dalam cerpen itu, seperti tokoh dan karakternya, settingnya, dan konfliknya. Tanpa sadar, mereka telah belajar memahami materi yang saya berikan sebelumnya. Manfaat lain dari kegiatan ini, anak-anak menjadi lebih bersemangat menulis. Mereka jadi tahu, anak-anak seusia mereka pun bisa menulis cerita dengan baik.

“Aku ingin bisa bikin cerita seperti itu, Bu!” kata mereka.
“Kamu pasti bisa, Nak,” jawab saya sambil tersenyum.

Pintu Masa Kini : Mencari Ilmu dan Penyemangat
“Bu, akau kalau menulis, setiap habis dialog pakai ‘katanya’ terus,” lapor salah seorang muridku.
“Coba pakai kata lain. Kira-kira bisa tidak?” pancingku.
“Misalnya apa, Bu?” dia balik bertanya.
Belajar menulis komik
Saya pun membuka blog. Kebetulan saya pernah menuliskannya, setelah saya memberikan les privat pada seorang anak. Ada beberapa postingan di dalam blog saya yang mengulas tips menulis cerita untuk anak. Salah satunya ada di sini. Saya pun membagikannya untuk murid-murid saya.


Melihat kegiatan penulis cilik
Selain tips, juga menunjukkan beberapa postingan tentang kegiatan para penulis cilik. Anak-anak biasanya lebih termotivasi melihat teman sebaya mereka. Salah satu yang mereka baca adalah postingan tentang kegiatan putri saya ini. Saat mereka down karena naskahnya tidak lolos lomba atau tidak berhasil menyelesaikan ceritanya, saya menyemangati mereka melalui blog. Alhamdulillah, resep ini lumayan berhasil.

Pintu Masa Depan : Merancang Impian
“Sejak kecil aku ingin jadi penulis, Bu. Tapi aku nggak pernah bilang begitu kalau ditanya orang. Malu. Baru sekarang ini aku berani bilang ingin jadi penulis,” ujar Maryam, salah satu murid saya yang sudah duduk di kelas 9.
“Kenapa kamu malu?” tanyaku.
“Ya… karena setiap kali aku bilang ingin jadi penulis, orang yang bertanya balik bertanya, ‘Kenapa ingin jadi penulis? Kenapa nggak jadi dokter saja?’ Begitu, Bu,” dia pun mengaku.

Saya menghela napas. Saya akui, masih banyak orang yang kurang paham pekerjaan penulis. Mereka mungkin berpikir, menulis bukan pekerjaan bergengsi ataupun mendatangkan materi berlimpah. Namun saya meyakini, jika seseorang melakukan pekerjaan yang dicintai, sesuai passion-nya, maka materi dalam bentuk apapun akan datang sendiri.

Supaya Maryam bisa dengan bangga menyebutkan profesi penulis sebagai cita-citanya, saya pun memberikan gambaran pekerjaan penulis. Saya ajak dia melihat-melihat blog saya. Untung saja saya termasuk rajin mendokumentasikan kegiatan seperti book launching, talkshow, promo buku di radio atau televisi, sesi berbagi ilmu melalui workshop dan sebagainya. Saya juga katakana penulis bukan hanya menulis buku atau cerita, tapi bisa jadi penulis skenario, penulis content web, blogger, editor, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Maryam terlihat tertarik waktu saya ceritakan tentang profesi blogger. Saya juga bilang, kelak, profesi ini akan semakin diminati dan dihargai. Saya juga tunjukkan beberapa job review yang pernah saya tulis, supaya bisa menjadi penyemangatnya.

Apa katanya setelah mendengar cerita saya?
“Sekarang, aku sudah tahu penulis bisa bekerja di banyak bidang. Kalau ditanya orang, aku akan bilang bahwa aku ingin jadi penulis kelak.”
“Insya Allah, Maryam akan jadi penulis yang hebat. Nggak ada yang salah dengan cita-citamu, selama kamu yakin itu bermanfaat dan baik di mata-Nya,” balasku.

Ya, mungkin saya tidak setiap hari bersama anak didik saya ini. Waktu mengajar ekskul menulis hanya seminggu sekali. Tapi saya merasa bertanggung jawab untuk mengenalkan sebanyak mungkin tentang profesi penulis karena mereka belajar menulis di kelas saya.

Sebagai guru, terutama karena saya memperkenalkan blog pada murid-murid saya, ada beberapa hal penting yang saya pegang dalam penggunaan TIK ini, antara lain:

Menulis Konten Positif
Karena saya sudah memperkenalkan blog saya pada anak-anak, saya punya tanggung jawab moral. Guru adalah salah satu role model anak-anak. Jadi, mengecek dulu konten sebelum posting hukumnya wajib. Dengan memberikan konten yang positif untuk anak-anak saya berharap anak-anak terbiasa melakukan hal yang sama jika kelak mereka menulis, di media apapun.

Menyampaikan Etika Penulisan
Saya juga mengajarkan pada anak-anak bahwa ada etika menulis. Terkadang, saking terinspirasinya mereka pada suatu karya, tanpa sadar mereka menulis hal yang sama persis. Penting bagi saya untuk mengingatkan pada mereka ketika ini terjadi. Blog bagi saya merupakan salah satu media pembelajaran yang bisa saya pakai untuk memberikan contoh-contoh etika penulisan. Misalnya, ketika saya mengutip sesuatu, saya akan berikan sumbernya; ketika saya mengambil gambar dari blog orang lain saya berikan linknya dan seterusnya.
Saat mereka asyik mengetik

Memperkenalkan Rambu-Rambu dalam Menggunakan Tekhnologi
Selain etika penulisan, hal penting yang saya sampaikan pada anak-anak yaitu mereka harus berhati-hati menggunakan tekhnologi, dalam hal ini internet. Waspada itu perlu. Oleh karenanya, saya katakan mereka harus memastikan tidak menuliskan identitas pribadi seperti alamat lengkap dan nomor telepon di dalam blog. Saya beritahukan pada mereka risiko jika mereka melakukannya.

Sarana untuk Memperkaya Wawasan
Saya menyadari, masih banyak kekurangan saya dalam mengajar. Karena itulah saya menggunakan tekhnologi untuk memperkaya wawasan saya, terutama yang bermanfaat dalam proses belajar mengajar. Kalau muridnya semangat belajar, gurunya harus lebih semangat, dong. Salah satu hal yang sering saya lakukan adalah memperhatikan blog teman-teman pengajar atau web pendidikan. Saya ‘curi’ ilmu dari mereka. Misalnya menerapkan games dalam proses pembelajaran. Saya sangat berterima kasih pada para guru yang mau berbagi strategi mengajar di blog. Itu sangat membantu saya.
 
Bersama murid-murid saya

Nah, itulah sedikit cerita saya tentang blog sebagai media pembelajaran. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat menunjang proses belajar mengajar di kelas menulis yang saya bimbing. Saya berharap, murid-murid saya dapat terus memanfaatkan TIK untuk kepentingan yang positif. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Guru Blogger Inspiratif 2014.

Sumber: FB Indonesia Terdidik TIK


Thursday, October 23, 2014

[Review] Cinta Mami untuk Ubii

Apa kondisi Ubii akan membuat cinta Mami berkurang? NO! Apa gangguan pendengaran Ubii akan membuat Mami malu? NO! Apa kondisi kesehatan Ubii akan membuat Mami berandai-andai mempunyai ansk yang 100% sehat? NO!
Ubii lihat, kan? Mami terlalu cinta sama Ubii. Nggak akan ada sesuatu yang bisa mengubah itu.



Kutipan dari buku Letters to Aubrey (halaman 43) yang ditulis oleh Mak Ges, demikian panggilan akrab Grace Melia ini mungkin cukup menggambarkan betapa besar cintanya pada Ubii. Cinta Ges pada Ubii adalah cinta seorang ibu pada anaknya. Tulus dan tak terhingga.

Sejak lahir Ges sudah merasakan ada yang berbeda dari Ubii. Ubii, panggilan sayang Aubrey Naiym Kayacita tidak langsung menangis saat melihat dunia. Ubii juga susah bernapas. Tak hanya itu, suara bising di jantung Ubii menandakan ada sesuatu dalam tubuh Ubii.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Ubii dinyatakan terkena profound hearing loss yang menyebabkan dia tak bereaksi terhadap suara. Penyebabnya adalah Ubii terinfeksi virus rubella semasa dalam kandungan. Oleh karena itu, Ubii mesti menjalani berbagai terapi untuk menstimulasi kemampuannya. Selain terapi, Ges juga aktif membuat permainan agar Ubii tetap aktif.

Ges dan Adit, suaminya mengalami masa sedih dan menyenangkan dalam mengasuh Ubii. Sedih ketika Ges harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain ketika melihat kondisi Ubii yang tidak seperti anak-anak seusianya. Seperti yang dikatakannya di halaman 134.

Jadi, ini yang dimaksud Tante Dion, “Sebenarnya, bukan anaknya yang harus dikuatkan, tetapi orangtuanya, terutama ibunya.”
You know what, Ubii? Ternyata melakukan itu semua tak mudah.

Namun ketika pelan-pelan Ubii mulai menunjukkan kemajuan yang berarti, tentu saja Ges merasa sangat senang. Ges mencatat berbagai hal yang bisa dilakukan oleh Ubii, seperti ketika Ubii mulai kuat duduk lebih lama, ketika Ubii tidak rewel diminumi obat, dan ketika Ubii sangat kooperatif menjalani syuting. Bagi Ges, sedikit kemajuan saja membuat dunianya berwarna.

Tak mudah bagi Ges dan Adit untuk melaluinya. Namun, Ubii memberikan banyak pengalaman berharga buat mereka. Berkat Ubii, mereka belajar mandiri. Berkat Ubii mereka belajar bersyukur. Berkat Ubii, mereka menjadi lebih kuat. Tak hanya itu, Ubii pulalah yang membuat Ges berani memulai langkahnya membuat sebuah komunitas bernama Rumah Ramah Rubella. Di dalam komunitas itu, Ges mengajak semua orangtua yang memiliki anak dengan congenital rubella syndrome seperti Ubii, dan juga anak-anak berkebutuhan khusus lainnya untuk saling berbagi.

Membaca buku ini seperti mendengar penuturan dari mulut Ges. Buku yang berasal dari postingan blog yang khusus dibuat untuk menuliskan perkembangan Ubii dari waktu ke waktu ini terasa apa adanya. Ges mengungkapkan semua ekspresinya dalam kalimat yang pas, tidak berlebihan ataupun sebaliknya, kurang ekspresif. Jujur, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Ges juga menunjukkan bahwa dia pun hanya manusia biasa yang terkadang merasa bingung dan tak berdaya. Namun, kekuatan Ges adalah dia mau bangkit dan kembali bersemangat demi putri tercintanya.

Salah satu bagian yang menyentuh yaitu pada ending buku ketika Adit, ikut menuliskan perasaannya untuk Ubii. Walaupun tidak selalu bersama Ubii, di dalam surat tersebut terasa sekali betapa cinta Adit pada Ubii sangat besar. Ubii-lah semangat Adit untuk berubah menjadi lebih baik.

Rasanya, buku yang dituturkan dengan apik ini akan lebih menarik jika disertai satu bab khusus berisi tips untuk pembaca. Dengan demikian, pembaca akan tahu bagaimana harus bersikap jika memiliki anak seperti Ubii. Sayangnya pula, di dalam buku ini ada beberapa bagian tulisan yang besar fontnya tidak seragam. Mungkin, ini bisa menjadi perhatian untuk diperbaiki jika kelak buku ini cetak ulang.

Namun, secara keseluruhan, buku ini enak dibaca dan bisa menjadi rekomendasi. Yang tak kalah penting, buku ini menggambarkan cinta Mami untuk Ubii. Tetap semangat ya Ges, Adit dan Ubii!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey

Infonya ada di sini