Tuesday, December 27, 2016

Menginap di Taman Safari Lodge

Bismillah....

Awal liburan semester ini, kami sekeluarga pergi ke Taman Safari. Tadinya kami mau pulang pergi saja, mengingat jarak antara Puncak-Depok tak terlalu jauh. Tetapi kemudian, setelah menimbang-bimbang, kami memutuskan untuk menginap. Pasalnya, Kiera, suka sekali dengan binatang. Biar lebih puas, nggak buru-buru dan nggak khawatir kalau pulangnya macet. 

Sebelum liburan mulai, saya dan suami sudah sibuk mencari penginapan. Awalnya, kami ingin menginap di Pesona Alam. Kebetulan dulu sudah pernah menginap di sana, dan kami sangat puas. Sayangnya, setelah kami cek, kamar yang seharga budget kami ternyata sudah full booking. Sayang banget kalau mau upgrade ke kamar yang lebih mahal *emak irit mode on :D

Wednesday, December 14, 2016

Perjalanan Merapikan Rumah Bersama Marie Kondo

Bismillah....

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis oleh Marie Kondo. Buku ini sudah lama saya incar. Ya, maklumlah, dari dulu saya terobsesi dengan seni beres-beres hehehe. 



Sebelum mulai, saya kupas sedikit tentang penulisnya ya. Siapakah Marie Kondo? Marie Kondo adalah seorang konsultan kerapian. Beliau penemu KonMari Method, sebuah seni beres-beres yang populer saat ini. Dari kecil, Marie Kondo suka sekali bebenah. Dalam perjalanannya membereskan segala sesuatu di dalam rumah, Marie Kondo menemukan cara yang efektif untuk beres-beres (yang disebutkan, dengan metode yang diperkenalkan tersebut, kita tak perlu lagi beberes sering-sering dalam hidup kita). Saking ngetopnya Marie Kondo ini, untuk menjadi calon kliennya, kita mesti rela masuk dalam daftar tunggunya selama tiga bulan!

Tuesday, October 25, 2016

Berkunjung ke Among Putro Skyworld TMII

Bismillah, akhirnya mulai ngeblog lagi setelah tiga bulan absen. Mudah-mudahan bisa rutin kembali.

Hai... hai, apa kabar? Kali-kali ada yang pingin tahu, selama tiga bulan ini saya ngapain saja sampai absen ngeblog. Ngg, panjaaang ceritanya. Intinya, saat ini, saya mau fokus untuk urusan sekolahnya anak-anak. Jadi, mau nggak mau, mesti mengurangi kesibukan lain. Btw, saya tetap menulis kok, walaupun kecepatan nulisnya berubah, menjadi kecepatan kura-kura hehe.

Kali ini, saya mau cerita tentang aktivitas weekend kami sekeluarga. Kebetulan, minggu lalu, kami pergi ke TMII, tepatnya ke Among Putro Sky World. Lokasinya berada bersebelahan dengan Taman Legenda. Sudah lama sih sebenernya, pingin ke Sky World ini. Pernah sekali kami kecewa, saat udah sampai sana ternyata tempat ini ditutup untuk umum karena suatu acara. 

Monday, July 25, 2016

Bersahabat dengan Anak, Bisakah?


Tahun ini sulung saya usianya 11 tahun, sudah pre-teen. Tahu sendirilah ya gimana rasanya ngadepin pre-teen alias ABG? Nah, belakangan saya harus stok ekstra sabar untuk itu. Salah ngomong, marah. Dikasih tahu, protes. Diem saja, kok rasanya gatel pingin nasihati. Jadi ya begitulah, serba salah. Pasti emak-emak yang udah ngelewatin fase ini tahu rasanya. Sepertinya saya harus banyak belajar dari para senior *sungkem.

Anyway, setelah saya stalking beberapa akun emak-emak yang punya anak sepantaran anak sulung saya, ada beberapa poin penting yang saya catat (dan insya Allah dipraktikkan juga, dong).

Wednesday, June 22, 2016

Mengenal Ramadhan Bersama Diari Ramadhan

Alhamdulillah, senang sekali ketika menjelang ramadhan tahun ini, saya mendapatkan kabar bahwa Diari Ramadhan naik cetak lagi. Buku ini bukan buku baru, pertama kali terbit tahun 2011. Lima tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk saya sebagai penulis, menunggu buku ini terbit lagi. Ya, mungkin karena judulnya saya "Diari Ramadhan", buku ini dicari menjelang ramadhan. Makanya butuh waktu cukup lama untuk menghabiskannya. 

Cover Lama

Cover Baru

Padahal, sebenarnya nggak juga, kok. Buku ini bisa dibaca di saat-saat lain selain ramadhan. Kenapa? Karena di dalamnya, banyak cerita-cerita islami yang bisa dibacakan menjelang tidur. Ceritanya pendek, sehingga bisa dibaca dalam waktu 5-10 menit saja. Selain cerita, ada doa-doa yang berkaitan dengan puasa dan ramadhan. 

Thursday, June 9, 2016

Belajar Berwirausaha Sejak Dini

Waktu SMA, saya bersama teman-teman pernah mencoba jualan menjelang lebaran. Kami bikin paket parcel sekaligus mengantarkannya. Untungnya nggak seberapa. Tapi kami senang bukan main. Sejak itu, jiwa wirausaha saya mulai muncul. Saya jualan baju, perlengkapan bayi, buku, membuka usaha laundry, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nggak semuanya sukses memang. Tetapi itu tak membuat semangat saya surut.

Apa pelajaran yang saya ambil dari belajar berwirausaha? Berwirausaha, membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk gigih, belajar menyusun strategi bisnis, belajar menghitung, belajar memasarkan, belajar melayani konsumen, dan belajar ini itu yang lainnya. Termasuk belajar untuk siap gagal. Ini terjadi ketika bisnis laundry saya tak berjalan sebagaimana yang saya inginkan. Habis-habisan saya mempertahankan, tetapi akhirnya terpaksa saya tutup juga. Tentu saja hati saya hancur (ciee...) namun saya yakin ada hikmahnya.

Monday, May 23, 2016

Supaya Nge-date Ala Ibu-ibu Berjalan Lancar

Sebagai seorang IRT, refreshing sangat penting buat saya. Refreshingnya bisa bermacam-macam. Salah satu yang kadang saya lakukan adalah janjian bertemu teman-teman. Nah, bulan April lalu, saya janjian bertemu beberapa teman yang saya kenal dari internet. Awalnya, ketemuan ini untuk ketemu Pungky Prayitno yang dateng jauh-jauh dari luar negeri (ekh... luar kota). Setelah ngobrol, ternyata ada sekitar 10 orang dari kami yang bisa datang. Persahabatan kami sudah berlangsung cukup lama. Tetapi, saya jarang bertemu mereka. Walaupun begitu, bersama mereka saya merasa cukup nyaman. Makanya, saya senang ketika akhirnya kami bisa bertemu lagi. Yeay!



Setelah minta izin suami (jarang sekali dia nggak mengizinkan, paling-paling dia nanya, berangkat dan pulangnya gimana?) saya atur strategi supaya anak-anak nggak protes ketika saya tinggal pergi. Saya minta mereka pergi ke toko buku dan makan siang bersama ayahnya. Sorenya baru jemput saya sekaligus kami jalan-jalan.

Friday, April 29, 2016

Ketika Ibu Nggak Bisa Masak Terpaksa Masak

Saya nggak bisa masak.



Iya, Ibu saya dulu nggak ngajari saya masak karena beliau juga nggak terlalu suka masak. Lalu siapa dong yang masak? Alhamdulillah, waktu masih tinggal bersama orangtua, selalu ada ART walaupun berganti-ganti. Mereka yang memasak untuk kami saat Ibu bekerja. Ketika ART tersebut pulang, biasanya Ibu mengajak saya memasak. Masaknya sederhana saja. Nggak pernah yang ribet. 

Setelah menikah dan tidak lagi tinggal bersama orangtua, saya pun mengikuti alur tersebut. Mempekerjakan ART, meminta mereka memasak untuk keluarga kami selalin bersih-bersih. Bisa dibilang saya lebih banyak memegang anak, sedangkan urusan rumah itu menjadi pekerjaan ART. Suami saya nggak pernah minta saya masak ini itu. Dia tahu pada dasarnya saya nggak suka masak. Tetapi, ketika saya memasak sesekali, dia mengapresiasinya dengan menghabiskan masakan saya. Walaupun saya yakin, rasanya pas-pasan hehehe.

Thursday, April 28, 2016

This is Us, Not Just Me and You

Salah satu hal menyenangkan yang saya dapatkan dari blog adalah ketika saya mendapatkan pelajaran berharga dari blog teman. Ketika beberapa waktu lalu saya berkunjung ke blog Mbak Reni (demikian saya biasa menyebutnya), ada satu postingan yang membuat saya menghela nafas berkali-kali. Postingan itu berisi cerita tentang pasangan suami istri yang keluarganya tidak harmonis hubungannya. Digambarkan dalam postingan itu bahwa sang suami (maaf) sangat egois. 

Terus terang saja, membaca postingan itu membuat saya gemas sekaligus kesal. Kalau memang mau semaunya sendiri (tidak mau ikut mengurusi anak maupun rumah tangga, malas-malasan, dan tidak bekerja), buat apa ya dia menikah? Kalau dia tidak punya penghasilan, at least berusahalah. Jujur saja, saya jadi mempertanyakan usahanya. Menurut saya, kalau kita berusaha sungguh-sungguh, Allah pasti memberikan jalan keluarnya. 

Thursday, April 7, 2016

[Resensi Buku] 13 Pelangi Cinta

Judul      : 13 Pelangi Cinta
Penulis    : Yessy Yanita Sari
Penerbit  : Gema Insani
Cetakan  : 1, tahun 2016






Muridku, engkaulah ladang belajarku. Darimu kuarungi lautan ilmu. Darimu kuketahui arti cinta yang tak palsu. Darimu limpahan berkah memayungi hariku.-halaman 13

Thursday, March 31, 2016

Jalan-jalan ke Hutan Mangrove PIK

Beberapa waktu lalu saya mengajak anak-anak jalan-jalan ke Hutan Mangrove di Pantai Indah Kapuk. Awalnya sih mereka nolak karena mereka pikir bakal masuk hutan (yang mana mereka takut kalau ada ular dan semacamnya). Setelah saya dan suami bisa meyakinkan mereka, mereka setuju. Jujur saja, dalam hati saya sebenernya rada cemas juga mengingat ada teman yang berpesan, “Hati-hati, di sana banyak ular.” Tapi nggak mungkin kan kalau saya batalin, wong saya yang ngajak. Dalam hati sudah sibuk merapal doa, moga-moga nggak ketemu ular di sana. Aamiin.

Antara Saya dan Melly

Saya dan Melly, kenal sekitar 2 tahun lalu. Seingat saya, setelah pertemuan pertama itu, saya belum pernah ketemu Melly lagi hingga sekarang. Ya jelas saja, saya sering melewatkan event karena sedang fokus di rumah. Sementara Melly rajiiin.

Wednesday, March 23, 2016

Membuat Pojok Art & Craft di Rumah

Alhamdulillah, bisa duduk manis sambil ngeblog lagi. Ngapain saja saya? *just in case ada yang kangen postingan saya hehehe. Saya ada kok di rumah. Lagi sibuk bebenah rumah. Seperti tekad saya, beberapa bulan belakangan saya mulai merapikan rumah. Soalnya jadi terasa banget setelah nggak ada ART, ternyata penataan rumah kurang efisien. Contoh kecil, pernak-pernik prakarya anak-anak ada dimana-mana, mulai di kamar, di ruang keluarga, di perpustakaan dll. Nggak heran kalau saat diperlukan kebingungan sendiri carinya. 

Tuesday, March 15, 2016

Persahabatan Jarak Jauh

Dulu banget, saya suka surat-suratan. Istilah kerennya, bersahabat pena. Ada beberapa orang teman yang sering bertukar surat dengan saya. Sekarang, saya punya beberapa teman yang tinggal jauh tetapi dekat di hati. Salah satunya adalah Mbak Indah. Dia adalah pemilik My Purple World. Saya mengenal Mbak Indah waktu kami sama-sama menjadi finalis SB 2014. Hingga sekarang, saya baru bertemu Mbak Indah sekali sejak dia berangkat bertugas ke New York. Walaupun begitu, ada beberapa hal berkesan yang membuat saya sering berkomunikasi dengan Mbak Indah. Apa saja itu?

Wednesday, March 2, 2016

Bermain Air, Kekhawatiran Ibu VS Kebahagiaan Anak

Saat hujan sore-sore….

“Bun, boleh nggak main hujan-hujanan?” 

“Boleh, asal nggak ada petir.”

“Hore!”

Dan, anak-anak saya pun berlari ke luar, menyapa hujan.

Friday, February 26, 2016

Mari Makan Buah!

Sebenarnya sudah dari tahun kemarin kami sekeluarga mencoba memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Untuk buah, anak-anak sudah mulai terbiasa makan sehari-hari. Sedikit-sedikit bahkan mereka mulai makan buah di pagi hari, mengganti menu sarapan berat yang biasa mereka makan. Sebenarnya sih, yang ini karena terpaksa hehe. Sejak ART resign, saya berusaha menyederhanakan hidup, termasuk menyederhanakan tugas-tugas harian saya. Kalau bisa makan pagi tanpa masak, kenapa nggak? Jadilah saya rayu anak-anak makan buah di pagi hari. Hitung-hitung latihan food combining. Belum sempurna sih. Kadang-kadang, habis makan buah masih laper, ya saya biarin mereka makan sereal atau bikin omelet. Makan siang dan malem pun masih suka-suka. Gak papalah, bertahap ini ya.

Tuesday, February 23, 2016

Mengelola Barang Tak Terpakai di Rumah

Saya suka geregetan lihat rumah penuh barang tak terpakai. Barang tak terpakai yang saya maksud adalah pakaian bekas, sepatu bekas, botol kaca, kardus-kardus, kantong plastik, dan sebagainya. Pokoknya barang-barang yang sudah jarang sekali kami pegang (atau bahkan kami ingat).

Kenapa saya geregetan? Pertama, karena pada dasarnya saya suka melihat rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Kedua, menurut saya, daripada barang-barang tersebut nggak terpakai akan lebih baik kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketiga, saya tidak mau rumah kami penuh dengan barang. Pinginnya sih, mulai belajar hidup simpel.

Monday, February 22, 2016

Belajar Fokus

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah, saya terbiasa mengerjakan segala sesuatu secara multitasking. Mana yang ada di hadapan saya, itulah yang saya pegang duluan. Saya juga sering kemaruk dengan mengambil banyak pekerjaan di luar pekerjaan utama saya sebagai ibu, seperti mengajar, job review, dan menulis buku. Habisnya, tawaran menulis itu begitu menggiurkan untuk dilewatkan. Jangan-jangan begitu saya tolak, besok-besok nggak ada lagi kesempatannya. Ya, memang susah sih menolak pekerjaan yang disukai *pembelaan hehe.

Friday, February 19, 2016

[Tips Menulis] Menulis Outline, Perlukah?

Awalnya, saya membebaskan murid-murid di kelas Ekskul Menulis untuk menulis apa saja. Mereka langsung mengetikkan ide mereka melalui komputer. Saya juga tidak memberi target jumlah halaman yang harus mereka tulis. Hanya tema saya biasanya yang saya tentukan.

Thursday, February 18, 2016

Lezatnya Nasi Pindang Kudus di Semarang

Memang lidah itu nggak bisa bohong ya. Anak-anak saya selera makannya Indonesia banget. Mungkin karena dari kecil mereka terbiasa makan masakan Indonesia (terutama Jawa). Mereka suka pecel, soto, gado-gado, rendang… hmm, sebut saja makanan Indonesia, sebagian besar mereka doyan. Nah, kebetulan sebelum ke Semarang awal bulan ini, anak-anak makan Nasi Pindang dari catering. Ternyata mereka suka banget. Saking doyannya, saya sampai nggak tega makan. Lha wong yang dipesan itu aja buat rebutan sama mereka bertiga hehehe. Itupun sepertinya masih kurang. Belakangan mereka memang doyan banget makan.

Tuesday, February 16, 2016

5 Rules di Rumah Kami

Sebagai ibu, saya tergolong tegas dan disiplin. Nggak heran kalau di rumah kami, ada rules atau aturan yang harus dipatuhi. Kami membuat kesepatan itu untuk membiasakan anak-anak. Awalnya, tentu saja sulit. Kami harus konsisten dengan aturan tersebut. Kalau lengah sedikit saja, anak-anak akan kembali pada kebiasaan lama. Namanya anak-anak, ada saja alasan mereka untuk menghindar dari aturan tersebut. Oleh karenanya, saya dan suami berusaha tidak mudah terbujuk rayuan dan nego mereka. 



Saya yakin, setiap rumah pasti punya rules masing-masing. Demikian juga dengan kami. Bisa jadi, aturan di rumah kami berbeda dengan aturan di rumah teman anak-anak. Hal ini, kadang-kadang menimbulkan pertanyaan mereka. Mengapa di rumah si A boleh tidur jam berapapun, sedangkan di rumah kami tidak? Mengapa di rumah si B boleh main gadget kapan saja, sedangkan di rumah kami tidak? Dan seterusnya. Saya bilang pada anak-anak, bahwa selama mereka tinggal di rumah bersama kami, orangtuanya, aturan yang berlaku ya aturan di rumah kami. 

Monday, February 15, 2016

Belajar Menghargai Pilihan Anak

Sebagai seorang ibu dari tiga putri, saya sering dihadapkan pada pilihan sulit saat memilih baju untuk anak-anak. Tahu sendiri kan, baju anak perempuan jenisnya banyak, dan lucu-lucu pula. Karena itu, ketika membeli baju, saya sering kesulitan memilih. Mau yang merah atau yang pink? Mau gaun atau setelan celana panjang dan kaus? Mau yang berenda atau tidak? Pinginnya dibeli semua, tapi kan nggak mungkin. Budget untuk membeli baju terbatas kan, ya.

Friday, February 12, 2016

Jalan-jalan ke Hortimart Agro Center Bawen, Semarang

Sepulang dari Museum Kereta Api Ambarawa, kami mampir ke Hortimart di Bawen. Awalnya sih, karena kami sudah lapar hehe. Kata Opa, di sana ada restorannya, jadi sekalian saja deh.

Hortimart ini adalah sebuah agro wisata. Pengunjung yang datang bisa berkeliling kebun seluas sekitar 25 hektar menaiki mobil wisata. Kabarnya sih, selain di Bawen, ada Hortimart di lokasi lain yang jauh lebih luas, mencapai 200 hektar!

Thursday, February 11, 2016

[Proses Kreatif] Ketika Pasu Mencari Ibu

Ketika memutuskan akan mengikuti Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015 yang diadakan oleh Nusantara Bertutur, saya yakin akan banyak peserta yang ikut. Oleh karena itu, saya mesti menulis sesuatu yang unik, supaya juri terkesan dengan tulisan saya. Alhamdulillah, dongeng saya yang berjudul “Ketika Pasu Mencari Ibu” terpilih menjadi Dongeng Terbaik Kategori Sanitasi. Apa saja persiapan saya mengikuti lomba tersebut? Berikut ini yang saya lakukan:



Riset
Suka gemes saat mendengar komentar-komentar yang negatif tentang menulis cerita anak. Bagi sebagian orang, menulis cerita anak tampak mudah. Tetapi nggak demikian kenyataannya. Saya mengalami sendiri bolak-balik revisi untuk naskah pictorial book yang saat dicetak hanya 24 halaman. Padahal, satu halaman hanya memuat 3-5 kalimat.
Naskah anak juga perlu riset. Khusus untuk lomba ini, saya perlu waktu lebih dari seminggu untuk riset saja. Saya pegang aturan mainnya, cerita yang saya tulis harus mengandung unsur daerah dan lingkungan (terutama air). Dari awal saya sudah putuskan akan menulis tentang binatang yang hidup di air. Masalahnya, hewan apa yang akan saya tulis? Ikan? Katak? Berang-berang? Atau yang lainnya.
Saya ingin tokoh saya istimewa. Oleh karenanya, saya browsing dulu hewan air khas Indonesia. Yang muncul banyak hahaha. Di situlah kebingungan saya dimulai. Mana yang harus saya pilih?
Supaya bisa masuk ke setting khas Indonesia, saya memutuskan memilih pesut sebagai tokoh cerita saya. Pesut ini hidupnya di Sungai Mahakam. Ada sih pesut di daerah lain di luar Indonesia. Tetapi pesut di Sungai Mahakam dikabarkan sudah langka. Menurut saya, ini menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita.

Pesan
Pesan dalam cerita adalah keharusan buat saya. Tetapi, sebagai penulis, saya belajar untuk tidak menggurui. Oleh karenanya, saya tidak secara eksplisit mengatakan “jangan membuang sampah di sungai”. Saya hanya menampilkan kalimat-kalimat pesan (yang tidak menyerupai pesan, tetapi lebih pada penggambaran situasi dan tindakan) melalui dialog serta deskripsi.
Dalam suatu kompetisi, kita bisa melihat tema besar untuk mendapatkan pesan yang ingin ditampilkan. Nggak heran kalau umumnya cerita para peserta punya pesan moral yang serupa. Lalu bagaimana caranya supaya tulisan kita berbeda? Saya akan beritahukan di bawah ini, pada poin berikutnya.

Diferensiasi
Awalnya, saya menulis cerita dengan tokoh utama seorang anak perempuan. Pesut sebagai tokoh pendamping. Setelah sampai setengah jalan, saya merasa kurang bisa menjiwai tulisan saya sendiri. Tulisan saya terasa kering. 
Saya mencoba sudut pandang lain. Bagaimana kalau tokohnya benda? Misalnya sampah. Ternyata kurang enak juga dibaca. Akhirnya saya pakai pesut sebagai tokoh utama. Ketika pesut menjadi tokoh utama, saya merasa lebih nyaman menuliskannya.
Oya, memilih tokoh utama yang berbeda juga merupakan nilai plus. Apalagi untuk dongeng, tentu tidak apa jika tokohnya bukan manusia. Anak-anak toh suka hewan.

Revisi
Setelah selesai menulis, apakah saya langsung mengirimkan tulisan saya? Tidak. Saya peram dulu beberapa hari, lalu saya baca lagi. Setelah saya merasa fresh akan terlihat kesalahan saya. Mulai dari typo hingga ketidakkonsistenan. Saya juga mulai mengecek kebiasaan pesut, supaya pembaca bisa mendapatkan informasi yang benar. 

Itu saja sih tips dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk teman-teman. Aamiin. Kabarnya, cerita tentang Pasu ini akan diterbitkan dalam kumpulan cerita karya para finalis lomba menulis ini. Nanti kalau sudah terbit, pada beli ya. [Fita Chakra]

Wednesday, February 10, 2016

Berkunjung ke Museum Kereta Api di Ambarawa

Kebetulan saat pulang kampung kemarin, anak-anak diajak opanya jalan-jalan. Sempet bingung mau ke mana, karena hampir semua tempat di Semarang sudah pernah dikunjungi anak-anak. Akhirnya, Opa mengusulkan ke luar Semarang. Pilihan jatuh ke Ambarawa. Perjalanan Semarang-Ambarawa cukup dekat. Setidaknya begitulah menurutku. Jalanan juga relatif lancar. Apalagi kami melewati tol. Kira-kira 1-1,5 jam perjalanan mengendarai mobil.

Thursday, February 4, 2016

[Resep] Chicken Noodles

Sebelum membaca resepnya, saya beritahukan bahwa postingan ini murni untuk dokumentasi saja. Bukan karena saya mau pindah niche jadi food blogger. Sama sekali bukan. Saya cukup tahu diri kemampuan memasak saya jauuuh dari jago. Jadi mohon dimaklumi kalau masakan yang saya posting sangat-sangat sederhana. Yang penting buat saya, masakan saya bisa dinikmati sekeluarga.

Kalau soal makan, nah saya suka banget hihi. Hampir semua makanan saya suka. Ditambah dengan anak-anak dan suami yang nggak rewel soal makanan, ini bikin saya nggak repot masak. Mereka ikhlas makan masakan saya. Bahkan berterima kasih dengan tulus. Alhamdulillah.

Friday, January 15, 2016

[DIY] Living Room Makeover Part 1

Sudah lama saya ingin menata ulang ruang tamu di rumah saya. Tujuannya supaya ganti suasana. Kami sekeluarga sudah tinggal di rumah ini sekitar 3 tahun. Saya sih tidak ingin perubahan besar-besaran. Tetapi karena saya sering berada di rumah, kadang-kadang bosan juga melihat tatanan meja kursi dan warna dinding yang itu-itu saja. Saya ingin atmosfer baru, supaya saya lebih semangat bekerja di rumah. 

Thursday, January 14, 2016

Blogwalking=Berkunjung ke Rumah Teman

Saya mengenal blog sekitar tahun 2006 (kalau tidak salah). Waktu itu, saya memakai Multiply untuk menyimpan tulisan-tulisan saya. Sebagai ibu baru, ngeblog merupakan cara saya untuk bersosialisasi. Soalnya, saya baru pindah rumah. Saya belum punya banyak teman di dunia nyata. Kalaupun ada, saya masih belum banyak keluar rumah karena anak saya waktu itu masih bayi.

Thursday, January 7, 2016

Berkunjung ke Museum Pos Bandung

Akhir bulan lalu, ketika kami sekeluarga pergi ke Bandung, saya mengajak anak-anak pergi ke Museum Pos. Seperti biasa, saya dan suami bagi tugas. Kebetulan dia sedang ada meeting. Jadi saya kebagian angon bocah alias ngajak jalan anak-anak. Maklumlah kalau bawa anak-anak cuma di hotel saja, sudah pasti mereka bakal bosan.

Setelah sarapan, kami langsung berangkat. Oya, kalau jalan-jalan begini, paling nyaman pakai setelan yang enak dipakai seperti jeans dan celana panjang. Tak lupa pakai sepatu kets favorit saya. Selama perjalanan, anak-anak sibuk bertanya seperti apa tempat yang akan kami datangi. Saya hanya bilang, di tempat itu kalian akan lihat perangko. 

Monday, January 4, 2016

Menjadi Guru

Postingan ini seharusnya sudah saya posting saat Hari Guru. Tetapi karena kesibukan dan sebagainya, yang sering menjadi excused saya, akhirnya baru bisa saya tulis sekarang. Ya sudahlah, daripada tidak sama sekali kan?

Menjadi guru adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Suer. Dari kecil yang paling sering saya impikan adalah menjadi penulis (yang alhamdulillah terkabul), punya bisnis yang menjanjikan (someday, insya Allah), dan jalan-jalan keliling dunia (aamiin) *maaf jika saya terlalu banyak meminta, Ya Allah. 

Saturday, January 2, 2016

Menjadi Kebanggaan Ibu

“Kenapa nggak coba cari beasiswa? Kamu bisa kok sekolah lagi, ilmunya dipakai untuk ngajar.”

Aku terdiam. Sudah berkali-kali Ibu memintaku untuk sekolah lagi. Sudah berkali-kali pula aku menolak permintaannya dengan berbagai alasan. Ibu tak pernah lelah mengejarku dengan pertanyaan lain.

Aku bukannya tidak mau belajar lagi. Tetapi, kenyataannya sekarang belum memungkinkan bagiku untuk mengejar beasiswa S3. Aku sedang ingin menekuni passion-ku sebagai penulis dan berkarya sebanyak-banyaknya. Lagipula, tinggal jauh dari orangtua membuatku harus bertanggung jawab terhadap ketiga putriku. Mereka masih memerlukan aku. Bagaimana mungkin aku bisa berkonsentrasi sekolah dalam keadaan demikian?