Tuesday, December 27, 2016

Menginap di Taman Safari Lodge

Bismillah....

Awal liburan semester ini, kami sekeluarga pergi ke Taman Safari. Tadinya kami mau pulang pergi saja, mengingat jarak antara Puncak-Depok tak terlalu jauh. Tetapi kemudian, setelah menimbang-bimbang, kami memutuskan untuk menginap. Pasalnya, Kiera, suka sekali dengan binatang. Biar lebih puas, nggak buru-buru dan nggak khawatir kalau pulangnya macet. 

Sebelum liburan mulai, saya dan suami sudah sibuk mencari penginapan. Awalnya, kami ingin menginap di Pesona Alam. Kebetulan dulu sudah pernah menginap di sana, dan kami sangat puas. Sayangnya, setelah kami cek, kamar yang seharga budget kami ternyata sudah full booking. Sayang banget kalau mau upgrade ke kamar yang lebih mahal *emak irit mode on :D

Pencarian penginapan pun berlanjut. Saya usulkan pada suami, untuk menginap di Taman Safari Lodge saja.
"Siapa tahu bisa dapat diskon masuk ke Taman Safari," kata saya *masih dengan emak irit mode on :D. Ya, dulu saja waktu kami menginap di Pesona Alam, ada diskon khusus untuk tamu yang ingin membeli tiket masuk Taman Safari sebesar 20%. Sayangnya, waktu itu kami udah terlanjur ke Taman Safari baru kemudian check in.

Setelah menelusuri berbagai macam web akhirnya dapatlah kami kamar penginapan yaitu di caravan Taman Safari Lodge. What? Caravan? Saya kaget ketika suami saya bilang mau memesan kamar caravan. Soalnya, saya membayangkan kamar caravan itu dekat dengan kandang-kandang hewan. Demikian juga dengan si Kakak. Sebaliknya, si kembar malah senang. Karena hasilnya 3 lawan 2, saya pun harus mengalah. Lagipula, saya tak punya alasan untuk menolak karena tarif semalam menginap di caravan ini masuk ke budget kami. Kami dapat harga Rp 700.000/malam.

Pada hari yang telah kami rencanakan, kami berangkat pagi-pagi. Sampai sana masih sekitar pukul 09.30. Kami langsung menuju Taman Safari Lodge untuk membeli tiket masuk. Nah, karena kami tunjukkan bukti booking hotel maka kami mendapat tiket khusus seharga Rp 100.000/orang. Alhamdulillah. 

Seharian itu, kami habiskan di Taman Safari hingga sore. Sekitar pukul 16.00 kami baru check in. Di dalam caravan yang kami pesan terdapat satu bed besar dan satu bed bertingkat. Lumayan sempit sih, namanya juga caravan. Tetapi cukuplah untuk tidur kami berlima semalam. Si kembar tidur di bed bertingkat, sedangkan kakaknya maunya tidur di sofa. Di dalam caravan ada kamar mandi juga dengan water heater

Paginya, kami baru tahu, di depan kami ternyata ada sebuah kolam berisi angsa-angsa cantik. Di tengahnya ada siamang. Dekat kolam tersebut ada rusa-rusa yang bisa diberi makan oleh pengunjung. Setelah sarapan, kami bisa masuk lagi ke Taman Safari, gratis. Hanya saja, masuknya ke baby zoo dan taman bermain.



Alhamdulillah, kami cukup puas menginap di sini. Next, insya Allah mau diulang lagi, mau lihat Safari Malam hehehe.

Nah, buat teman-teman yang ingin menginap di caravan Taman Safari Lodge, ada beberapa catatan dari saya nih.
1. Siapkan selimut tambahan, karena udaranya cukup dingin. Jangan lupa menutup jendela ya.
2. Lebih baik datang pagi, beli tiket di reception hotel untuk masuk ke Taman Safari, baru check in, supaya tidak kehilangan waktu untuk main-main di taman bermainnya.
3. Kalau datangnya sudah sore, skip dulu taman bermain karena bisa dilakukan besok paginya.
4. Untuk peak season, seperti akhir tahun, kemungkinan tarif caravan naik. Cek dulu harganya ya.







Wednesday, December 14, 2016

Perjalanan Merapikan Rumah Bersama Marie Kondo

Bismillah....

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis oleh Marie Kondo. Buku ini sudah lama saya incar. Ya, maklumlah, dari dulu saya terobsesi dengan seni beres-beres hehehe. 



Sebelum mulai, saya kupas sedikit tentang penulisnya ya. Siapakah Marie Kondo? Marie Kondo adalah seorang konsultan kerapian. Beliau penemu KonMari Method, sebuah seni beres-beres yang populer saat ini. Dari kecil, Marie Kondo suka sekali bebenah. Dalam perjalanannya membereskan segala sesuatu di dalam rumah, Marie Kondo menemukan cara yang efektif untuk beres-beres (yang disebutkan, dengan metode yang diperkenalkan tersebut, kita tak perlu lagi beberes sering-sering dalam hidup kita). Saking ngetopnya Marie Kondo ini, untuk menjadi calon kliennya, kita mesti rela masuk dalam daftar tunggunya selama tiga bulan!

Apa saja yang saya pelajari dari buku ini? Berikut ini saya coba tuliskan poin-poinnya:

Beberes sekaligus.
Kesalahan pertama yang saya buat selama ini ternyata adalah beberes sedikit demi sedikit. Ketika beres-beres dilakukan sedikit demi sedikit, maka efeknya tidak akan terlihat jelas. Lagipula, beberes secara bertahap dalam kurun waktu yang lama membuat semangat menghilang pelan-pelan. 
Saya menocba melakukan beres-beres ini sekaligus. Ternyata benar. Saya bisa melihat lebih banyak barang yang bisa dengan "tega" saya singkirkan dibandingkan ketika saya melakukannya sedikit-sedikit. Misalnya, saya bisa mengeluarkan sekitar sepertiga barang dari lemari saya sekaligus dan lebih ikhlas memberikannya pada orang lain. Motivasinya jelas, kalau saya simpan, jadi nggak kelar-kelar beres-beresnya.

Buku-buku yang berhasil saya singkirkan. Ini baru sebagian.

Membuang dulu sampai tuntas.
Kesalahan lain yang saya lakukan adalah saya membereskan satu bagian lemari pakaian, menyortir beberapa yang tidak saya butuhkan lalu menyingkirkannya. Saya mengeluarkan per bagian karena mau melakukannya sedikit demi sedikit supaya tidak capek.
Yang disarankan oleh Marie Kondo adalah mengumpulkan barang-barang sejenis, mengeluarkan semuanya dari lemari, menyortir, lalu membuangnya sekaligus. Ketika saya lakukan ini, saya bisa melihat betapa banyaknya barang yang saya miliki tetapi bahkan tidak pernah saya pakai. Lalu buat apa saya miliki barang tersebut?


Saat mulai dibereskan dan ketika udah rapi

Membereskan sesuai urutan.
Cara saya membereskan barang-barang selama ini menyesuaikan mood saja. Ketika saya lihat lemari buku sudah penuh dan perlu dibereskan, saya akan membereskannya. Ketika lemari pakaian sudah berantakan, saya akan bereskan. Demikian juga dengan yang lainnya.
Menurut Marie Kondo, sebaiknya membereskan barang sesuai dengan urutan yang telah dibuatnya. Alasannya, supaya semangat untuk beres-beres tidak menurun ketika kita membereskan barang-barang sentimentil lebih dahulu. Urutannya adalah:
1. Pakaian (atasan, bawahan, kaus kaki, baju dalam, tas, aksesori, pakaian khusus, sepatu).
2. Buku.
3. Kertas.
4. Komono (pernak-pernik).
5. Barang sentimentil (foto, surat dan sebagainya).
Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menjaga semangat membereskan rumah, saya bisa melalui semua tahap membuang dan membereskan barang di dalam rumah. Tahap satu, pakaian, bisa terlewati setelah saya berhasil menyingkirkan 5 kantung besar (seukuran plastik sampah 50x100 cm). Semua itu berasal dari lemari kami sekeluarga. 
Tahap kedua, yang paling sulit. Kami sekeluara suka buku. Memilih mana yang harus disimpan dan mana yang dibuang sungguh membutuhkan keikhlasan yang luar biasa. Saya berhasil mengurangi beban lemari buku saya setelah menyingkirkan sekitar 300 eks buku. Untuk mengurangi rasa berdosa saya, saya jual buku-buku tersebut dengan harga yang cukup murah.
Tahap ketiga, sedikit membutuhkan konsentrasi. Saya tipe yang takut kalau sampai membuang kertas yang dibutuhkan di masa depan. Misalnya bukti pembayaran asuransi dan SPP. Akhirnya, saya berhasil membuang satu kantung plastik besar berisi kartas-kertas. Tidak semuanya saya buang. Sebagian saya masukkan ke infak sampah. Sebagian lagi yang berisi dokumen-dokumen data, saya rusak sebelum dibuang.
Tahap keempat, berjalan cukup lancar. Saya berhasil menyingkirkan 2 kantung nesar komono. Isinya, peralatan rumah tangga, pigura yang sudah kusam, peralatan mandi dari hotel-hotel yang kami kunjungi, barang-barang gratisan dari berbagai event, mainan anak-anak, dan sebagainya. Barang-barang tersebut sebagian dibawa oleh ART pulang pergi yang bekerja di rumah saya.
Tehap kelima, koleksi foto cetak yang kami miliki tidak banyak. Sebaliknya, koleksi foto yang ada dalam bentuk file banyak sekali. Foto-foto yang sudah rusak, saya buang. Sedangkan file yang ada di PC, saya bersihkan. Ada ribuan file yang berhasil saya delete. Sebagian berisi foto-foto yang sudah tidak saya pakai (foto event yang sudah lama sekali saya datangi, foto-foto yang kualitasnya buruk, dan foto-foto yang dobel).

Banyak peralatan mandi yang saya buang karena ternyata udah expired.

Tempat penyimpanan sepatu, akhirnya bisa di-make over.

Tidak perlu membeli barang khusus untuk menyimpan.
Saya akui, yang ini sulit saya praktikkan. Saya suka melihat barang-barang tersusun rapi dalam storage yang menarik. Padahal, menurut Marie Kondo, yang dibutuhkan hanyalah boks bekas, seperti kardus sepatu dan semacamnya. 

Menyimpan dengan teknik melipat seperti ini, memudahkan untuk mencari barang.

Ingat kata kunci, "membangkitkan kegembiraan".
Saya sering menyimpan barang dengan alasan, siapa tahu kelak dibutuhkan. Setelah membaca buku ini, saya tahu, yang harus saya simpan hanyalah barang-barang yang membangkitkan kegembiraan. Yang tidak menimbulkan kegembiraan harus disingkirkan. Mengapa? Karena hidup akan lebih indah jika kita dikelilingi barang-barang yang membuat kita bahagia.
Cara mengethaui apakah barang tersebut menimbulkan kegembiraan atau tidak begini: pegang satu persatu barang yang ingin kita bereskan, rasakan dengan hati, lalu putuskan. Semakin sering kita mempraktikkan ini, akan semakin cepat kita memutuskan mana barang yang disimpan dan mana yang disingkirkan.

Nah, itulah perjalanan saya merapikan rumah. Apakah teman-teman sudah membaca dan mencoba mempraktikkan KonMari Method? Yuk, share. [Fita Chakra]

Alhamdulillah, perpustakaan sudah rapi.









Wednesday, June 22, 2016

Mengenal Ramadhan Bersama Diari Ramadhan

Alhamdulillah, senang sekali ketika menjelang ramadhan tahun ini, saya mendapatkan kabar bahwa Diari Ramadhan naik cetak lagi. Buku ini bukan buku baru, pertama kali terbit tahun 2011. Lima tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk saya sebagai penulis, menunggu buku ini terbit lagi. Ya, mungkin karena judulnya saya "Diari Ramadhan", buku ini dicari menjelang ramadhan. Makanya butuh waktu cukup lama untuk menghabiskannya. 

Cover Lama

Cover Baru

Padahal, sebenarnya nggak juga, kok. Buku ini bisa dibaca di saat-saat lain selain ramadhan. Kenapa? Karena di dalamnya, banyak cerita-cerita islami yang bisa dibacakan menjelang tidur. Ceritanya pendek, sehingga bisa dibaca dalam waktu 5-10 menit saja. Selain cerita, ada doa-doa yang berkaitan dengan puasa dan ramadhan. 

Mengenang proses kreatif penulisan buku ini, lumayan lama dan sulit. Penyebabnya adalah, saya sangat berhati-hati menulis doa, hadits dan ayat-ayat. Oleh karenanya, saya meminta salah satu teman untuk menjadi pembaca ahli. Yang saya pilih, haruslah punya pengetahuan tentang agama yang bagus. Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Risyan Nurhakim, suami Imazahra (percaya atau tidak, saya mengenal mereka berdua dari internet, lalu bertemu untuk pertama kalinya setelah itu. Hingga kini, total pertemuan kami bisa dihitung dengan sebelah jari). Saya sangat berterima kasih atas kerelaannya membaca dan mengkritisi buku ini, sehingga saya menjadi lebih pede ketika buku ini terbit.

Tahun 2015 lalu, ketika buku ini dibawa di Frankfurt Book Fair, hati saya cukup melambung, berharap ada penerbit dari negara lain yang membeli copyright-nya. Tetapi, rupanya buku ini belum beruntung. 

Sejujurnya, saya cukup surprised sih saat tahu buku ini republished, dengan cover baru pula. Dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya, buku yang dianggap slow moving tidak diproduksi lagi. Tetapi mungkin penerbit punya pertimbangan lain. Sejak awal bekerjasama dengan BIP (penerbit yang menerbitkan buku ini), alhamdulillah kesannya cukup bagus. Saya selalu dilibatkan dalam berbagai hal seperti, melihat cover, memberikan komentar mengenai layout, bahkan dalam hal promosi. Pun ketika akhirnya kami sepakat memutuskan tidak jadi mengadakan launching buku ini, penerbit menawarkan opsi lain untuk promosi. Buat saya sebagai penulis, kerjasama seperti ini sangat menyenangkan.

Nah, mumpung masih suasana Ramadhan, buruan beli yuk, buku saya ini. Sudah ada lho di toko buku. :)

Baca link beritanya disini ya. 



Thursday, April 7, 2016

[Resensi Buku] 13 Pelangi Cinta

Judul      : 13 Pelangi Cinta
Penulis    : Yessy Yanita Sari
Penerbit  : Gema Insani
Cetakan  : 1, tahun 2016





Muridku, engkaulah ladang belajarku. Darimu kuarungi lautan ilmu. Darimu kuketahui arti cinta yang tak palsu. Darimu limpahan berkah memayungi hariku.-halaman 13

Thursday, March 31, 2016

Jalan-jalan ke Hutan Mangrove PIK

Beberapa waktu lalu saya mengajak anak-anak jalan-jalan ke Hutan Mangrove di Pantai Indah Kapuk. Awalnya sih mereka nolak karena mereka pikir bakal masuk hutan (yang mana mereka takut kalau ada ular dan semacamnya). Setelah saya dan suami bisa meyakinkan mereka, mereka setuju. Jujur saja, dalam hati saya sebenernya rada cemas juga mengingat ada teman yang berpesan, “Hati-hati, di sana banyak ular.” Tapi nggak mungkin kan kalau saya batalin, wong saya yang ngajak. Dalam hati sudah sibuk merapal doa, moga-moga nggak ketemu ular di sana. Aamiin.

Wednesday, March 23, 2016

Membuat Pojok Art & Craft di Rumah

Alhamdulillah, bisa duduk manis sambil ngeblog lagi. Ngapain saja saya? *just in case ada yang kangen postingan saya hehehe. Saya ada kok di rumah. Lagi sibuk bebenah rumah. Seperti tekad saya, beberapa bulan belakangan saya mulai merapikan rumah. Soalnya jadi terasa banget setelah nggak ada ART, ternyata penataan rumah kurang efisien. Contoh kecil, pernak-pernik prakarya anak-anak ada dimana-mana, mulai di kamar, di ruang keluarga, di perpustakaan dll. Nggak heran kalau saat diperlukan kebingungan sendiri carinya. 

Tuesday, February 23, 2016

Mengelola Barang Tak Terpakai di Rumah

Saya suka geregetan lihat rumah penuh barang tak terpakai. Barang tak terpakai yang saya maksud adalah pakaian bekas, sepatu bekas, botol kaca, kardus-kardus, kantong plastik, dan sebagainya. Pokoknya barang-barang yang sudah jarang sekali kami pegang (atau bahkan kami ingat).

Kenapa saya geregetan? Pertama, karena pada dasarnya saya suka melihat rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Kedua, menurut saya, daripada barang-barang tersebut nggak terpakai akan lebih baik kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketiga, saya tidak mau rumah kami penuh dengan barang. Pinginnya sih, mulai belajar hidup simpel.

Friday, February 19, 2016

[Tips Menulis] Menulis Outline, Perlukah?

Awalnya, saya membebaskan murid-murid di kelas Ekskul Menulis untuk menulis apa saja. Mereka langsung mengetikkan ide mereka melalui komputer. Saya juga tidak memberi target jumlah halaman yang harus mereka tulis. Hanya tema saya biasanya yang saya tentukan.

Thursday, February 18, 2016

Lezatnya Nasi Pindang Kudus di Semarang

Memang lidah itu nggak bisa bohong ya. Anak-anak saya selera makannya Indonesia banget. Mungkin karena dari kecil mereka terbiasa makan masakan Indonesia (terutama Jawa). Mereka suka pecel, soto, gado-gado, rendang… hmm, sebut saja makanan Indonesia, sebagian besar mereka doyan. Nah, kebetulan sebelum ke Semarang awal bulan ini, anak-anak makan Nasi Pindang dari catering. Ternyata mereka suka banget. Saking doyannya, saya sampai nggak tega makan. Lha wong yang dipesan itu aja buat rebutan sama mereka bertiga hehehe. Itupun sepertinya masih kurang. Belakangan mereka memang doyan banget makan.

Friday, February 12, 2016

Jalan-jalan ke Hortimart Agro Center Bawen, Semarang

Sepulang dari Museum Kereta Api Ambarawa, kami mampir ke Hortimart di Bawen. Awalnya sih, karena kami sudah lapar hehe. Kata Opa, di sana ada restorannya, jadi sekalian saja deh.

Hortimart ini adalah sebuah agro wisata. Pengunjung yang datang bisa berkeliling kebun seluas sekitar 25 hektar menaiki mobil wisata. Kabarnya sih, selain di Bawen, ada Hortimart di lokasi lain yang jauh lebih luas, mencapai 200 hektar!

Thursday, February 11, 2016

[Proses Kreatif] Ketika Pasu Mencari Ibu

Ketika memutuskan akan mengikuti Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015 yang diadakan oleh Nusantara Bertutur, saya yakin akan banyak peserta yang ikut. Oleh karena itu, saya mesti menulis sesuatu yang unik, supaya juri terkesan dengan tulisan saya. Alhamdulillah, dongeng saya yang berjudul “Ketika Pasu Mencari Ibu” terpilih menjadi Dongeng Terbaik Kategori Sanitasi. Apa saja persiapan saya mengikuti lomba tersebut? Berikut ini yang saya lakukan:



Riset
Suka gemes saat mendengar komentar-komentar yang negatif tentang menulis cerita anak. Bagi sebagian orang, menulis cerita anak tampak mudah. Tetapi nggak demikian kenyataannya. Saya mengalami sendiri bolak-balik revisi untuk naskah pictorial book yang saat dicetak hanya 24 halaman. Padahal, satu halaman hanya memuat 3-5 kalimat.
Naskah anak juga perlu riset. Khusus untuk lomba ini, saya perlu waktu lebih dari seminggu untuk riset saja. Saya pegang aturan mainnya, cerita yang saya tulis harus mengandung unsur daerah dan lingkungan (terutama air). Dari awal saya sudah putuskan akan menulis tentang binatang yang hidup di air. Masalahnya, hewan apa yang akan saya tulis? Ikan? Katak? Berang-berang? Atau yang lainnya.
Saya ingin tokoh saya istimewa. Oleh karenanya, saya browsing dulu hewan air khas Indonesia. Yang muncul banyak hahaha. Di situlah kebingungan saya dimulai. Mana yang harus saya pilih?
Supaya bisa masuk ke setting khas Indonesia, saya memutuskan memilih pesut sebagai tokoh cerita saya. Pesut ini hidupnya di Sungai Mahakam. Ada sih pesut di daerah lain di luar Indonesia. Tetapi pesut di Sungai Mahakam dikabarkan sudah langka. Menurut saya, ini menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita.

Pesan
Pesan dalam cerita adalah keharusan buat saya. Tetapi, sebagai penulis, saya belajar untuk tidak menggurui. Oleh karenanya, saya tidak secara eksplisit mengatakan “jangan membuang sampah di sungai”. Saya hanya menampilkan kalimat-kalimat pesan (yang tidak menyerupai pesan, tetapi lebih pada penggambaran situasi dan tindakan) melalui dialog serta deskripsi.
Dalam suatu kompetisi, kita bisa melihat tema besar untuk mendapatkan pesan yang ingin ditampilkan. Nggak heran kalau umumnya cerita para peserta punya pesan moral yang serupa. Lalu bagaimana caranya supaya tulisan kita berbeda? Saya akan beritahukan di bawah ini, pada poin berikutnya.

Diferensiasi
Awalnya, saya menulis cerita dengan tokoh utama seorang anak perempuan. Pesut sebagai tokoh pendamping. Setelah sampai setengah jalan, saya merasa kurang bisa menjiwai tulisan saya sendiri. Tulisan saya terasa kering. 
Saya mencoba sudut pandang lain. Bagaimana kalau tokohnya benda? Misalnya sampah. Ternyata kurang enak juga dibaca. Akhirnya saya pakai pesut sebagai tokoh utama. Ketika pesut menjadi tokoh utama, saya merasa lebih nyaman menuliskannya.
Oya, memilih tokoh utama yang berbeda juga merupakan nilai plus. Apalagi untuk dongeng, tentu tidak apa jika tokohnya bukan manusia. Anak-anak toh suka hewan.

Revisi
Setelah selesai menulis, apakah saya langsung mengirimkan tulisan saya? Tidak. Saya peram dulu beberapa hari, lalu saya baca lagi. Setelah saya merasa fresh akan terlihat kesalahan saya. Mulai dari typo hingga ketidakkonsistenan. Saya juga mulai mengecek kebiasaan pesut, supaya pembaca bisa mendapatkan informasi yang benar. 

Itu saja sih tips dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk teman-teman. Aamiin. Kabarnya, cerita tentang Pasu ini akan diterbitkan dalam kumpulan cerita karya para finalis lomba menulis ini. Nanti kalau sudah terbit, pada beli ya. [Fita Chakra]

Wednesday, February 10, 2016

Berkunjung ke Museum Kereta Api di Ambarawa

Kebetulan saat pulang kampung kemarin, anak-anak diajak opanya jalan-jalan. Sempet bingung mau ke mana, karena hampir semua tempat di Semarang sudah pernah dikunjungi anak-anak. Akhirnya, Opa mengusulkan ke luar Semarang. Pilihan jatuh ke Ambarawa. Perjalanan Semarang-Ambarawa cukup dekat. Setidaknya begitulah menurutku. Jalanan juga relatif lancar. Apalagi kami melewati tol. Kira-kira 1-1,5 jam perjalanan mengendarai mobil.

Friday, January 15, 2016

[DIY] Living Room Makeover Part 1

Sudah lama saya ingin menata ulang ruang tamu di rumah saya. Tujuannya supaya ganti suasana. Kami sekeluarga sudah tinggal di rumah ini sekitar 3 tahun. Saya sih tidak ingin perubahan besar-besaran. Tetapi karena saya sering berada di rumah, kadang-kadang bosan juga melihat tatanan meja kursi dan warna dinding yang itu-itu saja. Saya ingin atmosfer baru, supaya saya lebih semangat bekerja di rumah. 

Thursday, January 7, 2016

Berkunjung ke Museum Pos Bandung

Akhir bulan lalu, ketika kami sekeluarga pergi ke Bandung, saya mengajak anak-anak pergi ke Museum Pos. Seperti biasa, saya dan suami bagi tugas. Kebetulan dia sedang ada meeting. Jadi saya kebagian angon bocah alias ngajak jalan anak-anak. Maklumlah kalau bawa anak-anak cuma di hotel saja, sudah pasti mereka bakal bosan.

Setelah sarapan, kami langsung berangkat. Oya, kalau jalan-jalan begini, paling nyaman pakai setelan yang enak dipakai seperti jeans dan celana panjang. Tak lupa pakai sepatu kets favorit saya. Selama perjalanan, anak-anak sibuk bertanya seperti apa tempat yang akan kami datangi. Saya hanya bilang, di tempat itu kalian akan lihat perangko.