Tuesday, December 23, 2014

[Percikan] Magang

Dimuat di Majalah Gadis No. 30. 7-17 November 2014

“Aku kesal sama Mama,” Andin mengadu pada Erika.
Erika urung menyuap pancake di hadapannya. Sore itu, mereka berdua sedang makan di sebuah kafe kesayangan mereka. Pantas saja wajah Andin seharian ini seperti baju yang belum disterika. Kusut.
“Masak, Mama menyuruhku magang di kedai rotinya selama liburan,” lanjut Andin tanpa diminta.
Erika mengangkat alis. Jadi itu yang bikin Andin kesal? Erika mulai menangkap maksud Andin.
“Kamu kan tahu yang ingin kulakukan liburan ini. Aku ingin jalan-jalan. Backpaking juga boleh. Nggak perlu mahal-mahal,” ujar Andin. Andin memegang kuat-kuat garpu dan pisaunya, menekannya pada pancake seolah-olah pancake itu steak liat.
Erika hampir tersedak karena geli.
“Lalu maumu bagaimana? Kalau mamamu nggak mengijinkan, nggak ada gunanya memaksa. Mau nekad? Jangan deh, restu orangtua itu penting,” Erika mengingatkan. Tingkah Andin memang terkadang seperti anak kecil. Tapi justru karena itu mereka cocok. Erika lebih mirip kakak ketimbang teman bagi Andin.
“Backpacking nggak butuh biaya banyak kali, Rik. Aku yakin Mama bisa kasih uang. Tapi Mama bilang, aku harus magang dulu di kedainya. Nanti Mama kasih gaji. Nah, gaji itu bisa aku pakai untuk jalan-jalan,” kata Andin panjang lebar.
“Tuh, mamamu bukan nggak mau ngasih kan. Hanya saja tidak mau kasih ikannya. Kamu harus mengail dulu. Lalu apa masalahnya? Bantu di kedai bukan masalah besar,” Erika mendorong Andin.
Mata Andin melotot mendengarnya.
What? Bantu Mama di kedai? Mau ditaruh di mana mukaku. Kedai Mama sering dijadikan tempat nongkrong Rendy dan teman-temannya, tahu,” Andin hampir menjerit.
“Stt… nggak usah teriak gitu. Aku masih dengar,” sahut Erika. “Justru itu, kamu bisa berteman lebih dekat dengan Rendy kan. Lihat sisi positifnya, dong.”
Andin menggeleng kuat-kuat.
“No… no…” katanya. “Rendy anak orang kaya. Dia pasti langsung ilfil lihat aku, jadi pelayan kedai,” Andin mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya centil.
Sekarang gantian Erika yang menggeleng-gelengkan kepala.
“Terserah kamulah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu nggak butuh saranku, buat apa kita ke sini. Mending aku tidur di rumah,” protesnya.
Andin diam saja. Dia kembali sibuk dengan pancakenya. Tiba-tiba…
“Permisi, ada tambahan, Kak?”
Erika dan Andin mendongak. Seorang cowok berbadan atletis, berkulit putih sedang tersenyum manis pada mereka. Oh My God, Rendy! Iya, Rendy yang tadi mereka bicarakan. Kok dia ada di sini? Andin tak habis pikir.
“Oh… eh… “ Andin tergagap. “Kamu…,” katanya.
“Iya, aku,” Rendy kembali memamerkan deretan gigi-giginya yang putih.
“Kok, kamu ada di sini?” tanya Andin bingung. Beberapa kali dia dan Erika datang ke kafe itu, tidak pernah sekalipun bertemu Rendy. Lagipula, buat apa dia kerja?
“Kebetulan, aku sedang bantu orangtuaku. Aku magang di sini selama liburan. Ya, hitung-hitung latihan kerja. Kalau mau jadi pengusaha, harus tahu rasanya jadi karyawan dulu, kata mereka,” Rendy menerangkan. Sama sekali tak tampak rasa malu maupun gugup di wajahnya.
Erika menahan tawa. Sementara, wajah Andin mendadak berubah kemerahan. Rendy si cakep, yang kabarnya anak orang kaya itu saja mau magang jadi pelayan. Sedangkan dia… oh, tiba-tiba Andin ingin menghilang dari bumi ini saking malunya!
“Jadi, kalian mau pesan apa lagi?” tanya Rendy lagi.
Andin cepat-cepat menggeleng.
“Baiklah. Panggil aku saja kalau kalian mau pesan lagi ya,” ujar Rendy ramah. “Oya, soal magang. Bilang sama mamamu, kalau boleh, aku juga mau magang di kedainya. Masakan mamamu enak. Aku juga ingin belajar masak,” ucap Rendy sambil mengedipkan mata.

Wajah Andin terasa panas, nggak menyangka Rendy mendengar percakapan mereka. Sementara itu Erika yang ada di depannya menertawainya sampai puas. Kali ini, rasanya Andin ingin cepat-cepat pulang! [Fita Chakra]

Buat yang ingin kirim ke rubrik Percikan, ini ketentuannya:
  • Panjang tulisan 2 halaman folio.
  • Tema seputar dunia remaja.
  • Kirim melalui e-mail ke GADIS.Redaksi@feminagroup.com
  • Jangan lupa tulis no. rek dan fotocopy buku tabungan di halaman depan.

Friday, October 31, 2014

Blog, Pintu untuk Ke Mana Saja

Kebetulan, saya mengajar ekskul menulis di sebuah sekolah. Kami belajar di ruang ICT. Anak-anak bisa mengakses internet melalui komputer masing-masing. Saya pun memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan blog pada anak didik saya.

Awalnya, saya meminta mereka membuka blog saya supaya bisa melihat lebih banyak contoh-contoh cerpen yang pernah saya tulis. Lama kelamaan, ada yang bertanya, “Bu, gimana sih, cara bikin blog seperti ini?” Tentu saja, rupanya pancingan saya kena juga hehehe. Untuk anak-anak SD, saya baru jelaskan secara garis besar karena keterbatasan waktu mengajar (saya mengajar hanya 1,5 jam). Sedangkan untuk anak-anak SMP, saya minta mereka mencoba sendiri di rumah.

Tampilan blog saya
Bagi saya, banyak yang bisa mereka peroleh dari blog. Pertama, anak-anak akan tahu, internet bukan sekadar bisa dipakai untuk socmed. Di blog, mereka bisa belajar menulis. Kedua, mereka juga belajar melek tekhnologi, mengutak-atik blog butuh ketrampilan, lho. Juga kesabaran dan ketelatenan tentu saja. Ketiga, melalui blog, mereka bisa belajar apa saja. Saya berharap banyak hal positif yang mereka bisa ambil dari blog, karena itu saya juga memberikan ‘rambu-rambu’ yang berkaitan dengan penggunaan blog.
Suasana belajar mengajar di ruang ICT
Lalu apa kaitan blog dengan pintu ke mana saja seperti yang saya tulis di awal tulisan saya ini? Bagi saya, blog ini mirip pintu Doraemon, yang bisa membuat saya mengajak anak-anak didik saya ‘terbang’ ke mana saja dan ke masa kapan saja. Maksudnya bagaimana? Begini, lho.

Pintu Masa Lalu : Belajar dari Karya Orang Lain
“Bu, aku mau lihat cerpen-cerpen Ibu yang pernah dimuat. Boleh nggak?” tanya salah satu muridku dengan mata penuh harap.
“Tentu saja boleh,” jawabku.
“Asyik. Minggu depan Ibu bawa fotocopiannya kan?” ujarnya penuh semangat.
Aku tersenyum, lalu berkata, “Kamu buka blog Ibu saja. Di sana banyak cerpen-cerpen Ibu. Sini, Ibu ajari.”

Saya lalu memberitahukan pada anak-anak alamat blog saya dan tag yang saya pakai untuk cerpen-cerpen anak yang saya tulis. Saya memang sengaja mengumpulkan cerpen-cerpen itu ke dalam blog untuk dokumentasi. Sekaligus supaya orang lain yang membaca bisa mengambil manfaatnya. Bukan bermaksud pamer, saya tahu banyak teman-teman penulis yang mungkin karyanya jauh lebih hebat dibanding saya.

Saya sendiri pun banyak belajar dari karya-karya mereka yang dipajang di blog. Sekali waktu, saya juga mengajak mereka berkunjung ke blog penulis lainnya, supaya mereka bisa membaca karya orang lain selain saya. Saya memilihkan blog yang tulisannya sesuai dengan usia mereka. Misalnya, blog para penulis cilik (seperti, blog milik Laksita Judith)

Bayangkan kalau saya harus fotocopy semua karya saya untuk dibagikan pada murid-murid saya. Jelas lebih merepotkan dan membutuhkan banyak kertas. Di sekolah tempat saya mengajar bahkan midterm progress report pun dikirim melalui e-mail ke orangtua murid untuk menghemat kertas. Saya sengaja mengurangi penggunaan kertas untuk mendukung program sekolah ramah lingkungan.

Contoh cerita yang saya berikan pada anak-anak
Kembali lagi pada kegiatan kami tersebut. Anak-anak yang belum puas membaca cerpen-cerpen saya melalui blog bisa meneruskannya di rumah. Terkadang, saya minta mereka membaca salah satu judul lalu menyebutkan poin-poin penting dalam cerpen itu, seperti tokoh dan karakternya, settingnya, dan konfliknya. Tanpa sadar, mereka telah belajar memahami materi yang saya berikan sebelumnya. Manfaat lain dari kegiatan ini, anak-anak menjadi lebih bersemangat menulis. Mereka jadi tahu, anak-anak seusia mereka pun bisa menulis cerita dengan baik.

“Aku ingin bisa bikin cerita seperti itu, Bu!” kata mereka.
“Kamu pasti bisa, Nak,” jawab saya sambil tersenyum.

Pintu Masa Kini : Mencari Ilmu dan Penyemangat
“Bu, akau kalau menulis, setiap habis dialog pakai ‘katanya’ terus,” lapor salah seorang muridku.
“Coba pakai kata lain. Kira-kira bisa tidak?” pancingku.
“Misalnya apa, Bu?” dia balik bertanya.
Belajar menulis komik
Saya pun membuka blog. Kebetulan saya pernah menuliskannya, setelah saya memberikan les privat pada seorang anak. Ada beberapa postingan di dalam blog saya yang mengulas tips menulis cerita untuk anak. Salah satunya ada di sini. Saya pun membagikannya untuk murid-murid saya.


Melihat kegiatan penulis cilik
Selain tips, juga menunjukkan beberapa postingan tentang kegiatan para penulis cilik. Anak-anak biasanya lebih termotivasi melihat teman sebaya mereka. Salah satu yang mereka baca adalah postingan tentang kegiatan putri saya ini. Saat mereka down karena naskahnya tidak lolos lomba atau tidak berhasil menyelesaikan ceritanya, saya menyemangati mereka melalui blog. Alhamdulillah, resep ini lumayan berhasil.

Pintu Masa Depan : Merancang Impian
“Sejak kecil aku ingin jadi penulis, Bu. Tapi aku nggak pernah bilang begitu kalau ditanya orang. Malu. Baru sekarang ini aku berani bilang ingin jadi penulis,” ujar Maryam, salah satu murid saya yang sudah duduk di kelas 9.
“Kenapa kamu malu?” tanyaku.
“Ya… karena setiap kali aku bilang ingin jadi penulis, orang yang bertanya balik bertanya, ‘Kenapa ingin jadi penulis? Kenapa nggak jadi dokter saja?’ Begitu, Bu,” dia pun mengaku.

Saya menghela napas. Saya akui, masih banyak orang yang kurang paham pekerjaan penulis. Mereka mungkin berpikir, menulis bukan pekerjaan bergengsi ataupun mendatangkan materi berlimpah. Namun saya meyakini, jika seseorang melakukan pekerjaan yang dicintai, sesuai passion-nya, maka materi dalam bentuk apapun akan datang sendiri.

Supaya Maryam bisa dengan bangga menyebutkan profesi penulis sebagai cita-citanya, saya pun memberikan gambaran pekerjaan penulis. Saya ajak dia melihat-melihat blog saya. Untung saja saya termasuk rajin mendokumentasikan kegiatan seperti book launching, talkshow, promo buku di radio atau televisi, sesi berbagi ilmu melalui workshop dan sebagainya. Saya juga katakana penulis bukan hanya menulis buku atau cerita, tapi bisa jadi penulis skenario, penulis content web, blogger, editor, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Maryam terlihat tertarik waktu saya ceritakan tentang profesi blogger. Saya juga bilang, kelak, profesi ini akan semakin diminati dan dihargai. Saya juga tunjukkan beberapa job review yang pernah saya tulis, supaya bisa menjadi penyemangatnya.

Apa katanya setelah mendengar cerita saya?
“Sekarang, aku sudah tahu penulis bisa bekerja di banyak bidang. Kalau ditanya orang, aku akan bilang bahwa aku ingin jadi penulis kelak.”
“Insya Allah, Maryam akan jadi penulis yang hebat. Nggak ada yang salah dengan cita-citamu, selama kamu yakin itu bermanfaat dan baik di mata-Nya,” balasku.

Ya, mungkin saya tidak setiap hari bersama anak didik saya ini. Waktu mengajar ekskul menulis hanya seminggu sekali. Tapi saya merasa bertanggung jawab untuk mengenalkan sebanyak mungkin tentang profesi penulis karena mereka belajar menulis di kelas saya.

Sebagai guru, terutama karena saya memperkenalkan blog pada murid-murid saya, ada beberapa hal penting yang saya pegang dalam penggunaan TIK ini, antara lain:

Menulis Konten Positif
Karena saya sudah memperkenalkan blog saya pada anak-anak, saya punya tanggung jawab moral. Guru adalah salah satu role model anak-anak. Jadi, mengecek dulu konten sebelum posting hukumnya wajib. Dengan memberikan konten yang positif untuk anak-anak saya berharap anak-anak terbiasa melakukan hal yang sama jika kelak mereka menulis, di media apapun.

Menyampaikan Etika Penulisan
Saya juga mengajarkan pada anak-anak bahwa ada etika menulis. Terkadang, saking terinspirasinya mereka pada suatu karya, tanpa sadar mereka menulis hal yang sama persis. Penting bagi saya untuk mengingatkan pada mereka ketika ini terjadi. Blog bagi saya merupakan salah satu media pembelajaran yang bisa saya pakai untuk memberikan contoh-contoh etika penulisan. Misalnya, ketika saya mengutip sesuatu, saya akan berikan sumbernya; ketika saya mengambil gambar dari blog orang lain saya berikan linknya dan seterusnya.
Saat mereka asyik mengetik

Memperkenalkan Rambu-Rambu dalam Menggunakan Tekhnologi
Selain etika penulisan, hal penting yang saya sampaikan pada anak-anak yaitu mereka harus berhati-hati menggunakan tekhnologi, dalam hal ini internet. Waspada itu perlu. Oleh karenanya, saya katakan mereka harus memastikan tidak menuliskan identitas pribadi seperti alamat lengkap dan nomor telepon di dalam blog. Saya beritahukan pada mereka risiko jika mereka melakukannya.

Sarana untuk Memperkaya Wawasan
Saya menyadari, masih banyak kekurangan saya dalam mengajar. Karena itulah saya menggunakan tekhnologi untuk memperkaya wawasan saya, terutama yang bermanfaat dalam proses belajar mengajar. Kalau muridnya semangat belajar, gurunya harus lebih semangat, dong. Salah satu hal yang sering saya lakukan adalah memperhatikan blog teman-teman pengajar atau web pendidikan. Saya ‘curi’ ilmu dari mereka. Misalnya menerapkan games dalam proses pembelajaran. Saya sangat berterima kasih pada para guru yang mau berbagi strategi mengajar di blog. Itu sangat membantu saya.
 
Bersama murid-murid saya

Nah, itulah sedikit cerita saya tentang blog sebagai media pembelajaran. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat menunjang proses belajar mengajar di kelas menulis yang saya bimbing. Saya berharap, murid-murid saya dapat terus memanfaatkan TIK untuk kepentingan yang positif. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Guru Blogger Inspiratif 2014.

Sumber: FB Indonesia Terdidik TIK


Thursday, October 23, 2014

[Review] Cinta Mami untuk Ubii

Apa kondisi Ubii akan membuat cinta Mami berkurang? NO! Apa gangguan pendengaran Ubii akan membuat Mami malu? NO! Apa kondisi kesehatan Ubii akan membuat Mami berandai-andai mempunyai ansk yang 100% sehat? NO!
Ubii lihat, kan? Mami terlalu cinta sama Ubii. Nggak akan ada sesuatu yang bisa mengubah itu.



Kutipan dari buku Letters to Aubrey (halaman 43) yang ditulis oleh Mak Ges, demikian panggilan akrab Grace Melia ini mungkin cukup menggambarkan betapa besar cintanya pada Ubii. Cinta Ges pada Ubii adalah cinta seorang ibu pada anaknya. Tulus dan tak terhingga.

Sejak lahir Ges sudah merasakan ada yang berbeda dari Ubii. Ubii, panggilan sayang Aubrey Naiym Kayacita tidak langsung menangis saat melihat dunia. Ubii juga susah bernapas. Tak hanya itu, suara bising di jantung Ubii menandakan ada sesuatu dalam tubuh Ubii.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Ubii dinyatakan terkena profound hearing loss yang menyebabkan dia tak bereaksi terhadap suara. Penyebabnya adalah Ubii terinfeksi virus rubella semasa dalam kandungan. Oleh karena itu, Ubii mesti menjalani berbagai terapi untuk menstimulasi kemampuannya. Selain terapi, Ges juga aktif membuat permainan agar Ubii tetap aktif.

Ges dan Adit, suaminya mengalami masa sedih dan menyenangkan dalam mengasuh Ubii. Sedih ketika Ges harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain ketika melihat kondisi Ubii yang tidak seperti anak-anak seusianya. Seperti yang dikatakannya di halaman 134.

Jadi, ini yang dimaksud Tante Dion, “Sebenarnya, bukan anaknya yang harus dikuatkan, tetapi orangtuanya, terutama ibunya.”
You know what, Ubii? Ternyata melakukan itu semua tak mudah.

Namun ketika pelan-pelan Ubii mulai menunjukkan kemajuan yang berarti, tentu saja Ges merasa sangat senang. Ges mencatat berbagai hal yang bisa dilakukan oleh Ubii, seperti ketika Ubii mulai kuat duduk lebih lama, ketika Ubii tidak rewel diminumi obat, dan ketika Ubii sangat kooperatif menjalani syuting. Bagi Ges, sedikit kemajuan saja membuat dunianya berwarna.

Tak mudah bagi Ges dan Adit untuk melaluinya. Namun, Ubii memberikan banyak pengalaman berharga buat mereka. Berkat Ubii, mereka belajar mandiri. Berkat Ubii mereka belajar bersyukur. Berkat Ubii, mereka menjadi lebih kuat. Tak hanya itu, Ubii pulalah yang membuat Ges berani memulai langkahnya membuat sebuah komunitas bernama Rumah Ramah Rubella. Di dalam komunitas itu, Ges mengajak semua orangtua yang memiliki anak dengan congenital rubella syndrome seperti Ubii, dan juga anak-anak berkebutuhan khusus lainnya untuk saling berbagi.

Membaca buku ini seperti mendengar penuturan dari mulut Ges. Buku yang berasal dari postingan blog yang khusus dibuat untuk menuliskan perkembangan Ubii dari waktu ke waktu ini terasa apa adanya. Ges mengungkapkan semua ekspresinya dalam kalimat yang pas, tidak berlebihan ataupun sebaliknya, kurang ekspresif. Jujur, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Ges juga menunjukkan bahwa dia pun hanya manusia biasa yang terkadang merasa bingung dan tak berdaya. Namun, kekuatan Ges adalah dia mau bangkit dan kembali bersemangat demi putri tercintanya.

Salah satu bagian yang menyentuh yaitu pada ending buku ketika Adit, ikut menuliskan perasaannya untuk Ubii. Walaupun tidak selalu bersama Ubii, di dalam surat tersebut terasa sekali betapa cinta Adit pada Ubii sangat besar. Ubii-lah semangat Adit untuk berubah menjadi lebih baik.

Rasanya, buku yang dituturkan dengan apik ini akan lebih menarik jika disertai satu bab khusus berisi tips untuk pembaca. Dengan demikian, pembaca akan tahu bagaimana harus bersikap jika memiliki anak seperti Ubii. Sayangnya pula, di dalam buku ini ada beberapa bagian tulisan yang besar fontnya tidak seragam. Mungkin, ini bisa menjadi perhatian untuk diperbaiki jika kelak buku ini cetak ulang.

Namun, secara keseluruhan, buku ini enak dibaca dan bisa menjadi rekomendasi. Yang tak kalah penting, buku ini menggambarkan cinta Mami untuk Ubii. Tetap semangat ya Ges, Adit dan Ubii!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey

Infonya ada di sini




Monday, June 16, 2014

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!


Bobo Tahun XLI 8 Agustus 2013.
Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
“Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
“Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
“Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
“Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
“Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
“Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
“Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
“Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
“Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
“Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
“Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya.
Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
“Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
Tutu semakin cemas mendengarnya.
“Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.
Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya. [Fita Chakra]

Friday, May 16, 2014

[Belajar Menulis] Memanfaatkan Momen di Perjalanan

Pergi bersama anak-anak bisa menjadi salah satu momen yang bagus untuk melatih kemampuan mereka bercerita dan menulis. Peristiwa yang dialami, dilihat, dan dirasakan selama dalam perjalanan adalah “bahan adonan” untuk membuat cerita. Bagaimana caranya?  Berikut ini saya share beberapa hal yang sering saya lakukan bersama anak-anak di perjalanan.

Ajak anak-anak menggunakan panca indera dengan baik.
Tanyakan pada anak-anak, apa saja yang mereka lihat, dengar, cium, kecap, dan rasakan selama di perjalanan. Pancing dengan pertanyaan seperti ini, misalnya:
“Apa saja yang kalian lihat di bandara?”
“Bagaimana suasananya?”
“Cuaca di pantai seperti apa?”
“Apa bedanya rasa udang yang Adek makan di sini, dengan yang biasa dimakan?”
“Dari semua binatang yang dilihat, mana yang paling Kakak suka? Kenapa?”
Biarkan anak-anak menjawab pertanyaan tersebut dan dengarkan. Usahakan untuk tidak menggunakan pertanyaan yang bisa dijawab dengan “ya” dan “tidak”. Dengan demikian, anak-anak akan lebih bebas berekspresi sekaligus belajar bercerita.

Beri notes atau recorder untuk mencatat hasil pengamatan.
Jika anak-anak sudah bisa menulis bekali mereka dengan notes untuk mencatat hasil pengamatan mereka. Alternatif lain, gunakan recorder. Sekali waktu, biarkan mereka belajar menjadi “wartawan cilik”. Mintalah anak-anak bertanya pada pedagang buah yang ditemui, satpam, atau pengunjung tempat wisata. Pastinya akan seru. Selain belajar mengumpulkan bahan tulisan, mereka juga akan belajar untuk lebih berani bertanya.

Minta mereka menuliskan sebagai holiday project.
Sampai di rumah, minta anak-anak menuliskan hasil pengamatan mereka sebagai holiday project. Biarkan mereka melengkapinya dengan gambar. Lalu pajanglah hasil karya mereka pada papan selama beberapa waktu. Beri apresiasi pada anak berupa pujian serta kata-kata penyemangat.
Terakhir, boleh juga mengarahkan anak-anak menuliskan ceritanya di blog. Tentu saja, dengan pengawasan orangtua.


Selamat mencoba!

Thursday, May 1, 2014

[A Place to Remember Give Away] Di Suatu Siang

Di suatu siang,

Di tepi Laut Merah, aku duduk memandangi lautan. Warnanya yang biru cerah, ditingkahi riak kecil air membuatku merasa tenang. Udaranya sungguh panas. Hanya sesekali angin bertiup, membelai rasa. Silau matahari kuhalau menggunakan sunglasses, berharap keindahan lautan bisa tetap kunikmati berkatnya.

Dengan seksama kuamati burung-burung yang terbang rendah, lalu hinggap. Rupanya mereka sibuk mematuki makanan. Riuhnya seolah pesta besar. Aku mengulum senyum melihatnya, teringat ketiga anak-anakku yang bertingkah seperti mereka saat aku datang membawa makanan kesukaannya.


Di suatu siang,

Aku bersama dia, duduk bersisian. Suatu kegiatan yang hampir tak pernah kami lakukan semenjak rumah kami ramai dengan celoteh anak-anak. Diskusi kami tak pernah bisa serius di rumah. Namun, kali itu, kami bicara banyak hal.

Tentang banyak perubahan yang akan kami lakukan sepulang umroh ini. Tentang keimanan yang mesti kami tingkatkan terus. Tentang cara mendidik anak-anak yang senantiasa harus kami perbaiki. Semuanya bermuara pada kebaikan, yang semoga saja bisa terus kami lakukan. Siang itu, kami berjanji akan mengingatkan satu sama lain.



Di suatu siang,

Aku dan dia, bicara dari hati ke hati. Sesuatu yang menenangkan, membuat hatiku terasa hangat. Aku merindukan perbincangan ini. Tapi rupanya, tak selalu semua harus dikatakan. Dalam diam, hati kami pun berbicara. Maka, setelah lelah berbicara, yang kami lakukan hanyalah memandang ke depan.

Lalu, dia ikut tertarik melihat tingkah burung-burung kecil itu. Disodorkannya makanan di telapak tangannya. Sayangnya, karena terlalu tiba-tiba bergerak, burung-burung itu malah berterbangan. Dan, aku tertawa, menertawakan kekecewaannya.


Di suatu siang,

Tak lama kemudian, adzan memanggil dari dalam masjid. Baru kutahu dari ustadz yang membimbing kami, nama asli masjid itu adalah Masjid Ar Rahman. Tapi kami mengenalnya sebagai Masjid Terapung atau Floating Mosque. Letaknya yang berada tepat di tepian laut membuatnya seakan melayang. Masjid ini menjadi persinggahan terakhir kami sebelum pulang ke tanah air melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.


Di suatu siang,

Damai memelukku. Hanya satu harap tersimpan. Kelak, kan kembali bersama ketiga buah hati kami.


Tulisan ini diikutsertakan dalam A Place Remember Give Away dari Mak Nurul Noe.




Monday, April 28, 2014

[Kelas Inspirasi] Sehari yang Menginspirasi

Ingin dikenang sebagai apakah engkau kelak?
Pandai, kaya dan terpandang. Atau sederhana, pengasih dan suka berbagi?

Ingin tampak seperti apa engkau di mata-Nya?
Banyak menerima. Atau banyak memberi?

Saya tidak tahu kapan tepatnya kalimat itu berdengung di telinga saya. Yang saya sadari,
selepas umroh awal Januari lalu dengungnya menjadi sangat mengganggu. Mungkin, salah satu doa yang saya panjatkan yang menjadi penyebabnya. Waktu itu, saya sudah siapkan banyak doa dari tanah air. Tapi di depan Baitullah, lidah saya mendadak kelu. Malu hati ini kalau banyak meminta hal duniawi. Malahan, saya menangis sejadinya mengingat kesalahan-kesalahan saya. Maka, saya ganti doa-doa saya. Salah satunya, menjadi permohonan agar ilmu saya bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang.

Rupanya, Allah mendengar doa saya. Tak heran ada beberapa kesempatan berbagi ilmu yang muncul kemudian. Salah satunya datang dari Kelas Inspirasi. Saya begitu excited menanti datangnya Hari Inspirasi ini. Selain karena ini adalah pengalaman pertama saya, saya juga sudah membayangkan serunya mengajar. Apalagi, di saat briefing, saya sudah bertemu beberapa teman yang sekelompok dengan saya. Mereka datang dari berbagai
profesi, usia dan minat. Bahkan ada yang usianya hampir mendekati usia Bapak saya, lho. Hebat.

Walau baru kenal, kami bisa kompak berbagi tugas dan membicarakan persiapan kelompok kami. Saya rasa, hanya satu yang merekatkan kami, yaitu keinginan berbagi yang demikian
kuat. Tak hentinya saya bersyukur bertemu dengan mereka, karena aura positif seakan menular. Saya bahkan bisa merasakan ketulusan hati mereka.

Kamis, 24 April 2014 selepas sholat subuh, saya berangkat. Tim kami terdiri dari 9 orang relawan inspirator, 3 fotografer dan seorang fasilitator berjanji tiba pukul 06.00 di
SD Paseban 02, sebuah sekolah di kawasan Salemba, tepatnya di tepi lintasan kereta. Bisa dibayangkan riuhnya suasana sekolah, karena hampir setiap kali ada kereta yang melintas. Kami sengaja datang pagi karena jam belajar dimulai pukul 06.30. Jam belajar yang tergolong pagi itu rupanya disebabkan oleh keterbatasan ruang kelas. Kelas 1 dan 2 harus bergantian memakai sebuah ruang karena jumlah ruang yang bisa dipakai hanya 5 ruang kelas.
Beberapa kegiatan kami. Foto: Tim fotografer
Tiba di gedung sekolah, saya dan teman-teman langsung naik ke lantai 3. Gedung 3 lantai ini
digunakan bersama dua sekolah lainnya yaitu SD Paseban 01 dan 03. Kebetulan SD Paseban 02 mendapat jatah lantai 3. Entah mengapa dada saya berdegup kencang. Padahal, sehari-hari saya mengajar anak SD. Mungkin, karena kali ini yang bakal menjadi murid saya punya latar belakang yang berbeda.

Tak sempat berlama-lama merasakan ketegangan, saya mesti masuk kelas. Kelas pertama yang mesti saya masuki adalah kelas 6. Dari awal saya sapa kelas ini tampak tenang. Dengan mudah saya mendapatkan perhatian mereka. Di kelas ini, saya bisa menjelaskan banyak hal tentang profesi penulis termasuk alur penerbitan buku. Senangnya lagi, anak-anak bisa menikmati permainan merangkai kalimat menjadi sebuah cerita yang saya siapkan. Satu jam pun berlalu tanpa terasa.

Asyik merangkai kalimat menjadi sebuah cerita. Foto: dokumen pribadi
Selanjutnya saya masuk kelas 1 pada jam pelajaran ketiga. Kelas 1 masuk sampai pukul 09.30. Artinya waktu saya hanya 35 menit. Waktu yang sangat singkat dibandingkan waktu untuk kelas 6. Suasana kelas 1 ramai luar biasa waktu saya masuk. Mereka bahkan
ada yang masih makan.

Butuh kesabaran untuk mendapatkan perhatian mereka. Begitu saya bilang, "Siapa mau
didongengin?" Semua serempak bilang, "Sayaaa!" 

Mendengarnya membuat saya bersemangat. Wah, sepertinya ini akan berjalan sesuai rencana,pikir saya. Sayangnya, baru beberapa menit mendengar cerita konsentrasi mendadak buyar ketika salah seorang anak mengambil buku saya yang lain, "Kakak, aku baca ini yaa!"
Waktu masih manis-manis mendengar cerita. Foto: Tim fotografer
Wuss... mendadak teman-temannya mengikuti aksi anak ini. Mereka pun sibuk membaca sendiri. Aduduh... ampun dah! Bisa dibayangkan yang terjadi setelahnya. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Ada yang berebut taplak meja. Ada yang berebut buku.Ada yang naik meja untuk mengintip kereta yang melintas dari kereta. Ada yang ngumpet di bawah meja. Superkacau!

Panik. 
Tapi saya berusaha mengingat-ingat yang harus dilakukan untuk menertibkan suasana. Saya
coba berhai-halo, minta mereka bertepuk tangan jika mendengar suara saya, sampai meminta dua orang yang bertengkar untuk bergantian membaca buku di depan. Berhasil, namun hanya dalam... ehm hitungan menit. Selanjutnya, tebak sendiri deh. Nightmare hehehe...

Menit-menit berikutnya semangat saya menguap. Tetap saja... sebagian besar berlari keliling kelas. Parahnya, suara saya mendadak hilang karena kebanyakan bicara. Puncak kepanikan terjadi ketika salah seorang anak berteriak, "Kakaaak, ada yang
pingsan!" 

Saya langsung berlari mendekat. Seorang anak perempuan terbaring di antara dua kursi. Saya guncang-guncang tubuhnya menastikan dia pingsan atau
tidur. 

"Kamu kenapa? Ngantuk?"tanya saya. 
Jangan tanya perasaan saya saat itu. Saya pikir anak ini dipukul temannya karena sebelumnya mereka bertengkar. Tahu-tahu gadis kecil itu membuka mata sambil tertawa. Hayaah, rupanya dia menipu saya! Hahaha...

Bersama kelas 1. Foto: Tim fotografer
Setelah sesi yang menguras tenaga itu, giliran saya masuk kelas 3. Jujur saja, saya sedikit
down setelah jumpalitan mengatasi kelas 1 yang sepertinya kelebihan tenaga. Maka sebelumnya saya sempat bertanya-tanya setelah anak pura-pura pingsan, jebakan Batman macam apa yang akan saya temui?

Meneruskan cerita. Foto: dokumentasi pribadi
Well, rupanya kelas 3 masih lebih ramah dibandingkan kelas 1. Mereka bisa meneruskan cerita yang saya tulis. Meski demikian saya masih merasa kurang puas karena belum semua materi tersampaikan namun waktu terlanjur habis, hiks. Lagipula, saya terlanjur kehilangan sebagian besar semangat saya. Ternyata, butuh lebih dari kesabaran untuk mengajar anak-anak.

Di akhir jam pelajaran bersama teman sekelompok, kami mengadakan penutupan. Masing-masing anak menempelkan cita-citanya di pohon cita-cita. Lalu kami bersama-sama menonton video kegiatan kami selama sehari itu. Senang rasanya melihat wajah bahagia mereka.

Setelah sesi foto bersama tibalah saat berpisah. Tanpa saya duga mereja bersalaman dan
mencium tangan kami semua. Mendadak hati saya menghangat. Saat salah seorang bertanya, "Kakak akan datang lagi kan?" Air mata mendesak-desak keluar dari sudut mata. Mati-matian saya berusaha menahannya, semata-mata supaya tidak menangis di depan mereka.

Terus terang, ada rasa tak puas dengan cara mengajar saya. Tapi saya berjanji dalam hati, suatu saat akan lebih baik. Dan untuk itu saya rela belajar terus. 

Foto bersama sebelum pulang. Foto: Tim fotografer
Hari itu, saya mungkin hanya membagi sedikit. Tapi percayalah, tak ada yang terasa hilang dari saya selain meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan keringat. Justru, yang saya peroleh jauh lebih banyak. Rasa bahagia yang tak terlupa di suatu hari yang menginspirasi. Kelak, ini akan jadi kenangan yang indah. 

Supaya lebih tergambar suasananya, silakan nikmati video ini ya. Mungkin, setelah ini, ada yang tergerak menjadi relawan kelas inspirasi mendatang. Cek di web Kelas Inspirasi, ya. 




Terima kasih untuk,
Allah Swt, yang memberi saya kesempatan belajar lagi.
Fasilitator kelompok 22 yang mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengarkan kami: Mbak Luluk.
Teman-teman relawan inspirator. You rock!: Elisa, Ibu Dyah, Ibu Nana, Ibu Elda, Aisha, Riri, Agi, dan Cikna.
Teman-teman fotografer dan videografer yang mengabadikan momen istimewa ini dalam gambar yang cantik: Bongky, Coky, dan Yosi.