Tuesday, December 23, 2014

[Percikan] Magang

Dimuat di Majalah Gadis No. 30. 7-17 November 2014

“Aku kesal sama Mama,” Andin mengadu pada Erika.
Erika urung menyuap pancake di hadapannya. Sore itu, mereka berdua sedang makan di sebuah kafe kesayangan mereka. Pantas saja wajah Andin seharian ini seperti baju yang belum disterika. Kusut.
“Masak, Mama menyuruhku magang di kedai rotinya selama liburan,” lanjut Andin tanpa diminta.
Erika mengangkat alis. Jadi itu yang bikin Andin kesal? Erika mulai menangkap maksud Andin.
“Kamu kan tahu yang ingin kulakukan liburan ini. Aku ingin jalan-jalan. Backpaking juga boleh. Nggak perlu mahal-mahal,” ujar Andin. Andin memegang kuat-kuat garpu dan pisaunya, menekannya pada pancake seolah-olah pancake itu steak liat.
Erika hampir tersedak karena geli.
“Lalu maumu bagaimana? Kalau mamamu nggak mengijinkan, nggak ada gunanya memaksa. Mau nekad? Jangan deh, restu orangtua itu penting,” Erika mengingatkan. Tingkah Andin memang terkadang seperti anak kecil. Tapi justru karena itu mereka cocok. Erika lebih mirip kakak ketimbang teman bagi Andin.
“Backpacking nggak butuh biaya banyak kali, Rik. Aku yakin Mama bisa kasih uang. Tapi Mama bilang, aku harus magang dulu di kedainya. Nanti Mama kasih gaji. Nah, gaji itu bisa aku pakai untuk jalan-jalan,” kata Andin panjang lebar.
“Tuh, mamamu bukan nggak mau ngasih kan. Hanya saja tidak mau kasih ikannya. Kamu harus mengail dulu. Lalu apa masalahnya? Bantu di kedai bukan masalah besar,” Erika mendorong Andin.
Mata Andin melotot mendengarnya.
What? Bantu Mama di kedai? Mau ditaruh di mana mukaku. Kedai Mama sering dijadikan tempat nongkrong Rendy dan teman-temannya, tahu,” Andin hampir menjerit.
“Stt… nggak usah teriak gitu. Aku masih dengar,” sahut Erika. “Justru itu, kamu bisa berteman lebih dekat dengan Rendy kan. Lihat sisi positifnya, dong.”
Andin menggeleng kuat-kuat.
“No… no…” katanya. “Rendy anak orang kaya. Dia pasti langsung ilfil lihat aku, jadi pelayan kedai,” Andin mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya centil.
Sekarang gantian Erika yang menggeleng-gelengkan kepala.
“Terserah kamulah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu nggak butuh saranku, buat apa kita ke sini. Mending aku tidur di rumah,” protesnya.
Andin diam saja. Dia kembali sibuk dengan pancakenya. Tiba-tiba…
“Permisi, ada tambahan, Kak?”
Erika dan Andin mendongak. Seorang cowok berbadan atletis, berkulit putih sedang tersenyum manis pada mereka. Oh My God, Rendy! Iya, Rendy yang tadi mereka bicarakan. Kok dia ada di sini? Andin tak habis pikir.
“Oh… eh… “ Andin tergagap. “Kamu…,” katanya.
“Iya, aku,” Rendy kembali memamerkan deretan gigi-giginya yang putih.
“Kok, kamu ada di sini?” tanya Andin bingung. Beberapa kali dia dan Erika datang ke kafe itu, tidak pernah sekalipun bertemu Rendy. Lagipula, buat apa dia kerja?
“Kebetulan, aku sedang bantu orangtuaku. Aku magang di sini selama liburan. Ya, hitung-hitung latihan kerja. Kalau mau jadi pengusaha, harus tahu rasanya jadi karyawan dulu, kata mereka,” Rendy menerangkan. Sama sekali tak tampak rasa malu maupun gugup di wajahnya.
Erika menahan tawa. Sementara, wajah Andin mendadak berubah kemerahan. Rendy si cakep, yang kabarnya anak orang kaya itu saja mau magang jadi pelayan. Sedangkan dia… oh, tiba-tiba Andin ingin menghilang dari bumi ini saking malunya!
“Jadi, kalian mau pesan apa lagi?” tanya Rendy lagi.
Andin cepat-cepat menggeleng.
“Baiklah. Panggil aku saja kalau kalian mau pesan lagi ya,” ujar Rendy ramah. “Oya, soal magang. Bilang sama mamamu, kalau boleh, aku juga mau magang di kedainya. Masakan mamamu enak. Aku juga ingin belajar masak,” ucap Rendy sambil mengedipkan mata.

Wajah Andin terasa panas, nggak menyangka Rendy mendengar percakapan mereka. Sementara itu Erika yang ada di depannya menertawainya sampai puas. Kali ini, rasanya Andin ingin cepat-cepat pulang! [Fita Chakra]

Buat yang ingin kirim ke rubrik Percikan, ini ketentuannya:
  • Panjang tulisan 2 halaman folio.
  • Tema seputar dunia remaja.
  • Kirim melalui e-mail ke GADIS.Redaksi@feminagroup.com
  • Jangan lupa tulis no. rek dan fotocopy buku tabungan di halaman depan.

Wednesday, November 12, 2014

Peringatan Bulan Bahasa di SD Putra 1 Kalimalang

Selasa, 28 Oktober 2014, saya datang ke SD Putra 1 Kalimalang untuk memenuhi undangan dari Komite Sekolah. Bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa, mereka mengadakan kegiatan workshop menulis dan mendongeng. Pukul 7 pagi, saya sudah sampai di sana. 

Tiba di tempat acara, saya menemui Mbak Ista (yang tadinya sempat saya panggil "Bu" di telepon. Rupanya usianya sebaya saya hehehe) sebagai panitia pelaksana. Tak lama, kakak-kakak pengisi acara dongeng dari Domain dan Bu Umi, salah seorang dari Komite Sekolah yang menggagas acara ini.

Bersama Kepala Sekolah, guru, dan Komite Sekolah. Foto: Dok. Pribadi

Tepat pukul 8 pagi, saya masuk ke dalam ruangan acara. Acara menulis diikuti oleh anak kelas 4-6 SD. Masing-masing tingkat terdiri dari beberapa kelas. Bisa dibayangkan jumlahnya mencapai ratusan anak! Dan mereka sangat riuh! Ini membuat saya bengong sejenak, lalu cepat-cepat putar otak mencari cara menenangkan mereka.

Friday, October 31, 2014

Blog, Pintu untuk Ke Mana Saja

Kebetulan, saya mengajar ekskul menulis di sebuah sekolah. Kami belajar di ruang ICT. Anak-anak bisa mengakses internet melalui komputer masing-masing. Saya pun memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan blog pada anak didik saya.

Awalnya, saya meminta mereka membuka blog saya supaya bisa melihat lebih banyak contoh-contoh cerpen yang pernah saya tulis. Lama kelamaan, ada yang bertanya, “Bu, gimana sih, cara bikin blog seperti ini?” Tentu saja, rupanya pancingan saya kena juga hehehe. Untuk anak-anak SD, saya baru jelaskan secara garis besar karena keterbatasan waktu mengajar (saya mengajar hanya 1,5 jam). Sedangkan untuk anak-anak SMP, saya minta mereka mencoba sendiri di rumah.

Tampilan blog saya
Bagi saya, banyak yang bisa mereka peroleh dari blog. Pertama, anak-anak akan tahu, internet bukan sekadar bisa dipakai untuk socmed. Di blog, mereka bisa belajar menulis. Kedua, mereka juga belajar melek tekhnologi, mengutak-atik blog butuh ketrampilan, lho. Juga kesabaran dan ketelatenan tentu saja. Ketiga, melalui blog, mereka bisa belajar apa saja. Saya berharap banyak hal positif yang mereka bisa ambil dari blog, karena itu saya juga memberikan ‘rambu-rambu’ yang berkaitan dengan penggunaan blog.
Suasana belajar mengajar di ruang ICT
Lalu apa kaitan blog dengan pintu ke mana saja seperti yang saya tulis di awal tulisan saya ini? Bagi saya, blog ini mirip pintu Doraemon, yang bisa membuat saya mengajak anak-anak didik saya ‘terbang’ ke mana saja dan ke masa kapan saja. Maksudnya bagaimana? Begini, lho.

Pintu Masa Lalu : Belajar dari Karya Orang Lain
“Bu, aku mau lihat cerpen-cerpen Ibu yang pernah dimuat. Boleh nggak?” tanya salah satu muridku dengan mata penuh harap.
“Tentu saja boleh,” jawabku.
“Asyik. Minggu depan Ibu bawa fotocopiannya kan?” ujarnya penuh semangat.
Aku tersenyum, lalu berkata, “Kamu buka blog Ibu saja. Di sana banyak cerpen-cerpen Ibu. Sini, Ibu ajari.”

Saya lalu memberitahukan pada anak-anak alamat blog saya dan tag yang saya pakai untuk cerpen-cerpen anak yang saya tulis. Saya memang sengaja mengumpulkan cerpen-cerpen itu ke dalam blog untuk dokumentasi. Sekaligus supaya orang lain yang membaca bisa mengambil manfaatnya. Bukan bermaksud pamer, saya tahu banyak teman-teman penulis yang mungkin karyanya jauh lebih hebat dibanding saya.

Saya sendiri pun banyak belajar dari karya-karya mereka yang dipajang di blog. Sekali waktu, saya juga mengajak mereka berkunjung ke blog penulis lainnya, supaya mereka bisa membaca karya orang lain selain saya. Saya memilihkan blog yang tulisannya sesuai dengan usia mereka. Misalnya, blog para penulis cilik (seperti, blog milik Laksita Judith)

Bayangkan kalau saya harus fotocopy semua karya saya untuk dibagikan pada murid-murid saya. Jelas lebih merepotkan dan membutuhkan banyak kertas. Di sekolah tempat saya mengajar bahkan midterm progress report pun dikirim melalui e-mail ke orangtua murid untuk menghemat kertas. Saya sengaja mengurangi penggunaan kertas untuk mendukung program sekolah ramah lingkungan.

Contoh cerita yang saya berikan pada anak-anak
Kembali lagi pada kegiatan kami tersebut. Anak-anak yang belum puas membaca cerpen-cerpen saya melalui blog bisa meneruskannya di rumah. Terkadang, saya minta mereka membaca salah satu judul lalu menyebutkan poin-poin penting dalam cerpen itu, seperti tokoh dan karakternya, settingnya, dan konfliknya. Tanpa sadar, mereka telah belajar memahami materi yang saya berikan sebelumnya. Manfaat lain dari kegiatan ini, anak-anak menjadi lebih bersemangat menulis. Mereka jadi tahu, anak-anak seusia mereka pun bisa menulis cerita dengan baik.

“Aku ingin bisa bikin cerita seperti itu, Bu!” kata mereka.
“Kamu pasti bisa, Nak,” jawab saya sambil tersenyum.

Pintu Masa Kini : Mencari Ilmu dan Penyemangat
“Bu, akau kalau menulis, setiap habis dialog pakai ‘katanya’ terus,” lapor salah seorang muridku.
“Coba pakai kata lain. Kira-kira bisa tidak?” pancingku.
“Misalnya apa, Bu?” dia balik bertanya.
Belajar menulis komik
Saya pun membuka blog. Kebetulan saya pernah menuliskannya, setelah saya memberikan les privat pada seorang anak. Ada beberapa postingan di dalam blog saya yang mengulas tips menulis cerita untuk anak. Salah satunya ada di sini. Saya pun membagikannya untuk murid-murid saya.


Melihat kegiatan penulis cilik
Selain tips, juga menunjukkan beberapa postingan tentang kegiatan para penulis cilik. Anak-anak biasanya lebih termotivasi melihat teman sebaya mereka. Salah satu yang mereka baca adalah postingan tentang kegiatan putri saya ini. Saat mereka down karena naskahnya tidak lolos lomba atau tidak berhasil menyelesaikan ceritanya, saya menyemangati mereka melalui blog. Alhamdulillah, resep ini lumayan berhasil.

Pintu Masa Depan : Merancang Impian
“Sejak kecil aku ingin jadi penulis, Bu. Tapi aku nggak pernah bilang begitu kalau ditanya orang. Malu. Baru sekarang ini aku berani bilang ingin jadi penulis,” ujar Maryam, salah satu murid saya yang sudah duduk di kelas 9.
“Kenapa kamu malu?” tanyaku.
“Ya… karena setiap kali aku bilang ingin jadi penulis, orang yang bertanya balik bertanya, ‘Kenapa ingin jadi penulis? Kenapa nggak jadi dokter saja?’ Begitu, Bu,” dia pun mengaku.

Saya menghela napas. Saya akui, masih banyak orang yang kurang paham pekerjaan penulis. Mereka mungkin berpikir, menulis bukan pekerjaan bergengsi ataupun mendatangkan materi berlimpah. Namun saya meyakini, jika seseorang melakukan pekerjaan yang dicintai, sesuai passion-nya, maka materi dalam bentuk apapun akan datang sendiri.

Supaya Maryam bisa dengan bangga menyebutkan profesi penulis sebagai cita-citanya, saya pun memberikan gambaran pekerjaan penulis. Saya ajak dia melihat-melihat blog saya. Untung saja saya termasuk rajin mendokumentasikan kegiatan seperti book launching, talkshow, promo buku di radio atau televisi, sesi berbagi ilmu melalui workshop dan sebagainya. Saya juga katakana penulis bukan hanya menulis buku atau cerita, tapi bisa jadi penulis skenario, penulis content web, blogger, editor, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Maryam terlihat tertarik waktu saya ceritakan tentang profesi blogger. Saya juga bilang, kelak, profesi ini akan semakin diminati dan dihargai. Saya juga tunjukkan beberapa job review yang pernah saya tulis, supaya bisa menjadi penyemangatnya.

Apa katanya setelah mendengar cerita saya?
“Sekarang, aku sudah tahu penulis bisa bekerja di banyak bidang. Kalau ditanya orang, aku akan bilang bahwa aku ingin jadi penulis kelak.”
“Insya Allah, Maryam akan jadi penulis yang hebat. Nggak ada yang salah dengan cita-citamu, selama kamu yakin itu bermanfaat dan baik di mata-Nya,” balasku.

Ya, mungkin saya tidak setiap hari bersama anak didik saya ini. Waktu mengajar ekskul menulis hanya seminggu sekali. Tapi saya merasa bertanggung jawab untuk mengenalkan sebanyak mungkin tentang profesi penulis karena mereka belajar menulis di kelas saya.

Sebagai guru, terutama karena saya memperkenalkan blog pada murid-murid saya, ada beberapa hal penting yang saya pegang dalam penggunaan TIK ini, antara lain:

Menulis Konten Positif
Karena saya sudah memperkenalkan blog saya pada anak-anak, saya punya tanggung jawab moral. Guru adalah salah satu role model anak-anak. Jadi, mengecek dulu konten sebelum posting hukumnya wajib. Dengan memberikan konten yang positif untuk anak-anak saya berharap anak-anak terbiasa melakukan hal yang sama jika kelak mereka menulis, di media apapun.

Menyampaikan Etika Penulisan
Saya juga mengajarkan pada anak-anak bahwa ada etika menulis. Terkadang, saking terinspirasinya mereka pada suatu karya, tanpa sadar mereka menulis hal yang sama persis. Penting bagi saya untuk mengingatkan pada mereka ketika ini terjadi. Blog bagi saya merupakan salah satu media pembelajaran yang bisa saya pakai untuk memberikan contoh-contoh etika penulisan. Misalnya, ketika saya mengutip sesuatu, saya akan berikan sumbernya; ketika saya mengambil gambar dari blog orang lain saya berikan linknya dan seterusnya.
Saat mereka asyik mengetik

Memperkenalkan Rambu-Rambu dalam Menggunakan Tekhnologi
Selain etika penulisan, hal penting yang saya sampaikan pada anak-anak yaitu mereka harus berhati-hati menggunakan tekhnologi, dalam hal ini internet. Waspada itu perlu. Oleh karenanya, saya katakan mereka harus memastikan tidak menuliskan identitas pribadi seperti alamat lengkap dan nomor telepon di dalam blog. Saya beritahukan pada mereka risiko jika mereka melakukannya.

Sarana untuk Memperkaya Wawasan
Saya menyadari, masih banyak kekurangan saya dalam mengajar. Karena itulah saya menggunakan tekhnologi untuk memperkaya wawasan saya, terutama yang bermanfaat dalam proses belajar mengajar. Kalau muridnya semangat belajar, gurunya harus lebih semangat, dong. Salah satu hal yang sering saya lakukan adalah memperhatikan blog teman-teman pengajar atau web pendidikan. Saya ‘curi’ ilmu dari mereka. Misalnya menerapkan games dalam proses pembelajaran. Saya sangat berterima kasih pada para guru yang mau berbagi strategi mengajar di blog. Itu sangat membantu saya.
 
Bersama murid-murid saya

Nah, itulah sedikit cerita saya tentang blog sebagai media pembelajaran. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sangat menunjang proses belajar mengajar di kelas menulis yang saya bimbing. Saya berharap, murid-murid saya dapat terus memanfaatkan TIK untuk kepentingan yang positif. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Guru Blogger Inspiratif 2014.

Sumber: FB Indonesia Terdidik TIK


Thursday, October 23, 2014

[Review] Cinta Mami untuk Ubii

Apa kondisi Ubii akan membuat cinta Mami berkurang? NO! Apa gangguan pendengaran Ubii akan membuat Mami malu? NO! Apa kondisi kesehatan Ubii akan membuat Mami berandai-andai mempunyai ansk yang 100% sehat? NO!
Ubii lihat, kan? Mami terlalu cinta sama Ubii. Nggak akan ada sesuatu yang bisa mengubah itu.



Kutipan dari buku Letters to Aubrey (halaman 43) yang ditulis oleh Mak Ges, demikian panggilan akrab Grace Melia ini mungkin cukup menggambarkan betapa besar cintanya pada Ubii. Cinta Ges pada Ubii adalah cinta seorang ibu pada anaknya. Tulus dan tak terhingga.

Sejak lahir Ges sudah merasakan ada yang berbeda dari Ubii. Ubii, panggilan sayang Aubrey Naiym Kayacita tidak langsung menangis saat melihat dunia. Ubii juga susah bernapas. Tak hanya itu, suara bising di jantung Ubii menandakan ada sesuatu dalam tubuh Ubii.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Ubii dinyatakan terkena profound hearing loss yang menyebabkan dia tak bereaksi terhadap suara. Penyebabnya adalah Ubii terinfeksi virus rubella semasa dalam kandungan. Oleh karena itu, Ubii mesti menjalani berbagai terapi untuk menstimulasi kemampuannya. Selain terapi, Ges juga aktif membuat permainan agar Ubii tetap aktif.

Ges dan Adit, suaminya mengalami masa sedih dan menyenangkan dalam mengasuh Ubii. Sedih ketika Ges harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain ketika melihat kondisi Ubii yang tidak seperti anak-anak seusianya. Seperti yang dikatakannya di halaman 134.

Jadi, ini yang dimaksud Tante Dion, “Sebenarnya, bukan anaknya yang harus dikuatkan, tetapi orangtuanya, terutama ibunya.”
You know what, Ubii? Ternyata melakukan itu semua tak mudah.

Namun ketika pelan-pelan Ubii mulai menunjukkan kemajuan yang berarti, tentu saja Ges merasa sangat senang. Ges mencatat berbagai hal yang bisa dilakukan oleh Ubii, seperti ketika Ubii mulai kuat duduk lebih lama, ketika Ubii tidak rewel diminumi obat, dan ketika Ubii sangat kooperatif menjalani syuting. Bagi Ges, sedikit kemajuan saja membuat dunianya berwarna.

Tak mudah bagi Ges dan Adit untuk melaluinya. Namun, Ubii memberikan banyak pengalaman berharga buat mereka. Berkat Ubii, mereka belajar mandiri. Berkat Ubii mereka belajar bersyukur. Berkat Ubii, mereka menjadi lebih kuat. Tak hanya itu, Ubii pulalah yang membuat Ges berani memulai langkahnya membuat sebuah komunitas bernama Rumah Ramah Rubella. Di dalam komunitas itu, Ges mengajak semua orangtua yang memiliki anak dengan congenital rubella syndrome seperti Ubii, dan juga anak-anak berkebutuhan khusus lainnya untuk saling berbagi.

Membaca buku ini seperti mendengar penuturan dari mulut Ges. Buku yang berasal dari postingan blog yang khusus dibuat untuk menuliskan perkembangan Ubii dari waktu ke waktu ini terasa apa adanya. Ges mengungkapkan semua ekspresinya dalam kalimat yang pas, tidak berlebihan ataupun sebaliknya, kurang ekspresif. Jujur, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Ges juga menunjukkan bahwa dia pun hanya manusia biasa yang terkadang merasa bingung dan tak berdaya. Namun, kekuatan Ges adalah dia mau bangkit dan kembali bersemangat demi putri tercintanya.

Salah satu bagian yang menyentuh yaitu pada ending buku ketika Adit, ikut menuliskan perasaannya untuk Ubii. Walaupun tidak selalu bersama Ubii, di dalam surat tersebut terasa sekali betapa cinta Adit pada Ubii sangat besar. Ubii-lah semangat Adit untuk berubah menjadi lebih baik.

Rasanya, buku yang dituturkan dengan apik ini akan lebih menarik jika disertai satu bab khusus berisi tips untuk pembaca. Dengan demikian, pembaca akan tahu bagaimana harus bersikap jika memiliki anak seperti Ubii. Sayangnya pula, di dalam buku ini ada beberapa bagian tulisan yang besar fontnya tidak seragam. Mungkin, ini bisa menjadi perhatian untuk diperbaiki jika kelak buku ini cetak ulang.

Namun, secara keseluruhan, buku ini enak dibaca dan bisa menjadi rekomendasi. Yang tak kalah penting, buku ini menggambarkan cinta Mami untuk Ubii. Tetap semangat ya Ges, Adit dan Ubii!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey

Infonya ada di sini




Wednesday, October 22, 2014

Membuat Komik

Kebetulan, Keisya dan adik-adiknya suka menggambar. Salah satu yang sering mereka buat yaitu komik. Untuk Keisya, karena dia sudah bisa menulis, dia membuat dialognya sendiri. Kalau si kembar, tentu saja masih dibantu. 

Supaya bisa mengarahkan anak-anak untuk menulis cerita dalam bentuk komik, saya pun browsing. Untuk urusan menggambar, saya jelas tidak bisa hehehe. Tapi untuk menulis, insya Allah bisa dipelajari karena pada dasarnya saya suka menulis. Dulu, saya pernah menulis untuk buku komik. Siapa tahu suatu saat saya menulis komik lagi kan? Nggak ada salahnya saya ikut belajar.

Jadi, apa yang saya temukan saat browsing? 

Monday, August 11, 2014

Sharing Session di SD Hj. Isriati Semarang

Acara ini sebenarnya merupakan acara yang tertunda. Awalnya, saya dan Keisya dihubungi oleh bude-nya Keisya jelang liburan sekolah lalu untuk berbagi tentang menulis di sekolah putra-putrinya. Berhubung jadwal kedatangan kami ke Semarang bertepatan dengan liburan di sekolah tersebut maka acara ditunda, menunggu saat yang tepat. Akhirnya kesempatan itu datang Jumat, 8 Agustus 2014, saat kami datang lagi ke Semarang.

Pukul 09.00 kami mulai acara berjudul Let's Write Your Story. Acara akan berlangsung dua sesi di ICP (International Class Program) kelas 4. Salahnya saya, di ICP seharusnya semua materi disampaikan dalam Bahasa Inggris, kecuali pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Sementara saya menyiapkan materi dalam Bahasa Indonesia. Untung saja, hal ini tak mengurangi kecerian dan antusiasme anak-anak.

Thursday, July 24, 2014

Jika Aku Memakai Sepatumu

Katamu, "Gambarku bagus kan, Bun," sambil menunjukkan dinding bercoretkan krayon.
Kataku, "Aduh, jadi kotor deh dindingnya. Besok lagi, menggambar di kertas ya, Dek."
Esoknya ketika kamu menggambar di kertas dan menempelkannya di dinding, aku memberimu peraturan baru, "Menempel gambar hanya boleh di kamar masing-masing."

Katamu, "Bunda, kapan selesai kerjanya?"
Kataku, "Sebentar lagi. Main saja dulu." Kuminta kamu menunggu tanpa mengalihkan mataku dari huruf-huruf di layar monitor.
Saat aku selesai bekerja, kamu sudah tertidur karena tak kuasa menungguku.

Katamu, "Beneran aku sudah mandi dan gosok gigi. Aku nggak bohong."
Kataku, "Kalau sudah gosok gigi harusnya giginya sudah bersih. Gosok gigi, ya."
Sampai di kamar mandi, aku menemukan sikat gigi yang basah, pertanda usai digunakan.

Katamu, "Aku nggak mau sekolah. Temanku mengejekku. Katanya aku kecil."
Kataku, "Kakak harus berani. Ayo, sekolah."
Setelah kamu berangkat, aku menemukan kertas bertuliskan ketakutanmu pada temanmu itu karena dia tak hanya mengejek, tapi juga memaksamu membelikan makanan dan mengerjakan tugas.

Jika aku memakai sepatumu, aku akan paham kamu butuh dihargai. Bukan dikritik.
Jika aku memakai sepatumu, aku akan mengerti kamu ingin aku sungguh-sungguh menemanimu bermain. Bukan sekadar berada di sampingnya sementara pikiranku melayang pada pekerjaan.
Jika aku memakai sepatumu, aku akan belajar memercayaimu. Bukannya mencurigaimu terus.
Jika aku memakai sepatumu, aku akan mendengarkan dengan hati. Aku akan bicara dari hati ke hati untuk memahami ketakutanmu. Bukan hanya mengharuskanmu melakukan mauku.

Anakku, kurasa aku harus belajar banyak darimu.
Setiap saat.
Setiap waktu.
Sampai kelak kau dewasa, jika Dia memperkenankan dan memanjangkan usia kita.

Anakku, maafkan aku jika terlalu banyak meminta.
Terlalu banyak menyalahkan.
Terlalu banyak mengkritik.
Terlalu banyak mengabaikanmu untuk pekerjaan dan hal-hal lainnya.

Anakku, kuharap engkau tahu, aku tetap menyayangimu.
Terima kasih untuk kesedianmu menunggu.
Terima kasih untuk pelukan dan ciuman bertubi di pipiku.
Terima kasih untuk surat-surat mesramu.
Terima kasih untuk tetap mengatakan, "Aku sayang Bunda berjuta-juta kali! You're the best mom in the world," di saat aku merasa tak pantas menerimanya.

Peluk cium untuk kalian

Bunda.

Surat ini dibuat dalam rangka Hari Anak Nasional 2014.
Untuk anak-anak Indonesia, semoga selalu sehat dan bahagia.

Thursday, July 3, 2014

Berbagi Tips Menulis di Pondok Pesantren Ulul Abshor Semarang

Kebetulan, salah seorang teman menghubungi saat tahu saya di Semarang, "Mau nggak ngisi acara di pesantren?" begitu tanyanya. Saya langsung menyetujuinya ketika tahu hari itu saya tidak ada ada acara. penasaran juga sih, ingin tahu kegiatan ramadhan di pondok pesantren ini.

Senin, 30 Juni 2014, saya meluncur ke Banyumanik. Berhubung belum tahu lokasi tepatnya, saya ajak sepupu saya yang sekolahnya tak jauh dari tempat acara. Pondok Pesantren Ulul Abshor, letaknya berada di gang kecil yang tersembunyi dari ramainya jalanan. Setelah membereskan sedikit kehebohan yang terjadi akibat si kembar berebut mau ikut (yang akhirnya mereka hanya mengantar dan menjemput saja karena nggak betah lama-lama di sana), saya pun bertemu panitia.

Holiday Writing Class

Awalnya sempat maju mundur menggelar event ini. Namun akhirnya berhasil melibas keraguan dan memulainya. Alasannya tak lain karena saya ingin berbuat sesuatu untuk kota kelahiran saya, Semarang. Sudah saya niatkan bahwa setiap kali ke Semarang, saya ingin berbagi pengalaman, sekecil apapun itu di bidang menulis.

Maka di tengah segala keterbatasan, baik waktu maupun tenaga, pada tanggal 25 Juni 2014, Holiday Writing Class saya gelar di Klinik Insan Medika. Tempat acara, tak lain adalah klinik milik orangtua saya yang boleh saya pakai tanpa bayar sewa. Beruntung di klinik tersebut semua peralatan sudah tersedia, meski minimalis. 

Monday, June 16, 2014

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!


Bobo Tahun XLI 8 Agustus 2013.
Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
“Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
“Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
“Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
“Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
“Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
“Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
“Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
“Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
“Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
“Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
“Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya.
Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
“Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
Tutu semakin cemas mendengarnya.
“Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.
Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya. [Fita Chakra]

Tuesday, May 20, 2014

Museum, "Rumah" untuk Semua Kalangan

Berbicara tentang museum, saya jadi teringat saat pertama kali saya membawa ketiga putri saya ke Museum Nasional. Waktu itu mereka masih balita. Si sulung baru menjelang 5 tahun, sedang kedua adik kembarnya baru 1 tahun. Komentar beberapa teman ketika tahu saya membawa anak-anak ke sana adalah, “Kecil-kecil sudah diajak ke museum. Memangnya mereka sudah ngerti?”

Saya hanya tersenyum menanggapi. Komentar yang mengelitik, memang. Jujur saja, saya sih, nggak berharap banyak dari kunjungan saya. Yang saya inginkan saat itu hanyalah, kami punya alternatif tempat berlibur selain ke mal. Tentu saja, dengan syarat, tempat tersebut haruslah yang edukatif.

So, here we are…

Makna Museum 
Museum memiliki banyak makna bagi kita. Beberapa di antaranya adalah:
  • Menyimpan sejarah.
  • Menjadi sumber informasi di masa depan untuk generasi berikutnya.
  • Simbol kecintaan suatu masyarakat pada bangsanya sendiri.
  • Menjadi penghubung antara satu masa ke masa lain, satu bangsa dengan bangsa lain, satu masyarakat dengan masyarakat lain yang berbeda budaya.
  • Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Menilik manfaatnya yang sangat besar, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Karena jika kita kehilangan salah satu saja "saksi" sejarah yang tersimpan di dalam museum, maka akan terjadi kehilangan besar bagi ilmu pengetahuan. Sering kita dengar, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengerti sejarah. Dari mana kita akan belajar sejarah jika tidak dari museum?

Museum Nasional, Sekilas di Masa Lalu
Berdirinya Museum Nasional bermula ketika sekumpulan masyarakat Belanda di Batavia mendirikan sebuah organisasi yang bergerak di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Sejumlah koleksi budaya dan buku pun dikumpulkan  di sebuah rumah milik JCM Radermacher (salah satu pendiri perkumpulan ini) di Kalibesar.

Ketika rumah tersebut sudah tak cukup menampung benda koleksi yang semakin banyak, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru sebagai museum dan ruang pertemuan. Lokasinya di Jl. Majapahit yang sekarang menjadi kompleks gedung Sekretariat Negara.  Jumlah koleksi yang semakin banyak dari waktu ke waktu membuat museum tersebut tidak lagi memadai. Maka pada tahun 1862 dibangunlah gedung di Jl. Medan Merdeka Barat. Museum pun dibuka untuk umum pada tahun 1868.

Museum Nasional dikenal dengan sebutan Gedung Gajah karena di depannya terdapat sebuah patung gajah, hadiah dari Raja Chulalongkorn saat berkunjung. Dengan semboyan “memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya,” museum ini menyimpan sumber ilmu dan sejarah bagi masyarakat luas.
Patung Gajah. Dok: pribadi

Tulisan yang menyatakan patung tersebut sebagai hadiah. Dok: pribadi
Koleksi museum saat ini mencapai lebih dari 240 ribu yang berasal dari seluruh nusantara yang terbagi dalam beberapa kategori seperti history, geography, prasejarah, ethnography, archeology serta numismatic dan keramik. Bayangkan, gudang ilmu seperti apa yang akan kita peroleh dari tempat ini!

Museum Nasional, Saat Itu
Seumur hidup saya, saat itulah kali pertama saya masuk ke Museum Nasional. Terlambat? Mungkin. Meski saya berasal dari perantauan, saya sudah lebih dari 5 tahun tinggal di pinggiran Jakarta. Masak sih, sebagai warga negara Indonesia, saya nggak kenal museum ini? Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan.
Spanduk Visit Museum Year di tahun 2010. Dok: pribadi

Patung dari belakang. Dok: Pribadi

Halaman dalam, tampat bersih. Dok: Pribadi

Masuk ke halaman museum, putri sulung saya tertarik melihat patung gajah. Saya jelaskan bahwa patung gajah itu adalah pemberian dari seorang raja, nama kota Jakarta dahulu. Lalu kami pun melihat-lihat koleksi museum. Yang saya ingat saat itu, suasana yang temaram membuat anak-anak kurang nyaman. Untungnya, di bagian tertentu ada benda-benda koleksi yang membuat putri sulung saya senang. Misalnya, saat melihat patung-patung, senjata, dan alat-alat yang digunakan pada masa lampau.

Sayangnya lagi, saat itu tak banyak yang berkunjung meski sedang masa liburan. Namun, menurut petugas, saya mendapatkan keterangan bahwa mereka sering mendapat kunjungan anak-anak sekolah secara berombongan.

Museum Nanti
Banyak hal yang saya impikan tentang museum di masa depan. Harapan saya, museum bisa menjadi "rumah" untuk semua orang. Sebagaimana rumah yang kita tinggali, rasa nyaman akan membuat kita ingin selalu kembali ke tempat tersebut. Dengan demikian museum bisa menjadi alternatif liburan yang menyenangkan bagi masyarakat juga edukatif.

Mengutip kalimat ini dari Yusri Abdul Ghani Abdullah dalam bukunya, “Sejarah ingin agar kita tidak mengulangi kesalahan pada masa silam dan mengambil pelajaran guna membangun masa kini,” maka kita bisa menilik adanya hubungan sejarah dengan kehidupan sekarang. Generasi masa kini harus kenal dengan sejarah supaya mereka bisa mengambil hal-hal baik, menyingkirkan hal-hal buruk, dan membangun Indonesia dengan pemikiran baru.

Sebagai orangtua dan masyarakat, berikut ini beberapa usulan pemikiran yang menjadi harapan saya untuk museum.

Event bagi semua kalangan
Tak kenal maka tak sayang, begitu kata peribahasa. Bagaimana kita bisa mengharapkan generasi muda mengenal sejarahnya jika ke museum saja tak pernah? Untuk itu supaya lebih akrab dengan museum ada baiknya membuat banyak event bertempat di museum.

Info acara yang pernah diadakan di Museum Nasional. Sumber: FB Museum Nasional
Salah satu event yang bagus yang pernah saya dengar adalah A Day for Book. Saya, sebagai penulis, pengajar dan orang yang suka membaca buku sangat mengapresiasi kegiatan ini. Di waktu-waktu mendatang, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan oleh museum supaya makin banyak kalangan yang datang ke tempat ini. Misalnya mengadakan berbagai kegiatan berkaitan dengan sejarah. Workshop menulis cerita bertema sejarah untuk anak-anak; workshop menggambar komik sejarah untuk remaja; pertunjukan film sejarah untuk keluarga; dan sebagainya, saya kira cukup menarik.

Duta museum
Seorang duta, akan menjadi role model bagi masyarakat untuk memperkenalkan museum ke masyarakat luas. Selain itu, mereka juga dapat mengajak dan merangkul generasi untuk mencintai sejarah. Tentu saja, duta museum pun juga harus punya pengetahuan yang luas tentang sejarah. Bersama-sama, kita akan belajar mencintai sejarah.

Media Interaktif
Di masa sekarang, media interaktif menjadi semacam kebutuhan. Supaya museum lebih memiliki daya tarik, letakkan media seperti itu di berbagai sisi. Dengan demikian, pengunjung bisa mudah mengakses informasi yang dibutuhkan. Selain informasi mengenai benda koleksi, bisa juga ditampilkan media interaktif games yang berisi tentang sejarah. Misalnya aplikasi games Tresure Hunt yang bisa ditemukan jika bisa menjawab pertanyaan dari mesin tersebut. Rasa-rasanya, anak-anak generasi sekarang akan tertarik memainkannya, ketimbang membaca papan informasi saja.

Tempat Rekreasi dan Tempat Belajar
Tempat belajar tak harus sekolah. Tempat rekreasi tak harus mal. Bagaimana jika kita menyatukan keduanya ke satu tempat yaitu museum? Mungkinkah? Menurut saya, ini sangat mungkin. Hanya saja, perlu kerjasama dari banyak kalangan supaya impian ini terwujud.
Kendi salah satu koleksi museum. Sumber: Web Museum 
Suasana di dalam museum. Sumber: FB Museum Nasional
  1. Museum haruslah dilengkapi pencahayaan yang baik, sehingga tidak temaram dan menakutkan.
  2. Desain bangunan yang modern dan menarik akan lebih “mengundang” masyarakat untuk berkunjung.
  3. Suasana yang nyaman, sirkulasi udara yang baik dan tidak lembab akan membuat betah.
  4. Orangtua sebaiknya menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam hal mengajak mereka mencintai sejarah. Jika orangtua sering mengajak anak-anak ke museum, anak-anak akan menjadi generasi yang suka ke museum dibanding ke mal.
  5. Para pendidik yang mengajak murid-murid ke museum, mungkin bisa berinisiatif untuk memberi tugas yang lebih menarik. Misalnya, membuat laporan dalam bentuk buku bergambar atau komik hasil karya mereka. Dengan demikian, anak-anak akan lebih antusias dan tanpa sadar mereka banyak belajar.
  6. Benda koleksi yang terawat dengan baik akan lebih menarik.


Sumber: Web Museum Nasional

Website
Supaya masyarakat luas baik warga negara Indonesia maupun tidak bisa mengakses informasi tentang museum, website sebaiknya di-update secara berkala. Lengkapi dengan foto-foto kegiatan yang pernah dilakukan serta kolom untuk tanya jawab. Ada baiknya jika museum juga menyediakan e-book yang bisa diunduh secara gratis. Melalui web tersebut, ajak remaja, orangtua dan masyarakat untuk menjadi anggota komunitas museum. Akan lebih menyenangkan jika mereka digandeng menjadi kontributor untuk menulis artikel ringan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna (tetap no alay ya) namun tetap berbobot.

Konsep Ramah Pengunjung
Pernahkah terbayang, betapa berbedanya kunjungan ke sebuah restoran atau gerai toko ternama dengan kunjungan ke mal? Sapaan selamat datang bagi pengunjung merupakan hal yang menentukan kesan. Karena itu, petugas di museum pun tidak sekadar menjalankan tugas, namun harus bisa membuat pengunjung betah. Memberi salam, menyapa, dan menerangkan dengan bahasa yang santun akan memberikan nilai plus di mata pengunjung. Konsep ramah pengunjung ini harus selalu ditekankan supaya pengunjung datang lagi dan lagi.

Mengenal sejarah menjadi tanggung jawab kita bersama. Sebagai orangtua, kita harus mengenalkannya pada anak-anak. Sebagai anggota masyarakat, kita harus ikut manjaga museum dan melestarikannya. Apa yang sudah kita lakukan untuk museum? Mari, lakukan sekarang agar museum menjadi “rumah” bagi semua kalangan. Dengan demikian, museum dapat menjembatani antar generasi; memberikan informasi sejarah dari satu masa ke masa lain; memberikan ilmu pengetahuan dari satu bangsa ke bangsa lain; dan pada akhirnya menumbuhkan semangat cinta tanah air dan kebangsaan.


Referensi: