Tuesday, December 23, 2014

[Percikan] Magang

Dimuat di Majalah Gadis No. 30. 7-17 November 2014

“Aku kesal sama Mama,” Andin mengadu pada Erika.
Erika urung menyuap pancake di hadapannya. Sore itu, mereka berdua sedang makan di sebuah kafe kesayangan mereka. Pantas saja wajah Andin seharian ini seperti baju yang belum disterika. Kusut.
“Masak, Mama menyuruhku magang di kedai rotinya selama liburan,” lanjut Andin tanpa diminta.
Erika mengangkat alis. Jadi itu yang bikin Andin kesal? Erika mulai menangkap maksud Andin.
“Kamu kan tahu yang ingin kulakukan liburan ini. Aku ingin jalan-jalan. Backpaking juga boleh. Nggak perlu mahal-mahal,” ujar Andin. Andin memegang kuat-kuat garpu dan pisaunya, menekannya pada pancake seolah-olah pancake itu steak liat.
Erika hampir tersedak karena geli.
“Lalu maumu bagaimana? Kalau mamamu nggak mengijinkan, nggak ada gunanya memaksa. Mau nekad? Jangan deh, restu orangtua itu penting,” Erika mengingatkan. Tingkah Andin memang terkadang seperti anak kecil. Tapi justru karena itu mereka cocok. Erika lebih mirip kakak ketimbang teman bagi Andin.
“Backpacking nggak butuh biaya banyak kali, Rik. Aku yakin Mama bisa kasih uang. Tapi Mama bilang, aku harus magang dulu di kedainya. Nanti Mama kasih gaji. Nah, gaji itu bisa aku pakai untuk jalan-jalan,” kata Andin panjang lebar.
“Tuh, mamamu bukan nggak mau ngasih kan. Hanya saja tidak mau kasih ikannya. Kamu harus mengail dulu. Lalu apa masalahnya? Bantu di kedai bukan masalah besar,” Erika mendorong Andin.
Mata Andin melotot mendengarnya.
What? Bantu Mama di kedai? Mau ditaruh di mana mukaku. Kedai Mama sering dijadikan tempat nongkrong Rendy dan teman-temannya, tahu,” Andin hampir menjerit.
“Stt… nggak usah teriak gitu. Aku masih dengar,” sahut Erika. “Justru itu, kamu bisa berteman lebih dekat dengan Rendy kan. Lihat sisi positifnya, dong.”
Andin menggeleng kuat-kuat.
“No… no…” katanya. “Rendy anak orang kaya. Dia pasti langsung ilfil lihat aku, jadi pelayan kedai,” Andin mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya centil.
Sekarang gantian Erika yang menggeleng-gelengkan kepala.
“Terserah kamulah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu nggak butuh saranku, buat apa kita ke sini. Mending aku tidur di rumah,” protesnya.
Andin diam saja. Dia kembali sibuk dengan pancakenya. Tiba-tiba…
“Permisi, ada tambahan, Kak?”
Erika dan Andin mendongak. Seorang cowok berbadan atletis, berkulit putih sedang tersenyum manis pada mereka. Oh My God, Rendy! Iya, Rendy yang tadi mereka bicarakan. Kok dia ada di sini? Andin tak habis pikir.
“Oh… eh… “ Andin tergagap. “Kamu…,” katanya.
“Iya, aku,” Rendy kembali memamerkan deretan gigi-giginya yang putih.
“Kok, kamu ada di sini?” tanya Andin bingung. Beberapa kali dia dan Erika datang ke kafe itu, tidak pernah sekalipun bertemu Rendy. Lagipula, buat apa dia kerja?
“Kebetulan, aku sedang bantu orangtuaku. Aku magang di sini selama liburan. Ya, hitung-hitung latihan kerja. Kalau mau jadi pengusaha, harus tahu rasanya jadi karyawan dulu, kata mereka,” Rendy menerangkan. Sama sekali tak tampak rasa malu maupun gugup di wajahnya.
Erika menahan tawa. Sementara, wajah Andin mendadak berubah kemerahan. Rendy si cakep, yang kabarnya anak orang kaya itu saja mau magang jadi pelayan. Sedangkan dia… oh, tiba-tiba Andin ingin menghilang dari bumi ini saking malunya!
“Jadi, kalian mau pesan apa lagi?” tanya Rendy lagi.
Andin cepat-cepat menggeleng.
“Baiklah. Panggil aku saja kalau kalian mau pesan lagi ya,” ujar Rendy ramah. “Oya, soal magang. Bilang sama mamamu, kalau boleh, aku juga mau magang di kedainya. Masakan mamamu enak. Aku juga ingin belajar masak,” ucap Rendy sambil mengedipkan mata.

Wajah Andin terasa panas, nggak menyangka Rendy mendengar percakapan mereka. Sementara itu Erika yang ada di depannya menertawainya sampai puas. Kali ini, rasanya Andin ingin cepat-cepat pulang! [Fita Chakra]

Buat yang ingin kirim ke rubrik Percikan, ini ketentuannya:
  • Panjang tulisan 2 halaman folio.
  • Tema seputar dunia remaja.
  • Kirim melalui e-mail ke GADIS.Redaksi@feminagroup.com
  • Jangan lupa tulis no. rek dan fotocopy buku tabungan di halaman depan.

Thursday, October 23, 2014

[Review] Cinta Mami untuk Ubii

Apa kondisi Ubii akan membuat cinta Mami berkurang? NO! Apa gangguan pendengaran Ubii akan membuat Mami malu? NO! Apa kondisi kesehatan Ubii akan membuat Mami berandai-andai mempunyai ansk yang 100% sehat? NO!
Ubii lihat, kan? Mami terlalu cinta sama Ubii. Nggak akan ada sesuatu yang bisa mengubah itu.



Kutipan dari buku Letters to Aubrey (halaman 43) yang ditulis oleh Mak Ges, demikian panggilan akrab Grace Melia ini mungkin cukup menggambarkan betapa besar cintanya pada Ubii. Cinta Ges pada Ubii adalah cinta seorang ibu pada anaknya. Tulus dan tak terhingga.

Sejak lahir Ges sudah merasakan ada yang berbeda dari Ubii. Ubii, panggilan sayang Aubrey Naiym Kayacita tidak langsung menangis saat melihat dunia. Ubii juga susah bernapas. Tak hanya itu, suara bising di jantung Ubii menandakan ada sesuatu dalam tubuh Ubii.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Ubii dinyatakan terkena profound hearing loss yang menyebabkan dia tak bereaksi terhadap suara. Penyebabnya adalah Ubii terinfeksi virus rubella semasa dalam kandungan. Oleh karena itu, Ubii mesti menjalani berbagai terapi untuk menstimulasi kemampuannya. Selain terapi, Ges juga aktif membuat permainan agar Ubii tetap aktif.

Ges dan Adit, suaminya mengalami masa sedih dan menyenangkan dalam mengasuh Ubii. Sedih ketika Ges harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain ketika melihat kondisi Ubii yang tidak seperti anak-anak seusianya. Seperti yang dikatakannya di halaman 134.

Jadi, ini yang dimaksud Tante Dion, “Sebenarnya, bukan anaknya yang harus dikuatkan, tetapi orangtuanya, terutama ibunya.”
You know what, Ubii? Ternyata melakukan itu semua tak mudah.

Namun ketika pelan-pelan Ubii mulai menunjukkan kemajuan yang berarti, tentu saja Ges merasa sangat senang. Ges mencatat berbagai hal yang bisa dilakukan oleh Ubii, seperti ketika Ubii mulai kuat duduk lebih lama, ketika Ubii tidak rewel diminumi obat, dan ketika Ubii sangat kooperatif menjalani syuting. Bagi Ges, sedikit kemajuan saja membuat dunianya berwarna.

Tak mudah bagi Ges dan Adit untuk melaluinya. Namun, Ubii memberikan banyak pengalaman berharga buat mereka. Berkat Ubii, mereka belajar mandiri. Berkat Ubii mereka belajar bersyukur. Berkat Ubii, mereka menjadi lebih kuat. Tak hanya itu, Ubii pulalah yang membuat Ges berani memulai langkahnya membuat sebuah komunitas bernama Rumah Ramah Rubella. Di dalam komunitas itu, Ges mengajak semua orangtua yang memiliki anak dengan congenital rubella syndrome seperti Ubii, dan juga anak-anak berkebutuhan khusus lainnya untuk saling berbagi.

Membaca buku ini seperti mendengar penuturan dari mulut Ges. Buku yang berasal dari postingan blog yang khusus dibuat untuk menuliskan perkembangan Ubii dari waktu ke waktu ini terasa apa adanya. Ges mengungkapkan semua ekspresinya dalam kalimat yang pas, tidak berlebihan ataupun sebaliknya, kurang ekspresif. Jujur, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Ges juga menunjukkan bahwa dia pun hanya manusia biasa yang terkadang merasa bingung dan tak berdaya. Namun, kekuatan Ges adalah dia mau bangkit dan kembali bersemangat demi putri tercintanya.

Salah satu bagian yang menyentuh yaitu pada ending buku ketika Adit, ikut menuliskan perasaannya untuk Ubii. Walaupun tidak selalu bersama Ubii, di dalam surat tersebut terasa sekali betapa cinta Adit pada Ubii sangat besar. Ubii-lah semangat Adit untuk berubah menjadi lebih baik.

Rasanya, buku yang dituturkan dengan apik ini akan lebih menarik jika disertai satu bab khusus berisi tips untuk pembaca. Dengan demikian, pembaca akan tahu bagaimana harus bersikap jika memiliki anak seperti Ubii. Sayangnya pula, di dalam buku ini ada beberapa bagian tulisan yang besar fontnya tidak seragam. Mungkin, ini bisa menjadi perhatian untuk diperbaiki jika kelak buku ini cetak ulang.

Namun, secara keseluruhan, buku ini enak dibaca dan bisa menjadi rekomendasi. Yang tak kalah penting, buku ini menggambarkan cinta Mami untuk Ubii. Tetap semangat ya Ges, Adit dan Ubii!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey

Infonya ada di sini




Monday, June 16, 2014

[Cerita Anak] Lindy Tetap Menang!


Bobo Tahun XLI 8 Agustus 2013.
Dari dahulu Tutu, si kura-kura selalu ingin mengalahkan Lindy si kelinci. Semua binatang tahu bahwa Tutu berjalan sangat lambat sedangkan Lindy bisa berlari cepat. Namun Tutu tetap berniat mengalahkan Lindy dengan berbagai cara.
“Aku harus mengulang kemenangan leluhurku dahulu,” tekad Tutu.
“Jangan mengandalkan keberuntungan,” kata Paman Bino, seekor kura-kura yang bijak. “Waktu itu kakek buyutmu beruntung. Pikirkan kalau kelinci tidak beristirahat, dia pasti akan menang. Kita, para kura-kura memang ditakdirkan berjalan lambat. Tapi kita diberi kelebihan yang lain oleh yang Kuasa.”
“Apa kelebihan kita, Paman?” tanya Tutu. Karena sangat ingin mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari, dia sama sekali tak ingat kelebihan yang dimilikinya.
“Tempurung kita yang sangat kuat. Tempurung itu melindungi tubuh kita,” kata Paman Bino.
“Ah, tetap saja menang lomba lari lebih keren, Paman,” Tutu berkilah.
“Boleh saja kamu coba lomba lari dengan kelinci. Tapi berbuatlah jujur dalam pertandingan,” pesan paman Bino akhirnya.
Tutu mengangguk. Tapi diam-diam, sebenarnya dia sudah memikirkan berbagai cara agar menang lomba lari melawan Lindy, si kelinci lawannya. Mereka akan memulai perlombaan besok pagi.
Keesokan harinya, Tutu dan Lindy sudah siap di kaki bukit. Tutu sudah menyiapkan beberapa rencana agar dia bisa menang. Dia sudah meminta temannya untuk bersiap di sebuah semak depan kelinci. Juga menyediakan wortel di jalan sebagai umpan agar Lindy berhenti berlari. Terakhir ,jika dua rencana itu tak berhasil dia sudah menyiapkan sebuah lubang di dekat garis akhir.
“Satu… Dua… Lari!” teriak Didi si burung yang memberi aba-aba.
Lindy langsung melesat meninggalkan Tutu.
“Lihat saja aku akan menang,” teriak Lindy membuat Tutu semakin ingin mengalahkannya.
Sementara Lindy melesat, Tutu berjalan pelan-pelan. Dia yakin temannya berhasil mengecoh Lindy.
Lindy berlari terus. Di pikirannya hanya satu tujuannya, harus menang. Kaki-kakinya berlari tanpa henti. Meski godaan untuk berhenti sangat kuat, dia tak peduli.
“Kalau aku sudah sampai garia akhir, aku baru boleh berhenti!” katanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba di depannya dia melihat seekor kura-kura berjalan. Lho, kok Tutu sudah melewatiku? Pikirnya heran.
“Hahaha… Kata siapa kamu yang menang. Aku lebih cepat,” ujar Pipi, kura-kura yang menyamar sebagai Tutu.
Lindy mengamatinya. Aha! Dia tahu sekarang, itu bukan Tutu. Ukuran Tutu sedikit lebih besar dibandingkan kura-kura ini.
“Jangan mengecohku, aku tahu kamu bukan Tutu. Sampai jumpa!” Lindy pun berlari meninggalkannya.
Mendengar teriakan Lindy dari kejauhan, hati Tutu cemas. Dia tetap berjalan sesuai kemampuannya sambil berharap semoga rencana keduanya berhasil.
Beberapa saat setelah berlari, Lindy melihat wortel-wortel segar berceceran di tanah. Berlari membuatnya lapar dan haus. Dia sudah hampir berhenti untuk menikmati wortel-wortel itu. Namun dia ingat tekadnya.
“Aku hanya akan berhenti jika sudah sampai garis akhir,” dia pun berlari lebih kencang, meninggalkan wortel-wortel itu. “Tutuuu, aku tahu itu pasti perbuatanmu. Aku tak kan tergoda!” teriak Lindy.
Tutu semakin cemas mendengarnya.
“Semoga jebakanku berhasil. Hanya itu satu-satunya harapanku,” katanya cemas. Dia menggerakkan kaki-kakinya sekuat tenaga.
Bruuk!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Rupanya Lindy terperosok dalam lubang perangkap yang dibuat Tutu dan teman-temannya.
Tutu tertawa.
“Hahaha… Aku yakin aku yang akan menang, Lindy!” teriaknya mengejek. Tak lama lagi dia akan melewati lubang itu.
“Curang! Takkan kubiarkan kau menang dengan cara curang,” kata Lindy kesal.
Dia mencari akal agar bisa keluar dari lubang tersebut. Ternyata di dalam lubang itu terdapat sebuah batu yang menonjol. Dia pun segera melompat sekuat tenaga ke batu itu.
Hap!
Dengan dua loncatan, akhirnya Lindy berhasil keluar. Sekarang tenaganya terkuras habis. Tutu sudah melewati perangkap itu.
Namun Lindy tak mau menyerah. Dengan sisa-sisa keuatannya dia berlari lagi. Lagi dan lagi hingga melewati garus akhir.
“Aku tetap menang Tutu! Lihat saja, cara curang takkan menang!” teriak Lindy.
Binatang-binatang yang berkumpul menyaksikan perlombaan itu bersorak sorai mengelu-elukan Lindy. Sementara Tutu hanya mendapatkan malu karena kecurangannya. [Fita Chakra]

Friday, May 16, 2014

[Belajar Menulis] Memanfaatkan Momen di Perjalanan

Pergi bersama anak-anak bisa menjadi salah satu momen yang bagus untuk melatih kemampuan mereka bercerita dan menulis. Peristiwa yang dialami, dilihat, dan dirasakan selama dalam perjalanan adalah “bahan adonan” untuk membuat cerita. Bagaimana caranya?  Berikut ini saya share beberapa hal yang sering saya lakukan bersama anak-anak di perjalanan.

Ajak anak-anak menggunakan panca indera dengan baik.
Tanyakan pada anak-anak, apa saja yang mereka lihat, dengar, cium, kecap, dan rasakan selama di perjalanan. Pancing dengan pertanyaan seperti ini, misalnya:
“Apa saja yang kalian lihat di bandara?”
“Bagaimana suasananya?”
“Cuaca di pantai seperti apa?”
“Apa bedanya rasa udang yang Adek makan di sini, dengan yang biasa dimakan?”
“Dari semua binatang yang dilihat, mana yang paling Kakak suka? Kenapa?”
Biarkan anak-anak menjawab pertanyaan tersebut dan dengarkan. Usahakan untuk tidak menggunakan pertanyaan yang bisa dijawab dengan “ya” dan “tidak”. Dengan demikian, anak-anak akan lebih bebas berekspresi sekaligus belajar bercerita.

Beri notes atau recorder untuk mencatat hasil pengamatan.
Jika anak-anak sudah bisa menulis bekali mereka dengan notes untuk mencatat hasil pengamatan mereka. Alternatif lain, gunakan recorder. Sekali waktu, biarkan mereka belajar menjadi “wartawan cilik”. Mintalah anak-anak bertanya pada pedagang buah yang ditemui, satpam, atau pengunjung tempat wisata. Pastinya akan seru. Selain belajar mengumpulkan bahan tulisan, mereka juga akan belajar untuk lebih berani bertanya.

Minta mereka menuliskan sebagai holiday project.
Sampai di rumah, minta anak-anak menuliskan hasil pengamatan mereka sebagai holiday project. Biarkan mereka melengkapinya dengan gambar. Lalu pajanglah hasil karya mereka pada papan selama beberapa waktu. Beri apresiasi pada anak berupa pujian serta kata-kata penyemangat.
Terakhir, boleh juga mengarahkan anak-anak menuliskan ceritanya di blog. Tentu saja, dengan pengawasan orangtua.


Selamat mencoba!

Thursday, May 1, 2014

[A Place to Remember Give Away] Di Suatu Siang

Di suatu siang,

Di tepi Laut Merah, aku duduk memandangi lautan. Warnanya yang biru cerah, ditingkahi riak kecil air membuatku merasa tenang. Udaranya sungguh panas. Hanya sesekali angin bertiup, membelai rasa. Silau matahari kuhalau menggunakan sunglasses, berharap keindahan lautan bisa tetap kunikmati berkatnya.

Dengan seksama kuamati burung-burung yang terbang rendah, lalu hinggap. Rupanya mereka sibuk mematuki makanan. Riuhnya seolah pesta besar. Aku mengulum senyum melihatnya, teringat ketiga anak-anakku yang bertingkah seperti mereka saat aku datang membawa makanan kesukaannya.


Di suatu siang,

Aku bersama dia, duduk bersisian. Suatu kegiatan yang hampir tak pernah kami lakukan semenjak rumah kami ramai dengan celoteh anak-anak. Diskusi kami tak pernah bisa serius di rumah. Namun, kali itu, kami bicara banyak hal.

Tentang banyak perubahan yang akan kami lakukan sepulang umroh ini. Tentang keimanan yang mesti kami tingkatkan terus. Tentang cara mendidik anak-anak yang senantiasa harus kami perbaiki. Semuanya bermuara pada kebaikan, yang semoga saja bisa terus kami lakukan. Siang itu, kami berjanji akan mengingatkan satu sama lain.



Di suatu siang,

Aku dan dia, bicara dari hati ke hati. Sesuatu yang menenangkan, membuat hatiku terasa hangat. Aku merindukan perbincangan ini. Tapi rupanya, tak selalu semua harus dikatakan. Dalam diam, hati kami pun berbicara. Maka, setelah lelah berbicara, yang kami lakukan hanyalah memandang ke depan.

Lalu, dia ikut tertarik melihat tingkah burung-burung kecil itu. Disodorkannya makanan di telapak tangannya. Sayangnya, karena terlalu tiba-tiba bergerak, burung-burung itu malah berterbangan. Dan, aku tertawa, menertawakan kekecewaannya.


Di suatu siang,

Tak lama kemudian, adzan memanggil dari dalam masjid. Baru kutahu dari ustadz yang membimbing kami, nama asli masjid itu adalah Masjid Ar Rahman. Tapi kami mengenalnya sebagai Masjid Terapung atau Floating Mosque. Letaknya yang berada tepat di tepian laut membuatnya seakan melayang. Masjid ini menjadi persinggahan terakhir kami sebelum pulang ke tanah air melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.


Di suatu siang,

Damai memelukku. Hanya satu harap tersimpan. Kelak, kan kembali bersama ketiga buah hati kami.


Tulisan ini diikutsertakan dalam A Place Remember Give Away dari Mak Nurul Noe.




Monday, April 28, 2014

[Kelas Inspirasi] Sehari yang Menginspirasi

Ingin dikenang sebagai apakah engkau kelak?
Pandai, kaya dan terpandang. Atau sederhana, pengasih dan suka berbagi?

Ingin tampak seperti apa engkau di mata-Nya?
Banyak menerima. Atau banyak memberi?

Saya tidak tahu kapan tepatnya kalimat itu berdengung di telinga saya. Yang saya sadari,
selepas umroh awal Januari lalu dengungnya menjadi sangat mengganggu. Mungkin, salah satu doa yang saya panjatkan yang menjadi penyebabnya. Waktu itu, saya sudah siapkan banyak doa dari tanah air. Tapi di depan Baitullah, lidah saya mendadak kelu. Malu hati ini kalau banyak meminta hal duniawi. Malahan, saya menangis sejadinya mengingat kesalahan-kesalahan saya. Maka, saya ganti doa-doa saya. Salah satunya, menjadi permohonan agar ilmu saya bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang.

Rupanya, Allah mendengar doa saya. Tak heran ada beberapa kesempatan berbagi ilmu yang muncul kemudian. Salah satunya datang dari Kelas Inspirasi. Saya begitu excited menanti datangnya Hari Inspirasi ini. Selain karena ini adalah pengalaman pertama saya, saya juga sudah membayangkan serunya mengajar. Apalagi, di saat briefing, saya sudah bertemu beberapa teman yang sekelompok dengan saya. Mereka datang dari berbagai
profesi, usia dan minat. Bahkan ada yang usianya hampir mendekati usia Bapak saya, lho. Hebat.

Walau baru kenal, kami bisa kompak berbagi tugas dan membicarakan persiapan kelompok kami. Saya rasa, hanya satu yang merekatkan kami, yaitu keinginan berbagi yang demikian
kuat. Tak hentinya saya bersyukur bertemu dengan mereka, karena aura positif seakan menular. Saya bahkan bisa merasakan ketulusan hati mereka.

Kamis, 24 April 2014 selepas sholat subuh, saya berangkat. Tim kami terdiri dari 9 orang relawan inspirator, 3 fotografer dan seorang fasilitator berjanji tiba pukul 06.00 di
SD Paseban 02, sebuah sekolah di kawasan Salemba, tepatnya di tepi lintasan kereta. Bisa dibayangkan riuhnya suasana sekolah, karena hampir setiap kali ada kereta yang melintas. Kami sengaja datang pagi karena jam belajar dimulai pukul 06.30. Jam belajar yang tergolong pagi itu rupanya disebabkan oleh keterbatasan ruang kelas. Kelas 1 dan 2 harus bergantian memakai sebuah ruang karena jumlah ruang yang bisa dipakai hanya 5 ruang kelas.
Beberapa kegiatan kami. Foto: Tim fotografer
Tiba di gedung sekolah, saya dan teman-teman langsung naik ke lantai 3. Gedung 3 lantai ini
digunakan bersama dua sekolah lainnya yaitu SD Paseban 01 dan 03. Kebetulan SD Paseban 02 mendapat jatah lantai 3. Entah mengapa dada saya berdegup kencang. Padahal, sehari-hari saya mengajar anak SD. Mungkin, karena kali ini yang bakal menjadi murid saya punya latar belakang yang berbeda.

Tak sempat berlama-lama merasakan ketegangan, saya mesti masuk kelas. Kelas pertama yang mesti saya masuki adalah kelas 6. Dari awal saya sapa kelas ini tampak tenang. Dengan mudah saya mendapatkan perhatian mereka. Di kelas ini, saya bisa menjelaskan banyak hal tentang profesi penulis termasuk alur penerbitan buku. Senangnya lagi, anak-anak bisa menikmati permainan merangkai kalimat menjadi sebuah cerita yang saya siapkan. Satu jam pun berlalu tanpa terasa.

Asyik merangkai kalimat menjadi sebuah cerita. Foto: dokumen pribadi
Selanjutnya saya masuk kelas 1 pada jam pelajaran ketiga. Kelas 1 masuk sampai pukul 09.30. Artinya waktu saya hanya 35 menit. Waktu yang sangat singkat dibandingkan waktu untuk kelas 6. Suasana kelas 1 ramai luar biasa waktu saya masuk. Mereka bahkan
ada yang masih makan.

Butuh kesabaran untuk mendapatkan perhatian mereka. Begitu saya bilang, "Siapa mau
didongengin?" Semua serempak bilang, "Sayaaa!" 

Mendengarnya membuat saya bersemangat. Wah, sepertinya ini akan berjalan sesuai rencana,pikir saya. Sayangnya, baru beberapa menit mendengar cerita konsentrasi mendadak buyar ketika salah seorang anak mengambil buku saya yang lain, "Kakak, aku baca ini yaa!"
Waktu masih manis-manis mendengar cerita. Foto: Tim fotografer
Wuss... mendadak teman-temannya mengikuti aksi anak ini. Mereka pun sibuk membaca sendiri. Aduduh... ampun dah! Bisa dibayangkan yang terjadi setelahnya. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Ada yang berebut taplak meja. Ada yang berebut buku.Ada yang naik meja untuk mengintip kereta yang melintas dari kereta. Ada yang ngumpet di bawah meja. Superkacau!

Panik. 
Tapi saya berusaha mengingat-ingat yang harus dilakukan untuk menertibkan suasana. Saya
coba berhai-halo, minta mereka bertepuk tangan jika mendengar suara saya, sampai meminta dua orang yang bertengkar untuk bergantian membaca buku di depan. Berhasil, namun hanya dalam... ehm hitungan menit. Selanjutnya, tebak sendiri deh. Nightmare hehehe...

Menit-menit berikutnya semangat saya menguap. Tetap saja... sebagian besar berlari keliling kelas. Parahnya, suara saya mendadak hilang karena kebanyakan bicara. Puncak kepanikan terjadi ketika salah seorang anak berteriak, "Kakaaak, ada yang
pingsan!" 

Saya langsung berlari mendekat. Seorang anak perempuan terbaring di antara dua kursi. Saya guncang-guncang tubuhnya menastikan dia pingsan atau
tidur. 

"Kamu kenapa? Ngantuk?"tanya saya. 
Jangan tanya perasaan saya saat itu. Saya pikir anak ini dipukul temannya karena sebelumnya mereka bertengkar. Tahu-tahu gadis kecil itu membuka mata sambil tertawa. Hayaah, rupanya dia menipu saya! Hahaha...

Bersama kelas 1. Foto: Tim fotografer
Setelah sesi yang menguras tenaga itu, giliran saya masuk kelas 3. Jujur saja, saya sedikit
down setelah jumpalitan mengatasi kelas 1 yang sepertinya kelebihan tenaga. Maka sebelumnya saya sempat bertanya-tanya setelah anak pura-pura pingsan, jebakan Batman macam apa yang akan saya temui?

Meneruskan cerita. Foto: dokumentasi pribadi
Well, rupanya kelas 3 masih lebih ramah dibandingkan kelas 1. Mereka bisa meneruskan cerita yang saya tulis. Meski demikian saya masih merasa kurang puas karena belum semua materi tersampaikan namun waktu terlanjur habis, hiks. Lagipula, saya terlanjur kehilangan sebagian besar semangat saya. Ternyata, butuh lebih dari kesabaran untuk mengajar anak-anak.

Di akhir jam pelajaran bersama teman sekelompok, kami mengadakan penutupan. Masing-masing anak menempelkan cita-citanya di pohon cita-cita. Lalu kami bersama-sama menonton video kegiatan kami selama sehari itu. Senang rasanya melihat wajah bahagia mereka.

Setelah sesi foto bersama tibalah saat berpisah. Tanpa saya duga mereja bersalaman dan
mencium tangan kami semua. Mendadak hati saya menghangat. Saat salah seorang bertanya, "Kakak akan datang lagi kan?" Air mata mendesak-desak keluar dari sudut mata. Mati-matian saya berusaha menahannya, semata-mata supaya tidak menangis di depan mereka.

Terus terang, ada rasa tak puas dengan cara mengajar saya. Tapi saya berjanji dalam hati, suatu saat akan lebih baik. Dan untuk itu saya rela belajar terus. 

Foto bersama sebelum pulang. Foto: Tim fotografer
Hari itu, saya mungkin hanya membagi sedikit. Tapi percayalah, tak ada yang terasa hilang dari saya selain meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan keringat. Justru, yang saya peroleh jauh lebih banyak. Rasa bahagia yang tak terlupa di suatu hari yang menginspirasi. Kelak, ini akan jadi kenangan yang indah. 

Supaya lebih tergambar suasananya, silakan nikmati video ini ya. Mungkin, setelah ini, ada yang tergerak menjadi relawan kelas inspirasi mendatang. Cek di web Kelas Inspirasi, ya. 




Terima kasih untuk,
Allah Swt, yang memberi saya kesempatan belajar lagi.
Fasilitator kelompok 22 yang mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengarkan kami: Mbak Luluk.
Teman-teman relawan inspirator. You rock!: Elisa, Ibu Dyah, Ibu Nana, Ibu Elda, Aisha, Riri, Agi, dan Cikna.
Teman-teman fotografer dan videografer yang mengabadikan momen istimewa ini dalam gambar yang cantik: Bongky, Coky, dan Yosi.

Tuesday, April 22, 2014

[Cerpen Remaja] Anggrek Ungu

Anggrek Ungu, dimuat di Gadis, 21 Mei 2013.

“Ciee… Fans baru, nih,” goda Vina. “Dari siapa?”
Maira mengangkat bahu. Tidak ada kartu ataupun surat di dalam buket tersebut. Hanya seikat anggrek ungu berpita ungu muda dibalut plastik bermotif bunga-bunga ungu kecil dan huruf “O” di sana-sini. Serasi.
Maira memandang teman-teman cowok di kelasnya, menerka-nerka pengirim anggrek ungu itu. Mariokah? Si tampan jago basket yang hampir setiap hari menelepon. Atau Dude? Cowok paling pintar di kelasnya yang selalu menawarkan PR-nya dicontek semena-mena oleh Maira. Atau… Bram? Adit? Ah, terlalu banyak kemungkinan.
Mata Maira bertatapan dengan Edwin, teman sekelasnya yang sering kedapatan sedang melamun. Edwin spontan menunduk ditatap seperti itu oleh Maira, murid baru yang mendadak jadi idola.
Apakah dia? Maira menebak dalam hati. Si misterius ini sama sekali tidak terdengar suaranya jika tidak diajak bicara. Dia benar-benar seperti vampir. Hidup tapi seolah tak bernyawa. Maira tak tahu segala sesuatu tentangnya. Bahkan, percakapan Maira dengannya bisa dihitung dengan sebelah tangan selama beberapa bulan sejak Maira menghuni kelas tersebut.
Ih, semoga bukan. Kalau Mario atau Dude, bolehlah. Mereka super keren.
“Misterius,” komentar Vina. “Siapa lagi yang bakal jadi korban kejutekanmu?” Vina menggoda.
Maira mendesah. Semua orang tahu, meski banyak yang mengejarnya, dia terlalu jutek untuk didekati. Itu semua karena Maira ingin terlihat tidak murahan.
“Anggrek ungu, artinya memang misteri. Apa maksudnya mengirim anggrek ini? Siapa pelakunya?” Maira semakin bingung.
Vina menahan tawa, “Dari mana kamu tahu artinya?”
“Dari majalah yang pernah kubaca. Mawar artinya cinta, anggrek artinya misterius… Sebut saja nama bunga, aku tahu artinya,” tukas Maira kesal.
“Bagaimana kalau dia hanya mau nunjukin kalau dia punya taman anggrek,” Vina terbahak. “Selalu anggrek ungu. Kayak nggak ada bunga lain. Mawar, kek.”
Maira tertegun. Sudah tiga kali dia mendapatkan buket berisi anggrek ungu. Ini bukan kali pertama Maira mendapatkan bunga dari seseorang. Tetapi, biasanya para cowok yang mengejarnya mengirimkan mawar. Artinya jelas, mereka naksir. Kalau anggrek ungu? Aneh.
*
The Orchids. Maira membaca papan di depan sebuah toko bunga.
“Selamat sore! Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang lelaki dengan sopan.
“Edwin,” Maira spontan berkata ketika matanya bertatapan dengan lelaki itu. “Kamu…”
 Edwin tersenyum. “Setiap sore, sepulang sekolah aku berada di sini, melayani pembeli.”
Pipi Maira memanas. Malu. Saking cueknya, dia tak tahu temannya punya toko bunga!
“Tokomu?” Maira memerhatikan celemek yang dikenakan Edwin. Motifnya familiar. Bunga-bunga kecil ungu dan huruf “O”.
Edwin menggeleng, “Milik ibuku. Dia sudah meninggal beberapa bulan lalu.
Mata Maira terpaku pada plastik bermotif yang sama dengan celemek Edwin. Deg!
“Kamu… yang mengirim anggrek ungu itu?” Maira terbata berkata.
Edwin meremas celemeknya, salah tingkah. Lalu keluarlah pengakuannya.
“Iya, aku yang mengirimnya. Jangan marah, ya. Aku tidak bermaksud menakutimu.”
“Maksudmu?” Jantung Maira berdebar. Bertatap langsung dengan Edwin membuat Maira menyadari, wajah Edwin tampan, sekilas seperti Zayin Malik, salah satu personil One Direction.
“Aku mengirimnya, karena kamu mirip sekali dengan ibuku,” katanya pelan. Matanya terlihat berkaca-kaca. “Kamu cantik sekali… ”
Maira ganti tertunduk. Entah mengapa, dia merasakan ketulusan Edwin. Dari semua cowok yang mencoba menarik perhatiannya, Edwin berbeda. Cowok yang menyukai anggrek itu pasti bukan cowok sembarangan.
“Seandainya saja, kamu nggak jutek,” Edwin meneruskan kalimatnya sambil tersenyum.
Maira mengangkat wajah. Sekarang, dia tahu alasan Edwin mengirimkannya anggrek ungu. Dia berharap, hati Maira secantik hati ibunya.
“Terima kasih sudah mengingatkanku,” kata Maira. “Tapi, lain kali kasih tahu kalau anggrek ungu darimu itu artinya cantik, bukan misterius.”

Edwin tertawa terbahak. Tawa yang baru kali ini didengar Maira. [Fita Chakra]

Sunday, April 20, 2014

[Sharing Session] Belajar Menulis Kisah Inspiratif

Bermula dari obrolan di grup WA ibu-ibu di kompleks perumahan saya, muncullah pembicaraan tentang dunia tulis menulis cerita. Lalu tercetuslah keinginan mereka untuk belajar menulis pada saya. Awalnya sih, saya mikir, saya ini apalah artinya dibandingkan penulis-penulis lain yang lebih banyak jam terbang. Tapi, kemudian melihat semangat para ibu-ibu ini, saya jadi merasa berkewajiban membagi secuil ilmu yang saya punya. Toh, sesedikit apapun akan lebih bermanfaat daripada saya simpan sendiri. Ya, kan? Iyaaa....

Maka, mulai bulan Maret 2014, saya mulai membuka kelas online. Mengapa online? Kan tinggal sekompleks, mestinya gampang ketemunya. Iya, sih, tapi, kenyataannya ibu-ibu ini kesibukannya segudang dan profesinya bermacam-macam, sehingga baru longgar waktunya di malam hari. Setelah diskusi, diputuskan untuk mencoba kelas online setiap Jumat malam. Alhasil, setiap Jumat jam 21.00-23.00 saya kencan dengan kompie sambil nonton Idol hehehe.

Berapa biayanya? Untuk kelas ini, saya tidak menarik bayaran sepeser pun. Saya menamainya "Sharing Session", bukan kelas menulis. Materi yang saya berikan materi dasar menulis kisah inspiratif, karena banyak yang baru berkenalan dengan dunia menulis cerita. Sebagian mengaku pernah sangat suka menulis dulu, tapi karena tertimbun kesibukan jadi merasa kaku. Ada juga yang sering menulis berdasarkan data dan penelitian sehingga mati gaya saat menulis kisah inspiratif. Padahal, saat saya baca, tulisannya sudah bagus, lho!

Sempat saya mengulik motivasi mereka, hasilnya pun beragam. Ada yang ingin belajar menulis sekedar untuk curhat. Ada yang punya mimpi ingin menulis buku. Macam-macam. Saya sendiri berharap, hasil pelatihan menulis ini bisa diterapkan dalam tulisan mereka. Paling tidak di dalam blog. Syukur-syukur kalau bisa jadi kebiasaan.

Screenshoot komentar tentang Sharing Session
Akhirnya, April ini genap sebulan kelas berjalan. Alhamdulillah, meski tetap saja terkadang waktunya nggak cocok untuk bertemu secara online (saya siap, pesertanya masih ngeloni anak-anak. Peserta siap, saya sakit dan sebagainya hehehe), pesertanya tetap semangat. Saya sendiri menyadari kelas ini masih punya banyak kekurangan, yang malah memberi saya ide untuk menulis tentang Tips Mengikuti Kelas Menulis. Insya Allah akan saya tulis dalam postingan terpisah. Namun, yang terpenting bagi saya, berani mulai berbagi merupakan langkah awal yang baik.

Harapan saya, semoga semua yang telah saya saya bagi di kelas tersebut bermanfaat untuk mereka. Aamiin.


Friday, April 4, 2014

[Proses Kreatif] Perjalanan Menulis Misteri Taman Berhantu

Sebenarnya, naskah Misteri Taman Berhantu ini bukan naskah baru. Sudah beberapa tahun lalu saya tulis. Sempat dikirim pada dua penerbit, tapi berakhir dengan penolakan. Setelah itu, saya melupakannya hingga teronggok sekian lama di folder.

Hasil akhir cover yang diilustrasi oleh Mas Indra Bayu
Saya baru ingat lagi naskah ini, setelah saya main ke kantor KPG, sesaat setelah memenangi Lomba Menulis Novel Bluestroberi yang diadakan Ice Cube Publisher. Kebetulan Penerbit Kiddo, yang menerbitkan naskah Misteri Taman Berhantu, berada satu atap dengan Ice Cube Publisher. Mbak Winda Veronica, yang memegang naskah Rainy’s Days mengenalkan saya pada Mbak Pradikha Bestari.

Ngomong-ngomong soal Mbak Dikha, demikian panggilan akrabnya, saya nggak nyangka bisa ketemu dia, lho. Soalnya, biasanya cuma lihat tulisannya di majalah Bobo. Soal tulisan misteri, Mbak Dikha ini jagonya. Pantes saja, murid-murid saya, juga Keisya, suka banget baca Bobo. Apalagi yang ditunggu kalau bukan cerita misterinya Mbak Dikha.

Kembali ke naskah, seperti biasa, saat editor ketemu penulis yang ditanyakan sudah pasti naskah hehe. Saya tiba-tiba saja ingat punya naskah yang nganggur. Beberapa hari kemudian, saya kirim naskah itu ke Mbak Dikha. Dan ternyata, mereka mau menerbitkan! Jawabannya nggak pakai lama pula. Hiyaa, langsung saja saya tambah semangat.

Sayangnya, Mbak Dikha minta revisi banyaaak… karena naskah ini mau dimasukkan ke dalam Seri Misteri Favorit. Pastinya harus menyesuaikan dengan konsep judul di dalam seri ini yang sudah terbit duluan. Saya mesti menambahkan fakta unik, mengubah settingnya yang tadinya nggak jelas ada di negeri mana alias khayalan menjadi sebuah tempat di Indonesia, juga mengutak-atik lagi alurnya supaya enak dibaca.

Naskah tentang kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung pun saya revisi penuh semangat. Soal setting, saya sempat bertanya-tanya pada beberapa teman yang pernah ke sana. Saya juga browsing gambar dan berita melalui internet. Lumayan, saya jadi ada gambaran mengenai settingnya.

Supaya lebih menarik, tokoh utama di dalam cerita ini, yaitu dua anak kembar bernama Sekar dan Laras, ditemani tokoh-tokoh lain. Selain tokoh yang sejak awal sudah ada di dalam cerita, yaitu Pak Rico, guru yang berambut aneh; Pak Wisnu, penjaga penangkaran kupu-kupu; dan Amel, murid yang perkataannya sering menjadi kenyataan, saya tambahkan sosok Pak Rudy, sang jagawana.

Selain revisi di atas, saya juga mesti menambahkan fakta unik tentang kupu-kupu, Bantimurung, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penangkaran. Tujuannya supaya pembaca novel ini, mendapatkan tambahan pengetahuan tentang kupu-kupu dan juga Indonesia. Asik, kan?

Saya ingat, waktu itu, saya minta waktu sampai akhir Januari karena awal Januari saya berangkat umroh. Saya pikir, saya sempat mengutak-atiknya sebelum berangkat, supaya setelahnya tinggal membaca ulang dan self editing. Nyatanya, saya baru bisa total merevisi naskah setelah pulang. Lega dong, setelah saya kirim. Ternyata… Mbak Dikha kembali mengirimkan e-mail revisi.

Jujur saja, kepala saya mulai cenut-cenut. Begini risikonya punya editor superteliti, ada yang nggak konsisten sedikit dia akan tahu. Okelah, saya pun merevisi lagi. Ada beberapa bab yang diubah total. Berharap revisi ini lebih baik dari sebelumnya, karena saya mengubah kurang lebih sepertiga bagian isinya, saya pun mengirimkan kembali.

Tahukah apa yang terjadi kemudian?
Tepat di tanggal 14 Februari, Mbak Dikha mengirimkan kembali naskah saya beserta poin-poin yang harus saya revisi, dengan catatan, waktu revisi hanya seminggu. Doeeng! Rasanya mau pingsan.

Saya tidak langsung menjawab e-mail itu. Butuh beberapa hari sampai saya berani menjawab e-mail itu. Saya bilang pada Mbak Dikha, saya butuh waktu lebih dari seminggu mengingat dua kali revisi ternyata hasilnya kurang memuaskan. Tetapi, jika penerbit tidak bisa memberikan waktu lebih, lebih baik saya menarik naskah tersebut.

Deg-degan rasanya menunggu jawaban selanjutnya. Namun saya berusaha ikhlas. Rupanya, naskah itu masih menjadi rezeki saya. Saya diberi waktu hingga 3 minggu untuk menyelesaikannya.

Di revisi ketiga, saya tidak mau menyiakan kesempatan itu. Niat saya, naskah ini harus mulus supaya saya tidak diminta revisi lagi. Revisi terus bikin capek hati, Sodara-sodara! Saya pun mulai dari awal. Saya buat mindmap untuk mengurai benang kusut di otak. Nggak tanggung-tanggung, mindmap saja sampai beberapa kali saya ganti hehe. 

Mindmap yang berubah beberapa kali
Terakhir, barulah saya tulis ulang ceritanya. Catat, tulis ulang alias rewrite, bukan revisi saja. *nyengir lebar. Akhirnya, menjelang batas waktu yang ditentukan, naskah tersebut sudah mengalami perombakan besar-besaran. Sekitar 75% berbeda dari naskah awal. Puaskah saya? Belum, karena saya belum dengar komentar Mbak Dikha.

Setelah mengirim e-mail, saya gelisah luar biasa. Rasanya seperti nunggu hasil tesis dulu, hehehe. Dan saya baru bisa tersenyum ketika Mbak Dikha bilang yess!

Buat teman-teman yang ingin baca novel ini, tunggu tanggal terbitnya, ya. Novel ini dijadwalkan terbit 14 April 2014. Novel yang tadinya berjudul Misteri Taman Kupu-kupu ini diubah judulnya menjadi Misteri Taman Berhantu bukan tanpa sebab. Baca sendiri, deh.