Monday, July 25, 2016

Bersahabat dengan Anak, Bisakah?


Tahun ini sulung saya usianya 11 tahun, sudah pre-teen. Tahu sendirilah ya gimana rasanya ngadepin pre-teen alias ABG? Nah, belakangan saya harus stok ekstra sabar untuk itu. Salah ngomong, marah. Dikasih tahu, protes. Diem saja, kok rasanya gatel pingin nasihati. Jadi ya begitulah, serba salah. Pasti emak-emak yang udah ngelewatin fase ini tahu rasanya. Sepertinya saya harus banyak belajar dari para senior *sungkem.

Anyway, setelah saya stalking beberapa akun emak-emak yang punya anak sepantaran anak sulung saya, ada beberapa poin penting yang saya catat (dan insya Allah dipraktikkan juga, dong).


Mau Mendengarkan 
Memang rasanya mulut nggak tahan pingin komentar saat dengar sulung saya curhat. Iya, pinginnya nimpali dengan macam-macam nasihat blablabla.... Tapi, ada baiknya ternyata mendengarkan dulu yang mau diceritakan. Setelah puas dia bercerita, baru deh saya cerita. Intinya, berusahalah berempati.

Melakukan Kegiatan Bersama
Putri sulung saya, minatnya masih beragam. Dia suka merajut, bikin craft, mendengarkan musik dan sebagainya. Salah satu kegiatan yang kami sukai adalah kegiatan yang berkaitan dengan membaca. Oleh karenanya, kadang-kadang saya ajak dia untuk pergi ke toko buku berdua saja, supaya bisa ngobrol banyak hal.
Saya lihat salah satu teman blogger saya, Mbak Uniek, juga melakukan ini bersama kedua anaknya. Putri Mbak Uniek yang bernama Vivi, kebetulan juga suka membaca. Jadilah Mbak Uniek mengajaknya jalan-jalan ke penerbit beberapa waktu lalu.



Mengenal Teman Anak
Beberapa kali, meminta izin pergi bersama teman-temannya. Jika kebetulan saya yang mengantar, saya akan berkenalan dengan teman-temannya dan mengajak ngobrol mereka. Lain waktu, ketika teman-temannya datang ke rumah atau menginap, sesekali saya ikut mengobrol dengan mereka.

Memberikan Aturan
Walaupun sering dinego, saya tetap memberikan aturan. Aturan yang berlaku untuk anak sulung saya antara lain, aturan memegang gadget, aturan pergi bersama teman, dan masih banyak yang lainnya. Saya katakan padanya bahwa setiap rumah punya aturan yang berbeda. Artinya, jika temannya sedang menginap di rumah kami, dia harus mengikuti aturan kami.

Mencari Tahu Topik Pembicaraan yang Menarik
Topik pembicaraan yang menarik untuk anak ABG tentu berbeda dengan usia lain. Nah, supaya bisa klop kalau diajak ngobrol, saya nggak menutup diri terhadap apa-apa yang diminatinya. So far, topik tentang lagu-lagu yang lagi nge-hits, hal-hal yang dibicarakan di sekolah, slime, dan semacamnya masih menjadi minatnya.

Dengan melakukan beberapa poin tersebut, paling tidak saya sudah mencoba bersahabat dengan putri saya. Mungkin teman-teman punya tips lain lagi yang bisa saya praktikkan? 

Wednesday, June 22, 2016

Mengenal Ramadhan Bersama Diari Ramadhan

Alhamdulillah, senang sekali ketika menjelang ramadhan tahun ini, saya mendapatkan kabar bahwa Diari Ramadhan naik cetak lagi. Buku ini bukan buku baru, pertama kali terbit tahun 2011. Lima tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk saya sebagai penulis, menunggu buku ini terbit lagi. Ya, mungkin karena judulnya saya "Diari Ramadhan", buku ini dicari menjelang ramadhan. Makanya butuh waktu cukup lama untuk menghabiskannya. 

Cover Lama

Cover Baru

Padahal, sebenarnya nggak juga, kok. Buku ini bisa dibaca di saat-saat lain selain ramadhan. Kenapa? Karena di dalamnya, banyak cerita-cerita islami yang bisa dibacakan menjelang tidur. Ceritanya pendek, sehingga bisa dibaca dalam waktu 5-10 menit saja. Selain cerita, ada doa-doa yang berkaitan dengan puasa dan ramadhan. 

Mengenang proses kreatif penulisan buku ini, lumayan lama dan sulit. Penyebabnya adalah, saya sangat berhati-hati menulis doa, hadits dan ayat-ayat. Oleh karenanya, saya meminta salah satu teman untuk menjadi pembaca ahli. Yang saya pilih, haruslah punya pengetahuan tentang agama yang bagus. Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Risyan Nurhakim, suami Imazahra (percaya atau tidak, saya mengenal mereka berdua dari internet, lalu bertemu untuk pertama kalinya setelah itu. Hingga kini, total pertemuan kami bisa dihitung dengan sebelah jari). Saya sangat berterima kasih atas kerelaannya membaca dan mengkritisi buku ini, sehingga saya menjadi lebih pede ketika buku ini terbit.

Tahun 2015 lalu, ketika buku ini dibawa di Frankfurt Book Fair, hati saya cukup melambung, berharap ada penerbit dari negara lain yang membeli copyright-nya. Tetapi, rupanya buku ini belum beruntung. 

Sejujurnya, saya cukup surprised sih saat tahu buku ini republished, dengan cover baru pula. Dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya, buku yang dianggap slow moving tidak diproduksi lagi. Tetapi mungkin penerbit punya pertimbangan lain. Sejak awal bekerjasama dengan BIP (penerbit yang menerbitkan buku ini), alhamdulillah kesannya cukup bagus. Saya selalu dilibatkan dalam berbagai hal seperti, melihat cover, memberikan komentar mengenai layout, bahkan dalam hal promosi. Pun ketika akhirnya kami sepakat memutuskan tidak jadi mengadakan launching buku ini, penerbit menawarkan opsi lain untuk promosi. Buat saya sebagai penulis, kerjasama seperti ini sangat menyenangkan.

Nah, mumpung masih suasana Ramadhan, buruan beli yuk, buku saya ini. Sudah ada lho di toko buku. :)

Baca link beritanya disini ya. 



Thursday, June 9, 2016

Belajar Berwirausaha Sejak Dini

Waktu SMA, saya bersama teman-teman pernah mencoba jualan menjelang lebaran. Kami bikin paket parcel sekaligus mengantarkannya. Untungnya nggak seberapa. Tapi kami senang bukan main. Sejak itu, jiwa wirausaha saya mulai muncul. Saya jualan baju, perlengkapan bayi, buku, membuka usaha laundry, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nggak semuanya sukses memang. Tetapi itu tak membuat semangat saya surut.

Apa pelajaran yang saya ambil dari belajar berwirausaha? Berwirausaha, membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk gigih, belajar menyusun strategi bisnis, belajar menghitung, belajar memasarkan, belajar melayani konsumen, dan belajar ini itu yang lainnya. Termasuk belajar untuk siap gagal. Ini terjadi ketika bisnis laundry saya tak berjalan sebagaimana yang saya inginkan. Habis-habisan saya mempertahankan, tetapi akhirnya terpaksa saya tutup juga. Tentu saja hati saya hancur (ciee...) namun saya yakin ada hikmahnya.

Pada anak-anak, saya sudah mengajarkan berwirausaha sejak kecil. Nggak heran ketika TK, Kakak sudah mulai berjualan gelang dan kalung manik-manik. Masuk SD, ketiga anak saya membantu saya menjual buku. Di lain waktu, mereka membuat slime dan menjualnya. Mau tahu gimana cara saya membuat mereka tergerak untuk berwirausaha? Sederhana saja, kok. Ini yang saya lakukan.

Mengajarkan untuk Menghargai Uang
Sejak anak-anak kecil, mereka tahu bahwa di saat-saat tertentu saya bekerja. Ketika saya duduk di depan laptop, saya katakan mereka tidak boleh mengganggu. Ya, saya ingin mereka tahu, bahwa ibunya bekerja di rumah. Mereka juga tahu bahwa bekerja artinya berusaha menghasilkan uang. Sebaliknya, untuk mendapatkan uang, seseorang harus bekerja. 
Pernah juga suatu saat, saya berikan mereka tantangan untuk bekerja. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan akan mendapatkan imbalan berupa uang. Uang tersebut mereka kumpulkan supaya mereka bisa membeli sesuatu. 

Buku saya tentang wirausaha untuk anak-anak. Ada banyak tips di sini, lho. 


Memantik Kreativitas
Saat anak-anak di rumah, saya dan anak-anak sering berkreasi membuat sesuatu. Misalnya menggambar, menyulap barang bekas menjadi barang baru, dan sebagainya. Kadang-kadang, saya belikan mereka buku-buku craft atau video tutorial. Lama kelamaan mereka bisa membuat sendiri mainan kreasi mereka. Saya tinggal menyediakan perlengkapannya. Dari sini yang mendapat kesimpulan, sebagai orangtua, yangperlu kita lakukan cukup mendampingi dan memulai. Anak-anak, dengan ide hebatnya bisa lho menjadi lebih dari kita sebagai orangtua. 

Belajar Ketrampilan Baru
Anak-anak suka diajak belajar ketrampilan baru. Selain dari buku dan video, kadang-kadang saya ajak mereka mengikuti acara craft untuk anak-anak. Biasanya di saat liburan banyak sekali acara seperti itu. Kakak malahan belajar merajut dari tetangga kami, bukan dari saya.

Blog Icus
Soal ketrampilan, saya sepertinya harus belajar dari Icus. Ya, Icus ini sudah membimbing banyak anak untuk belajar berwirausaha. Di SMK Itaco, Icus mengajarkan anak-anak didiknya menjahit tas, membuat mug, menyablon kaos, membuat pin, dan berbagai ketrampilan lainnya. Tujuannya supaya anak-anak didiknya bisa mandiri secara finansial. Keren yak. Bisa lho kita memesan produk mereka. Caranya, mention saja di @siswawirausaha.

Nah, itu tadi beberapa cara yang saya lakukan untuk anak-anak saya. Bagaimana dengan kamu? Yuk, share di sini. Siapa tahu saya bisa nyontek hehe. [Fita Chakra]




Monday, May 23, 2016

Supaya Nge-date Ala Ibu-ibu Berjalan Lancar

Sebagai seorang IRT, refreshing sangat penting buat saya. Refreshingnya bisa bermacam-macam. Salah satu yang kadang saya lakukan adalah janjian bertemu teman-teman. Nah, bulan April lalu, saya janjian bertemu beberapa teman yang saya kenal dari internet. Awalnya, ketemuan ini untuk ketemu Pungky Prayitno yang dateng jauh-jauh dari luar negeri (ekh... luar kota). Setelah ngobrol, ternyata ada sekitar 10 orang dari kami yang bisa datang. Persahabatan kami sudah berlangsung cukup lama. Tetapi, saya jarang bertemu mereka. Walaupun begitu, bersama mereka saya merasa cukup nyaman. Makanya, saya senang ketika akhirnya kami bisa bertemu lagi. Yeay!


Setelah minta izin suami (jarang sekali dia nggak mengizinkan, paling-paling dia nanya, berangkat dan pulangnya gimana?) saya atur strategi supaya anak-anak nggak protes ketika saya tinggal pergi. Saya minta mereka pergi ke toko buku dan makan siang bersama ayahnya. Sorenya baru jemput saya sekaligus kami jalan-jalan.

Ngomong-ngomong soal nge-date ala ibu-ibu seperti kami, pastinya butuh perencanaan, dong. Maklum, rumah kami nggak berdekatan dan kesibukan kami berbeda-beda. Susah ketemuan kalau nggak klop jadwal dan waktunya. Perencanaan seperti apa yang kami lakukan? Yuk, saya bagi tipsnya:

Memilih Waktu yang Tepat
Sebagian besar dari kami memilih keteuan tanpa membawa anak-anak, kecuali beberapa teman yang anaknya masih balita. Ya nggak papa sih, menurut saya sesekali memang perlu, ibu-ibu ber-me time. Oleh karenanya pilihan kami jatuh pada weekend. Enaknya kalau ketemuan weekend, gantian suami yang jaga anak-anak.

Memilih Tempat yang Oke
Soal tempat, pilihan kami jatuh pada Amaris Pancoran. Amaris Pancoran adalah satu dari 65 hotel yang berada di bawah naungan Grup Kompas Gramedia. Dengan konsep operator (dimiliki oleh individu dengan pengelolaan profesional oleh pihak Amaris), Amaris berkembang pesat. Malahan, saat ini Amaris juga sudah ada di Singapura. Keren yak.



Ada beberapa pertimbangan mengenai tempat ini.
Pertama, sebagian besar akan menginap, jadi lebih puas ngobrolnya. Butuh kamar yang nyaman dan makanan yang enak tentunya. Amaris masuk ke dalam kriteria kami ini.
Kedua, Amaris Pancoran mudah dijangkau dari mana-mana. Letak stasiun dekat dan berada di pusat keramaian.
Ketiga, kamarnya bersih, desainnya simpel dan modern. Saya suka konsepnya yang stylish.
Keempat, harganya relatif terjangkau. Ya, buat kumpul-kumpul saja, kami nggak memerlukan kamar yang luas. yang penting basic need (makan, tidur, dan mandi) terpenuhi.
Kelima, pelayanannya oke. Katanya sih, kalau ultah suka dapet diskon. Catet ya, kapan-kapan mau nginep di sana saat ultah deh hihi.

Memilih Tempat yang Child Friendly
Untuk teman-teman yang membawa anak, akan lebih nyaman jika menempati kamar non smooking. Nah, enaknya di Amaris ini bisa minta kamar yang non smooking. Asyik kan ya, anak-anak bebas dari paparan asap rokok sedangkan ibunya bisa ngobrol sama teman-temannya.



Membawa Peralatan Dokumentasi
Supaya lebih seru, jangan lupa membawa kamera, tongsis, dan mengabadikan pertemuan ya. Ini penting, supaya kelak di kemudian hari kami bisa mengenang kebersamaan ini melalui foto. Say, cheese!

Foto: Pinjam dari Mami Icha.

Nah, itu tadi beberapa catatan saya supaya nge-date ala ibu-ibu lancar. Bagaimana dengan kamu? Ada tips lain?

Buat teman-teman yang ingin menginap di Hotel Amaris Pancoran ini ya alamat dan no telpnya.

Hotel Amaris Pancoran
Jl. Pasar Minggu No. 15
Jakarta Selatan
Telp 021-7949777










Friday, April 29, 2016

Ketika Ibu Nggak Bisa Masak Terpaksa Masak

Saya nggak bisa masak.


Iya, Ibu saya dulu nggak ngajari saya masak karena beliau juga nggak terlalu suka masak. Lalu siapa dong yang masak? Alhamdulillah, waktu masih tinggal bersama orangtua, selalu ada ART walaupun berganti-ganti. Mereka yang memasak untuk kami saat Ibu bekerja. Ketika ART tersebut pulang, biasanya Ibu mengajak saya memasak. Masaknya sederhana saja. Nggak pernah yang ribet. 

Setelah menikah dan tidak lagi tinggal bersama orangtua, saya pun mengikuti alur tersebut. Mempekerjakan ART, meminta mereka memasak untuk keluarga kami selalin bersih-bersih. Bisa dibilang saya lebih banyak memegang anak, sedangkan urusan rumah itu menjadi pekerjaan ART. Suami saya nggak pernah minta saya masak ini itu. Dia tahu pada dasarnya saya nggak suka masak. Tetapi, ketika saya memasak sesekali, dia mengapresiasinya dengan menghabiskan masakan saya. Walaupun saya yakin, rasanya pas-pasan hehehe.

Saya yakin sih, kalau saya mau belajar memasak, saya akan mahir masak. Masalahnya, hati saya nggak tergerak sedikitpun. Jujur saja, saya kurang suka memasak dengan beberapa alasan. Pertama, saya malas bersih-bersih dapur dan segala perkakas memasak setelah masak. Bagi saya, memasak membutuhkan effort. Ketika setelahnya masih harus beres-beres, itu sangat melelahkan. Jadi daripada saya uring-uringan melihat dapur yang kotor, lebih baik saya jaga mood saya dengan tidak memasak. 

Kedua, untuk memasak, saya perlu persiapan ekstra. Belanja, cari resep, mengupas, memotong, mengoreksi rasa dan sebagainya. Ketika itu bukan menjadi passion saya, rasanya berat melakukannya. Dulu sih, saya suka membandingkan memasak dengan menulis. Misalkan saya memasak selama dua jam, saya mengkonversikan waktu dua jam itu menjadi berapa halaman ketik yang bisa saya selesaikan hahaha. Akibatnya, saya merasa kok nggak produktif amat ya saya tinggalin nulis untuk masak? Belum tentu juga rasanya enak.

Ketiga, suami saya nggak pernah nuntut saya masak. Ini alasan terbesar saya susah move on. Suami saya mau makan apa saja dan tidak mempermasalahkan asal masakan itu. Dulu sebelum menikah sih dia pernah bilang bahwa saya harus bisa masak karena siapa tahu kami membutuhkannya kelak. Dengan alasan tersebut akhirnya saya belajar masak yang mudah-mudah seperti masak sop, sayur tumis, dan semacamnya. 

Dari tahun ke tahun, level kepandaian saya memasak begitu-begitu saja. Nggak sedikitpun hati saya tergerak belajar memasak. Puncaknya terjadi tahun lalu ketika ART saya resign. Bertahun-tahun selalu ada ART di rumah kami, bikin saya rada galau juga ketika harus mengalami ini. But, the show must go on. Nggak mungkin lah ya saya tahan-tahan ART yang sudah nggak mau kerja sama kami. Konsekuensinya, memasak menjadi tanggung jawab saya. Oke, untuk makan siang dan malam saya bisa pesan catering. Bagaimana dengan sarapan? Sarapan sih mudah. Anak-anak nggak harus makan nasi.

Masalah terjadi ketika anak-anak ternyata nggak terlalu suka masakan catering yang saya pesan. Terpaksa saya turun tangan. Tetap saja saya nggak mau sering-sering masak, jadi sesekali saja saya memasak. Itulah momen dimana saya terpaksa belajar memasak.

Beruntunglah ibu-ibu era digital sekarang ini punya akses internet. Saya belajar masak dari internet. Salah satu blog yang jadi rujukan saya adalah blog Mbak Lianny. Nah, karena sudah kenal, kalau ada yang ditanyakan, saya kontak saja lewat WA. Dia dengan senang hati menjelaskan. Untungnya Mbak Lianny ini sabar. Bikin saya nggak keder tanya-tanya. 

Blog Mbak Lianny yang menggiurkan :)

Apakah sekarang saya jadi mau masak? Belum bisa dibilang suka menurut saya. Kadang-kadang, saya masih terpaksa memasak. Tetapi, yang kadang-kadang itu bikin saya senang karena ternyata anak-anak memujinya setinggi langit. Setiap kali mereka saya bawakan bekal, mereka memeluk, mencium, dan mengatakan dengan bangga bahwa mereka bawa bekal masakan saya. So sweet

Ya, anak-anak memang kekuatan luar biasa untuk saya. Ternyata merekalah alasan terbesar saya untuk memasak. Dan sekarang, alhamdulillah, level memasak saya sudah bisa naik sedikit dibanding sebelumnya, walaupun tetap belum bisa dikatakan level mahir (saya akui, saya masih baru dalam tahap mau belajar, masak belum menjadi passion saya). See? Ternyata ketika saya tidak punya pilihan, saya bisa melakukan sesuatu yang saya kira nggak bisa. Kuncinya hanya mau atau tidak.











Thursday, April 28, 2016

This is Us, Not Just Me and You

Salah satu hal menyenangkan yang saya dapatkan dari blog adalah ketika saya mendapatkan pelajaran berharga dari blog teman. Ketika beberapa waktu lalu saya berkunjung ke blog Mbak Reni (demikian saya biasa menyebutnya), ada satu postingan yang membuat saya menghela nafas berkali-kali. Postingan itu berisi cerita tentang pasangan suami istri yang keluarganya tidak harmonis hubungannya. Digambarkan dalam postingan itu bahwa sang suami (maaf) sangat egois. 

Terus terang saja, membaca postingan itu membuat saya gemas sekaligus kesal. Kalau memang mau semaunya sendiri (tidak mau ikut mengurusi anak maupun rumah tangga, malas-malasan, dan tidak bekerja), buat apa ya dia menikah? Kalau dia tidak punya penghasilan, at least berusahalah. Jujur saja, saya jadi mempertanyakan usahanya. Menurut saya, kalau kita berusaha sungguh-sungguh, Allah pasti memberikan jalan keluarnya. 

Baiklah, daripada kesal, saya sedikit beralih topik ya. Jarang-jarang saya menulis soal pernikahan dalam blog hehehe. Walaupun begitu, mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita sedikit tentang kami. Dari awal menikah, saya dan suami sepakati bahwa pernikahan adalah kami, bukan hanya saya dan dia. This is us, not just me and you. Alhamdulillah, tahun ini kami memasuki tahun ke-14 pernikahan dan banyak hal yang saya syukuri karenanya. Berikut ini beberapa di antaranya.


Mengerjakan Tugas Rumah Tangga Bersama-sama
Saya dan suami saling membantu mengerjakan tugas rumah tangga. Tidak ada pembagian yang jelas siapa mengerjakan apa. Tetapi, suami saya tidak keberatan menjemur pakaian, memasak, mencuci piring, dan menyiram tanaman. Untuk bersih-bersih rumah dan menyetrika, dia angkat tangan. Tetapi, bantuannya dalam hal lain sudah sangat melegakan saya. Kami sepakat untuk mempekerjakan orang khusus menyetrika di hari tertentu.

Mengasuh Anak-anak
Dari anak-anak bayi, kami bergantian memegang anak-anak. Suami saya lumayan luwes menggendong, menyuapi dan mengajak main anak-anak. Bahkan dia bisa menggantikan baju dan mengganti diapers. Sekarang, jika saya ada kegiatan di luar, suami saya pun mau mengajak anak-anak pergi ke toko buku atau taman sembari menunggu saya. Apa kata anak-anak saat bersama ayahnya? Seru, kata mereka hehehe. Ya, itu karena ayahnya memperbolehkan mereka main apa saja walaupun kotor. Sementara saya sudah jejeritan kalau lihat mereka kotor atau berantakan. 

Membagi Waktu
Kami punya kesepakatan soal waktu. Paling tidak ada, tiga waktu yang kami sepakati. Pertama, waktu untuk keluarga besar dan anak-anak. Kedua, waktu untuk pasangan. Ketiga, waktu untuk diri sendiri.
Waktu untuk keluarga besar dan anak-anak adalah waktu dimana kami sekeluarga bersama-sama. Yang sering kami lakukan misalnya, berenang, makan bersama keluarga (entah di rumah atau di luar rumah), mengunjungi kerabat, belanja bersama, dan seterusnya.
Waktu untuk pasangan adalah waktu kami bersama, tanpa anak-anak. Yang sering kami lakukan misalnya menonton film, makan malam berdua di restoran, pergi ke kondangan (karena anak-anak sudah nggak suka kami ajak ke kondangan), jalan kaki berdua di sekitar rumah, dan seterusnya. 


Waktu untuk diri sendiri adalah me time untuk saya maupun dia. Kalau saya, seringnya menghabiskan me time dengan pergi ke salon (paling-paling 2-3 bulan sekali baru terlaksana), pergi makan bersama teman, atau pergi ke toko buku sendiri.Sedangkan suami saya biasanya pergi bersepeda atau main futsal bersama teman-temannya.
Kenapa pembagian waktu ini penting buat kami? Karena diakui atau tidak, kami sering terjebak pada kesibukan yang rutin. Kalau itu dilakukan terus menerus dikhawatirkan akan menjadi masalah di kemudian hari. Saya sendiri paling cepat marah kalau harus menghadapi anak-anak terus menerus tanpa ada teman curhat. Apalagi dalam keadaan capek. Kalau sudah marah-marah, nanti nyesel jatuhnya. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan. Tapi sementara ini cukup segini dulu deh. Bagaimana dengan teman-teman? Apa yang kalian syukuri dari pernikahan? [Fita Chakra]

Monday, April 11, 2016

[Editan Saya] KKPK The Real Princess



Judul : The Real Princess
Penulis : I'tiya
Ilustrator Sampul : Nisa Nafisah
Ilustrator Isi : Syarifah Tika
Editor : Dadan Ramdhan dan Fita Chakra
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : Februari 2016
Jumlah Halaman : 100 halaman


Apa jadinya kalau Princess Zahra dan Princess Kayrin yang usil bertemu? Wah, mereka pasti senang karena punya teman yang punya banyak kesamaan!
Ya, mereka sama-sama jail, ceroboh, dan tak rapi. Mereka juga kompak menolak ketika diminta bersekolah di asrama khusus para Prince dan Princess.