Thursday, September 28, 2017

Ngobrol Tentang Novel Bersama Ade Anita

Bismillahirrohmanirrohim ....

Sering saya merasa, pengetahuan tentang menulis novel masih segitu-segitu saja. Jadi nggak ada salahnya dong, saya berguru pada orang lain. Iya sih, saya sudah pernah nulis novel. Tapi itu sudah lama sekali, sekarang pingin belajar lagi supaya bisa nulis novel yang lebih bagus.

Singkat cerita, akhirnya saya kontak Mbak Ade Anita untuk ngobrol-ngobrol cantil soal novel. Yang saya tahu, Mbak Ade sudah pernah menulis beberapa novel. Pastinya ada yang bisa dibagikan untuk saya. Jadi saya bikin wawancara, dan ini pertanyaan dan jawabannya. 


Q:
Selain ide, apa yang mesti disiapkan sebelum nulis novel? Perlu nggak bikin kerangka? 

A:
Kalau aku, cari karakternya dulu. Biar bisa ngebayangin kalau lagi cemberut, marah, nangis dan lain-lain. Biasanya aku googling artis dan ngumpulin fotonya supaya bisa data feel-nya. Habis itu aku cari nama tokoh, tulis namanya, posisinya, dan karakterya. Setelah itu baru nulis kerangka. Kerangkanya nggak kaku juga sih, garis besarnya saja.

Hmm, prinsipnya sama sih dengan yang saya kerjakan selama ini. Hanya saja, saya membuat mindmap sebagai pengganti kerangka.

Q:
Menurut Mbak Ade, novel seperti ada yang disukai oleh remaja? Bagaimana cara kita (sebagai penulis), bisa menulis novel yang disukai merken?

A:
Nggak tahu. Aku nulis suka-suka soalnya hahaha.

Baiklah, saya sih juga begitu hihi. Memang menulis dari hati paling enak ya, Mbak. Tos!

Q:
Aku merasa kurang bisa menulis novel karena butuh konsistensi. Kira-kira, bisa nggak penulis "napas pendek" menulis novel? Bagi tipsnya dong.

A:
Bisa banget. Caranya nulis kumpulan cerita pendek yang sambung menyambung. Ada banyak kok novel yang menulis dengan cara ini. Aku pikir, ini bisa dipakai oleh mereka yang tidak terbiasa menulis novel. Intinya tiap episode berdiri sendiri. Tetapi ketika kita baca maraton, kita tahu bahwa itu sebuah cerita panjang. Ya seperti begitulah.

Sepertinya ini ide yang bagus yang bisa saya coba. Makasih tipsnya ya, Mbak!

Q: 
Siapa penulis favorit Mbak Ade? Jelaskan alasan kenapa Mbak mengidolakannya.

A:
Aku suka semua penulis genre metropop dan mengambil tagline "I am single, but I am happy". Kenapa? Karena mereka menulis kisah yang bikin senyum tapi bukan karena komedi yang dipaksakan. Hidup juga terasa nggak ribet. Intinya, aku suka buku yang menularkan aura optimis, happy, dan semangat. Hidup itu indah. Bahagia itu sederhana. Penulis kesukaanku, Sophie Kissela, Alea Zalea dan Raditya Dika.

Sepertinya, kita beda selera, Mbak hehehe. Biar begitu saya juga baca kok beberapa novel dari penulis yang Mbak Ade sebutkan dan karya mereka baguuus.

Q:
Menurut Mbak Ade, perlu nggak novelis punya spesialisasi? Kalau Mbak Ade sendiri termasuk penulis yang suka nulis novel seperti apa?

A:
Menurutku pribadi: nggak perlu. Karena menulis itu proses kreatif. Ketika proses kreatif dipagari yang terjadi justru kreatifitas yang mati dan terkukung. Semua orang pastilah akan menemui titik jenuh jika dihadapkan pada sesuatu yang sama. Bahkan meski dia amat menyukainya sekalipun. Jadi, variasilah. Coba semua, lalu fokus. Jika sudah mulai sulit fokus, beralih ke yang lain sejenak agar kelak bisa kembali mengerjakan yang kita sukai tersebut.

Siplah. Makasih banyak buat nögobrol-ngobrolnya ya, Mbak Ade. Insya Allah bermanfaat.




Wednesday, September 13, 2017

Mendongeng di Kelas, Mengapa Tidak?

Bismillahirohmanirrohim....

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, saya mengikuti Storytelling Workshop for Lecturer and Trainer. Pengajarnya Sheila Wee, seorang pendongeng yang sudah belasan tahun menekuni bidang ini. Alasan saya mengikuti worskhop ini pertama adalah karena saya merasa perlu belajar lagi cara menyampaikan materi secara efektif pada murid-murid saya. Kedua, selama ini, saya jarang mendongeng untuk murid-murid saya. Dalam benak saya, mendongeng itu membutuhkan keahlian khusus, seperti kepandaian memainkan intonasi, berekspresi dan kepandaian bercerita. Bagaimana dengan saya? Saya akui, saya masih sering merasa kurang pede bercerita.



Kebetulan, ada beberapa teman yang berprofesi sebagai guru. Saya pun iseng-iseng tanya apakah mereka mendongeng di kelas? Jawaban jujur saya dapatkan dari Chela, si Bu Guru Kecil. Dia mengatakan, "Pernah sih, Mbak, aku mendongeng di kelas. Tapi menurutku kurang maksimal hasilnya karena aku masih malu-malu. Padahal, mendongeng itu bisa jadi media yang bagus untuk belajar karena bisa mudah ditangkap materinya."

Terus terang saja, jawaban Chela cukup menyejukkan di telinga saya, karena sepertinya saya punya teman yang berpikiran sama hehehe. Sama-sama mengakui nilai plusnya mendongeng untuk anak, tapi masih susah mempraktikkannya. Baiklah, kita sama-sama belajar, ya, Chel.

Nah, apa saja sih yang saya dapatkan dari workshop itu? 

Otak Manusia Memproses Cerita
Mana yang lebih kamu ingat, cerita atau penjelasan materi dalam bentuk poin-poin kalimat? Kalau itu ditanyakan pada saya, saya akan jawab, lebih mudah mengingat cerita. Ya, cerita adalah hal yang  mudah diterima oleh otak manusia. Cerita juga membuat orang yang mendengarkan lebih kreatif. Ketika seseorang mendengar cerita, dia akan membayangkan situasi yang terjadi dalam cerita tersebut. Proses ini membuatnya berpikir dan mengingat.

Raih Perhatian Audiens
Ketika kita bercerita, raih perhatian audiens terlebih dahulu. Pastikan mereka diam, sehingga dapat mendengarkan cerita dengan baik. Poin ini, masih PR buat saya, apalagi untuk audiens anak-anak. Salah satu cara yang saya lakukan biasanya, mengajak mereka berdialog di awal

Ingatlah Awal dan Akhir Cerita
Kesalahan yang mungkin sering terjadi adalah saat kita bercerita, kita terlalu sibuk memikirkan keseluruhan cerita. Padahal, menurut Sheila, kita cukup mengingat awal dan akhir cerita. Sisanya? Mengalir saja. Bahkan, kita boleh lho berinteraksi dengan menanyakan pada audiens, tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Jadilah Diri Sendiri 
Menjadi diri sendiri saat mendongeng artinya nyaman dengan diri sendiri tanpa meniru orang lain. Kenali kelebihan kita. Kalau kita nggak nyaman pakai tools seperti boneka tangan, ya tidak usah maksa pakai boneka tangan. Kalau kita tidak bisa mengubah-ubah nada suara, ya tidak perlu. Intinya senyaman kita saja. 

Kesimpulan yang saya dapatkan di akhir acara, mendongeng membutuhkan jam terbang. Sama seperti menulis, semakin rajin berlatih, maka akan semakin terasah kemampuan kita mendongeng. Jadi, kalau mau lebih pede, mendongenglah setiap hari. Buat yang berprofesi sebagai guru, mendongeng di kelas bisa menjadi tempat berlatih yang oke.  Yuk, semangat, ah! 

Monday, September 11, 2017

Linz, Kota Yang Tak Terlupakan

Kota kesekian yang saya kunjungi bersama keluarga dalam rangkaian perjalanan kami adalah kota Linz, Austria. Sebenarnya, saat kami menyusun itinerary, terjadi pembahasan yang cukup lama di antara saya, suami, dan orangtua saya. Ada beberapa kota di Austria yang masuk dalam daftar kami. Setelah disaring masih tersisa tiga kota dalam saftar yaitu Wina, Salzburg dan Linz. Ketiganya menarik. Tetapi, saya dan suami sudah pernah mengunjungi Wina, maka Salzburg dan Linz menjadi pilihan akhir. Kami tidak bisa mengambil keduanya karena waktunya terbatas. Dengan berbagai pertimbangan (antara lain faktor lamanya perjalanan dan kelelahan) kami pun memutuskan bermalam di Linz.

Kami tiba di Linz menjelang malam. Untungnya (sekali lagi), karena saat itu musim panas, pukul 7 maman pun masih seperti sore. Kesan pertama yang tertangkap oleh saya, kota kecil ini tenang dan nyaman untuk berjalan-jalan. Kotanya juga bersih, sama seperti kesan yang kami tangkap saat berkunjung ke Wina beberapa tahun lalu. 

Ketika sampai di penginapan, resepsionis menyapa kami dengan ramah. Bahkan, ketika kami menanyakan tentang layanan pesan antar makanan, dia menawarkan untuk memesan. Alhamdulillah waktu itu ada layanan pesan antar makanan halal. Kami pun langsung mengiyakan tawarannya.

Seharusnya, jika tidak capek, malam hari adalah waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Mengapa? Karena beberapa obyek lebih menarik dilihat pada alam hari. Misalnya Ars Electronica Center dan Lentos Art Museum. Sekadar berjalan-jalan menyusuri Sungai Danube pun cukup untuk menyenangkan. Sayangnya, saat itu kami sudah terlanjur ngantuk.

Lagi harinya, kami bersiap menjelajah kota. Tujuan kami adalah menuju Postlingberg, sebuah tempat di atas bukit. Sebelumnya, kami berjalan menuju pusat kota. Kami berangkat ke Postlingberg menaiki trem. Postlingberg lebih sepi dibandingkan Linz. Namun ketika kami sampai di atas, kami bisa melihat pemandangan kota Linz lebih leluasa. 

Nah, ini dia beberapa penampakan kota Linz. Kelihatan nyaman dan tenang kan ya?






Buat teman-teman yang ingin berjalan-jalan ke Linz, jika ingin makan makanan halal, ada beberapa tempat yang menyediakan makanan halal. Salah satu restoran yang kami kunjungi menyediakan kebab dan semacamnya. Lumayan enak, sayangnya saya lupa namanya. Namun, jika teman-teman mencoba browsing, ada beberapa resto halal di Linz. 

Buat saya sendiri, Linz merupakan salah satu kota yang nggak terlupakan. Entah mengapa saya suka suasananya yang jauh dari hiruk pikuk kota. 

Wednesday, August 23, 2017

Fussen, Neuschwanstein dan Negeri Dongeng

Bismillahirrohmanirrohim.

Dari awal kami merencanakan jalan-jalan, saya sudan mengusulkan satu tempat tujuan wisata pada suami saya. Nama tempat itu adalah Kastil Neuschwanstein. Kastil Neuschwanstein sudah masuk dalam wish list saya tahún sebelumnya. 

Di Eropa, yang namanya kastil, ada dimana-mana. Tapi kastil ini punya keistimewaan, yaitu bentuknya yang khas mengingatkan kita pada kastil di dalam film Disney. Khas fairy tales gitu, deh. Letak kastil yang dibangun oleh Ludwig II dari Bavaria ini berada di pegunungan dekat Hohenschwangau dan Fussen.

Untuk menuju Neuschwanstein, kami naik kereta dari Heidelberg menuju Fussen. Kami sengaja memesan penginapan di Fussen karena kereta tiba menjelang malam. Alhamdulillah, hari baru gelap menjelang pukul 21.00 saat musim panas. Jadi, ketika sampai di Fussen, kami sempat berjalan-jalan sebentar sebelum beristirahat.

Suasana menjelang malam di Fussen (dok. pribadi)

Fussen, adalah sebuah desa di kaki pegunungan yang tidak terlalu ramai. Ada cukup banyak penginapan di sekitar stasiun. Kafe dan toko-toko souvenir bisa ditemukan di hampir sepanjang jalan di sekitar stasiun tersebut. Untuk menuju Neuschwanstein, pengunjung bisa naik bis dari halte. 

Friday, August 11, 2017

Heidelberg, Kota Kecil di Tepian Sungai Neckar

Bismillahirrohmanirrohim.

Allah Yang Maha Baik memberikan jalan ke kota kecil bernama Heidelberg ini melalui adik saya. Alhamdulillah, adik saya dan keluarga kecilnya digerí kesempatan tinggal di Heidelberg untuk melanjutkan studi. Sejak pertama kali datang, saya sudan jatuh cinta pada kota ini. Heidelberg bukan kota yang hiruk pikuk, namun sebaliknya. Tenang dan lumayan sunyi. Suasana inilah yang saya sukai.

Salah satu pemandangan yang tak pernah bosan saya lihat selama berada di sana adalah Sungai Neckar. Di sepanjang tepi Sungai Neckar terdapat banyak rumah-rumah tua berjajar. Jajaran rumah-rumah berdesain khas Eropa itu merupakan obyek foto yang menarik bagi wisatawan. Asyiknya lagi, saat musim panas, kita bisa lho menaiki perahu di sungai tersebut.



Tidak tanya itu, ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi jika teman-teman berkunjung ke Heidelberg. Berikut ini saya bagikan beberapa tempat yang saya kunjungi.

Schloss Heidelberg
Kastil yang satu ini adalah salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi. Letaknya di atas bukit. Ada dua pilihan untuk menuju ke kastil, berjalan kaki atau menaiki kereta. Kami memilih naik kereta (yang disebut funicular railway), karena nggak mau gempor jalan kaki. Kereta akan berhenti di beberapa tempat. Puncaknya adalah Konigstul. Menurut adik saya, Konigstul artinya singgasana raja.


Harga tiket masuk ke Schloss Heidelberg sebesar 7 Euro per orang. Dengan membayar tiket itu, kita bisa masuk ke Museum Apoteker dan naik funicular railway. Naik funicular railway ini lumayan ngeri buat orang yang takut ketinggian. Tapi begitu sampai atas, subhanallah.... pemandangannya indah banget!

Nah, karena dulu saya sudan pernah masuk ke dalam kastil dan museumnya, kali ini kami jalan-jalan saja keliling taman. 


Aldstadt
Aldstadt adalah nama lain dari kota tua. Letaknya masih dekat dengan Schloss Heidelberg. Seperti halnya tempat wisata lainnya, di Aldstadt, banyak toko-toko souvenir dan tempat makan. Anak-anak sempat jajan es krim dan crepes cokelat disitu. 




Salah satu spot foto yang bagus yaitu Altebrucke. Altebrucke adalah jembatan yang menghubungkan dua sisi Sungai Neckar. Jika ada waktu, teman-teman data mengunjungi Penjara Mahasiswa atau Studentenkarzer. Kabarnya, penjara ini digunakan untuk menghukum mahasiswa yang melanggar peraturan. Fungsi penjara ini tidak mengerikan seperti namanya kok. Mahasiswa yang dihukum masih diperbolehkan mengikuti pelajaran. Hanya saja, mereka harus berada di tempat tersebut pada waktu yang ditentukan.


Schwetzingen Palace
Letak Schwetzingen Palace tidak jauh dari Heidelberg. Keistimewaan istana ini adalah tamannya yang luas dan indah. Saking luasnya, bisa-bisa seharian penuh untuk menjelajah semua sisinya. Yang menarik lagi, terdapat mesjid di salah satu sudut taman. 


Harga tiket masuk Schwetzingen Palace untuk dewasa 10 Euro. Kita bisa pakai tiket family seharga 25 Euro jika datang bersama keluarga. Lumayan ngirit kan.

Selain tiga tempat di atas, mangan lewatkan pula jalan-jalan di pertokoan. Kebanyakan penduduk yang tinggal di sini berstatus mahasiswa pendatang, tetapi banyak pula warga asli yang sudah berumur. Seperti yang saya katakan di awal, insya Allah tidak menyesal main ke Heidelberg karena kotanya sangat nyaman. [Fita Chakra]





Wednesday, July 26, 2017

Perjalanan Melihat Dunia

Bismillahirohmanirrohim....

Alhamdulillah, menulis lagi setelah sekian lama absen. Kali ini, saya ingin cerita sedikit (err... mungkin hanya sedikit kali ini, tapi sambungannya banyak), tentang perjalanan kami sekeluarga ke beberapa kota di Eropa beberapa waktu lalu. Hanya untuk berbagi ya, siapa tahu ada yang membutuhkan infonya.

Cerita perjalanan saya dan suami ke Eropa yang pertama kali, pernah saya tulis di blog tahun 2015. Kalau ada teman-teman yang membaca, mungkin ingat bahwa waktu itu winter. Hidup di negara tropis membuat kami berdua mesti ekstra persiapan untuk pergi dalam cuaca yang kurang mendukung. Alhamdulillah, hal tersebut tidak mengalahkan semangat kami. Nah, sejak itu, saya sering berdoa, mudah-mudahan diberi kesempatan lagi untuk jalan-jalan ke Eropa bersama anak-anak. Kalau bisa, sebelum keluarga adik saya kembali ke Indonesia.

Siapa sangka, tahun ini, kesempatan itu datang tahun ini. Allah yang Maha Baik, memberikan kesempatan kami sekeluarga bersama Bapak Ibu saya untuk menengok keluarga adik. Jadilah kami pergi berombongan. Kali ini, perginya saat summer.

Apa saja persiapan yang kami lakukan? 

Membeli Tiket
Sekitar bulan September 2016, ada promo yang ditawarkan oleh sebuah maskapai penerbangan. Harganya tiket pp ke Frankfurt menjadi hanya separuh harga normal. Saat itulah kami beli. Sebelumnya sempat ragu sih, karena takutnya sudah terlanjur beli, lalu pengajuan visa kami tidak diterima. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya tetap beli. Untuk urusan visa, bismillah saja.

Apply Visa Schengen
Tidak seperti sebelumnya, kali ini kami membuat visa melalui travel agent. Pertimbangan kami, karena saat kami membuat visa, kegiatan kami sedang banyak. Khawatir ada persyaratan yang terlupa dan sebagainya. Sebenarnya sih, berdasarkan pengalaman sebelumnya, mengajukan pembuatan visa bisa dilakukan sendiri. Asalkan syaratnya dilengkapi, insya Allah approved. Tapi tetap saja, menjelang wawancara (walaupun mengurus lewat travel agent, pemohon harus datang untuk wawancara, rasanya seperti mau ujian! Saat pengambilan visa, hati luar biasa lega.

Itinerary
Pergi berombongan bersama anak-anak, juga orangtua membuat kami harus mempertimbangan faktor waktu dan kondisi fisik. Jika dulu, saat saya dan suami pergi berdua, bisa tiap hari pindah kota tanpa menginap (alias tidur di kereta), kali ini tidak bisa begitu. Akhirnya kami susun itinerary yang lebih longgar. Konsekuensinya, tidak bisa terlalu ambisius mengunjungi banyak kota. Total jumlah kota yang kami singgahi dalam perjalanan kali ini adalah 7 kota, 3 negara (Frankfurt, Heidelberg, Fussen, Munchen, Linz, Praha, Berlin). Itinerary yang kami buat, meliputi jenis transportasi, tempat menginap, obyek yang akan dikunjungi, juga biaya.

Persiapan Fisik
Seperti biasa, kami mempersiapkan anak-anak dengan "latihan jalan" beberapa minggu sebelum berangkat. Kami mesti naik turun berbagai alat transportasi dan banyak berjalan. Selain "latihan jalan", kami juga berusaha tidur cukup dan makan tepat waktu. 

Sementara itu dulu yang bisa saya bagikan. Selanjutnya, insya Allah saya akan ceritakan per kota. 

Terima kasih sudah membaca. 




Wednesday, March 8, 2017

Membuat Dekorasi Sederhana untuk Latar Pemotretan

Bismillahirrohmanirrohim.

Awal tahun kemarin, saya bersama teman-teman melakukan pemotretran untuk buku tahunan anak-anak. Kebetulan lagi sering-seringnya hujan, jadi kami berpikir untuk mencari lokasi yang dekat dengan sekolah. Akhirnya disepakati lokasinya di sebuah kompleks perumahan. 

Next, kami butuh dekorasi. Yang jelas, nggak mahal-mahal karena dana terbatas. Putar otak, dapatlah ide bahwa konsep pemotretannya sederhana saja. Cukup semacam piknik di taman. Lalu saya ingat, dulu pernah bikin bunga-bunga gantung dari kertas. Bahan-bahannya mudah diperoleh. Ini yang saya gunakan:


  1. Ranting pohon (mungut dari parkiran sekolah. Karena nggak bisa masuk mobil, dipotong jadi dua lalu disambung setelah sampai rumah).
  2. Kertas warna-warni (kertasnya mirip kertas tisu, tipis).
  3. Tali.
  4. Pot.


Cara Membuat:

  1. Tumpuk kertas menjadi 8-10 lapis.
  2. Lipat kertas menjadi seperti kipas.
  3. Tekuk menjadi dua bagian. Pada bagian tengah diikat dengan tali. Sisakan tali menjuntai supaya bisa diikat pada ranting.
  4. Ujung kanan kiri digunting melengkung.
  5. Buka satu persatu lembaran kertas hingga membentuk bunga.
  6. Pasang ranting pada pot. Masukkan batu-batu kecil di dalamnya hingga ranting tertanam kokoh.
  7. Gantungkan bunga satu persatu.

Alhamdulillah, cukup untuk membuat latar pemotretan menjadi lebih cantik.