Friday, January 13, 2017

Jejak Langkah 2016

Bismillahirrohmanirrohim....

Biasanya, saya paling semangat mencatat pencapaian selama setahun. Tahun-tahun sebelumnya, saya bahkan membuat catatan per bulan di akhir tahun. Semua hal penting yang saya lakukan di bulan itu, termasuk buku-buku yang terbit, saya tulis. Bukan bermaksud untuk pamer, sama sekali bukan. Hanya untuk reminder diri sendiri, supaya tetap semangat menjalani hari-hari berikutnya.

Tapi kali ini, entah kenapa, saya tidak terlalu antusias menuliskannya satu per satu. Mungkin karena tidak banyak buku yang saya tulis? Mungkin karena buat saya mencatat pencapaian bukan lagi sesuatu yang penting? Entahlah.

Walaupun begitu, saya tetap akan menulis sedikit mengenai tahun kemarin. Hanya untuk mengenang bahwa saya tetap menulis di sela-sela kesibukan yang lain dan melakukan beberapa kegiatan yang cukup menyenangkan. Juga sebagai bahan renungan untuk diri sendiri.

So, what I've done in 2016 are:

Menulis
Alhamdulillah, buku yang terbit tahun ini terdiri dari 8 buku, yaitu 6 judul dalam satu seri, satu buku anak tentang kesehatan, dan 1 buku republish dengan cover baru. Saya banyak mengurangi kesibukan menulis di tahun ini, karena sedang komit untuk melakukan kesibukan yang lain.

Mengajar
Setelah menginjak tahun keempat mengajar ekskul menulis, saya merasa banyak yang perlu saya pelajari lagi. Saya ingin menciptakan suasana yang menyenangkan di saat mengajar. Semoga ada kesempatan untuk belajar dari orang yang lebih pengalaman nanti.

Keluarga
Alhamdulillah, banyak hal yang sangat saya syukuri di tahun 2016. Pertama, kami punya beberapa kali kesempatan untuk pergi, baik hanya bersama suami maupun bersama anak-anak. Mudah-mudahan tahun 2017 pun demikian.
Kedua, saya dan anak-anak lebih sering berbincang dan bekerjasama terutama dalam mengerjakan pekerjaan rumah setelah tak ada ART menginap.

Kegiatan Lain
Tahun 2016, saya menggeser skala prioritas saya dari menulis ke mengerjakan kegiatan sekolah. Ini terjadi karena saya terlanjur masuk menjadi koordinator orangtua murid. Saya tidak mau fokus saya terpecah. Konsekuensinya, saya menunda banyak keinginan menulis sampai saya menyelesaikan tugas ini.

Selain yang saya sebutkan di atas, ada beberapa peristiwa buruk yang terjadi pada saya dan kami sekeluarga. Insya Allah, saya sudah menerimanya dengan baik dan belajar ikhlas. Semuanya menjadi pengalaman berharga untuk kami.

Lalu, apa yang saya inginkan di tahun 2017?
Saya hanya ingin menjalani hari-hari saya dengan terus belajar. Belajar bersyukur. Belajar hal baru. Belajar hidup sehat. Belajar mengatur keuangan lebih baik. Belajar menulis lagi. Pokoknya belajar, belajar dan belajar.

Kali ini, saya tidak punya planning yang spesifik seperti sebelum-sebelumnya. Mudah-mudahan, saya bisa menjalani hari-hari berikutnya dengan lebih baik. Aamiin.

Tuesday, December 27, 2016

Menginap di Taman Safari Lodge

Bismillah....

Awal liburan semester ini, kami sekeluarga pergi ke Taman Safari. Tadinya kami mau pulang pergi saja, mengingat jarak antara Puncak-Depok tak terlalu jauh. Tetapi kemudian, setelah menimbang-bimbang, kami memutuskan untuk menginap. Pasalnya, Kiera, suka sekali dengan binatang. Biar lebih puas, nggak buru-buru dan nggak khawatir kalau pulangnya macet. 

Sebelum liburan mulai, saya dan suami sudah sibuk mencari penginapan. Awalnya, kami ingin menginap di Pesona Alam. Kebetulan dulu sudah pernah menginap di sana, dan kami sangat puas. Sayangnya, setelah kami cek, kamar yang seharga budget kami ternyata sudah full booking. Sayang banget kalau mau upgrade ke kamar yang lebih mahal *emak irit mode on :D

Pencarian penginapan pun berlanjut. Saya usulkan pada suami, untuk menginap di Taman Safari Lodge saja.
"Siapa tahu bisa dapat diskon masuk ke Taman Safari," kata saya *masih dengan emak irit mode on :D. Ya, dulu saja waktu kami menginap di Pesona Alam, ada diskon khusus untuk tamu yang ingin membeli tiket masuk Taman Safari sebesar 20%. Sayangnya, waktu itu kami udah terlanjur ke Taman Safari baru kemudian check in.

Setelah menelusuri berbagai macam web akhirnya dapatlah kami kamar penginapan yaitu di caravan Taman Safari Lodge. What? Caravan? Saya kaget ketika suami saya bilang mau memesan kamar caravan. Soalnya, saya membayangkan kamar caravan itu dekat dengan kandang-kandang hewan. Demikian juga dengan si Kakak. Sebaliknya, si kembar malah senang. Karena hasilnya 3 lawan 2, saya pun harus mengalah. Lagipula, saya tak punya alasan untuk menolak karena tarif semalam menginap di caravan ini masuk ke budget kami. Kami dapat harga Rp 700.000/malam.

Pada hari yang telah kami rencanakan, kami berangkat pagi-pagi. Sampai sana masih sekitar pukul 09.30. Kami langsung menuju Taman Safari Lodge untuk membeli tiket masuk. Nah, karena kami tunjukkan bukti booking hotel maka kami mendapat tiket khusus seharga Rp 100.000/orang. Alhamdulillah. 

Seharian itu, kami habiskan di Taman Safari hingga sore. Sekitar pukul 16.00 kami baru check in. Di dalam caravan yang kami pesan terdapat satu bed besar dan satu bed bertingkat. Lumayan sempit sih, namanya juga caravan. Tetapi cukuplah untuk tidur kami berlima semalam. Si kembar tidur di bed bertingkat, sedangkan kakaknya maunya tidur di sofa. Di dalam caravan ada kamar mandi juga dengan water heater



Paginya, kami baru tahu, di depan kami ternyata ada sebuah kolam berisi angsa-angsa cantik. Di tengahnya ada siamang. Dekat kolam tersebut ada rusa-rusa yang bisa diberi makan oleh pengunjung. Setelah sarapan, kami bisa masuk lagi ke Taman Safari, gratis. Hanya saja, masuknya ke baby zoo dan taman bermain.



Alhamdulillah, kami cukup puas menginap di sini. Next, insya Allah mau diulang lagi, mau lihat Safari Malam hehehe.

Nah, buat teman-teman yang ingin menginap di caravan Taman Safari Lodge, ada beberapa catatan dari saya nih.
1. Siapkan selimut tambahan, karena udaranya cukup dingin. Jangan lupa menutup jendela ya.
2. Lebih baik datang pagi, beli tiket di reception hotel untuk masuk ke Taman Safari, baru check in, supaya tidak kehilangan waktu untuk main-main di taman bermainnya.
3. Kalau datangnya sudah sore, skip dulu taman bermain karena bisa dilakukan besok paginya.
4. Untuk peak season, seperti akhir tahun, kemungkinan tarif caravan naik. Cek dulu harganya ya.







Wednesday, December 14, 2016

Perjalanan Merapikan Rumah Bersama Marie Kondo

Bismillah....

Jadi begini, beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis oleh Marie Kondo. Buku ini sudah lama saya incar. Ya, maklumlah, dari dulu saya terobsesi dengan seni beres-beres hehehe. 



Sebelum mulai, saya kupas sedikit tentang penulisnya ya. Siapakah Marie Kondo? Marie Kondo adalah seorang konsultan kerapian. Beliau penemu KonMari Method, sebuah seni beres-beres yang populer saat ini. Dari kecil, Marie Kondo suka sekali bebenah. Dalam perjalanannya membereskan segala sesuatu di dalam rumah, Marie Kondo menemukan cara yang efektif untuk beres-beres (yang disebutkan, dengan metode yang diperkenalkan tersebut, kita tak perlu lagi beberes sering-sering dalam hidup kita). Saking ngetopnya Marie Kondo ini, untuk menjadi calon kliennya, kita mesti rela masuk dalam daftar tunggunya selama tiga bulan!

Apa saja yang saya pelajari dari buku ini? Berikut ini saya coba tuliskan poin-poinnya:

Beberes sekaligus.
Kesalahan pertama yang saya buat selama ini ternyata adalah beberes sedikit demi sedikit. Ketika beres-beres dilakukan sedikit demi sedikit, maka efeknya tidak akan terlihat jelas. Lagipula, beberes secara bertahap dalam kurun waktu yang lama membuat semangat menghilang pelan-pelan. 
Saya menocba melakukan beres-beres ini sekaligus. Ternyata benar. Saya bisa melihat lebih banyak barang yang bisa dengan "tega" saya singkirkan dibandingkan ketika saya melakukannya sedikit-sedikit. Misalnya, saya bisa mengeluarkan sekitar sepertiga barang dari lemari saya sekaligus dan lebih ikhlas memberikannya pada orang lain. Motivasinya jelas, kalau saya simpan, jadi nggak kelar-kelar beres-beresnya.

Buku-buku yang berhasil saya singkirkan. Ini baru sebagian.

Membuang dulu sampai tuntas.
Kesalahan lain yang saya lakukan adalah saya membereskan satu bagian lemari pakaian, menyortir beberapa yang tidak saya butuhkan lalu menyingkirkannya. Saya mengeluarkan per bagian karena mau melakukannya sedikit demi sedikit supaya tidak capek.
Yang disarankan oleh Marie Kondo adalah mengumpulkan barang-barang sejenis, mengeluarkan semuanya dari lemari, menyortir, lalu membuangnya sekaligus. Ketika saya lakukan ini, saya bisa melihat betapa banyaknya barang yang saya miliki tetapi bahkan tidak pernah saya pakai. Lalu buat apa saya miliki barang tersebut?


Saat mulai dibereskan dan ketika udah rapi

Membereskan sesuai urutan.
Cara saya membereskan barang-barang selama ini menyesuaikan mood saja. Ketika saya lihat lemari buku sudah penuh dan perlu dibereskan, saya akan membereskannya. Ketika lemari pakaian sudah berantakan, saya akan bereskan. Demikian juga dengan yang lainnya.
Menurut Marie Kondo, sebaiknya membereskan barang sesuai dengan urutan yang telah dibuatnya. Alasannya, supaya semangat untuk beres-beres tidak menurun ketika kita membereskan barang-barang sentimentil lebih dahulu. Urutannya adalah:
1. Pakaian (atasan, bawahan, kaus kaki, baju dalam, tas, aksesori, pakaian khusus, sepatu).
2. Buku.
3. Kertas.
4. Komono (pernak-pernik).
5. Barang sentimentil (foto, surat dan sebagainya).
Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menjaga semangat membereskan rumah, saya bisa melalui semua tahap membuang dan membereskan barang di dalam rumah. Tahap satu, pakaian, bisa terlewati setelah saya berhasil menyingkirkan 5 kantung besar (seukuran plastik sampah 50x100 cm). Semua itu berasal dari lemari kami sekeluarga. 
Tahap kedua, yang paling sulit. Kami sekeluara suka buku. Memilih mana yang harus disimpan dan mana yang dibuang sungguh membutuhkan keikhlasan yang luar biasa. Saya berhasil mengurangi beban lemari buku saya setelah menyingkirkan sekitar 300 eks buku. Untuk mengurangi rasa berdosa saya, saya jual buku-buku tersebut dengan harga yang cukup murah.
Tahap ketiga, sedikit membutuhkan konsentrasi. Saya tipe yang takut kalau sampai membuang kertas yang dibutuhkan di masa depan. Misalnya bukti pembayaran asuransi dan SPP. Akhirnya, saya berhasil membuang satu kantung plastik besar berisi kartas-kertas. Tidak semuanya saya buang. Sebagian saya masukkan ke infak sampah. Sebagian lagi yang berisi dokumen-dokumen data, saya rusak sebelum dibuang.
Tahap keempat, berjalan cukup lancar. Saya berhasil menyingkirkan 2 kantung nesar komono. Isinya, peralatan rumah tangga, pigura yang sudah kusam, peralatan mandi dari hotel-hotel yang kami kunjungi, barang-barang gratisan dari berbagai event, mainan anak-anak, dan sebagainya. Barang-barang tersebut sebagian dibawa oleh ART pulang pergi yang bekerja di rumah saya.
Tehap kelima, koleksi foto cetak yang kami miliki tidak banyak. Sebaliknya, koleksi foto yang ada dalam bentuk file banyak sekali. Foto-foto yang sudah rusak, saya buang. Sedangkan file yang ada di PC, saya bersihkan. Ada ribuan file yang berhasil saya delete. Sebagian berisi foto-foto yang sudah tidak saya pakai (foto event yang sudah lama sekali saya datangi, foto-foto yang kualitasnya buruk, dan foto-foto yang dobel).

Banyak peralatan mandi yang saya buang karena ternyata udah expired.

Tempat penyimpanan sepatu, akhirnya bisa di-make over.

Tidak perlu membeli barang khusus untuk menyimpan.
Saya akui, yang ini sulit saya praktikkan. Saya suka melihat barang-barang tersusun rapi dalam storage yang menarik. Padahal, menurut Marie Kondo, yang dibutuhkan hanyalah boks bekas, seperti kardus sepatu dan semacamnya. 

Menyimpan dengan teknik melipat seperti ini, memudahkan untuk mencari barang.

Ingat kata kunci, "membangkitkan kegembiraan".
Saya sering menyimpan barang dengan alasan, siapa tahu kelak dibutuhkan. Setelah membaca buku ini, saya tahu, yang harus saya simpan hanyalah barang-barang yang membangkitkan kegembiraan. Yang tidak menimbulkan kegembiraan harus disingkirkan. Mengapa? Karena hidup akan lebih indah jika kita dikelilingi barang-barang yang membuat kita bahagia.
Cara mengethaui apakah barang tersebut menimbulkan kegembiraan atau tidak begini: pegang satu persatu barang yang ingin kita bereskan, rasakan dengan hati, lalu putuskan. Semakin sering kita mempraktikkan ini, akan semakin cepat kita memutuskan mana barang yang disimpan dan mana yang disingkirkan.

Nah, itulah perjalanan saya merapikan rumah. Apakah teman-teman sudah membaca dan mencoba mempraktikkan KonMari Method? Yuk, share. [Fita Chakra]

Alhamdulillah, perpustakaan sudah rapi.









Tuesday, October 25, 2016

Berkunjung ke Among Putro Skyworld TMII

Bismillah, akhirnya mulai ngeblog lagi setelah tiga bulan absen. Mudah-mudahan bisa rutin kembali.

Hai... hai, apa kabar? Kali-kali ada yang pingin tahu, selama tiga bulan ini saya ngapain saja sampai absen ngeblog. Ngg, panjaaang ceritanya. Intinya, saat ini, saya mau fokus untuk urusan sekolahnya anak-anak. Jadi, mau nggak mau, mesti mengurangi kesibukan lain. Btw, saya tetap menulis kok, walaupun kecepatan nulisnya berubah, menjadi kecepatan kura-kura hehe.

Kali ini, saya mau cerita tentang aktivitas weekend kami sekeluarga. Kebetulan, minggu lalu, kami pergi ke TMII, tepatnya ke Among Putro Sky World. Lokasinya berada bersebelahan dengan Taman Legenda. Sudah lama sih sebenernya, pingin ke Sky World ini. Pernah sekali kami kecewa, saat udah sampai sana ternyata tempat ini ditutup untuk umum karena suatu acara. 

Ada apa di tempat ini? 
Awalnya, yang bikin saya penasaran adalah planetariumnya. Apa yang istimewa dibandingkan planetarium TIM yang sudah pernah kami datangi sebelumnya? Jujur saja, planetarium di Sky World ini jauh lebih kecil dibandingkan planetarium TIM. Tapiii... masuknya relatif mudah karena nggak pakai antri. Tiketnya pun terjangkau, yaitu Rp 60.000.

Let's start the story. Saat kami masuk, baru pukul 09.00. Kami masuk melalui sebuah pintu mirip pintu pesawat ruang angkasa. Di belakang pintu itu, langsung terlihat pemandangan luar angkasa beserta tiruan pakaian astronot. Kami sempet foto-foto di situ. 

Setelah foto-foto, kami lanjut ke dalam. Anak-anak mencoba games di komputer. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan benda langit. Kelar dari tempat tersebut, kami lanjut ke sebuah ruangan dengan layar besar. Disitulah kami menonton film pendek mengenai terjadinya bumi juga asteroid. Oya, di sekeliling layar tersebut, anak-anak bisa melihat berbagai info tentang benda-benda langit. 


Tepat pukul 09.15, planetarium dibuka. Kami segera masuk. Ruangannya kecil dan bergema. Mungkin kapasitasnya hanya sekitar 50 orang. Pengunjung dipersilakan duduk sambil menanti pemandu. Tak lama, pemandu menjelaskan tentang planet-planet, langit, serta rasi bintang. Buat saya yang suka perbintangan, ini jelas menarik. Penjelasan dari pemandu, jelas dan menambah pengetahuan. Buat yang nggak suka, mungkin bisa ketiduran hahaha karena suasananya yang dingin dan gelap, memang bikin ngantuk.

Kegiatan di dalam planetarium berlangsung selama setengah jam. Setelah itu, kami keluar untuk melihat-lihat bagian lain. Ada replika roket dari berbagai negara, ada baju astronot yang bisa dicoba (btw, Kiera sempat berkomentar, kenapa pakai baju astronot doang? Kenapa nggak ada helmnya? Nanti nggak bisa bernapas dong hehehe).

Kelar? Belum. Di bagian terakhir, kami masuk ke dalam ruangan 5D. Yang ini konsepnya ternyata bukan petualangan luar angkasa seperti yang saya harapkan. Tetapi, petualangan dengan kereta. Kami duduk menghadap layar, sambil mengenakan kacamata yang dipinjamkan oleh petugas. Jangan lupa mengaitkan sabuk pengaman ya. Yang bikin seru adalah sensasi perjalanan melalui berbagai rintangan sembari disemprot angin hehe.



Nah, sebelum berkunjung ke sana, saya ada sedikit tips untuk teman-teman nih.
  • Kenakan pakaian yang nyaman supaya bebas bergerak.
  • Saat akan masuk, cek dulu jadwal pertunjukan planetarium. Pertunjukan berlangsung selama setengah jam. Pertunjukan paling awal dimulai pukul 09.15.
  • Jika ingin membawa grup besar, bagilah menjadi beberapa grup kecil saat akan masuk ke dalam planetarium. Sementara salah satu grup masuk, yang lainnya bisa menunggu sambil melakukan kegiatan lain.
  • Di luar ruangan, ada fasilitas playground berupa climbing wall, kolam dan trampolin. Kolamnya tidak terlalu dalam, sekitar 50 cm kedalamannya. Jika ingin main basah-basahan, siapkan baju ganti. 
  • Untuk kegiatan sekolah atau rombongan, lebih baik hubungi dulu sebelumnya untuk memastikan pada saat tanggal kunjungan tempat tersebut available. 
Tertarik berkunjung ke sini? Yuk, rencanakan segera. [Fita Chakra]




Monday, July 25, 2016

Bersahabat dengan Anak, Bisakah?


Tahun ini sulung saya usianya 11 tahun, sudah pre-teen. Tahu sendirilah ya gimana rasanya ngadepin pre-teen alias ABG? Nah, belakangan saya harus stok ekstra sabar untuk itu. Salah ngomong, marah. Dikasih tahu, protes. Diem saja, kok rasanya gatel pingin nasihati. Jadi ya begitulah, serba salah. Pasti emak-emak yang udah ngelewatin fase ini tahu rasanya. Sepertinya saya harus banyak belajar dari para senior *sungkem.

Anyway, setelah saya stalking beberapa akun emak-emak yang punya anak sepantaran anak sulung saya, ada beberapa poin penting yang saya catat (dan insya Allah dipraktikkan juga, dong).


Mau Mendengarkan 
Memang rasanya mulut nggak tahan pingin komentar saat dengar sulung saya curhat. Iya, pinginnya nimpali dengan macam-macam nasihat blablabla.... Tapi, ada baiknya ternyata mendengarkan dulu yang mau diceritakan. Setelah puas dia bercerita, baru deh saya cerita. Intinya, berusahalah berempati.

Melakukan Kegiatan Bersama
Putri sulung saya, minatnya masih beragam. Dia suka merajut, bikin craft, mendengarkan musik dan sebagainya. Salah satu kegiatan yang kami sukai adalah kegiatan yang berkaitan dengan membaca. Oleh karenanya, kadang-kadang saya ajak dia untuk pergi ke toko buku berdua saja, supaya bisa ngobrol banyak hal.
Saya lihat salah satu teman blogger saya, Mbak Uniek, juga melakukan ini bersama kedua anaknya. Putri Mbak Uniek yang bernama Vivi, kebetulan juga suka membaca. Jadilah Mbak Uniek mengajaknya jalan-jalan ke penerbit beberapa waktu lalu.



Mengenal Teman Anak
Beberapa kali, meminta izin pergi bersama teman-temannya. Jika kebetulan saya yang mengantar, saya akan berkenalan dengan teman-temannya dan mengajak ngobrol mereka. Lain waktu, ketika teman-temannya datang ke rumah atau menginap, sesekali saya ikut mengobrol dengan mereka.

Memberikan Aturan
Walaupun sering dinego, saya tetap memberikan aturan. Aturan yang berlaku untuk anak sulung saya antara lain, aturan memegang gadget, aturan pergi bersama teman, dan masih banyak yang lainnya. Saya katakan padanya bahwa setiap rumah punya aturan yang berbeda. Artinya, jika temannya sedang menginap di rumah kami, dia harus mengikuti aturan kami.

Mencari Tahu Topik Pembicaraan yang Menarik
Topik pembicaraan yang menarik untuk anak ABG tentu berbeda dengan usia lain. Nah, supaya bisa klop kalau diajak ngobrol, saya nggak menutup diri terhadap apa-apa yang diminatinya. So far, topik tentang lagu-lagu yang lagi nge-hits, hal-hal yang dibicarakan di sekolah, slime, dan semacamnya masih menjadi minatnya.

Dengan melakukan beberapa poin tersebut, paling tidak saya sudah mencoba bersahabat dengan putri saya. Mungkin teman-teman punya tips lain lagi yang bisa saya praktikkan? 

Wednesday, June 22, 2016

Mengenal Ramadhan Bersama Diari Ramadhan

Alhamdulillah, senang sekali ketika menjelang ramadhan tahun ini, saya mendapatkan kabar bahwa Diari Ramadhan naik cetak lagi. Buku ini bukan buku baru, pertama kali terbit tahun 2011. Lima tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk saya sebagai penulis, menunggu buku ini terbit lagi. Ya, mungkin karena judulnya saya "Diari Ramadhan", buku ini dicari menjelang ramadhan. Makanya butuh waktu cukup lama untuk menghabiskannya. 

Cover Lama

Cover Baru

Padahal, sebenarnya nggak juga, kok. Buku ini bisa dibaca di saat-saat lain selain ramadhan. Kenapa? Karena di dalamnya, banyak cerita-cerita islami yang bisa dibacakan menjelang tidur. Ceritanya pendek, sehingga bisa dibaca dalam waktu 5-10 menit saja. Selain cerita, ada doa-doa yang berkaitan dengan puasa dan ramadhan. 

Mengenang proses kreatif penulisan buku ini, lumayan lama dan sulit. Penyebabnya adalah, saya sangat berhati-hati menulis doa, hadits dan ayat-ayat. Oleh karenanya, saya meminta salah satu teman untuk menjadi pembaca ahli. Yang saya pilih, haruslah punya pengetahuan tentang agama yang bagus. Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Risyan Nurhakim, suami Imazahra (percaya atau tidak, saya mengenal mereka berdua dari internet, lalu bertemu untuk pertama kalinya setelah itu. Hingga kini, total pertemuan kami bisa dihitung dengan sebelah jari). Saya sangat berterima kasih atas kerelaannya membaca dan mengkritisi buku ini, sehingga saya menjadi lebih pede ketika buku ini terbit.

Tahun 2015 lalu, ketika buku ini dibawa di Frankfurt Book Fair, hati saya cukup melambung, berharap ada penerbit dari negara lain yang membeli copyright-nya. Tetapi, rupanya buku ini belum beruntung. 

Sejujurnya, saya cukup surprised sih saat tahu buku ini republished, dengan cover baru pula. Dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya, buku yang dianggap slow moving tidak diproduksi lagi. Tetapi mungkin penerbit punya pertimbangan lain. Sejak awal bekerjasama dengan BIP (penerbit yang menerbitkan buku ini), alhamdulillah kesannya cukup bagus. Saya selalu dilibatkan dalam berbagai hal seperti, melihat cover, memberikan komentar mengenai layout, bahkan dalam hal promosi. Pun ketika akhirnya kami sepakat memutuskan tidak jadi mengadakan launching buku ini, penerbit menawarkan opsi lain untuk promosi. Buat saya sebagai penulis, kerjasama seperti ini sangat menyenangkan.

Nah, mumpung masih suasana Ramadhan, buruan beli yuk, buku saya ini. Sudah ada lho di toko buku. :)

Baca link beritanya disini ya. 



Thursday, June 9, 2016

Belajar Berwirausaha Sejak Dini

Waktu SMA, saya bersama teman-teman pernah mencoba jualan menjelang lebaran. Kami bikin paket parcel sekaligus mengantarkannya. Untungnya nggak seberapa. Tapi kami senang bukan main. Sejak itu, jiwa wirausaha saya mulai muncul. Saya jualan baju, perlengkapan bayi, buku, membuka usaha laundry, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nggak semuanya sukses memang. Tetapi itu tak membuat semangat saya surut.

Apa pelajaran yang saya ambil dari belajar berwirausaha? Berwirausaha, membuat saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk gigih, belajar menyusun strategi bisnis, belajar menghitung, belajar memasarkan, belajar melayani konsumen, dan belajar ini itu yang lainnya. Termasuk belajar untuk siap gagal. Ini terjadi ketika bisnis laundry saya tak berjalan sebagaimana yang saya inginkan. Habis-habisan saya mempertahankan, tetapi akhirnya terpaksa saya tutup juga. Tentu saja hati saya hancur (ciee...) namun saya yakin ada hikmahnya.

Pada anak-anak, saya sudah mengajarkan berwirausaha sejak kecil. Nggak heran ketika TK, Kakak sudah mulai berjualan gelang dan kalung manik-manik. Masuk SD, ketiga anak saya membantu saya menjual buku. Di lain waktu, mereka membuat slime dan menjualnya. Mau tahu gimana cara saya membuat mereka tergerak untuk berwirausaha? Sederhana saja, kok. Ini yang saya lakukan.

Mengajarkan untuk Menghargai Uang
Sejak anak-anak kecil, mereka tahu bahwa di saat-saat tertentu saya bekerja. Ketika saya duduk di depan laptop, saya katakan mereka tidak boleh mengganggu. Ya, saya ingin mereka tahu, bahwa ibunya bekerja di rumah. Mereka juga tahu bahwa bekerja artinya berusaha menghasilkan uang. Sebaliknya, untuk mendapatkan uang, seseorang harus bekerja. 
Pernah juga suatu saat, saya berikan mereka tantangan untuk bekerja. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan akan mendapatkan imbalan berupa uang. Uang tersebut mereka kumpulkan supaya mereka bisa membeli sesuatu. 

Buku saya tentang wirausaha untuk anak-anak. Ada banyak tips di sini, lho. 


Memantik Kreativitas
Saat anak-anak di rumah, saya dan anak-anak sering berkreasi membuat sesuatu. Misalnya menggambar, menyulap barang bekas menjadi barang baru, dan sebagainya. Kadang-kadang, saya belikan mereka buku-buku craft atau video tutorial. Lama kelamaan mereka bisa membuat sendiri mainan kreasi mereka. Saya tinggal menyediakan perlengkapannya. Dari sini yang mendapat kesimpulan, sebagai orangtua, yangperlu kita lakukan cukup mendampingi dan memulai. Anak-anak, dengan ide hebatnya bisa lho menjadi lebih dari kita sebagai orangtua. 

Belajar Ketrampilan Baru
Anak-anak suka diajak belajar ketrampilan baru. Selain dari buku dan video, kadang-kadang saya ajak mereka mengikuti acara craft untuk anak-anak. Biasanya di saat liburan banyak sekali acara seperti itu. Kakak malahan belajar merajut dari tetangga kami, bukan dari saya.

Blog Icus
Soal ketrampilan, saya sepertinya harus belajar dari Icus. Ya, Icus ini sudah membimbing banyak anak untuk belajar berwirausaha. Di SMK Itaco, Icus mengajarkan anak-anak didiknya menjahit tas, membuat mug, menyablon kaos, membuat pin, dan berbagai ketrampilan lainnya. Tujuannya supaya anak-anak didiknya bisa mandiri secara finansial. Keren yak. Bisa lho kita memesan produk mereka. Caranya, mention saja di @siswawirausaha.

Nah, itu tadi beberapa cara yang saya lakukan untuk anak-anak saya. Bagaimana dengan kamu? Yuk, share di sini. Siapa tahu saya bisa nyontek hehe. [Fita Chakra]