Wednesday, February 22, 2017

Permohonan Maaf

Permohonan Maaf atas Buku Berjudul

Aku Berani Tidur Sendiri dan Aku Belajar Mengendalikan Diri
(2 judul dalam 1 buku)


Assalamu 'alaikum wr. wb, para pembaca dan masyarakat pemerhati buku anak.

Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan masukan yang diberikan terhadap buku saya.

Saya menulis buku tersebut dengan itikad baik. Saya mengakui khilaf dalam penulisannya.

Oleh karenanya, saya, Fitria Chakrawati dengan nama pena Fita Chakra, sebagai penulis buku yang berjudul Aku Berani Tidur Sendiri dan Aku Belajar Mengendalikan Diri, menyatakan menyesal dengan hal tersebut dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

Sebagaimana informasi dari penerbit, buku tersebut sudah ditarik dari peredaran sejak Desember 2016.

Semoga peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi saya agar lebih berhati-hati di kemudian hari.

Wassalamu 'alaikum. wr.wb.


Sumber Gambar: IG @tigaserangkai

Monday, August 24, 2015

[Editan Saya] A Story of Dreamers




Judul : A Story of Dreamers, Menuju Tangga Juara

Penulis : Julia, 12 tahun.
Ilustrator Sampul : Ferry Baryadi
Ilustrator Isi : Syarifah Tika
Editor : Yulia Nurul Irawan dan Fita Chakra
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : Agustus 2015
Jumlah Halaman : 109 halaman



Nancy, Lili, Rangga, dan Sanggi bersahabat dekat. Mereka bersama-sama membuat sebuah grup band dan mengikuti kompetisi. Mimpi mereka adalah membawa The Source Band menjadi juara.

[Editan Saya] KKPK Come On, Miley!



Judul : Come On, Miley! Hari-hari Seru Miley


Penulis : Marion
Ilustrator Sampul : Nisa Nafisah
Ilustrator Isi : Agus Willy
Editor : Dadan Ramadhan dan Fita Chakra
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : Mei 2015
Jumlah Halaman : 115 halaman


Miley Cruz adalah seorang gadis yang sangat manja. Semua keinginannya harus selalu dituruti. Pantas saja, Miley nerasa kesal ketika Mom dan Dad mengirimnya ke rumah Tante Zahara di Canberra selama seminggu. Di sana, Miley harus belajar mandiri. Miley membantu Tante Zahara dan Lala bekerja di lahan pertanian dan peternakan. 

Sunday, July 12, 2015

Berbagi di Bulan Ramadhan

Ramadhan ini, ada tiga acara menulis yang spesial. Saya katakan spesial karena baru kali ini saya mengisi acara pelatihan menulis di bulan ramadhan. Sebelum-sebelumnya, saya justru menyelesaikan naskah di bulan ramadhan supaya sebelum mudik semuanya sudah beres. Tahun ini, kebetulan saya tidak punya target naskah di bulan ramadhan. 

Alih-alih mencari-cari kesibukan seperti biasanya (saya tipe yang nggak bisa diam, jadi kalau nggak mengerjakan sesuatu, biasanya saya mencari-cari kesibukan hehe), saya menyibukkan diri dengan anak-anak. Nah, tanpa saya duga ada dua undangan datang. Yang pertama dari ibu-ibu kemuslimahan masjid di kompleks saya tinggal. Yang kedua dari salah seorang teman yang kebetulan, anaknya bersekolah di sekolah yang sama dengan anak-anak saya. Katanya ada tiga acara? Kok hanya dua? Hehe, yang ketiga adalah acara yang saya gagas bersama kedua teman saya. Seperti yang saya bilang, akhirnya saya nggak betah diam saja. Saya akan ceritakan satu per satu.

Wednesday, June 17, 2015

[Dimuat di Kompas] Kartini Bagi Lili



Tulisan ini dimuat di Rubrik Nusantara Bertutur, Kompas 19 April 2015. Versi cetak ditambah satu kalimat pembuka. Jika ingin mengirimkan tulisan untuk Nusantara Bertutur, berikut ini syaratnya (saya copas dari FB Nusantara Bertutur):
Cerita harus menyampaikan minimal satu pesan moral dari 10 karakter unggul Nusantara Bertutur, yaitu :
Religius, jujur.
Disiplin, kerja keras, mandiri.
Aktif, kreatif, bersemangat, rasa ingin tahu.
Demokratis, toleransi, cinta damai.
Semangat kebangsaan, cinta tanah air.
Menghargai prestasi.
Bersahabat, berkomunikasi.
Gemar membaca.
Peduli sosial.
Peduli lingkungan
Panjang naskah maksimal 2500 karakter.
Kirim melalui email nusantarabertutur@gmail.com


Kartini Bagi Lili

Nusantara Bertutur, Kompas 19 April 2015 

“Siapa mau pinjam buku?”
“Aku pinjam, Kak. Aku suka lihat gambarnya, bagus,” terdengar suara Dito, salah satu teman Lili.
“Kamu lagi,” kata Lili saat mendengarnya.“Anak-anak di sini sibuk kerja. Lagipula, mereka nggak sekolah. Tidak bisa baca,” ujar Lili ketus.
“Mereka pinjam buku-bukuku, lho,” kata Arin.
Lili terdiam. Sesungguhnya, Lili iri. Pasti, dalam buku itu banyak cerita menarik. Sayangnya, Lili tak bisa melihat, apalagi membacanya.
“Aku bacakan, ya,” Arin menawarkan. "Di sebuah istana tinggallah seorang putri...”
“Yang cantik, baik hati dan penolong,” potong Lili. “Bosan, ah dengar cerita itu,” omel Lili.
Tawa Arin terdengar, “Kamu kan belum tahu jalan ceritanya.”

Monday, April 20, 2015

[Resensi] Si Kembar Wajah, Beda Orangtua


Judul                          : Go, Keo! No, Noaki! Dobel Kacau
Penulis                        : Ary Nilandari
Ilustrator                     : Dyotami Febriani
Jumlah Halaman           : 140 halaman
Penerbit                     : Penerbit Kiddo
Cetakan                      : Maret 2015

Keo setuju pindah rumah dan sekolah supaya Mami bisa mengurus bisnis dari rumah. Keo tak menyangka di tempat baru, bertemu anak perempuan yang mirip sekali dengannya. Nama anak itu, Noaki. Keo bagai bertemu kembaran beda orangtua! Keo sebenarnya mau saja berteman dengan Noaki.  Sayangnya, Noaki luar biasa jutek!
Bertemu Noaki dan 6 orang teman akrabnya membuat perasaan Keo campur aduk. Senang sekaligus kesal. Senang, karena berkenalan dengan Noaki artinya sekaligus berteman dengan 6 orang temannya yang unik-unik karakternya. Kesal, karena mereka tak membiarkan Keo masuk ke kelompok mereka begitu saja. Ada saja cara Noaki dan teman-temannya untuk membuat Keo ragu mendekat.
Bayangkan, baru kenal saja, Keo sudah ditantang “duel secara beradab”. Untuk memenangkannya, Keo harus mencari sepatu paling bau! Tentu saja ini tidak mudah. Di mana Keo harus mencari sepatu bau?
Setelah itu, masalah lain datang bertubi-tubi.  Mulai dari teman yang sangat perhatian tapi bikin Keo tidak nyaman, pelajaran matematika yang menyebalkan buat Keo, hingga SMS misterius yang membuat Keo merasa selalu diawasi. Rupanya, pindah malah membuat hidup Keo semakin rumit. Apakah Keo berhasil menyelesaikan semua masalahnya?

Walaupun bersahabat, kita pasti pernah juga punya masalah dengan teman, kan? Dari Keo dan Noaki kita bisa belajar menyelesaikan masalah. Seru dan menarik!

Saturday, March 14, 2015

[Artikel Wisata] Keliling Bangkok, Naik Apa Pun Bisa

Salah satu tulisan pendek saya yang dimuat di media. Kali ini di Koran Pikiran Rakyat. Idenya sederhana kok, saya sedang ngubek file dan menemukan banyak foto-foto alat transportasi waktu jalan-jalan ke Bangkok.
Untuk mengirimkan tulisan ke rubrik Pariwisata Koran Pikiran Rakyat ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Buat tulisan sepanjang 2 halaman, 1,5 spasi. Nggak panjang kan?
2. Fokus saja pada satu topik yang ingin diangkat. Jujur, berdasarkan pengalaman kita.
3. Sertakan 3-5 foto. Pastikan fotonya kualitas bagus.
4. Kirim ke redaksi@pikiran_rakyat.com. Cc ke hiburan@pikiran_rakyat.com.
Di bawah ini tulisan saya yang dimuat di Pikiran Rakyat 14 Juni 2014. 

Foto dapat dari Mbak Asri Andarini

Jalan-jalan Keliling Bangkok, Naik Apa Pun Bisa

            Tidak perlu pusing memikirkan masalah transportasi di Bangkok. Pasalnya, alat transportasi massal di sini teratur, bersih, dan nyaman. Pilihannya pun beragam. Mau naik MRT (subway), silakan. Ingin menikmati pemandangan dari atas BTS (Bangkok Skytrain), boleh. Ingin melihat kehidupan di sepanjang Chao Praya melalui river cruise, ayo. Atau, ingin menjajal tuk-tuk?
            Enaknya, di Bangkok antara jalur transportasi satu dengan yang lainnya tertata apik. Di beberapa perhentian ada interchange yang memudahkan kita beralih dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Sebelum menjelajah Bangkok, mari kenali satu per satu alat transportasinya.

Airport Rail Link
Airport Rail Link adalah kereta yang bermuara di Bandara Svarnabhumi. Ada dua jenis kereta yaitu Airport Express dan Airport City Line. Sesuai namanya, Airport Express lebih cepat. Sedangkan Airport City Line berhenti di beberapa stasiun.

MRT
MRT atau subway tersedia mulai dari stasiun Hua Lamphong sampai Bang Sue. Keretanya sangat bersih, demikian pula stasiunnya. MRT melintas setiap beberapa menit sekali. Jadi, tak perlu khawatir menunggu lama. Untuk menaikinya, kita perlu menggunakan koin sejenis token. Awalnya, saya sempat berpikir, apakah mereka tak kesulitan mengelola sampah plastik dari token ini? Ternyata, jawabannya sederhana. Token itu kembali lagi pada mereka karena setelah digunakan, token harus dimasukkan kembali ke suatu alat di pintu keluar setiap stasiun. Kalau tidak, tentu saja kita tidak bisa keluar dari stasiun.

BTS (Bangkok Skytrain)
Mirip dengan MRT, monorel berjalan di atas rel. Bedanya, dari dalam BTS kita bisa melihat pemandangan kota Bangkok. Ada dua jalur BTS yaitu Sukhumvit Line dan Si Lom Line. Tiketnya, seharga 15-40 Bath. Saya terkesan dengan pola antri masyarakat Bangkok. Saat berada di sebuah stasiun BTS pada jam sibuk, calon penumpang rela mengantri berjajar ke belakang. Tidak ada yang sengaja mendahului di depan garis yang telah ditetapkan sebagai batas atau mendesak masuk saat penumpang keluar dari dalam BTS. Pemandangan yang langka saya temui di Indonesia.

River Cruise
Ada yang kurang rasanya kalau ke Bangkok tanpa naik river cruise atau boat. Chao Praya yang membelah Bangkok tidak membuat masyarakat Bangkok kesulitan bepergian ke seberangnya. Ada beberapa pilihan river cruise, yaitu yang berbendera oranye, kuning, dan hijau. Masing-masing memiliki panjang jalur yang berbeda, meski sebagian besar melalui perhentian yang sama. Yang perlu diperhatikan, river cruise berbendera kuning khusus untuk wisatawan dengan one day pass. Sedangkan yang berbendera oranye biasa digunakan masyarakat umum untuk bepergian, berangkat bekerja, ataupun pulang. Selain itu, ada juga express river cruise, yang tidak berhenti di setiap perhentian.
Di dalam river cruise masing-masing tempat duduk memiliki pelampung di bawahnya. Salah satu hal yang wajib dicontoh pula.

Tuk-tuk
Tuk-tuk atau “sam lor”, merupakan alat transportasi khas Bangkok yang tak sabar saya coba ketika menjejakkan kaki di sana. Bentuknya seperti becak, beroda tiga tapi bermotor. Kalau dilihat sepintas, kita akan sepakat bahwa inilah yang seringkali kita sebut bajaj, di Jakarta.
Kunci berkendara menggunakan tuk-tuk adalah pandai menawar. Jadi, sebaiknya kita tahu jarak yang akan kita tempuh supaya bisa memperkirakan kepantasan harganya. Menawar sekitar 10-5 Bath lebih rendah merupakan hal yang wajar.
Meski tuk-tuk lebih gesit ketimbang taksi, tetapi mengingat kendaraan ini terbuka, asap dan debu bisa dengan mudah masuk. Jadi,ada baiknya mengenakan masker agar terhindar dari debu.

Satu lagi tips menaiki tuk-tuk, waspadalah terhadap tuk-tuk yang menawarkan berkeliling dengan harga sangat murah. Terkadang, mereka memberhentikan atau memaksa kita ke suatu tempat supaya kita membeli sesuatu (misalnya ke toko souvenir). Apa untungnya bagi mereka? Mereka mendapatkan imbalan dari toko tersebut jika bisa membawa calon pembeli. [Fita Chakra]