Wednesday, March 8, 2017

Membuat Dekorasi Sederhana untuk Latar Pemotretan

Bismillahirrohmanirrohim.

Awal tahun kemarin, saya bersama teman-teman melakukan pemotretran untuk buku tahunan anak-anak. Kebetulan lagi sering-seringnya hujan, jadi kami berpikir untuk mencari lokasi yang dekat dengan sekolah. Akhirnya disepakati lokasinya di sebuah kompleks perumahan. 

Next, kami butuh dekorasi. Yang jelas, nggak mahal-mahal karena dana terbatas. Putar otak, dapatlah ide bahwa konsep pemotretannya sederhana saja. Cukup semacam piknik di taman. Lalu saya ingat, dulu pernah bikin bunga-bunga gantung dari kertas. Bahan-bahannya mudah diperoleh. Ini yang saya gunakan:


  1. Ranting pohon (mungut dari parkiran sekolah. Karena nggak bisa masuk mobil, dipotong jadi dua lalu disambung setelah sampai rumah).
  2. Kertas warna-warni (kertasnya mirip kertas tisu, tipis).
  3. Tali.
  4. Pot.


Cara Membuat:

  1. Tumpuk kertas menjadi 8-10 lapis.
  2. Lipat kertas menjadi seperti kipas.
  3. Tekuk menjadi dua bagian. Pada bagian tengah diikat dengan tali. Sisakan tali menjuntai supaya bisa diikat pada ranting.
  4. Ujung kanan kiri digunting melengkung.
  5. Buka satu persatu lembaran kertas hingga membentuk bunga.
  6. Pasang ranting pada pot. Masukkan batu-batu kecil di dalamnya hingga ranting tertanam kokoh.
  7. Gantungkan bunga satu persatu.

Alhamdulillah, cukup untuk membuat latar pemotretan menjadi lebih cantik.


Wednesday, February 22, 2017

Permohonan Maaf

Permohonan Maaf atas Buku Berjudul

Aku Berani Tidur Sendiri dan Aku Belajar Mengendalikan Diri
(2 judul dalam 1 buku)


Assalamu 'alaikum wr. wb, para pembaca dan masyarakat pemerhati buku anak.

Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan masukan yang diberikan terhadap buku saya.

Saya menulis buku tersebut dengan itikad baik. Saya mengakui khilaf dalam penulisannya.

Oleh karenanya, saya, Fitria Chakrawati dengan nama pena Fita Chakra, sebagai penulis buku yang berjudul Aku Berani Tidur Sendiri dan Aku Belajar Mengendalikan Diri, menyatakan menyesal dengan hal tersebut dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

Sebagaimana informasi dari penerbit, buku tersebut sudah ditarik dari peredaran sejak Desember 2016.

Semoga peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi saya agar lebih berhati-hati di kemudian hari.

Wassalamu 'alaikum. wr.wb.


Sumber Gambar: IG @tigaserangkai

Sunday, July 12, 2015

Berbagi di Bulan Ramadhan

Ramadhan ini, ada tiga acara menulis yang spesial. Saya katakan spesial karena baru kali ini saya mengisi acara pelatihan menulis di bulan ramadhan. Sebelum-sebelumnya, saya justru menyelesaikan naskah di bulan ramadhan supaya sebelum mudik semuanya sudah beres. Tahun ini, kebetulan saya tidak punya target naskah di bulan ramadhan. 

Alih-alih mencari-cari kesibukan seperti biasanya (saya tipe yang nggak bisa diam, jadi kalau nggak mengerjakan sesuatu, biasanya saya mencari-cari kesibukan hehe), saya menyibukkan diri dengan anak-anak. Nah, tanpa saya duga ada dua undangan datang. Yang pertama dari ibu-ibu kemuslimahan masjid di kompleks saya tinggal. Yang kedua dari salah seorang teman yang kebetulan, anaknya bersekolah di sekolah yang sama dengan anak-anak saya. Katanya ada tiga acara? Kok hanya dua? Hehe, yang ketiga adalah acara yang saya gagas bersama kedua teman saya. Seperti yang saya bilang, akhirnya saya nggak betah diam saja. Saya akan ceritakan satu per satu.

Wednesday, June 17, 2015

[Dimuat di Kompas] Kartini Bagi Lili



Tulisan ini dimuat di Rubrik Nusantara Bertutur, Kompas 19 April 2015. Versi cetak ditambah satu kalimat pembuka. Jika ingin mengirimkan tulisan untuk Nusantara Bertutur, berikut ini syaratnya (saya copas dari FB Nusantara Bertutur):
Cerita harus menyampaikan minimal satu pesan moral dari 10 karakter unggul Nusantara Bertutur, yaitu :
Religius, jujur.
Disiplin, kerja keras, mandiri.
Aktif, kreatif, bersemangat, rasa ingin tahu.
Demokratis, toleransi, cinta damai.
Semangat kebangsaan, cinta tanah air.
Menghargai prestasi.
Bersahabat, berkomunikasi.
Gemar membaca.
Peduli sosial.
Peduli lingkungan
Panjang naskah maksimal 2500 karakter.
Kirim melalui email nusantarabertutur@gmail.com


Kartini Bagi Lili

Nusantara Bertutur, Kompas 19 April 2015 

“Siapa mau pinjam buku?”
“Aku pinjam, Kak. Aku suka lihat gambarnya, bagus,” terdengar suara Dito, salah satu teman Lili.
“Kamu lagi,” kata Lili saat mendengarnya.“Anak-anak di sini sibuk kerja. Lagipula, mereka nggak sekolah. Tidak bisa baca,” ujar Lili ketus.
“Mereka pinjam buku-bukuku, lho,” kata Arin.
Lili terdiam. Sesungguhnya, Lili iri. Pasti, dalam buku itu banyak cerita menarik. Sayangnya, Lili tak bisa melihat, apalagi membacanya.
“Aku bacakan, ya,” Arin menawarkan. "Di sebuah istana tinggallah seorang putri...”
“Yang cantik, baik hati dan penolong,” potong Lili. “Bosan, ah dengar cerita itu,” omel Lili.
Tawa Arin terdengar, “Kamu kan belum tahu jalan ceritanya.”

Monday, April 20, 2015

[Resensi] Si Kembar Wajah, Beda Orangtua


Judul                          : Go, Keo! No, Noaki! Dobel Kacau
Penulis                        : Ary Nilandari
Ilustrator                     : Dyotami Febriani
Jumlah Halaman           : 140 halaman
Penerbit                     : Penerbit Kiddo
Cetakan                      : Maret 2015

Keo setuju pindah rumah dan sekolah supaya Mami bisa mengurus bisnis dari rumah. Keo tak menyangka di tempat baru, bertemu anak perempuan yang mirip sekali dengannya. Nama anak itu, Noaki. Keo bagai bertemu kembaran beda orangtua! Keo sebenarnya mau saja berteman dengan Noaki.  Sayangnya, Noaki luar biasa jutek!
Bertemu Noaki dan 6 orang teman akrabnya membuat perasaan Keo campur aduk. Senang sekaligus kesal. Senang, karena berkenalan dengan Noaki artinya sekaligus berteman dengan 6 orang temannya yang unik-unik karakternya. Kesal, karena mereka tak membiarkan Keo masuk ke kelompok mereka begitu saja. Ada saja cara Noaki dan teman-temannya untuk membuat Keo ragu mendekat.
Bayangkan, baru kenal saja, Keo sudah ditantang “duel secara beradab”. Untuk memenangkannya, Keo harus mencari sepatu paling bau! Tentu saja ini tidak mudah. Di mana Keo harus mencari sepatu bau?
Setelah itu, masalah lain datang bertubi-tubi.  Mulai dari teman yang sangat perhatian tapi bikin Keo tidak nyaman, pelajaran matematika yang menyebalkan buat Keo, hingga SMS misterius yang membuat Keo merasa selalu diawasi. Rupanya, pindah malah membuat hidup Keo semakin rumit. Apakah Keo berhasil menyelesaikan semua masalahnya?

Walaupun bersahabat, kita pasti pernah juga punya masalah dengan teman, kan? Dari Keo dan Noaki kita bisa belajar menyelesaikan masalah. Seru dan menarik!

Saturday, March 14, 2015

[Artikel Wisata] Keliling Bangkok, Naik Apa Pun Bisa

Salah satu tulisan pendek saya yang dimuat di media. Kali ini di Koran Pikiran Rakyat. Idenya sederhana kok, saya sedang ngubek file dan menemukan banyak foto-foto alat transportasi waktu jalan-jalan ke Bangkok.
Untuk mengirimkan tulisan ke rubrik Pariwisata Koran Pikiran Rakyat ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Buat tulisan sepanjang 2 halaman, 1,5 spasi. Nggak panjang kan?
2. Fokus saja pada satu topik yang ingin diangkat. Jujur, berdasarkan pengalaman kita.
3. Sertakan 3-5 foto. Pastikan fotonya kualitas bagus.
4. Kirim ke redaksi@pikiran_rakyat.com. Cc ke hiburan@pikiran_rakyat.com.
Di bawah ini tulisan saya yang dimuat di Pikiran Rakyat 14 Juni 2014. 

Foto dapat dari Mbak Asri Andarini

Jalan-jalan Keliling Bangkok, Naik Apa Pun Bisa

            Tidak perlu pusing memikirkan masalah transportasi di Bangkok. Pasalnya, alat transportasi massal di sini teratur, bersih, dan nyaman. Pilihannya pun beragam. Mau naik MRT (subway), silakan. Ingin menikmati pemandangan dari atas BTS (Bangkok Skytrain), boleh. Ingin melihat kehidupan di sepanjang Chao Praya melalui river cruise, ayo. Atau, ingin menjajal tuk-tuk?
            Enaknya, di Bangkok antara jalur transportasi satu dengan yang lainnya tertata apik. Di beberapa perhentian ada interchange yang memudahkan kita beralih dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Sebelum menjelajah Bangkok, mari kenali satu per satu alat transportasinya.

Airport Rail Link
Airport Rail Link adalah kereta yang bermuara di Bandara Svarnabhumi. Ada dua jenis kereta yaitu Airport Express dan Airport City Line. Sesuai namanya, Airport Express lebih cepat. Sedangkan Airport City Line berhenti di beberapa stasiun.

MRT
MRT atau subway tersedia mulai dari stasiun Hua Lamphong sampai Bang Sue. Keretanya sangat bersih, demikian pula stasiunnya. MRT melintas setiap beberapa menit sekali. Jadi, tak perlu khawatir menunggu lama. Untuk menaikinya, kita perlu menggunakan koin sejenis token. Awalnya, saya sempat berpikir, apakah mereka tak kesulitan mengelola sampah plastik dari token ini? Ternyata, jawabannya sederhana. Token itu kembali lagi pada mereka karena setelah digunakan, token harus dimasukkan kembali ke suatu alat di pintu keluar setiap stasiun. Kalau tidak, tentu saja kita tidak bisa keluar dari stasiun.

BTS (Bangkok Skytrain)
Mirip dengan MRT, monorel berjalan di atas rel. Bedanya, dari dalam BTS kita bisa melihat pemandangan kota Bangkok. Ada dua jalur BTS yaitu Sukhumvit Line dan Si Lom Line. Tiketnya, seharga 15-40 Bath. Saya terkesan dengan pola antri masyarakat Bangkok. Saat berada di sebuah stasiun BTS pada jam sibuk, calon penumpang rela mengantri berjajar ke belakang. Tidak ada yang sengaja mendahului di depan garis yang telah ditetapkan sebagai batas atau mendesak masuk saat penumpang keluar dari dalam BTS. Pemandangan yang langka saya temui di Indonesia.

River Cruise
Ada yang kurang rasanya kalau ke Bangkok tanpa naik river cruise atau boat. Chao Praya yang membelah Bangkok tidak membuat masyarakat Bangkok kesulitan bepergian ke seberangnya. Ada beberapa pilihan river cruise, yaitu yang berbendera oranye, kuning, dan hijau. Masing-masing memiliki panjang jalur yang berbeda, meski sebagian besar melalui perhentian yang sama. Yang perlu diperhatikan, river cruise berbendera kuning khusus untuk wisatawan dengan one day pass. Sedangkan yang berbendera oranye biasa digunakan masyarakat umum untuk bepergian, berangkat bekerja, ataupun pulang. Selain itu, ada juga express river cruise, yang tidak berhenti di setiap perhentian.
Di dalam river cruise masing-masing tempat duduk memiliki pelampung di bawahnya. Salah satu hal yang wajib dicontoh pula.

Tuk-tuk
Tuk-tuk atau “sam lor”, merupakan alat transportasi khas Bangkok yang tak sabar saya coba ketika menjejakkan kaki di sana. Bentuknya seperti becak, beroda tiga tapi bermotor. Kalau dilihat sepintas, kita akan sepakat bahwa inilah yang seringkali kita sebut bajaj, di Jakarta.
Kunci berkendara menggunakan tuk-tuk adalah pandai menawar. Jadi, sebaiknya kita tahu jarak yang akan kita tempuh supaya bisa memperkirakan kepantasan harganya. Menawar sekitar 10-5 Bath lebih rendah merupakan hal yang wajar.
Meski tuk-tuk lebih gesit ketimbang taksi, tetapi mengingat kendaraan ini terbuka, asap dan debu bisa dengan mudah masuk. Jadi,ada baiknya mengenakan masker agar terhindar dari debu.

Satu lagi tips menaiki tuk-tuk, waspadalah terhadap tuk-tuk yang menawarkan berkeliling dengan harga sangat murah. Terkadang, mereka memberhentikan atau memaksa kita ke suatu tempat supaya kita membeli sesuatu (misalnya ke toko souvenir). Apa untungnya bagi mereka? Mereka mendapatkan imbalan dari toko tersebut jika bisa membawa calon pembeli. [Fita Chakra]

Monday, March 9, 2015

[Resensi] Dengan Pujian, Bukan Kemarahan

Repost dari notes FB saya tanggal 16 Agustus 2010.


Judul     : Dengan Pujian, Bukan Kemarahan 
Penulis  : Nesia Andriana Arif
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2010

Buku ini saya "temukan" di deretan rak terdepan di Gramedia Central Park. Meskipun tidak ada di dalam list belanjaan saya, akhirnya buku ini tetap saya beli mumpung diskon lumayan :) Buku-buku parenting termasuk jenis buku yang saya sukai, jadi tak ada salahnya kan?

Dari awal, buku yang ditulis berlatar belakang negeri Sakura ini banyak membukakan mata dan hati saya. Berdasarkan pengalaman penulis tinggal selama kurang lebih 12 tahun di Jepang, banyak hal-hal yang ditangkap dan dituangkan di dalam tulisan-tulisan di buku ini. Buku ini sarat makna. Mengenai bagaimana rupa pendidikan formal di Jepang mulai dari hoikuen (tempat penitipan anak), youchien (TK), kids supporter hingga SD. Mengenai bagaimana umumnya orang tua di Jepang mendidik anak-anaknya. Dan, juga menanamkan kemandirian dan tanggung jawab.

Layaknya dua sisi mata uang, tidak semuanya yang baik-baik tergambar di sini. Namun demikian, banyak hal baik yang bisa saya ambil manfaatnya dari buku ini. Saya sangat terkesan dengan salah satu judul bahasan di dalam buku ini yang berjudul "Mangkuk Nasi yang Dibawa Berlari". Inilah refleksi kehidupan yang sering saya lihat sehari-hari, dimana para ibu atau asisten rumah tangga berupaya membuat anak-anak makan dengan cara menyuapi anak tersebut sambil berjalan-jalan. Seringkali, saya bahkan melihat anak-anak itu digendong sambil berjalan-jalan agar mau makan. Sementara di Jepang, mulai usia satu tahun anak sudah dilatih duduk manis saat makan. Pada usia 3 tahun, anak-anak sudah dilatih makan sendiri.

Saya tak mau munafik, saat anak pertama saya pernah mendapatkan perlakukan seperti ini dari saya. Syukurlah hal ini tak berlangsung lama. Lalu saat kelahiran adik-adiknya, mereka tidak pernah saya perlakukan seperti ini. Bukan karena membedakan, tetapi karena kedua adiknya adalah anak kembar yang membuat saya tak bisa menggendong mereka dua-duanya sambil menyuapi!Tetapi sesungguhnya  alasan terbesar saya adalah karena tidak mau membuat mereka terbiasa makan dengan cara seperti itu. Saya tidak mau hal ini menjadi kebiasaan yang berlanjut terus. Anak-anak harus bisa makan sendiri dan duduk manis di kursi saat makan.

Bagian lain dari buku ini yang berjudul "Saat Anak Jatuh" juga merupakan salah satu kisah favorit saya. Disitu dikisahkan bagaimana para ibu di Jepang sebagian besar akan bersikap biasa saja saat anaknya jatuh. Mereka tidak akan terburu-buru mendatangi anaknya lalu dengan suara panik mencemaskan keadaan anaknya. Sebaliknya, mereka bereaksi dingin, mengatakan "Jangan menangis!", "Tidak apa-apa!" jika anak-anak jatuh. Penulis menutip sebuah artikel yang mengatakan bahwa pola asuh seperti itulah yang menjadi salah satu faktor yang telah berhasil membentuk manusia-manusia Jepang sebagai sosok pekerja keras nan ulet.

Meskipun akhirnya penulis sendiri mengakui bahwa dia tidak yakin apakah sikap seperti itu yang pantas diperlihatkan saat anak jatuh, sedikit banyak saya menangkap maksud dari tulisan ini. Bahwa ada baiknya jika orangtua tidak bersikap berlebihan memperlakukan anaknya seperti kaca yang mudah pecah. Sikap seperti itu bisa membuat anak jadi mudah panik, takut melangkah,dan membayangkan hal-hal yang paling buruk saat tertimpa masalah.

Satu hal terakhir yang mengesankan di buku ini yaitu penggambaran pendidikan di Jepang yang tidak mengenal sistem peringkat di kelas.  Rapor siswa di sekolah untuk kelas satu dan dua dibuat tiga level yaitu perlu lebih berusaha, bisa, dan benar-benar bisa. Ini dibuat agar anak-anak tidak turun semangat belajarnya.Di sinilah saya sempat termenung sejenak dan membandingkannya dengan sistem pendidikan disini yang sangat berbeda.

Pendek kata, seluruh isi buku ini sepanjang 294 halaman habis saya baca dalam waktu sehari semalam. Menandakan bahwa isinya mudah dicerna dan cukup menarik bagi saya, hingga saya tak kuasa melepaskan buku ini sekejap saja.:)