Wednesday, April 24, 2013

[Travelling Bangkok Day 1] I'm Coming!

Ini memang bukan kali pertama saya pergi ke Bangkok. Hampir dua tahun lalu, usai banjir besar melanda Bangkok, saya dan suami nekat pergi ke Bangkok. Ya iyalah, udah beli tiket promo. Sayang kalau batal gara-gara banjir itu hehe.

Nah, kali ini, saya pergi bersama rombongan penulis, editor dan ilustrator. Total rombongan terdiri dari 7 orang, yaitu saya, Nunik, Ichen, Mbak Erna, Kang Iwok, Kang Odoy dan Mas Benny. Sebelum berangkat sudah kebayang serunya perjalanan ini. Berkali-kali bongkar pasang jadwal perjalanan dan mencari informasi jalur terbaik menuju hotel membuat saya termimpi-mimpi. Saking senangnya, saya mimpi koper saya ketinggalan. Benar-benar nightmare!

Apa sih tujuan kami datang ke sana? Tentu saja yang utama adalah berkunjung ke Bangkok International Book Fair 2013. Selain itu, kami juga sudah akan bertemu dengan perwakilan Minmie Bag Factory, sebuah perusahaan tas Thailand yang lisensi penerbitannya di Indonesia dipegang oleh Mizan. Yah, meski saya belum pernah menulis serial Minmie ini, moga-moga saja saya tetap diajak jalan-jalan ke kantornya. *komat-kamit baca doa. Soalnya, dalam hati kecil saya, tentu saja saya ngarep tas Minmie yang cute itu.

Singkat cerita, Kamis, 4 April 2013 sekitar pukul 12 siang kami tiba di Bandara Svarnabhumi. Langsung deh, dengan noraknya kami foto-foto. Ya iyalah, apalagi kalau bukan untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami sudah menginjakkan kaki di Bangkok. Tapi... gimana caranya supaya tetap terhubung di socmed ya? Eksis pakai simcard Indonesia, mahal. 

Menurut hasil googling sebelum berangkat, ada operator lokal yang menyediakan kartu perdana plus paket internet murah. Dan untunglah kami menemukannya dengan mudah. Gimana nggak mudah, antreannya mengular begitu. Sabar... Sabar... Demi eksis di dunia maya, kami pun ikut antre. Saya, Nunik, dan Ichen membeli paket seharga 449 (untuk bb) dari DTAC. Khawatir saat mengaktifkan ketemu huruf-huruf keriting ala Thailand yang tidak dimengerti, kami minta tolong mbak-mbak cantik petugasnya untuk mengaktifkannya.
Dan kami terkaget-kaget saat dijutekin dalam bahasa Thailand! Hadooh, ngomong apa sih, Mbak?
Konter DTAC yang rame banget

Lebih kaget lagi ketika ternyata, si mbak ini cuma mengganti simcard dan menyerahkannya pada kami. Lah, kalau gini doang saya mah bisa, mbak.

"Ngapain tadi kita ikut ngantre?" kata Ichen ikut kesal.

"Tahu, deh," saya malah jadi geli sendiri. Ya ampun, please deh, dijutekin cuma untuk ganti simcard itu gak banget!
Masih bisa ketawa, belum tahu bakal nyeret koper di tangga :D

Oke, lupakan kejadian buruk itu. Kami pun berlanjut menuju Airport Rail Link (ARL). Dengan uang 45 Bath kami menuju Stasiun Phaya Thai. Perjuangan pun dimulai di sini. Koper kami seret-seret naik turun tangga. Emang ga ada eskalator? Itu dia, mungkin kita yang nggak tahu bahwa di sisi lain ada eskalator. Hiks.
Dilarang bawa durian dan balon ke dalam BTS


World Book Capital di BTS Sky Train

Dari Phaya Thai melanjutkan perjalanan menggunakan BTS Skytrain di Stasiun Asok. Ongkosnya 30 Bath. Abis itu pindah MRT ke Stasiun Lumphini dengan ongkos 20 Bath. Kenapa pakai pindah sampai tiga kali? Yah, sebenernya, sebelumnya saya sudah bilang kita bisa turun di Makkasan lalu pindah ke MRT Petchburi ke Lumphini. Jadi nggak perlu pindah berkali-kali. Tapi berhubung temen-temen mau nyobain semua jenis angkutan ya sudahlah... *pasrah, karena satu-satunya orang yang pernah ke Bangkok ini memang disorientasi tempat :p

Yang membingungkan, setelah keluar dari Stasiun Lumphini kita tidak melihat hotel Pinnacle Lumphini yang sudah kita pesan. Beberapa kali kita mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas sebelum menyadari kesalahan kita.

"Tanya orang saja."

"Telepon ke hotelnya."

Yailaah, kenapa nggak dari tadi, coba? Sudah kepanasan, kehausan, kelaparan pula huhuhu.

Sampai di hotel, seorang petugas mengatakan kami sudah ditunggu seseorang. Ya pastinya, itu adalah salah seorang perwakilan dari Minmie Bag Factory. Dialah Miss Intira yang sudah menunggu berjam-jam lamanya *lebay. Soalnya, kita sudah janjian bertemu di hotel pukul 13, sementara saat itu sudah hampir pukul 15.

Untungnya, Miss Intira ini super baik. Dia malah meminta kami mandi dan beres-beres dulu sementara dia menunggu di lobby. Setelah kami mandi dan bersiap-siap super kilat, kami pun menemuinya, berharap segera meluncur ke pabrik Minmie. Tapi... berhubung sudah sore, dan jalanan pasti macet, kunjungan ke pabrik Minmie dibatalkan. Yaaah, penonton kecewa.

Setelah pertemuan itu selesai, kami, para cewek cantik dalam rombongan ini diantar Miss Intira menuju Siam Paragon, mall besar yang terkenal seantero Bangkok. Bagaimana dengan para cowok? Karena mobil Miss Intira sangat imut, para cowok pergi ke Siam Paragon naik MRT.

Sampai di Siam Paragon, rasanya sudah mau pingsan saking laparnya. Kami pun memutuskan duduk di Secret Recipe sebelum jalan-jalan. Oya, baru kali ini kami nggak minat foto-foto. Perut lapar membuat foto-foto jadi urutan kesekian dalam pikiran kami. :D

Supaya lebih terasa Thailand-nya, kami memesan Noodle Tom Yam yang yummy. Udangnya gede-gede dan dagingnya seger banget. Puas makan, kami melanjutkan perjalanan ke Madame Tussaud. Sengaja, kami memesan tiket online supaya lebih murah 20%. Jadi harga tiket yang seharusnya 800 Bath cukup kami bayar 640 Bath.
Sudah kenyang baru bisa pose :D

Madame Tussaud ini adalah Madame Tussaud kedua yang saya kunjungi. Sebelumnya saya dan keluarga pernah singgah di Madame Tussaud Hongkong. Sekilas, nggak jauh beda dengan yang di Hongkong. Seperti apa kegilaan kami di tempat ini. Cukup fotolah yang bercerita. See?


Ehm, David Beckham




Di kantor Obama :D


Pulangnya, meski sudah pegel, kami nekad jalan-jalan di Si Lom karena tertarik melihat jejeran jajanan di jalanan. Maklum, perut sudah lapar lagi. Akhirnya, saya, Ichen dan Kang Iwok membeli jagung Bangkok seharga 40 Bath. Rasanya manis banget. Puas deh makan jagung yang gede itu.

Yang mengejutkan, kami nggak tahu kalau Si Lom itu adalah... daerah terlarang. Kalau mau tahu kenapa, cari saja sendiri ya. Yang jelas, di sini banyak ladies boy bersliweran.






Wednesday, April 3, 2013

Arti Kemerdekaan


Dimuat di Rubrik Refleksi Majalah Parenting, Agustus 2009. Sekarang, rubrik itu sudah tidak ada.



Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa menjadi seorang fulltime mother akan sibuk luar biasa dari pagi menjelang hingga malam tiba. Apalagi saya juga bekerja dari rumah sebagai penulis lepas. Kalau dulu selama hampir empat tahun saya ‘hanya’ mengurus rumah, seorang anak plus suami. Sekarang semuanya sungguh berbeda. ‘Kemerdekaan’ saya berkurang dibandingkan dulu. Kemerdekaan yang bagi saya berarti kesempatan mendapatkan waktu untuk diri sendiri alias ‘me time’ sekarang merupakan barang langka yang hanya sesekali waktu saja saya peroleh. Itupun dengan perjuangan yang ekstra.
Kelahiran kedua putri kami yang lainnya di awal tahun inilah yang membuat hari-hari saya serasa jungkir balik bak naik roller coaster. Ya, kedua adik Keisya terlahir kembar identik. Sejak si kembar, Kiera dan Kiara lahir, saya benar-benar kewalahan membagi waktu. Saat mereka masih berusia beberapa hari, saya bisa bangun sepuluh kali dalam semalam karena mereka bergantian menangis, menyusu, dan rewel karena popoknya basah. Waktu itu, saya belum mendapatkan asisten yang membantu saya mengasuh si kembar. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya kehidupan kami.
Ketika mendapatkan seoarang asisten rumah tangga, tidak lantas kerepotan itu berkurang secara nyata. Kerepotan ini malah bertambah dengan kemanjaan si sulung yang muncul kemudian. Mengetahui adiknya lahir (langsung dua lagi!) dia langsung kembali kekanak-kanakan. Bukannya kemajuan yang ditunjukkannya tetapi kemunduran. Maunya menempel terus pada saya. Nyaris tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukan tanpa bantuan saya. Padahal, saya sungguh ingin membuatnya belajar mandiri. Setidaknya, jika dia mau pergi bersekolah diantar orang lain selain saya, mandi sendiri, atau memakai pakaian sendiri, itu sudah membuat saya bisa sedikit bernapas lega.
Pagi hari dan malam hari menjadi saat paling ribet buatku. Pagi hari, saat saya belum rela bangun karena kecapekan, saya sudah harus siap menghadapi hari. Memandikan anak-anak, menyiapkan Keisya berangkat sekolah, menyuapinya, dan mengantarnya sekolah. Setelah Keisya berangkat sekolah, barulah si kembar beralih tangan dari mbak asisten ke saya lagi. Malam hari saat mereka akan tidur, kembali keributan dimulai. Keisya yang susah tidur merengek-rengek minta ‘perpanjangan’ waktu bermain. Sementara si kembar yang sudah ngantuk menangis tak henti-hentinya. Barulah setelah mereka berhasil dibujuk dengan berbagai cara selama berjam-jam lamanya, akhirnya mereka tidur.
Tapi bukan berarti setelahnya saya bisa tidur dengan nyenyak. Si kembar kembali berulah dengan tangis mereka. Sementara Keisya bangun beberapa kali untuk pipis dan minum. Hah, kapan saya bisa istirahat?
Kemerdekaan saya seperti terampas oleh kesibukan yang tak ada habisnya. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya bisa membaca buku dengan santai dan tenang, tanpa ada yang menganggu. Karena kurangnya kuantitas dan kualitas tidur serta waktu rileks saya, saya merasa emosi saya tidak stabil. Saya sering marah-marah mendapati hal-hal kecil yang tak sempurna di mata saya. Kadang-kadang, saya merasa putus asa jika tidak bisa meredakan tangis si kembar atau kerewelan si sulung yang minta selalu diperhatikan. Saya juga sering senewen saat si kembar menangis bersamaan, sementara saya tidak bisa memegang keduanya dalam waktu yang sama. Saya lelah lahir dan batin.
Saya mulai berpikir ulang menata hidup saya, mengurai satu persatu hal-hal yang bisa mulai saya lepaskan dan atur kembali. Dihadapkan pada kenyataan yang demikian membuat saya tersadar, saya bukan supermom yang bisa melakukan banyak hal sekaligus tanpa merasa lelah sekalipun. Saya butuh waktu untuk diri saya sendiri dan butuh merasa rileks agar saya bisa tenang dan dapat merawat anak-anak dengan baik.
Pertama-tama saya mulai berpikir untuk membuat Keisya mandiri. Setidaknya jika dia bisa melepas ketergantungannya sedikit demi sedikit, saya punya waktu untuk mengurus hal lainnya. Masalahnya karena kekhawatiran saya yang terlalu berlebihan, dia seringkali tidak percaya diri melakukan sesuatu. Maka mulai saat itulah saya rubah sikap saya yang sedikit-sedikit mengomeli dan mengomentari hasil kerjanya. Kalau tidak diberi kebebasan melakukan segala sesuatunya sendiri kapan dia bisa mandiri, begitu pikir saya.
Agar dia lebih pede melakukan segala sesuatu sendiri, pelan-pelan saya berikan dia kebebasan memilih. Saya minta dia memilih sendiri pakaian yang akan dikenakannya, menantangnya mandi sendiri, dan tidur di kamar sendiri. Semuanya dengan reward yang mendidik versi saya, seperti membelikannya sebuah majalah anak-anak terbaru, membacakan cerita dari buku yang dipilihnya, atau bermain sepeda di minggu pagi bersama kami.
Lama kelamaan, dia mulai bisa beraktivitas tanpa harus ditemani. Bahkan dia merasa bebas dengan bersikap mandiri. Belakangan, saat liburan panjang tiba, dia mau menginap di tempat Opa dan Omanya selama beberapa hari tanpa kami temani. Bahkan dengan cerianya dia merencanakan apa-apa yang akan dilakukannya disana, tanpa ada larangan ini itu dari saya, ibunya yang super cerewet. Maklum, seperti ibu-ibu yang lainnya saya seringkali melarangnya bermain ini itu, misalnya bermain pasir yang membuatnya belepotan atau melarangnya melompat-lompat di kasur karena khawatir akan keselamatannya. Padahal, siapa sangka kegiatan seperti itu justru mengasyikkan menurut anak?
Hmm… ternyata kebebasan yang saya berikan untuk Keisya agar dia berlatih mandiri menjadi berkah pula buat saya. Alih-alih repot berteriak-teriak menyuruhnya berhenti melompat-lompat atau bermain pasir, saya mengalihkan sebagian energi saya untuk melakukan kegiatan yang saya sukai, meskipun sambil tetap mengawasinya dari kejauhan. Sembari mengawasinya, saya bisa merebahkan tubuh sejenak selama sepuluh menit di dekatnya.
Satu hal teratasi, saya lalu mulai berpikir bagaimana caranya agar saya bisa tidur nyenyak di malam hari. Selama ini tidur bersama si kembar yang menangis bergantian setiap malam membuat saya tidak bisa tidur nyenyak. Apa boleh buat, akhirnya saya putuskan untuk memisahkan mereka berdua saat tidur. Satu orang tidur bersama si mbak, satunya lagi bersama saya bergantian setiap malam. Demikian pula saat tidur siang. Ternyata hasilnya cukup menggembirakan. Karena tidak disatukan dalam satu ruang, otomatis saat salah seorang menangis, satunya lagi tidak ikut terbangun dan lantas menangis. Mulai saat itulah saya memilih untuk memisahkan Kiera dan Kiara saat tidur.
Kejam? Mungkin. Tetapi nyatanya, dengan begitu saya merasa lebih nyenyak tidur dan bangun dalam keadaan yang lebih segar. Dan jika malamnya saya benar-benar dapat beristirahat, saya merasa cukup dapat dihandalkan untuk melakukan berbagai hal selama sehari penuh. Menyelesaikan tulisan di saat Keisya berada di sekolah, bangun pagi tepat pada waktunya, dan jarang marah-marah jika anak-anak rewel. Kebersamaan saya dan anak-anak pun lebih berkualitas karena saya cukup bisa mengendalikan diri.
Bagi si kembar sendiri, saya tidak melihat bahwa tidur secara terpisah dengan kembarannya memberikan efek yang buruk. Tidak berarti kembar selalu harus bersama bukan? Sekarang mereka malah jarang rewel bersamaan. Kadang-kadang, saat saya merasa fit, saya mengumpulkan mereka dalam satu tempat tidur demi membunuh perasaan bersalah saya karena sering memisahkan mereka.
Saya memang tidak mendapatkan kebebasan saya sepenuhnya setelah memiliki tiga orang putri. Tapi arti kemerdekaan bagi saya sekarang tidak sama dengan arti kemerdekaan yang saya miliki saat saya belum menikah atau baru memiliki satu orang anak. Arti kemerdekaan berubah seiring waktu. Jika bagi Keisya, anak sulung saya, kemerdekaan bisa berarti bebas melakukan hal-hal yang disukai tanpa ada yang berteriak melarang atau mencegahnya, bagi saya kemerdekaan adalah mendapatkan waktu yang berarti untuk melakukan ‘me time’. Tidak berarti ‘me time’ saya menghabiskan waktu berjam-jam lamanya (meski saya tentu saja tak akan menolak jika mendapatkan kesempatan ini tentunya), tetapi cukup beristirahat, bisa membaca atau menulis di sela-sela mengasuh anak, dan sesekali jalan keluar bersama teman-teman, saya rasa sudah cukup. Bahkan, setengah jam tanpa gangguan bisa membuat saya kembali rileks sehingga siap menghadapi tantangan berikutnya.

Jidat Harry Potter


Dimuat di Majalah Girls Tahun 2010. Idenya saya peroleh dari Keisya yang jidatnya luka waktu main. :)

Gara-gara dahinya terantuk batu saat berlari-lari di halaman, Arya harus rela mendapatkan beberapa jahitan di dahinya. Dokter mengatakan dia baru boleh masuk sekolah paling cepat tiga hari lagi. Padahal besok Arya akan tampil untuk pentas seni di sekolah.
            “Lebih baik Arya istirahat dulu di rumah minimal tiga hari,” saran dokter itu.
            Arya sudah merengek-rengek pada Ayah agar diijinkan masuk sekolah besok. Tetapi jawaban Ayah tegas. Sekali tidak tetap tidak. Kali ini dia mencoba membujuk Ibu.
            “Bu, besok Arya masuk sekolah ya? Kalau tidak nanti peran Arya digantikan orang lain.”
            Ibu menggeleng tanpa banyak bicara. Arya terdiam. Dia kecewa karena besok dia tidak bisa tampil di acara pentas seni di sekolah. Padahal dia sudah rajin berlatih beberapa minggu belakangan. Ini kesempatan besar yang sudah ditunggu-tunggunya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa berakting. Lagipula dia berperan sebagai peran utama. Baru kali ini dia diminta menjadi seorang Pangeran yang menyelamatkan Putri. Arya sudah membayangkan betapa kerennya menjadi seorang Pangeran! Gara-gara ceroboh, dia tidak bisa naik pentas! Arya menggerutu pada dirinya sendiri.
*
            Beberapa hari kemudian, Arya baru masuk sekolah. Meski sudah sembuh, rasa kecewanya masih tersisa. Pementasan berlangsung meriah tanpa dirinya. Pelatih akhirnya menunjuk Billy sebagai gantinya. Huh, padahal Billy adalah saingan terberatnya ketika mereka diseleksi untuk acara pementasan tersbut.
            Kekesalan Arya semakin memuncak saat Billy mengolok-olok dirinya.
            “Wow, pantasnya kamu jadi si codet saja, Ya!” kata Billy. “Lihat tuh, bekas luka di jidatmu, pasti cocok jadi pemeran penjahat yang jahat,” Billy tertawa-tawa.
            “Enak saja, minggir gih! Aku mau lewat!” Arya cepat-cepat pergi sebelum telinganya semakin panas mendengar ejekan Billy.
            Lila mengikutinya dari belakang. Lila sahabat terbaik Arya, dari Lila-lah Arya tahu bahwa Billy yang menggantikan peran Arya.
            “Sabar, tidak usah marah-marah begitu, Ya,” kata Lila sambil mengutak-utik kameranya. Lila memang sedang senang-senangnya belajar fotografi, dimanapun dia berada kamera tidak pernah lepas darinya.
            “Siapa yang nggak kesal dikatain begitau, La,” keluh Arya sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi.
            “Iya iya… Tapi nggak ada gunanya kan marah-marah. Semuanya sudah berlalu.”
            Arya diam saja. Dia sibuk membalik-balik majalah Lila yang ada di depannya.
            “Lihat kesini sebentar, Ya,” pinta Lila.
            Klik! Klik! Klik!
            Lila memotret Arya dengan cepat sampai Arya kaget.
            “La! Ngapain kamu motret aku segala, cari obyek lain saja sana!” usir Arya gusar. Lila tertawa-tawa pergi.
            Arya mengusap-usap dahinya yang sekarang tidak mulus lagi. Ada bekas luka yang cukup kelihatan di dahinya. Bekas luka itu membuatnya tidak pede berada di depan umum. Seperti Harry Potter. Bedanya, dengan bekas luka di dahinya Harry Potter terlihat keren karena memiliki sejarah kesaktiannya. Sementara bekas luka di dahinya, ih… malah membuatnya kelihatan seperti penjahat! Benar juga kata Billy, aku malah jadi kayak si codet!
*
            Blak!
            Lila melemparkan majalah yang dibelinya di hadapan Arya.
            “Apaan nih?” tanya Arya sambil menatap majalah di hadapannya tak mengerti.
            “Buka halaman 13,” perintah Lila sambil tersenyum-senyum.
            Arya menuruti perkataan Lila. Lila memang suka begitu, sok misterius. Tiba di halaman 13 Arya membaca judul yang tertera di halaman itu pelan-pelan.
            “Lomba mirip Harry Potter…” Hei, kok ada fotonya disitu? Arya terbengong-bengong. Oh, pasti kerjaannya si Lila nih! Arya menatap Lila minta penjelasan darinya.
            “Aku yang kirimkan fotomu ke panitia lomba itu. Lumayan kan hasil jepretanku? Buktinya kamu jadi finalis,” Lila terkekeh-kekeh.
            “La! Yang bener saja, masak aku ikut lomba macam begini?” Arya protes.
            “Sudah nggak usah komentar macam-macam. Besok minggu aku temani tampil di grand final-nya. Hadiahnya lumayan lho. Jangan lupa rambutmu harus dibuat semirip mungkin dengan Harry Potter, lalu pakai baju dan mantel seperti dalam filmnya… Oya, perlu bawa sapu nggak?” Lila nyerocos.
            “Lilaaaaa….!” teriak Arya kesal.
*
            Arya menimang-nimang piala yang diperolehnya. Dia mendapatkan juara ketiga. Lumayan bagus, karena persiapannya benar-benar mendadak. Lila ikut senang melihatnya menang. Lihat saja dari tadi kameranya tidak berhenti memotretnya dari berbagai sisi.
            “Bagaimana ideku, cemerlang kan? Nggak sia-sia aku kirim fotomu kemarin itu. Ayo, sekarang traktir aku!” Lila menarik-narik tangan Arya ke restoran siap saji di mall itu.
            “Sabar dong, aku  belum puas melihat pialaku nih. Ngomong-ngomong makasih ya, La. Kalau bukan karena kamu, pasti aku masih malu tampil di depan umum. Lagipula, dengan begini, aku bisa membungkam mulut Billy,” kata Arya sambil menimang-nimang pialanya, membayangkan reaksi Billy yang pastinya seperti kebakaran jenggot.
            Tiba-tiba, segerombolan anak perempuan lewat di depan mereka. Sebentar kemudian mereka berbisik-bisik lalu dengan menyerbu Arya.
            “Arya boleh foto bareng nggak?” tanya seorang dari mereka. Yang lainnya saling sikut dan berbisik-bisik di belakangnya.
            Lila dan Arya berpandangan. Wow, sekarang Arya Potter jadi ngetop deh! Jidat Harry Potter-nya ternyata tidak membuatnya seperti penjahat yang dibayangkan Billy, kan?

Kamera Haikal


Dimuat di Kompas Anak, 18 Desember 2012


“Ibuuu! Mana kaosku yang pink? Yang bunga-bunga itu lho,” seru Keisya sambil mengacak-acak lemari pakaiannya. Semua pakaian dilempar keluar.
            Haikal, kakaknya mengikuti Keisya dan merekamnya dalam kamera. Akhir-akhir ini, Haikal senang merekam berbagai hal dengan kamera barunya. Kamera itu kado ulang tahun Haikal yang ke-11 dari Om Hari, adik Ibu. Kata Om Hari, kamera itu untuk Haikal berlatih menjadi wartawan. Haikal memang ingin jadi wartawan seperti Om Hari.
            “Minggir!” jerit Keisya kesal. Dia mendorong kamera yang disorongkan Haikal ke arah lain. Haikal malah tertawa. Wajah Keisya yang kesal membuat Haikal semakin senang menggodanya.
            “Aktingmu bagus, Kei,” katanya terus merekam.
            Mata Keisya melotot.
            “Ibuuu! Kak Haikal nih! Iseng banget,” jeritnya lagi. Kali ini lebih kencang.
            “Stt… Jangan keras-keras,” sahut Haikal. Kalau sampai Ibu tahu bahwa Haikal menggoda Keisya, bisa-bisa Ibu mengomelinya.
            “Ibuu!” teriak Keisya lagi.
            Ibu tergopoh-gopoh datang.
            “Ada apa sih? Berisik sekali,” Ibu memandang Haikal dan Keisya bergantian.
            “Kak Haikal tuh, Bu, main kamera terus,” Keisya mengadu.
            Haikal langsung menunduk.
            “Haikal, kamu kan sudah berjanji pada Ibu untuk tidak memegang kamera sepulang sekolah. Lihat tuh, tas dan sepatumu, masih tergeletak di luar. Lalu seragammu… Kenapa belum ganti pakaian?” cerocos Ibu. Sejak memiliki kamera itu, Haikal sering lupa waktu. Karena itu, Ibu dan Haikal membuat perjanjian bahwa Haikal harus menyelesaikan tugas-tugasnya sebelum bermain kamera.
            “Maaf, Bu,” ujar Haikal pelan.
            Keisya menahan tawa. Rasain, kamu! Katanya dalam hati. Puas rasanya melihat Haikal dimarahi Ibu. Habisnya, kesal sih Haikal selalu merekam apa saja yang dilakukannya. Kemarin, teman-teman Haikal menertawai Keisya saat Haikal menunjukkan rekaman Keisya yang sedang melamun.
            “Keisya, kenapa tadi kamu berteriak memanggil Ibu? Memangnya kamu tidak bisa mencari bajumu sendiri?” Ibu memandang Keisya tajam.
            Sekarang, Keisya yang tertunduk dan Haikal tersenyum-senyum.
            “Bereskan pakaianmu, Keisya. Juga kamarmu. Haikal, matikan kameramu. Ibu tunggu di bawah ya, kalian belum makan siang,” kata Ibu tegas.
            Ibu lalu pergi meninggalkan mereka.
            Haikal meletakkan kamera di meja Keisya. Kamar Keisya benar-benar berantakan dan kotor. Heran ya, Keisya bisa betah berada di dalam kamar yang berantakan begitu.
            “Bantuin,” ujar Keisya singkat. “Gara-gara kamu sih,” Keisya menyalahkan Haikal.
            “Kok aku sih? Kan kamu yang nggak pernah beres-beres kamar,” Haikal berdiri di sudut kamar sambil memperhatikan Keisya. Keisya memasukkan barang-barangnya dengan sembarangan. Semua barang dilempar masuk ke dalam lemari.
Dalam hal kerapian dan kebersihan Keisya kalah dari Haikal. Kamar Haikal lebih rapi dari pada kamar Keisya. Karena itu, Keisya sering kebingungan mencari barang-barangnya. Dulu, Ibu masih mau membantu mencarikan barang yang dicari Keisya. Sekarang, Ibu sengaja meminta Keisya mencarinya sendiri.
“Ih, jorok banget sih kamu, Kei,” komentar Haikal melihat Keisya menumpuk kertas-kertas bekas di sudut kamar begitu saja. Tangannya menyapu bersih kertas, pensil bahkan bungkus permen yang ada di mejanya lalu menjatuhkannya di sudut kamar bersama tumpukan kertas itu. Dia lalu mendorongnya ke bawah tempat tidur.
“Beres,” ujar Keisya puas. Dia menepukkan kedua tangannya sambil tersenyum. Ibu takkan tahu bahwa dia menyembunyikan sampah di bawah tempat tidur.
Haikal mengerutkan kening. Dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakukan Keisya. Pantas saja beberapa hari lalu ada tikus nyasar di kamar Keisya. Pasti karena tikus itu suka tinggal di kamar Keisya yang kotor!
*
Minggu pagi, rumah gempar. Kalung emas Keisya hilang.
“Mungkin kamu lupa meletakkannya, Keisya,” kata Ibu sabar. “Coba cari lagi.”
“Keisya sudah cari. Nggak ada, Bu. Pasti ada yang mencurinya,” Keisya mulai curiga. Dia melirik Bik Sumi, pembantu rumah tangga di rumah mereka.
“Jangan asal tuduh,” kata Ibu.
Haikal langsung merekam percakapan Ibu dan Keisya.
“Kapan terakhir kali kamu melihat kalung itu?” tanya Haikal sambil terus merekam seperti wartawan.
Keisya merengut kesal. Lagi-lagi Haikal merekamnya. Tapi dia sedang tak ingin mengomel sekarang. Kalung itu lebih penting.
“Mmm… hari Kamis, pagi. Eh, Kamis siang, sebelum aku membereskan kamar,” kata Keisya cepat.
“Ooh, waktu kamu mencari baju pink itu?” tanya Haikal lagi.
Keisya mengangguk.
“Kamu ingat di mana kamu meletakkannya?” Haikal menginterogasi.
“Di mejaku,” jawab Keisya.
Haikal terdiam.
“Sudahlah. Jangan rekam terus. Ayo bantu aku mencarinya,” Keisya akhirnya. “Nggak ada gunanya kamu merekam terus,” rengutnya.
“Sebentar…” kata Haikal. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Dia mencari-cari sesuatu di dalam rekaman sebelumnya. Dia ingat, Kamis siang saat bersama Keisya dan Ibu memintanya mematikan kamera, dia hanya meletakkannya, tanpa mematikan.
“Sepertinya aku tahu di mana kalungmu,” gumam Haikal. Dia langsung menuju kamar Keisya diikuti Ibu dan Keisya.
Haikal mengambil tumpukan sampah di bawah tempat tidur Keisya lalu memilahnya.
“Ini dia!” katanya senang. Kalung emas Keisya ada di tangannya sekarang.
“Bagaimana kamu tahu kalung itu ada disitu?” tanya Keisya penasaran.
“Nih lihat,” Haikal menunjukkan rekamannya. “Ada gunanya kan aku merekam?” katanya bangga.
Ibu tertawa.
“Baiklah kali ini kamu benar, Haikal. Tapi jangan lupa tugasmu ya,” pesan Ibu. “Keisya, lain kali buang sampah di tempatnya,” kata Ibu lagi.
Keisya hanya bisa mengangguk sambil melirik Haikal. Kali ini dia kalah telak dari Haikal!

Konsultan Tikus


Kali ini, ketidaksukaan saya pada tikus ternyata membawa berkah. :) Tulisan ini dimuat di Rubrik Gado-Gado, Majalah Femina No. 49, Edisi 15 Desember 2012.
Syarat teknisnya:
1. Font Arial spasi ganda.
2. panjang tulisan maksimal 3 halaman folio.
3. Kirim ke kontak@femina.co.id.
4. Tulis biodata singkat dan no. rek di akhir naskah.
5. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media mana pun, termasuk blog.

Cit… cit… cit… Gludag!
            Suara tikus berkeliaran membuat saya terbangun. Sudah lama saya terganggu dengan kehadiran mereka. Belakangan, kesabaran saya mulai menipis. Sekarang, mereka berani menggasak makanan dan membuat kerusakan di langit-langit rumah.
            Saya tidak tinggal diam begitu saja, lho. Saya sudah sering bereksperimen menggunakan berbagai pembasmi tikus. Mulai dari lem tikus, perangkap hingga berbagai jenis racun. Sebut saja semuanya, saya sudah pernah mencoba.
Bahkan, ketika tahu ada alat yang menggunakan teknik gelombang suara untuk mengusir tikus saya tergoda membelinya. Sayangnya, suami tak setuju. Itu karena harganya yang cukup mahal. Juga muncul kekhawatiran jika suara dari alat itu akan mengganggu. Akhirnya saya batal membeli alat itu.
            Kian hari, gangguan tikus itu semakin merajalela. Mereka bahkan berani menampakkan diri di hadapan saya, meski saya siap dengan senjata gagang sapu. Pernah suatu kali seekor tikus melintas di dapur saat saya sedang memasak! Aaargh!
            Menanggapi kekesalan saya, suami malah menggoda saya.
            “Biar nggak benci-benci amat sama tikus, bayangkan mereka selucu Mickey Mouse,” katanya tertawa.
            Ih, mana bisa? Dari dulu saya sudah terlanjur menganggap tikus itu sebagai binatang yang menyebalkan dan menjijikkan. Saya benci setengah mati dengan tikus.
            Saking bencinya, saya melakukan proteksi besar-besaran di rumah. Saya tutup lubang-lubang yang mungkin bisa mereka masuki. Saluran air di dekat mesin cuci saya tutup dengan batu bata saat tidak digunakan. Makanan wajib disimpan di dalam lemari saat malam tiba. Sela-sela pintu saya sumpal dengan kertas agar mereka tak bisa masuk.
            Tapi herannya mereka masih saja berkeliaran. Seolah mengejek saya, mereka menggigit kertas yang saya selipkan di bawah pintu. Waduh! Emosi saya terkuras habis-habisan karena makhluk itu.
            Saya pun kembali memutar otak. Ketika bertemu dengan salah seorang teman, saya menceritakan masalah tersebut.
            “Panggil saja konsultan tikus. Aku baru saja mencobanya,” sarannya.
            Saya tertawa geli. Tikus saja sampai ada konsultannya! Tapi saya jadi penasaran, kira-kira seperti apa ya pekerjaan mereka?
            Teman saya pun menawarkan saya ke rumahnya. Kebetulan, dia sedang memanggil konsultan tikus itu. Betapa terkejutnya saya ketika melihat pekerjaan mereka. Ternyata mereka sangat serius menangani tikus, lho. Dengan telaten mereka menjelaskan sifat dasar tikus.
            “Tikus ini binatang yang cerdas, Bu. Kecerdasannya hampir sama dengan monyet. Percuma kalau kita menggunakan racun tikus yang membuat tikus-tikus itu langsung mati. Karena, saat salah satu mati, tikus-tikus lainnya belajar dari peristiwa itu. Mereka tidak akan mau makan makanan yang dimakan tikus yang mati itu,” jelas mereka.
            Saya hanya bisa mangut-mangut mendengarnya. Wah, sekarang saya tahu mengapa belakangan racun tikus yang saya tempatkan di beberapa tempat selalu utuh.
            “Sebaiknya ibu pakai racun ini. Jika tikus makan racun ini, butuh beberapa hari sebelum mereka mati karena racun. Kemungkinan mereka tidak mati di tempat. Tapi, saya jamin dalam waktu beberapa bulan, rumah ibu akan bersih dari tikus,” lanjutnya.
            Ooo… ternyata ujung-ujungnya jualan, tho? Meski tahu mereka tidak sekedar menawarkan jasa, saya tetap tertarik memakai jasa mereka. Tentu saja, saya ingin lihat buktinya dulu dari teman saya. Jika mereka berhasil menangani tikus di rumah teman saya, baru saya berniat memanggil mereka.
            Berbulan-bulan berlalu saya memantau pekerjaan mereka dari cerita teman. Eh, lama kelamaan saya semakin terkesan.
            “Yang paling repot adalah ketika tikus itu mati di tempat yang susah dijangkau. Bau bangkainya menyebar kemana-mana,” keluhnya. “Tapi konsultan tikus itu langsung datang saat dipanggil dan mereka yang membersihkannya.”
            Iseng saya bertanya, berapa biaya yang dikeluarkan untuk menangani masalah tikus ini sampai tuntas? Jawabannya hampir saja membuat saya pingsan! Pasalnya, saya tak menyangka angka yang dikeluarkan mencapai tujuh digit untuk jasa selama beberapa bulan.
            Ckckck… tikus… tikus! Ternyata tikus itu juga menggerogoti dompet hingga jebol!