Tuesday, May 15, 2012

Sepatu Persahabatan


Aku mengucek-ucek mata ketika melihat sekolah baruku.
“Ini sekolahku, Bu?” aku menatap Ibu, tak percaya.
Ibu mengangguk mantap.
“Benar. Sekolah ini sekolah terbaik,” jawab Ibu.
Bangunan sekolah itu retak-retak di segala sudut. Lantainya bahkan beralaskan bergelombang tak rata. Ruang kelasnya gelap, kotor lantainya oleh tanah becek yang terbawa kaki-kaki kecil para murid, dan bangkunya yang memanjang sebagian besar berisi tiga orang murid yang duduk berdesakan. Bagaimana mungkin ini sekolah terbaik?
“Ibu harap kamu senang sekolah di sini,” kata Ibu lembut namun tegas, membuatku tak kuasa berkata yang sebenarnya.
Ketika lonceng berbunyi, murid-murid seolah dimuntahkan keluar dari ruang kelas mereka. Ada seorang gadis yang nampak menarik perhatianku. Bukan karena dia terlihat lebih rapi atau cantik. Tapi karena dia nampak aneh.
Kepalanya terlihat seperti besar, tak sebanding dengan tubuh kurusnya, serupa dengan jarum pentul. Sebaliknya ekspresinya nampak kekanak-kanakan. Sungguh paduan yang sama sekali tak bisa dibilang serasi. Ingus yang mengalir dari hidung besarnya.
Beberapa saat, aku memandanginya dari ujung rambut hingga kaki. Dan… mulutku ternganga, ketika melihat kakinya yang tanpa sepatu!

Di kelas, aku melirik gadis aneh itu. Aku tahu, sejak tadi dia menatapku. Aku jadi jengah diperhatikan.
Tiba-tiba dia berdiri, menuju ke arahku. Jantungku berdebar. Aku takut bukan main. Wajahnya yang aneh membuatku gelisah. Mau apa dia?
“Kenalkan,” dia mengulurkan tangannya. Sekilas aku melihat tangannya serupa kotornya dengan kakinya, kukunya hitam-hitam. Aku jijik melihatnya. Tapi, rasanya tak sopan jika tak kusambut uluran tangannya.
 “Fitri,” jawabku pendek. Buru-buru kutarik tanganku. Ih, berapa banyak kuman yang menempel di tangannya itu? Aku lalu melirik kakinya. Nampak besar dengan jari-jari mencuat serta kulit yang menebal kotor. Aku yakin dia juga menggembala kambing tanpa alas kaki. Membayangkan kotoran kambing menempel di kakinya membuatku semakin jijik.
“Namaku Gudel,” katanya.
Sungguh, aku hampir tersedak. Gudel? Itu kan nama anak kerbau dalam bahasa Jawa! Kok bisa orang tuanya kasih nama seperti itu?
Gudel mendekatiku. Tanpa sengaja kakinya menginjak sepatuku. Sepatuku jadi kotor, berbekas telapak kakinya.
Spontan, aku mengusap sepatuku dengan tissue. Mungkin Gudel mendengar aku mendengus kesal. Tapi aku tak peduli. Sepulang sekolah, aku akan mencuci sepatuku, tekadku dalam hati.
“Maaf,” ujarnya pelan. Dia menunduk menghindari lirikanku yang tajam.
“Tak apa,” aku menjawab pendek.  Aku hanya ingin percakapan ini segera berakhir.
“Sepatumu bagus,” katanya lagi. “Aku tak pernah punya sepatu,” ucapnya.
Aku terperangah. Wajahku terasa panas, tersindir ucapannya.
Tiba-tiba aku merasa malu. Aku pernah merengek berhari-hari karena Ibu tak membelikanku sepatu baru. Sepatuku memang bukan sepatu yang mahal. Tetapi cukup melindungiku dari panas, becek, dan kotoran. Seharusnya, aku bersyukur.
Aku membiarkannya berjalan ke kelas lebih dulu. Melihat tubuhnya yang bongsor, aku yakin usia Gudel jauh lebih tua dibandingkan usia teman-teman sekelasku. Mengapa dia dimasukkan di kelas tiga? Apakah karena dia tinggal kelas?
Aku langsung duduk di bangkuku. Pak Nur, guru kami telah memilihkan sebuah bangku untukku di samping Dina.
“Gudel belum lancar membaca,” bisik Dina padaku seolah tahu yang kupikirkan.
Aku tertegun. Seharusnya anak-anak kelas tiga sudah lancar baca tulis.
“Usianya sudah sebelas tahun. Dia tinggal kelas berkali-kali,” lanjut Dina semakin membuatku terkejut. Pantas saja tubuhnya terlihat besar.
Braak!
Suara seseorang yang terjatuh di lantai membuat aku dan Dina serentak menoleh ke arah yang sama. Gudel terjatuh di lantai!
Kakinya yang kotor menyepak-nyepak ke segala arah. Tangannya juga menggapai dengan riuh. Liur keluar dari mulutnya. Berbuih, mengalir di ujung mulutnya. Mata Gudel mendelik. Bagian putih matanya terlihat. Sungguh mengerikan!
Kelas sontak ramai.
“Panggil Pak Nur,” seseorang berteriak.
Adi, ketua kelas kami berlari ke luar kelas. Sementara Dina bergegas menyisipkan sapu tangannya ke mulut Gudel, mencegahnya supaya lidahnya tidak tergigit. Nampaknya, semua sudah terbiasa dengan peristiwa ini.
Ah, aku baru tahu, Gudel epilepsi. Aku tahu, karena aku pernah melihat pasien Ibu yang epilepsi.

 “Sepatu itu nggak penting. Yang penting kamu masih bisa sekolah,” ujarku menyemangatinya.
“Aku malu. Murid paling tua, tapi paling bodoh,” ujarnya.
“Kamu mau belajar bersamaku?” tanyaku.
Binar di matanya membuatku senang. Ada dua titik seperti bintang di sana.
“Tentu saja mau. Aku mau lulus sekolah.”
“Baiklah. Nanti sepulang sekolah ya,” kataku. “Oya, kamu mau sepatu lama ayahku? Beliau takkan keberatan jika kuberikan padamu.”
Kepalanya yang besar terangguk-angguk jenaka bak boneka keramik yang lehernya disangga pegas..
“Terima kasih,” dia berkata berulang-ulang seperti kaset rusak.
Aku tertawa. Aku berharap, sepatu yang kutawarkan padanya dapat menjadi sepatu persahabatan kami. Dan, penyemangatnya belajar.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kisah Inspirasi Sepatu Dahlan dan diposting dalam rangka lomba tersebut.