Tuesday, May 15, 2012

Sepatu Persahabatan


Aku mengucek-ucek mata ketika melihat sekolah baruku.
“Ini sekolahku, Bu?” aku menatap Ibu, tak percaya.
Ibu mengangguk mantap.
“Benar. Sekolah ini sekolah terbaik,” jawab Ibu.
Bangunan sekolah itu retak-retak di segala sudut. Lantainya bahkan beralaskan bergelombang tak rata. Ruang kelasnya gelap, kotor lantainya oleh tanah becek yang terbawa kaki-kaki kecil para murid, dan bangkunya yang memanjang sebagian besar berisi tiga orang murid yang duduk berdesakan. Bagaimana mungkin ini sekolah terbaik?
“Ibu harap kamu senang sekolah di sini,” kata Ibu lembut namun tegas, membuatku tak kuasa berkata yang sebenarnya.
Ketika lonceng berbunyi, murid-murid seolah dimuntahkan keluar dari ruang kelas mereka. Ada seorang gadis yang nampak menarik perhatianku. Bukan karena dia terlihat lebih rapi atau cantik. Tapi karena dia nampak aneh.