Wednesday, September 13, 2017

Mendongeng di Kelas, Mengapa Tidak?

Bismillahirohmanirrohim....

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, saya mengikuti Storytelling Workshop for Lecturer and Trainer. Pengajarnya Sheila Wee, seorang pendongeng yang sudah belasan tahun menekuni bidang ini. Alasan saya mengikuti worskhop ini pertama adalah karena saya merasa perlu belajar lagi cara menyampaikan materi secara efektif pada murid-murid saya. Kedua, selama ini, saya jarang mendongeng untuk murid-murid saya. Dalam benak saya, mendongeng itu membutuhkan keahlian khusus, seperti kepandaian memainkan intonasi, berekspresi dan kepandaian bercerita. Bagaimana dengan saya? Saya akui, saya masih sering merasa kurang pede bercerita.



Kebetulan, ada beberapa teman yang berprofesi sebagai guru. Saya pun iseng-iseng tanya apakah mereka mendongeng di kelas? Jawaban jujur saya dapatkan dari Chela, si Bu Guru Kecil. Dia mengatakan, "Pernah sih, Mbak, aku mendongeng di kelas. Tapi menurutku kurang maksimal hasilnya karena aku masih malu-malu. Padahal, mendongeng itu bisa jadi media yang bagus untuk belajar karena bisa mudah ditangkap materinya."

Terus terang saja, jawaban Chela cukup menyejukkan di telinga saya, karena sepertinya saya punya teman yang berpikiran sama hehehe. Sama-sama mengakui nilai plusnya mendongeng untuk anak, tapi masih susah mempraktikkannya. Baiklah, kita sama-sama belajar, ya, Chel.

Nah, apa saja sih yang saya dapatkan dari workshop itu? 

Otak Manusia Memproses Cerita
Mana yang lebih kamu ingat, cerita atau penjelasan materi dalam bentuk poin-poin kalimat? Kalau itu ditanyakan pada saya, saya akan jawab, lebih mudah mengingat cerita. Ya, cerita adalah hal yang  mudah diterima oleh otak manusia. Cerita juga membuat orang yang mendengarkan lebih kreatif. Ketika seseorang mendengar cerita, dia akan membayangkan situasi yang terjadi dalam cerita tersebut. Proses ini membuatnya berpikir dan mengingat.

Raih Perhatian Audiens
Ketika kita bercerita, raih perhatian audiens terlebih dahulu. Pastikan mereka diam, sehingga dapat mendengarkan cerita dengan baik. Poin ini, masih PR buat saya, apalagi untuk audiens anak-anak. Salah satu cara yang saya lakukan biasanya, mengajak mereka berdialog di awal

Ingatlah Awal dan Akhir Cerita
Kesalahan yang mungkin sering terjadi adalah saat kita bercerita, kita terlalu sibuk memikirkan keseluruhan cerita. Padahal, menurut Sheila, kita cukup mengingat awal dan akhir cerita. Sisanya? Mengalir saja. Bahkan, kita boleh lho berinteraksi dengan menanyakan pada audiens, tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Jadilah Diri Sendiri 
Menjadi diri sendiri saat mendongeng artinya nyaman dengan diri sendiri tanpa meniru orang lain. Kenali kelebihan kita. Kalau kita nggak nyaman pakai tools seperti boneka tangan, ya tidak usah maksa pakai boneka tangan. Kalau kita tidak bisa mengubah-ubah nada suara, ya tidak perlu. Intinya senyaman kita saja. 

Kesimpulan yang saya dapatkan di akhir acara, mendongeng membutuhkan jam terbang. Sama seperti menulis, semakin rajin berlatih, maka akan semakin terasah kemampuan kita mendongeng. Jadi, kalau mau lebih pede, mendongenglah setiap hari. Buat yang berprofesi sebagai guru, mendongeng di kelas bisa menjadi tempat berlatih yang oke.  Yuk, semangat, ah! 

Monday, September 11, 2017

Linz, Kota Yang Tak Terlupakan

Kota kesekian yang saya kunjungi bersama keluarga dalam rangkaian perjalanan kami adalah kota Linz, Austria. Sebenarnya, saat kami menyusun itinerary, terjadi pembahasan yang cukup lama di antara saya, suami, dan orangtua saya. Ada beberapa kota di Austria yang masuk dalam daftar kami. Setelah disaring masih tersisa tiga kota dalam saftar yaitu Wina, Salzburg dan Linz. Ketiganya menarik. Tetapi, saya dan suami sudah pernah mengunjungi Wina, maka Salzburg dan Linz menjadi pilihan akhir. Kami tidak bisa mengambil keduanya karena waktunya terbatas. Dengan berbagai pertimbangan (antara lain faktor lamanya perjalanan dan kelelahan) kami pun memutuskan bermalam di Linz.

Kami tiba di Linz menjelang malam. Untungnya (sekali lagi), karena saat itu musim panas, pukul 7 maman pun masih seperti sore. Kesan pertama yang tertangkap oleh saya, kota kecil ini tenang dan nyaman untuk berjalan-jalan. Kotanya juga bersih, sama seperti kesan yang kami tangkap saat berkunjung ke Wina beberapa tahun lalu. 

Ketika sampai di penginapan, resepsionis menyapa kami dengan ramah. Bahkan, ketika kami menanyakan tentang layanan pesan antar makanan, dia menawarkan untuk memesan. Alhamdulillah waktu itu ada layanan pesan antar makanan halal. Kami pun langsung mengiyakan tawarannya.

Seharusnya, jika tidak capek, malam hari adalah waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Mengapa? Karena beberapa obyek lebih menarik dilihat pada alam hari. Misalnya Ars Electronica Center dan Lentos Art Museum. Sekadar berjalan-jalan menyusuri Sungai Danube pun cukup untuk menyenangkan. Sayangnya, saat itu kami sudah terlanjur ngantuk.

Lagi harinya, kami bersiap menjelajah kota. Tujuan kami adalah menuju Postlingberg, sebuah tempat di atas bukit. Sebelumnya, kami berjalan menuju pusat kota. Kami berangkat ke Postlingberg menaiki trem. Postlingberg lebih sepi dibandingkan Linz. Namun ketika kami sampai di atas, kami bisa melihat pemandangan kota Linz lebih leluasa. 

Nah, ini dia beberapa penampakan kota Linz. Kelihatan nyaman dan tenang kan ya?






Buat teman-teman yang ingin berjalan-jalan ke Linz, jika ingin makan makanan halal, ada beberapa tempat yang menyediakan makanan halal. Salah satu restoran yang kami kunjungi menyediakan kebab dan semacamnya. Lumayan enak, sayangnya saya lupa namanya. Namun, jika teman-teman mencoba browsing, ada beberapa resto halal di Linz. 

Buat saya sendiri, Linz merupakan salah satu kota yang nggak terlupakan. Entah mengapa saya suka suasananya yang jauh dari hiruk pikuk kota.