Thursday, May 2, 2013

"Cepat Habiskan!"


           
Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, edisi Februari 2011. Idenya datang ketika, saya berada di sebuah restoran bersama putri saya. 


“Cepat habiskan!”

Gadis kecil itu, yang saya taksir usianya sekitar empat tahunan, dengan takut-takut berusaha memasukkan potongan makanan sambil mendesiskan mulutnya, tanda dia merasa kepedasan. Ketakutan membuatnya memaksakan diri menelan makanan itu, meski dia tak suka makanan itu. Sementara wajah sang ibu di hadapannya terlihat gusar.


Saat itu, saya hanya berjarak beberapa meter dari gadis kecil dan anaknya itu. Tapi sungguh, tenggorokan saya seperti tercekat hingga tak kuasa mengeluarkan kalimat apapun. Hati saya tersayat-sayat rasanya. 


Saya memang bukan ibu yang sempurna. Kadang-kadang saat terburu-buru saya pun tak kuasa untuk tidak menaikkan level suara saya. Tapi ketika si anak merasa makanan itu terlalu pedas untuknya, apakah saya, sebagai ibu tega untuk memaksanya makan? Pertanyaan saya yang terlontar dari dalam hati langsung saya jawab dengan kata “tidak” saat itu juga.

Tak lama kemudian, si gadis kecil, yang sudah selesai menghabiskan makanan itu kelihatannya lupa sudah pada bentakan ibunya. Dia lalu berlarian ke seluruh ruangan restoran bersama sang adik. Mereka asyik bercanda sambil tertawa-tawa. Sementara sang ibu sibuk menghabiskan makanan di piringnya dengan tenang. Raut mukanya terlihat lega dan santai karena anak-anaknya sudah selesai makan. Sungguh kontras dengan perasaan saya saat itu yang campur aduk.

Saya masih sesekali mencuri pandang ke arah mereka ketika sebuah adegan tanpa saya duga terjadi di depan mata saya.

Praang!

Bersamaan dengan suara itu semua orang yang berada di dalam restoran sontak menatap ke satu arah. Si gadis kecil dan adiknya wajahnya pias ketakutan. Di hadapan mereka sebuah piring hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil. Sang ibu meninggalkan tempat duduk dan makanannya yang tinggal beberapa kali suap saja. Saya pikir dia akan meminta maaf pada pengelola restoran atas kegaduhan yang terjadi. Tapi dugaan saya salah.

Plak! Sebuah tamparan melayang di kepala adik si gadis kecil! Saya dan mungkin seluruh orang di dalam restoran itu kaget melihatnya.

“Sudah berapa kali Mama bilang, jangan lari-lari! Lihat kan akibatnya?” bentaknya diikuti jerit tangis sang adik. Lalu, seperti tak terjadi apapun, sang ibu membayar makanan yang dimakan dan membawa kedua anaknya pergi dari restoran itu.

Saya hampir menangis. Saya memang tak berhak menilai orang lain. Tapi menurut saya, bagaimanapun marahnya seorang ibu pada anaknya, adalah kurang bijaksana apabila dia melontarkan kemarahannya dengan kekerasan, baik itu fisik maupun batin. 

Ketika mereka pergi meninggalkan restoran itu, mata saya masih tak bisa lepas memandang mereka dari kejauhan. Apa yang terjadi pada mereka di rumah jika di ruang publik saja mereka mendapatkan perlakuan seperti itu? Membayangkan saja saya tidak berani!

Berita mengenai child abuse memang banyak dimuat di berbagai media massa. Tidak hanya kekerasan yang dilakukan oleh “orang lain” dalam artian orang yang tidak dikenal oleh anak sedikitpun, tetapi juga kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka seperti orang tua. Tetapi terus terang, baru kali itu saya melihat langsung kejadian seperti itu sehingga saya merasa shock luar biasa.

Saya bayangkan bagaimana terlukanya anak-anak itu. Secara fisik luka bekas tamparan tadi mungkin akan menyakiti tubuhnya, memar, luka, atau bahkan patah. Mungkin luka fisik dapat diobati, tetapi luka batin akankah dapat diobati? Akankah waktu dapat menyembuhkan luka batin itu? Tak henti-hentinya pertanyaan tersebut melintas di batin saya hingga beberapa hari lamanya. 

Beberapa bulan berselang sejak kejadian itu, tetapi saya masih mengingatnya dengan jelas di dalam batin. Rasanya saya belum merasa lega jika diam saja. Setidaknya, saya ingin membaginya melalui tulisan agar dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

Satu hal yang saya peroleh dari kejadian itu adalah sebuah pelajaran penting bagi saya bagaimana seorang ibu seharusnya berusaha menjaga batinnya agar tetap sehat. Karena, hanya dengan batin yang sehat dan bahagia, dia mampu mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik dan sabar. Seorang ibu yang memiliki hati seluas lautan, yang bisa menampung, menerima, dan memaafkan segala jenis perbuatan anak yang kadang sangat mengesalkan.

Anak-anak itu, mungkin belum juga mengerti arti kemarahan orang tuanya. Mereka mungkin hanya ingin bermain, mencoba mengeksplor berbagai hal baru yang mereka temui. Jika orang tua marah padanya, mereka mungkin menurut karena takut. Tetapi saya percaya bukan karena mengerti sebab akibat dari perbuatan mereka.

Menjaga cinta di dalam setiap perbuatan setiap waktu merupakan sesuatu yang seharusnya dapat kita lakukan. Saya melakukannya dengan mengingat segala hal baik yang telah diberikan Tuhan melalui anak-anak saya. 

Saya menikmati canda tawa mereka meskipun berisik setengah mati. Saya mencoba mendengarkan cerita gadis berusia lima tahun, putri tertua saya yang mulai kritis di saat saya mencoba berkonsentrasi pada buku di hadapan saya. Dan ternyata ketika saya lakukan saya malah tertawa mendengarkan cerita lucunya. Saya mencoba telaten dengan tingkah mereka dengan memikirkan bahwa waktu yang saya miliki bersama mereka hanya terbatas. Sebentar lagi mereka sudah banyak menghabiskan waktu di sekolah dan tumbuh besar sehingga saya tak lagi dapat lebih sering memeluk mereka.

Bersyukur membuat saya lebih menikmati hidup, sehingga saya lebih bahagia. Saya yakin dari hati seorang ibu yang bahagia, anak-anak akan merasakan kebahagiaan pula.

Saya teringat beberapa saat yang lalu ketika saya berada di sebuah taman bersama ketiga anak saya. Kami menunggu ayah mereka yang sedang menyelesaikan sebuah urusan. Sementara anak-anak bermain ayunan yang ada beberapa buah disitu, seorang ibu bersama anaknya datang ke taman. Ibu itu tersenyum pada saya sambil masih memegang erat lengan anak lelakinya yang nampaknya sudah tak sabar ingin bermain.

Dan ketika anak lelakinya duduk berhadapan dengan salah seorang putri saya di dalam sebuah ayunan yang sama, saya baru menyadari betapa berbedanya anak lelaki itu dibandingkan dengan anak-anak lain di taman itu. Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun, namun kemampuan verbal dan motoriknya jauh di bawah usianya yang sebenarnya. Melihatnya membuat saya teringat sebuah gambaran mobil antar jemput yang hampir setiap hari berpapasan dengan saya ketika saya mengantar putri saya ke sekolah setiap pagi. Mobil itu bertuliskan nama sekolah khusus untuk anak-anak special needs

Saya memang tak tahu pasti yang terjadi pada anak lelaki itu. Namun yang membuat saya memperhatikannya berlama-lama adalah sikap sang ibu yang terlihat sabar dan telaten meladeni anak lelakinya. 

Sama sekali tidak terlihat gusar amarah saat anak lelakinya memegang tangan putri saya dengan keras karena ketidaktahuannya. Dia hanya memegang tangannya, menjaga agar anak lelakinya tidak menyakiti putri saya, meskipun putri saya malah ingin mengajaknya bicara. Gurat-gurat kelelahan nampak di wajahnya, tetapi sama sekali tak mengurangi kesabarannya. Betapa besar cintanya pada anak lelakinya itu! Saya yakin hanya kekuatan cintalah yang membuatnya mampu melakukannya.

Saya merasa saya masih jauh dari gambaran ibu yang ideal, yang setiap waktu bisa menguraikan ungkapan cinta pada anak-anak saya dalam perbuatan penuh kasih. Tapi momen itu, membuat saya berniat dalam hati bahwa cinta setiap waktu dari orang tua merupakan asupan nutrisi yang paling penting bagi anak-anak. Tak peduli bagaimanapun sibuknya, tak peduli bagaimanapun menjengkelkan tingkah mereka, tak peduli bahwa mereka tidak terlahir sempurna, cinta kasih setiap waktu akan dirasakan oleh hati mereka. Dan hanya dengan cinta kasih yang terus mengucur tanpa hentilah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang memancarkan sinar kebahagiaan. 

*Fita Chakra, mama tiga putri yang berusaha menjalani hari penuh semangat karena cinta setiap waktu bersama putri-putrinya.

33 comments :

  1. >>>Mungkin luka fisik dapat diobati, tetapi luka batin akankah dapat diobati? Akankah waktu dapat menyembuhkan luka batin itu? >>

    mungkin bisa Mbak, tapi entah kapan, aku aja sampe segede ini masih selalu inget saat saat dibentak Ibuku waktu kecil, kata- kata emang lebih melukai dibanding luka fisik ya Mbak :')

    tapi setidaknya aku jadi belajar untuk tidak melakukan hal hal seperti itu ke anakku sekarang, krn aku gak ingin dia merasakan yang dulu aku rasakan, kalaupun kelepasan ngebentak pasti langsung aku peluk dan minta maaf, walopun mungkin anaku belom ngerti ;)

    hihihi.. jadi curhat deh ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, sama, Mbak. Aku juga masih sering kelepasan bicara dengan nada tinggi :( Tapi aku selalu menyesal dan minta maaf setelahnya. Kalau kupikir-pikir, biasanya itu terjadi kalau aku dalam keadaan capek. Ya begitu deh, nobody perfect. But, I'm trying to be a better person everyday. :)

      Delete
  2. Replies
    1. Kalau baca ini, aku masih suka nangis, Wuri. Sedih banget, memang :(

      Delete
  3. Terimakasih atas sharing tulisannya, Mbak.
    Menambah pengetahuan saya (meski saya belum menjadi ibu).

    *salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal balik :) Makasih sudah mampir ke blogku.

      Delete
  4. nice share...walau bikin sedih...:(

    ReplyDelete
  5. thks for share Fit mengingat aku termasuk kategori orang dengan stok kesabaran yg sangat tipis. sekarang klo pas capek dan naga2nya mau jengkel lebih memilih diam. kadang dengan diam anakku (terutama Vivi yg udh agak besar) justru tau kalau emaknya sedang galau xixixixii.... lha biasanya emaknya super cerewet koq tiba2 diam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, aku juga masih sering hilang kesabaran, Mbak :( Yo piye yo, memang susah sih. Padahal, seingetku, duluuu aku jarang dimarahin Bapak atau Ibu. *yang paling aku inget cuma satu momen mereka marah sama aku, sementara aku ke anak-anak waduh ga keitung deh

      Delete
  6. Semoga aku bs slalu menjaga batinku mbak buat anak2ku ...amin.sedih emg kl dgr atau liat kejadian kayak gt :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Sama, Mbak, kita sama-sama mengingatkan ya :)

      Delete
  7. Terharu membacanya....
    Salam kenal, mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal balik. Makasih sudah mampir. :)

      Delete
  8. makasih sharingnya mbak.. nempa banget.. jadi makin diingatkan n introspeksi diri karna sy jg sering kelepasan bentak anak-anak kalau nakalnya udah kebangetan :) Padahal tiap hari itu bertekad berusaha untuk jgn sampe mbentak/bernada tinggi atau sampai mukul, msh harus terus belajar sabar dan menahan diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Iyaa, jujur aku juga masih sering bernada tinggi *tutup muka. Tapi moga-moga semakin bertambah usia semakin bisa bersabar.

      Delete
  9. mau nangis rasanya baca artikel ini, kekerasan fisik dan bantin saat kecil akan sangat membekas sampai dia dewasa, dan saya merasakannya. Jadi instropeksi diri buat saya supaya bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi... salam kenal ya mbak.....

    ReplyDelete
  10. saya beberapa kali melihat kejadian seperti ini ibu. Suatu ketika saya ngantri di SPBU terus liat ada bapak2 yang bonceng anaknya. umurnya sekitar 10-15 tahun. Anaknya berkebutuhan khusus sepertinya, karena terus bergerak dan menggumam tidak jelas. Yang saya sesalkan itu bapak menyuruhnya diam, menghardik keras. Saat itu antrian di SPBU sangat b=panjang. Orang-orang yang sebelumnya memandang sambil lalu kaget lalu melihat ke arah bapak dan anak itu. Karena sepertinya malu, bapak itu terus menyuruh anaknya diam, sambil memukuli anak itu. Ya Allah, sedih saya melihatnya. Karena anak itu tak kunjung diam, bapak itu terus memukulinya. Kami semua memandangnya dengan pandangan kasihan. Lalu bapak itu akhirnya keluar dari antrian, meng gas keras motornya sambil terus menghardik. Ya rabbana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. :( so sad... yang seperti itu memang terjadi dimana pun. semoga jadi reminder untuk kita.

      Delete
  11. Saya juga kadang suka emosi tapi kalau marahin anak begitu haduhhh serem banget ':D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Esmosi itu memang es yang membuat kita menyesal, Mak Hana. Lebih baik kita makan es krim aja, yuk hehehe

      Delete
  12. Ya ampun mba, bacanya miris banget, mpe hampir nangis aku mba..itu ibu bener2 menyakiti anaknya scr fisik n mental..aku jga bukan ibu yg sempurna, tapi aku ga mau nyakitin anak2ku scr fisik, apapun ulah mereka..aku harus bisa memberikan pengertian kpd mereka...klo soal ngomong nada tinggi ( namanya emak2 kadang ga terkontrol) min di depan umum ga akan kulakukan...klo dirumah sudah ada satpam(bapaknya anak2)klo aku dah mo mulai nada tinggi, selalu diingatkan...semoga kita semua bisa menjadi orangtua yg adil bagi anak2...biarkan mereka dengan keceriannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe samaaa... Haduh stok kesabaran dimana jualnya ya

      Delete
  13. aku pernah liat di toko buku, mba fita. pas ke salemba sini, ada anak kecil lari-lari muterin toko dan ya seperti yang ditakutkan si ibu, anaknya menjatuhkan beberapa buku yang didisplay di buku best seller. trus dia marah2, dan nyuruh langsung pulang. aku yang liat aja gemeter pas tau muka ibunya nyeremin begitu. kadang tanpa sadar kalo sebelnya kambuh, memang ibu sering salah memperlakukan buah hatinya. trauma itu mungkin bukan sekali aja ya dialami sama si anak. bisa sampai memberkas sampai dia dewasa. :'(

    ReplyDelete
  14. aku dah prnh baca ini hehehe....
    aku yakin, perlakuan kasar si ibu tak akan prnh terlupakan seumur hidup si anak tsb.
    naudzubillahimindalik mbak, jgn sampe deh aku jd ibu kyk gitu. meski kadang aku dibuat jengkel setengah mati ama Naia, tetep deh wajib hukumnya bagiku utk nahan amarah.
    klo abis marah ama Naia aja aku rasae nyeeeeseeeell bngt.
    kasian ya tuh anak,sedih.

    ReplyDelete
  15. Boleh dishare kah artikelnya ini mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh, tapi mohon cantumkan alamat blog ini sebagai sumbernya :)

      Delete