Thursday, May 23, 2013

[Cerita Anak] Ketika Ibu Tak di Rumah

Cerita ini pernah dimuat di Majalah Girls



Aku sering kesal kalau teman-temanku bertanya padaku apa pekerjaan ibuku. Ibu mereka kebanyakan bekerja di luar rumah. Ada yang bekerja sebagai dokter, insinyur, pegawai bank, dosen, dan sebagainya. Sedangkan ibuku? Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga.
            Setiap hari ibu lebih sering berada di rumah, mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Kadang-kadang ibu keluar rumah jika ada keperluan dengan organisasi soaial yang diikutinya. Ibu banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Tapi, tetap saja kan profesi ibu seorang ibu rumah tangga? Soalnya ibu menulis hanya di waktu senggang saja, jadi tidak setiap hari ibu bekerja.
            Makanya hari ini aku kesal sekali ketika ibu guru memberi kami pekerjaan rumah menulis tentang pekerjaan ibu masing-masing. Padahal semua anak di kelas senang menerima tugas ini. Mereka bangga pada pekerjaan ibunya.
            Ketika aku pulang, Ibu menyapaku. Mungkin Ibu melihat wajahku yang merengut kesal.
            “Kenapa, Sayang? Ada masalah di sekolah?” tanya Ibu.
            “Bu, kenapa sih Ibu tidak bekerja di kantor seperti ibu teman-teman Mila?” aku langsung melontarkan pertanyaan tak sabar.
            “Lho, ada apa ini kok tiba-tiba bertanya seperti itu?” Ibu tersenyum.
            Aku memonyongkan bibir, kesal.
            “Mila kesal! Tadi di sekolah ibu guru bertanya apa pekerjaan ibu masing-masing murid,” kataku mengeluarkan kekesalanku.
            “Lalu?” Ibu bertanya sabar.
            “Sebagian besar ibu teman-teman Mila bekerja kantoran. Maksud Mila, bekerja di luar rumah. Mereka bisa bercerita panjang lebar mengenai kegiatan ibu mereka di kantor. Mila kan tidak bisa, Bu! Apa yang harus Mila tulis untuk tugas Mila nanti?” keluhku.
            Ibu tersenyum saja.
            “Mila kan bisa menulis tentang kegiatan Ibu seharian,” usul Ibu.
            Aku mencibir.
            “Huh, nggak seru dong! Memangnya Mila harus cerita Ibu masak, beres-beres, belanja…” omelku.
            “Lho, Ibu juga kerja kan meskipun dari rumah? Apa Mila tidak tahu kalau Ibu juga menulis untuk majalah dan menulis buku?”
            “Menulis kan nggak setiap hari, Bu. Lagipula Ibu tidak perlu keluar rumah untuk bekerja. Itu sih bukan bekerja namanya,” sahutku ketus.
            Ibu tertawa.
“Mila… Mila… Jaman sekarang kerja tidak harus di kantor. Ingat, sekarang ada internet. Bekerja juga tidak harus seharian penuh. Bahkan dengan bekerja di rumah, Ibu masih punya waktu buat keluarga,” jelas Ibu.
Aku diam saja, tidak mau berdebat lagi dengan Ibu. Aku tidak setuju perkataan Ibu. Bekerja dari rumah menurutku sama sekali tidak bergengsi. Lebih keren kalau Ibu bekerja kantoran yang mengharuskannya setiap hari masuk kerja. Aku membayangkan Ibu memakai setelan blazer dan make up lengkap. Hmm.. pasti Ibu kelihatan lebih cantik.
“La, besok Ibu pergi keluar kota ya,” suara Ibu mengagetkannya.
“Malamnya langsung pulang kan, Ibu?” tanyaku. Ibu jarang pergi keluar kota berhari-hari lamanya tanpa mengajak keluarga.
Ibu menggeleng.
“Ibu pergi selama seminggu. Jadi kamu dan adikmu harus bisa mengurus diri kalian sendiri,” pesan Ibu.
“Beres, Bu!” kataku singkat. Kepergian Ibu sama sekali tidak membuatku khawatir. Aku merasa sudah cukup besar. Mengurus diri sendiri sama sekali bukan masalah.
*
Aku sibuk membongkar-bongkar lemari di dapur. Aku hanya ingin mencari dimana Ibu menyimpan garam. Sejak Ibu pergi, Aku harus memasak sendiri. Padahal, aku tidak pernah memasak. Selama ini Ibu yang memasak untuk kami semua.
“Cari apa, Kak?” tegur Dita, adikku.
“Cari garam. Kakak mau masak telur mata sapi,” sahutku tanpa menoleh.
“Mau masak telur mata sapi saja kok sampai membuat dapur berantakan begini,” komentar Dita.
Aku menghela napas. Belakangan, aku baru sadar ternyata lebih enak kalau Ibu ada di rumah. Urusan rumah tangga semuanya beres. Selama Ibu pergi aku sering kebingungan mencari-cari barang meski di rumah sendiri. Rumah juga sering kubiarkan berantakan karena aku malas menyapu dan mengepel.
Duh, aku jadi menyesal sudah meremehkan peran Ibu. Aku baru tahu, menjadi ibu rumah tangga ternyata banyak tugasnya. Apalagi kalau masih harus menulis sampai larut malam. Meski malu mengakui, aku mulai rindu Ibu.
“Ada apa ini, kok berantakan?” tiba-tiba Ayah masuk.
“Kak Mila mau masak telur mata sapi tapi belum ketemu garamnya,” lapor Dita.
Ayah geleng-geleng kepala.
“Coba baca ini,” kata Ayah menyodorkan sebuah surat kabar.
“Wow, hebat sekali Ibu ya, Yah!” seru Dita.
Aku ikut membaca surat kabar yang dibaca Dita dari balik punggungnya.
Lho, kok ada foto Ibu?
Wah, ternyata Ibu sedang promo buku terbarunya. Pantas Ibu pergi agak lama. Aku malu pada diriku sendiri. Sebelum Ibu pergi aku sempat berdebat dengan Ibu mengenai pekerjaannya. Padahal, diam-diam, Ibu penulis yang terkenal.
“Lihat, apa kalian tidak bangga punya Ibu penulis?” kata Ayah.
“Tentu saja bangga, Yah,” kata Dita diikuti anggukan kepalaku.
“Ibu kalian tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi juga penulis. Bayangkan bagaimana Ibu harus mengatur waktunya secermatnya agar urusan rumah tangga dan pekerjaan bisa berjalan lancar. Meskipun bekerja dari rumah, menjadi penulis itu tidak kalah dengan profesi lain,” Ayah menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya bisa tertunduk diam. Dalam hati, aku sudah membayangkan apa saja yang akan kutulis untuk tugas yang diberikan Bu Guru.

Maafkan aku, Ibu. Aku bangga padamu! [Fita Chakra]

5 comments :

  1. cerita anak nnya bagus ...., tak sekedar sebuah cerita menarik tapi juga mendidik....
    salam kenal dari riau mbak...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal balik. Makasih sudah mampir :)

      Delete
  2. aku elalu suka cerita mbakFita, ajarin dong membuat verita yang mendidik hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Honestly, ceritanya terinspirasi anakku, Mak :p Banyak cerita yang bisa kita tulis dari keseharian,kok. Buka mata, telinga dan hati. Lihat dari sudut pandang anak-anak. Semoga membantu :)

      Delete