Friday, September 6, 2013

Si Sulit Makan!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting, Mei 2008. Idenya berawal dari Keisya yang mogok makan. Siapa sangka, sekarang anak yang dulu jadi inspirasi tulisan ini mau melahap apa saja. Di rumah, kami menyebutnya "si selera Indonesia" karena makanan yang disukainya nggak jauh-jauh dari menu Indonesia. Teman-teman saya takjub saat melihat Keisya dengan lahapnya makan pecel! :D

Parenting, Mei 2008
Keisya terbilang anak yang susah makan. Makanya wajar saja kalau berat badannya bisa langsung turun drastis begitu dia sakit, meskipun hanya sakit ringan seperti batuk atau pilek saja. Pasalnya, begitu terasa sakit, dia akan lebih susah lagi disuruh makan.
            Suatu kali pernah terjadi Keisya mogok makan hingga tiga hari lamanya karena pilek. Yang namanya mogok makan, bagi Keisya berarti benar-benar tidak makan sesuap nasi pun! Paling-paling hanya susu yang tetap mengisi perutnya. Oleh sebab itu, saat Keisya sakit, dia bisa menghabiskan lebih banyak susu, yang artinya lebih banyak lagi pengeluaran kami untuk membeli susu karena Keisya sudah tidak minum ASI sejak usia delapan bulan.
            Tentu saja, saya sudah berupaya berbagai macam cara menyiasati pola makan Keisya yang kacau balau. Sehari makan, sehari berikutnya bisa tidak makan sama sekali, itu sudah sering terjadi. Seperti halnya ibu-ibu yang lainnya yang mempunyai anak picky eater seperti Keisya, seringkali saya kebingungan ketika Keisya mulai terlihat kurus atau tidak mau makan di saat sakit.
            Dari beberapa referensi yang saya baca, saya mulai menginstruksikan beberapa resep makanan untuk balita kepada Atun, pembantu rumah tangga kami. Saya memang tidak lihai memasak. Jadi, karena khawatir masakan yang saya masak tidak enak sehingga justru merusak selera makan Keisya, saya selalu mendelegasikan urusan masak memasak pada Atun.
            Setiap hari, saya memilihkan menu lengkap untuk Keisya dari menu sarapan, makan siang, makan sore, dan makanan selingan untuk camilan. Saya jelaskan pada Atun, bahan-bahan apa yang harus digunakan lalu bagaimana cara memasaknya. Agar tidak salah mengartikan apa yang saya baca dari majalah atau buku, Atun selalu saya minta membaca pula resep tersebut.
            Namun demikian, jarang sekali saya ikut turun tangan sendiri ke dapur untuk meracik masakan yang akan dibuat. Bukannya apa-apa, saya benar-benar tidak pede memasak! Alih-alih membuat makanan enak, saya takut masakan yang saya masak tidak enak di lidah. Soalnya sebelum Keisya lahir, saya sering memasak makanan yang rasanya ajaib alias tidak enak. Bisa dibilang saya ahli membuat masakan gosong, keasinan, atau campur aduk rasanya. Suami saya bahkan lebih mahir memasak dibandingkan saya.
            Khusus untuk Keisya, tidak sedikit resep yang sudah Atun coba praktekkan berdasarkan petunjuk buku-buku dan majalah yang telah saya baca sebelumnya. Dari makanan khas Indonesia seperti nasi goreng yang sudah dimodifikasi dengan keju serta campuran sosis dan daging, hingga makanan yang sudah biasa dimakan keluarga kami tetapi dihias atau dibentuk menjadi kelinci, wajah, dan sebagainya. Yang jelas segala jenis masakan kami coba demi untuk membangkitkan selera makan Keisya.
            Tidak seperti yang kami bayangkan, Keisya sepertinya tidak terlalu antusias makan makanan yang disiapkan untuknya. Meski tertarik dengan tampilan makanannya yang sudah dihias sedemikian rupa, tetapi tetap saja dia hanya makan sesuap dua suap saja, sekedar mencicipi saja. Tidak enakkah rasa masakan Atun? Diam-diam saya ikut mencoba makanan yang dimasak Atun. Hmm... rasanya lezat, tidak kalah dengan tampilannya yang menarik. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa Keisya tidak mau makan makanan seenak itu?
            Akhirnya, meski dimasakkan secara khusus, tetap saja selera makan Keisya tidak berubah. Jika sedang tidak ingin makan, dia tahan hanya makan sekali sehari atau bahkan tidak makan seharian. Bahkan jika dipaksa, dia tidak mau membuka mulut sama sekali. Seringkali, dia memuntahkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya kalau tidak suka makanan tersebut.
            Berat badannya yang naik dengan lambat, namun bisa turun dengan drastis jika sakit membuat saya bolak-balik ke dokter hampir setiap bulannya. Meskipun dokter sudah turun tangan menyiasati dengan berbagai macam vitamin atau penambah nafsu makan tidak ada perubahan yang signifikan pada pola makan Keisya. Lama kelamaan karena capek mencoba berbagai macam cara, saya tidak lagi berusaha memaksanya makan atau meminta Atun membuatkan masakan khusus untuknya. Keisya hanya makan jika dia memang mau lapar, karenanya dia jadi lebih banyak minum susu.
            Suatu ketika, karena Atun sakit ketika pulang kampung. Dia pamit untuk sementara waktu tidak bisa bekerja samapai sembuh. Akibatnya, tidak ada orang yang bisa memasak untuk kami berhari-hari lamanya. Saya pun memilih membeli makanan di luar untuk makan kami sekeluarga. Alasan saya, selain praktis, saya juga jadi terbantu karena selama Atun sakit, tentu saja sayalah yang harus mengurus semua pekerjaan rumah (yang tidak pernah ada habisnya) dan mengurus Keisya. Ternyata setelah beberapa hari membeli makan di luar, pengeluaran untuk makan jadi lebih besar. Selain itu, saya pun mulai bosan makan makanan yang itu-itu saja setiap harinya. Saya benar-benar rindu masakan rumah!
            Akhirnya saya nekad memasak. Hari itu mulailah saya mempersiapkan makanan yang gampang dimasak. Karena tidak ada yang menemaninya bermain selama saya memasak, saya biarkan Keisya duduk-duduk di dapur sambil melihat saya memasak. Belum juga makanan yang saya masak matang, Keisya sudah merengek minta makan. Hei..., tidak biasanya dia seperti itu. Biasanya, sayalah yang harus membujuk dia untuk makan.
            Saya pun terheran-heran melihat Keisya makan makanan hasil masakan saya dengan lahap. Bahkan sayurnya pun dihabiskan hingga tandas. Berulang kali dia bilang, ”Lagi... lagi...”, minta nambah makan. Padahal, saya hanya masak sayur bayam dan omelet, yang menurut saya, rasanya standar banget!
            Keheranan saya tidak juga sirna setelah beberapa hari saya memasak, Keisya masih juga melahap masakan saya hingga ludes. Sop ayam, tumis tauge, nasi goreng, dan sebagainya, semua dimakannya tanpa protes. Keisya, si picky eater itu, ternyata doyan masakan saya.

            Berkat Keisya, sekarang saya jadi lebih pede memasak. Saya pun jadi mengerti, mengapa Keisya dulu susah sekali makan. Masakan saya memang tidak lebih enak dari makanan yang dimasak Atun, tetapi tentu saja masakan saya dibuat dengan bumbu cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Tidak ada yang bisa melebihi rasa masakan yang dibuat dengan cinta dan kasih sayang, bukan? Mungkin, karena itulah Keisya mau makan dengan lahap. Kini saya tidak lagi harus bersusah payah memaksa Keisya makan karena kalau saya yang memasak, Keisya selalu mau makan. [Fita Chakra]

7 comments :

  1. Kalau saya ikutan masak sama ibu saya juga suka ikutan nyicip, nyemil2in sampe diprotes ibu saya. Kalau kamu cemilin terus ni makanan enggak bakalan tersaji. Jadinya cuma dikit aja, hehehehe....
    Kalau ga nyemilin hasil masakan, rasanya gimana gitu ya. Entah, ini kebiasaan jelek atau bukan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, sama aja ya. Di rumahku juga begitu. :))

      Delete
  2. Menyemai cinta melalui masakan memang bisa membangkitkan selera makan. Setuju kalau ternyata anak-anak lebih menyukai masakan sang ibu dari pada embaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Nggak perlu jadi chef ya, yang penting karena cinta... cieee

      Delete
  3. kayak Thifa juga nih, kalo dibeliin kue di luar suka ga mau makan, giliran aku yang bikin dan dia menyaksikannya, bisa habis sampe berpotong2 kue

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D hehehe padahal, nggak tahu juga ya rasanya enak apa nggak :p

      Delete
  4. Kalau dua ponakan saya yang dari kecil nggak doyan makan, makannya snack doang, mulai lirik nasi pas udah dikirim ke Pesantren. Di pondok biar dikasih nasi lauknya tempe sama telor rebus mereka makan juga, daripada kelaparan kali, ya :D

    Sekarang tiap pulang ke rumah, dikasih apa aja doyan @__@

    Ngomong-ngomong, salam kenal. Bagus tipsnya, buat bekal kalau nanti saya punya isteri. :D

    ReplyDelete