Saturday, January 2, 2016

Menjadi Kebanggaan Ibu

“Kenapa nggak coba cari beasiswa? Kamu bisa kok sekolah lagi, ilmunya dipakai untuk ngajar.”

Aku terdiam. Sudah berkali-kali Ibu memintaku untuk sekolah lagi. Sudah berkali-kali pula aku menolak permintaannya dengan berbagai alasan. Ibu tak pernah lelah mengejarku dengan pertanyaan lain.

Aku bukannya tidak mau belajar lagi. Tetapi, kenyataannya sekarang belum memungkinkan bagiku untuk mengejar beasiswa S3. Aku sedang ingin menekuni passion-ku sebagai penulis dan berkarya sebanyak-banyaknya. Lagipula, tinggal jauh dari orangtua membuatku harus bertanggung jawab terhadap ketiga putriku. Mereka masih memerlukan aku. Bagaimana mungkin aku bisa berkonsentrasi sekolah dalam keadaan demikian?

Aku tahu betul alasan Ibu memintaku sekolah lagi. Kebanggaan Ibu adalah melihatku menjadi seseorang yang berarti bagi lingkungan. Dulu aku sering beradu pendapat tentang hal ini. Aku kesal karena Ibu menganggapku tidak melakukan apa-apa jika di rumah saja. 

Benar, menjadi ibu rumah tangga memang membuatku lebih banyak beraktivitas di rumah. Tetapi aku menolak jika dianggap tidak menghasilkan sesuatu. Sejak aku menulis, aku merasa menjadi lebih berarti. Apapun yang kutulis, entah itu naskah buku, artikel, cerita anak, dan blogpost mendatangkan banyak keuntungan untukku. Tidak selalu berupa materi, tetapi juga teman, jejaring, dan berbagai kesempatan. 

Di sisi lain, aku memaklumi kegelisahan Ibu. Sebagai seorang dokter, Ibu terbiasa bekerja. Ibu dibutuhkan oleh banyak orang. Bahkan di saat Ibu purna tugas, Ibu masih punya banyak aktivitas. Mengajar, memeriksa pasien, menjadi konsultan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ibu dan Bapak. Foto: Dok. Pri
Dari tahun ke tahun aku berjuang untuk membuktikan pada Ibu bahwa dari rumah pun aku bisa berkarya. Kukira, tak ada hadiah yang lebih berharga bagi Ibu dariku selain kebanggaannya padaku. Ketika satu demi satu bukuku terbit, barulah Ibu sedikit demi sedikit mengurangi frekuensi pertanyaannya. Walau begitu, seperti biasa, Ibu tak pernah memujiku. Dari dulu Ibu memang tergolong pelit memuji. Walau begitu, aku tahu Ibu menyayangiku, dengan caranya sendiri.

“Teman Ibu ada yang ingin beli bukumu. Bisa beli di mana? Kamu ada stok nggak?” demikian tanya Ibu suatu kali melalui telepon.

“Iya, ada, Bu. Nanti dikirim ya.”

“Kayaknya lebih enak kalau Ibu simpan stok di sini. Jadi kalau ada yang mau beli lebih mudah kasih lihat bukunya. Bukumu sekarang kan banyak. Ibu nggak hafal satu per satu. Tapi…,” kata Ibu menggantung.

“Tapi kenapa, Bu?”

“Ditaruh di mana ya? Supaya lebih mudah dilihat.”

“Baiknya sih, ditaruh di lemari, semacam display gitu, Bu,” usulnya.

“Iya ya. Nanti deh Ibu beli raknya, kalau sudah ada dana.”

Ah, Ibu, aku tahu sebenarnya Ibu bangga padaku. Tapi seperti biasa, Ibu tak pernah menunjukkannya. Bagaimana caranya supaya Ibu bisa mendisplay buku-bukuku? Membeli rak baru bukan hal yang mudah untuk Ibu sekarang ini mengingat penghasilan Ibu sudah tak tentu. Ibu juga pasti tak mau memintaku membelikannya.

Kuputuskan untuk membeli rak di awal tahun baru ini. Ini rak idamanku untuk Ibu. Aku mendapatkan gambarnya dari MOXY (www.moxy.co.id). Rak ini, cocok untuk memajang buku-bukuku. 

Foto: Moxy

Harganya tak seberapa, tetapi aku yakin Ibu akan menyukainya. Tetap saja jauh di lubuk hatiku aku berharap bisa menjadi kebanggaan Ibu. Sesungguhnya, itulah hadiah tahun baru yang paling bermakna untuk Ibu. Dan tentu saja, kebahagiaan Ibu, adalah kebahagiaanku juga. Selamat tahun baru, Ibu! [Fita Chakra]

Tulisan ini diikutsertakan dalam Moxy Blog Competition.





25 comments :

  1. Eh aq jadi kepincut jg sm raknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus ya? Aku juga pingin buat di rumah hihi

      Delete
  2. Raknya simpel banget ya modelnya.. cocok buat narok koleksi buku2 kita ya Mba.. Cocok juga ditempatkan pada ruangan yang minimalis seperti di rumahku kayaknya nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, modelnya sederhana tapi bagus. :)

      Delete
  3. Raknya simple, minimalis, elegan. Aku juga kayaknya udah butuh rak buku lagi nih biar rapi buku2ku.

    ReplyDelete
  4. 'ibu mencintaiku dengan caranya sendiri'

    suka bgd sm kata2nya mbak fita :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, walau nggak pernah memuji, begitulah caranya memacuku belajar. :)

      Delete
  5. Hm, kalau ibuku masih ada juga pasti beliau kecewa karena anaknya "hanya" di rumah. Tapi, dulu ibuku juga bangga saat aku menerbitkan buku. Kayaknya kita senasib, mbak :D

    ReplyDelete
  6. Selalu ada cara untuk saling membahagiakan satu sama lain ya mbak, meskipun ibu dan kita punya caranya masing2 :) btw, raknya bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Makasih sudah mampir ke sini :)

      Delete
  7. Mungkin ibu hanya agak malu mengakui kalau Mbak Fita ternyata bisa berkarya dengan di rumah. Senangnya bisa menghasilkan banyak kara ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin. Ibuku memang kurang ekspresif, Mbak hehehe

      Delete
  8. Ibunya, Fita kayak ibu mertuaku deh. Irit pujian. Tapi, baca ini ikut terharu ih. Ada sesuatu yg dalam dari ikatan ibu dan anak yang nggak bisa dilukiskan dengan sekadar kata pujian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebalikannya, ibu mertuaku suka memuji. :D Bener banget, Mbak. Aku tahu, Ibu selalu mendoakanku.

      Delete
  9. Mengharu biru nih postingannya..raknya ada yg kaca ga mak? Biar lebih elegan gitu buat majang buku karya anaknya sendiri:)

    ReplyDelete
  10. Rak bukunya bagus, itu belakangnya ada tutupnya tidak yah? kalau mau beli bagaimana min? Oh ya, saya juga punya ibu yang Mmmm,,,!!?? Sebenarnya saya sangat sayang dan sangat kasih yang tak berujung, tapi saya tidak tahu kenapa beliau sekarang sangat melupakan saya. Ah sudah lah!!! Terlalu panjang jika di tulis di sini, biar Tuhan saja yang menilai. Terima kasih sudah menginspirasi dan salam kenal.

    ReplyDelete
  11. Terharu dengan perjuangan mbak Fita menunjukkan ke Ibu. Sekarang masih di kejar buat S3 mbak?

    Btw, raknya keren. Pas banget nih aku lagi nyari rak juga.

    ReplyDelete
  12. Aku salut dengan cara mb fita, sepertinya aku harus belajar bagaimana cara anak menunjukkan sesuatu dengan baik pada ibu.....

    ReplyDelete
  13. Wah, aku gak bisa nebak gimana kata ibuku ya aku resign dan memilih di rumah , ibuku meninggal sebelum aku menikah.

    ReplyDelete
  14. Insya Allah ibu pasti suka mak fit, ayo segra diwujudkan ya

    ReplyDelete
  15. senang ya, bisa menjadi kebanggaan ibu.

    ReplyDelete