Wednesday, April 3, 2013

Jidat Harry Potter


Dimuat di Majalah Girls Tahun 2010. Idenya saya peroleh dari Keisya yang jidatnya luka waktu main. :)

Gara-gara dahinya terantuk batu saat berlari-lari di halaman, Arya harus rela mendapatkan beberapa jahitan di dahinya. Dokter mengatakan dia baru boleh masuk sekolah paling cepat tiga hari lagi. Padahal besok Arya akan tampil untuk pentas seni di sekolah.
            “Lebih baik Arya istirahat dulu di rumah minimal tiga hari,” saran dokter itu.
            Arya sudah merengek-rengek pada Ayah agar diijinkan masuk sekolah besok. Tetapi jawaban Ayah tegas. Sekali tidak tetap tidak. Kali ini dia mencoba membujuk Ibu.
            “Bu, besok Arya masuk sekolah ya? Kalau tidak nanti peran Arya digantikan orang lain.”
            Ibu menggeleng tanpa banyak bicara. Arya terdiam. Dia kecewa karena besok dia tidak bisa tampil di acara pentas seni di sekolah. Padahal dia sudah rajin berlatih beberapa minggu belakangan. Ini kesempatan besar yang sudah ditunggu-tunggunya. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa berakting. Lagipula dia berperan sebagai peran utama. Baru kali ini dia diminta menjadi seorang Pangeran yang menyelamatkan Putri. Arya sudah membayangkan betapa kerennya menjadi seorang Pangeran! Gara-gara ceroboh, dia tidak bisa naik pentas! Arya menggerutu pada dirinya sendiri.
*
            Beberapa hari kemudian, Arya baru masuk sekolah. Meski sudah sembuh, rasa kecewanya masih tersisa. Pementasan berlangsung meriah tanpa dirinya. Pelatih akhirnya menunjuk Billy sebagai gantinya. Huh, padahal Billy adalah saingan terberatnya ketika mereka diseleksi untuk acara pementasan tersbut.
            Kekesalan Arya semakin memuncak saat Billy mengolok-olok dirinya.
            “Wow, pantasnya kamu jadi si codet saja, Ya!” kata Billy. “Lihat tuh, bekas luka di jidatmu, pasti cocok jadi pemeran penjahat yang jahat,” Billy tertawa-tawa.
            “Enak saja, minggir gih! Aku mau lewat!” Arya cepat-cepat pergi sebelum telinganya semakin panas mendengar ejekan Billy.
            Lila mengikutinya dari belakang. Lila sahabat terbaik Arya, dari Lila-lah Arya tahu bahwa Billy yang menggantikan peran Arya.
            “Sabar, tidak usah marah-marah begitu, Ya,” kata Lila sambil mengutak-utik kameranya. Lila memang sedang senang-senangnya belajar fotografi, dimanapun dia berada kamera tidak pernah lepas darinya.
            “Siapa yang nggak kesal dikatain begitau, La,” keluh Arya sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi.
            “Iya iya… Tapi nggak ada gunanya kan marah-marah. Semuanya sudah berlalu.”
            Arya diam saja. Dia sibuk membalik-balik majalah Lila yang ada di depannya.
            “Lihat kesini sebentar, Ya,” pinta Lila.
            Klik! Klik! Klik!
            Lila memotret Arya dengan cepat sampai Arya kaget.
            “La! Ngapain kamu motret aku segala, cari obyek lain saja sana!” usir Arya gusar. Lila tertawa-tawa pergi.
            Arya mengusap-usap dahinya yang sekarang tidak mulus lagi. Ada bekas luka yang cukup kelihatan di dahinya. Bekas luka itu membuatnya tidak pede berada di depan umum. Seperti Harry Potter. Bedanya, dengan bekas luka di dahinya Harry Potter terlihat keren karena memiliki sejarah kesaktiannya. Sementara bekas luka di dahinya, ih… malah membuatnya kelihatan seperti penjahat! Benar juga kata Billy, aku malah jadi kayak si codet!
*
            Blak!
            Lila melemparkan majalah yang dibelinya di hadapan Arya.
            “Apaan nih?” tanya Arya sambil menatap majalah di hadapannya tak mengerti.
            “Buka halaman 13,” perintah Lila sambil tersenyum-senyum.
            Arya menuruti perkataan Lila. Lila memang suka begitu, sok misterius. Tiba di halaman 13 Arya membaca judul yang tertera di halaman itu pelan-pelan.
            “Lomba mirip Harry Potter…” Hei, kok ada fotonya disitu? Arya terbengong-bengong. Oh, pasti kerjaannya si Lila nih! Arya menatap Lila minta penjelasan darinya.
            “Aku yang kirimkan fotomu ke panitia lomba itu. Lumayan kan hasil jepretanku? Buktinya kamu jadi finalis,” Lila terkekeh-kekeh.
            “La! Yang bener saja, masak aku ikut lomba macam begini?” Arya protes.
            “Sudah nggak usah komentar macam-macam. Besok minggu aku temani tampil di grand final-nya. Hadiahnya lumayan lho. Jangan lupa rambutmu harus dibuat semirip mungkin dengan Harry Potter, lalu pakai baju dan mantel seperti dalam filmnya… Oya, perlu bawa sapu nggak?” Lila nyerocos.
            “Lilaaaaa….!” teriak Arya kesal.
*
            Arya menimang-nimang piala yang diperolehnya. Dia mendapatkan juara ketiga. Lumayan bagus, karena persiapannya benar-benar mendadak. Lila ikut senang melihatnya menang. Lihat saja dari tadi kameranya tidak berhenti memotretnya dari berbagai sisi.
            “Bagaimana ideku, cemerlang kan? Nggak sia-sia aku kirim fotomu kemarin itu. Ayo, sekarang traktir aku!” Lila menarik-narik tangan Arya ke restoran siap saji di mall itu.
            “Sabar dong, aku  belum puas melihat pialaku nih. Ngomong-ngomong makasih ya, La. Kalau bukan karena kamu, pasti aku masih malu tampil di depan umum. Lagipula, dengan begini, aku bisa membungkam mulut Billy,” kata Arya sambil menimang-nimang pialanya, membayangkan reaksi Billy yang pastinya seperti kebakaran jenggot.
            Tiba-tiba, segerombolan anak perempuan lewat di depan mereka. Sebentar kemudian mereka berbisik-bisik lalu dengan menyerbu Arya.
            “Arya boleh foto bareng nggak?” tanya seorang dari mereka. Yang lainnya saling sikut dan berbisik-bisik di belakangnya.
            Lila dan Arya berpandangan. Wow, sekarang Arya Potter jadi ngetop deh! Jidat Harry Potter-nya ternyata tidak membuatnya seperti penjahat yang dibayangkan Billy, kan?

2 comments :

  1. wah harusnya ada foto jidatnya nih biar klop. heheh suka tulisannya mba, :)

    ReplyDelete