Tuesday, December 23, 2014

[Percikan] Magang

Dimuat di Majalah Gadis No. 30. 7-17 November 2014

“Aku kesal sama Mama,” Andin mengadu pada Erika.
Erika urung menyuap pancake di hadapannya. Sore itu, mereka berdua sedang makan di sebuah kafe kesayangan mereka. Pantas saja wajah Andin seharian ini seperti baju yang belum disterika. Kusut.
“Masak, Mama menyuruhku magang di kedai rotinya selama liburan,” lanjut Andin tanpa diminta.
Erika mengangkat alis. Jadi itu yang bikin Andin kesal? Erika mulai menangkap maksud Andin.
“Kamu kan tahu yang ingin kulakukan liburan ini. Aku ingin jalan-jalan. Backpaking juga boleh. Nggak perlu mahal-mahal,” ujar Andin. Andin memegang kuat-kuat garpu dan pisaunya, menekannya pada pancake seolah-olah pancake itu steak liat.
Erika hampir tersedak karena geli.
“Lalu maumu bagaimana? Kalau mamamu nggak mengijinkan, nggak ada gunanya memaksa. Mau nekad? Jangan deh, restu orangtua itu penting,” Erika mengingatkan. Tingkah Andin memang terkadang seperti anak kecil. Tapi justru karena itu mereka cocok. Erika lebih mirip kakak ketimbang teman bagi Andin.
“Backpacking nggak butuh biaya banyak kali, Rik. Aku yakin Mama bisa kasih uang. Tapi Mama bilang, aku harus magang dulu di kedainya. Nanti Mama kasih gaji. Nah, gaji itu bisa aku pakai untuk jalan-jalan,” kata Andin panjang lebar.
“Tuh, mamamu bukan nggak mau ngasih kan. Hanya saja tidak mau kasih ikannya. Kamu harus mengail dulu. Lalu apa masalahnya? Bantu di kedai bukan masalah besar,” Erika mendorong Andin.
Mata Andin melotot mendengarnya.
What? Bantu Mama di kedai? Mau ditaruh di mana mukaku. Kedai Mama sering dijadikan tempat nongkrong Rendy dan teman-temannya, tahu,” Andin hampir menjerit.
“Stt… nggak usah teriak gitu. Aku masih dengar,” sahut Erika. “Justru itu, kamu bisa berteman lebih dekat dengan Rendy kan. Lihat sisi positifnya, dong.”
Andin menggeleng kuat-kuat.
“No… no…” katanya. “Rendy anak orang kaya. Dia pasti langsung ilfil lihat aku, jadi pelayan kedai,” Andin mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya centil.
Sekarang gantian Erika yang menggeleng-gelengkan kepala.
“Terserah kamulah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu nggak butuh saranku, buat apa kita ke sini. Mending aku tidur di rumah,” protesnya.
Andin diam saja. Dia kembali sibuk dengan pancakenya. Tiba-tiba…
“Permisi, ada tambahan, Kak?”
Erika dan Andin mendongak. Seorang cowok berbadan atletis, berkulit putih sedang tersenyum manis pada mereka. Oh My God, Rendy! Iya, Rendy yang tadi mereka bicarakan. Kok dia ada di sini? Andin tak habis pikir.
“Oh… eh… “ Andin tergagap. “Kamu…,” katanya.
“Iya, aku,” Rendy kembali memamerkan deretan gigi-giginya yang putih.
“Kok, kamu ada di sini?” tanya Andin bingung. Beberapa kali dia dan Erika datang ke kafe itu, tidak pernah sekalipun bertemu Rendy. Lagipula, buat apa dia kerja?
“Kebetulan, aku sedang bantu orangtuaku. Aku magang di sini selama liburan. Ya, hitung-hitung latihan kerja. Kalau mau jadi pengusaha, harus tahu rasanya jadi karyawan dulu, kata mereka,” Rendy menerangkan. Sama sekali tak tampak rasa malu maupun gugup di wajahnya.
Erika menahan tawa. Sementara, wajah Andin mendadak berubah kemerahan. Rendy si cakep, yang kabarnya anak orang kaya itu saja mau magang jadi pelayan. Sedangkan dia… oh, tiba-tiba Andin ingin menghilang dari bumi ini saking malunya!
“Jadi, kalian mau pesan apa lagi?” tanya Rendy lagi.
Andin cepat-cepat menggeleng.
“Baiklah. Panggil aku saja kalau kalian mau pesan lagi ya,” ujar Rendy ramah. “Oya, soal magang. Bilang sama mamamu, kalau boleh, aku juga mau magang di kedainya. Masakan mamamu enak. Aku juga ingin belajar masak,” ucap Rendy sambil mengedipkan mata.

Wajah Andin terasa panas, nggak menyangka Rendy mendengar percakapan mereka. Sementara itu Erika yang ada di depannya menertawainya sampai puas. Kali ini, rasanya Andin ingin cepat-cepat pulang! [Fita Chakra]

Buat yang ingin kirim ke rubrik Percikan, ini ketentuannya:
  • Panjang tulisan 2 halaman folio.
  • Tema seputar dunia remaja.
  • Kirim melalui e-mail ke GADIS.Redaksi@feminagroup.com
  • Jangan lupa tulis no. rek dan fotocopy buku tabungan di halaman depan.

30 comments :

  1. ceritanya menarik. makasih infonya ya mba... kalo dimuat, diberitahu dulu gak sama redaksinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak dikabari. Saya tahunya dari temen. Tapi dapat bukti terbit kok. :)

      Delete
  2. Suka sama cerpennya, Mak ^^. Makasih sudah berbagi info. Jadi ketularan ingin nulis :)

    ReplyDelete
  3. Kereennnnn.........Mak percikannya, selamat ya bisa nembus Gadis

    ReplyDelete
  4. Cerpennya memang bagus. Makasih infonya Mak ^.^

    ReplyDelete
  5. Belum pernah nyoba kirim Percikan, makasih infonya ya mak Fita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba kirim, Mbak. Aku juga baru beberapa kali.

      Delete
  6. Ahhh jadi pengen nyoba, makasiihh infonya mak. Ceritanya kereeenn

    ReplyDelete
  7. Woooww... keren euy mak Fita..
    Well noted mak.. kpn2 mo nyobain juga ah ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk :) Makasih sudah mampir ke sini ya

      Delete
  8. Replies
    1. Segmennya memang buat remaja, jadi yang nulis menyesuaikan :)

      Delete
  9. Selalu salut sama Kak Fita, bisa terus bikin cerita kayak gini. Sippppp bangeett ^^

    ReplyDelete
  10. produktif banget kak Fita ini. keren!! :))

    ReplyDelete
  11. Ceritanya menginspirasi buat anak remaja ya.. jadi pengen nulis cerpen tentang remaja juga nih. Terima kasih sudah "menulari".. he..he..

    ReplyDelete
  12. Ikutan belajar Mbak Fita. Terima kasih untuk infonya. :)

    ReplyDelete
  13. terimakasih mbak atas infonya,
    bukti terbit itu seperti apa mbak? dan itu lewat e-mail ea ngirimnya?
    hehehe, maaf mbak banyak tanya

    ReplyDelete
  14. mba yaan, kalo ketentuan buat percikan apa aja mba? sam akaya majalah bobo kah?

    ReplyDelete