Tuesday, September 25, 2012

Bagaimana Mendampingi Anak Belajar Menulis?

Banyak teman yang heran melihat Keisya sudah tertarik menulis di usianya yang baru menginjak 7 tahun. Tentu saja, kecintaannya pada dunia tulis menulis tidak datang tiba-tiba. Yang saya ingat, awalnya dia menunjukkan minat saat berusia 3 tahun. Secara tak sengaja, saat saya memangkunya sambil mengetik, dia mulai mengenal huruf dan bertanya mengenai huruf-huruf yang ada di keyboard.

Pada usia 4 tahun, Keisya sudah bisa membaca kata-kata pendek dan menuliskannya. Dia bahkan minta belajar menulis dan membaca. Beberapa bulan berselang, dia sudah semakin lancar membaca. Dia bisa membaca kalimat-kalimat pendek dengan lancar. Meski demikian, tetap saja dia minta saya membacakan buku setiap malam.

Saat ada pelatihan menulis untuk anak-anak, saya menawarkannya. Keisya langsung setuju, waktu itu usianya 6 tahun. Kebetulan trainer yang mengajar adalah teman-teman Galeri Kelas Ajaib, yang sudah saya kenal baik. Jadi, saya pun tidak was-was meninggalkannya ketika pada saat acara saya meninggalkannya untuk mengisi pelatihan lain. Saya pikir, dia akan bosan sebelum pelatihan itu selesai. Tapi ternyata saya salah.

Tanpa saya duga, Keisya sangat senang mengikutinya. Bahkan dia mengerjakan tugas dengan baik, meski mengeluh capek. Selanjutnya, hampir setiap hari saya berebut komputer dengannya karena dia ingin segera menyelesaikan tugas. Meski demikian, seperti halnya anak-anak seusianya, dia pun masih tergantung mood. Kalau moodnya memburuk, mogok menulis selama beberapa hari.

Belakangan, setelah saya membuka kursus menulis untuk anak-anak usia SD di rumah, dia kembali semangat. Pasalnya, Keisya jadi punya teman untuk belajar menulis. Seminggu sekali, dia membuat tugas-tugas yang saya berikan bersama temannya. Dia juga membaca banyak buku yang disukainya. Yang membuat saya senang, dengan kesibukannya itu, jam menonton televisi menjadi berkurang drastis.

Ada satu peristiwa yang membuat Keisya kembali terpompa semangat menulisnya, yaitu saat tulisannya dimuat di Majalah Irfan. Dia sempat bilang pada Opa dan Oma dengan riang, "Keisya dapat uang, tapi bukan dari Ayah dan Bunda." Hahaha, lucu sekali.

Kalau ada teman-teman yang bertanya, "Bagaimana sih caranya mendampingi anak-anak belajar menulis?" biasanya saya tanya balik kebiasaan mereka di rumah. Menurut saya, kebiasaan membaca dan menulis itu berawal dari kebiasaan orangtua di rumah. Kalau anak-anak terbiasa melihat kedua orangtuanya membaca dan menulis, mereka akan menirunya. Sebaliknya, kalau orangtua meminta mereka banyak membaca dan menulis sementara orangtua asyik menonton tv, jangan harap anak-anak mau melakukan yang diminta.

Buat teman-teman, saya bagikan tips saya untuk mendampingi anak-anak belajar menulis ya :)

1. Sediakan banyak bacaan di rumah. Meskipun sudah bisa membaca, saya masih sering membacakan cerita. Saat yang paling menyenangkan adalah ketika sebelum tidur saya membacakan sebuah novel klasik untuk anak-anak. Secara menakjubkan, anak-anak mengingat kata-kata yang ada di novel itu. Bahkan, keisya bisa menceritakannya dengan bahasanya sendiri. Dari sana, saya pun belajar untuk tidak meremehkan kemampuan anak mencerna kata-kata sulit dalam novel klasik itu.

2. Biarkan anak-anak menuliskan idenya sesegera mungkin saat mereka mau. Seringkali saya harus rela menunda menulis saat Keisya pulang sekolah karena dia ingin segera mengetik. Kalaupun tidak sedang berada di depan komputer, biasanya dia menggambar, lalu menuliskan ceritanya pada kertas.

3. Buat perjanjian dengan mereka. Misalnya, boleh menonton tv jika sudah mengetik selama satu jam. Saya buat perjanjian ini dengan Keisya karena, jujur saja saya tidak ingin dia terlalu lama menonton tv.

4. Saat ide tersendat, pancing dengan pertanyaan-pertanyaan. Misalnya, setelah ini tokoh pergi kemana; apa yang dilakukan; bagaimana kalau begini; dan sebagainya. Biasanya setelah itu, anak-anak punya gambaran untuk meneruskan ceritanya.


5. Saat mood memburuk, bersabarlah. Biarkan sejenak mereka bersenang-senang. Ajak ke toko buku, belikan buku-buku baru yang menggugah minatnya. Atau, ajak mereka berkenalan dengan penulis-penulis cilik agar dia bersemangat menulis kembali.

6. Mengikuti pelatihan menulis atau kursus menulis boleh juga. Berkenalan dengan teman-teman baru, mengerjakan tugas bersama, dan mendapatkan motivasi bisa meningkatkan mood mereka. Tanpa sadar mereka juga belajar teknik menulis yang baik. Di suatu kesempatan saat saya mengisi pelatihan menulis, Keisya yang kebetulan ikut, berhasil memotivasi teman-temannya dengan menceritakan proses kreatif penulisan karyanya yang dimuat di majalah.

Oya, buat teman-teman di Depok, kalau mau belajar bareng Keisya ikut yuk, kursus menulis di rumah saya. Pasti Keisya tambah semangat belajar menulis. :)


Belajar menulis bersama teman



Hasil tulisan Keisya dan teman

8 comments :

  1. Keisya nurun ibunya ya.... klo udah agk gedean thifa juga mau sy biasakan mnulis ahhhh

    ReplyDelete
  2. Makasih sudah mampir, Rahmi. Kelihatannya begitu hehe, kalau kedua adiknya lebih nurun ayahnya :)

    ReplyDelete
  3. TFS ya mbak.. Anak2 sy udah pd punya blog.. Cuma memang mereka blm konsisten ngisinya.. Sy juga yg masih turun-naik kasi semangatnya utk menulis.. :)

    ReplyDelete
  4. guling yang dibawa Keisya, si bubu kah? hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih inget aja, kalau itu si Bubu :D hahaha iya, bener banget. :)

      Delete
  5. Assallamualaikum mba fita, maaf mau tanya, masih memberikan kursus menulis untuk anak kah? Lokasi depok nya dimana ya mba? Biaya nya berapa? Makasih

    ReplyDelete