Friday, April 4, 2014

[Proses Kreatif] Perjalanan Menulis Misteri Taman Berhantu

Sebenarnya, naskah Misteri Taman Berhantu ini bukan naskah baru. Sudah beberapa tahun lalu saya tulis. Sempat dikirim pada dua penerbit, tapi berakhir dengan penolakan. Setelah itu, saya melupakannya hingga teronggok sekian lama di folder.

Hasil akhir cover yang diilustrasi oleh Mas Indra Bayu
Saya baru ingat lagi naskah ini, setelah saya main ke kantor KPG, sesaat setelah memenangi Lomba Menulis Novel Bluestroberi yang diadakan Ice Cube Publisher. Kebetulan Penerbit Kiddo, yang menerbitkan naskah Misteri Taman Berhantu, berada satu atap dengan Ice Cube Publisher. Mbak Winda Veronica, yang memegang naskah Rainy’s Days mengenalkan saya pada Mbak Pradikha Bestari.

Ngomong-ngomong soal Mbak Dikha, demikian panggilan akrabnya, saya nggak nyangka bisa ketemu dia, lho. Soalnya, biasanya cuma lihat tulisannya di majalah Bobo. Soal tulisan misteri, Mbak Dikha ini jagonya. Pantes saja, murid-murid saya, juga Keisya, suka banget baca Bobo. Apalagi yang ditunggu kalau bukan cerita misterinya Mbak Dikha.

Kembali ke naskah, seperti biasa, saat editor ketemu penulis yang ditanyakan sudah pasti naskah hehe. Saya tiba-tiba saja ingat punya naskah yang nganggur. Beberapa hari kemudian, saya kirim naskah itu ke Mbak Dikha. Dan ternyata, mereka mau menerbitkan! Jawabannya nggak pakai lama pula. Hiyaa, langsung saja saya tambah semangat.

Sayangnya, Mbak Dikha minta revisi banyaaak… karena naskah ini mau dimasukkan ke dalam Seri Misteri Favorit. Pastinya harus menyesuaikan dengan konsep judul di dalam seri ini yang sudah terbit duluan. Saya mesti menambahkan fakta unik, mengubah settingnya yang tadinya nggak jelas ada di negeri mana alias khayalan menjadi sebuah tempat di Indonesia, juga mengutak-atik lagi alurnya supaya enak dibaca.

Naskah tentang kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung pun saya revisi penuh semangat. Soal setting, saya sempat bertanya-tanya pada beberapa teman yang pernah ke sana. Saya juga browsing gambar dan berita melalui internet. Lumayan, saya jadi ada gambaran mengenai settingnya.

Supaya lebih menarik, tokoh utama di dalam cerita ini, yaitu dua anak kembar bernama Sekar dan Laras, ditemani tokoh-tokoh lain. Selain tokoh yang sejak awal sudah ada di dalam cerita, yaitu Pak Rico, guru yang berambut aneh; Pak Wisnu, penjaga penangkaran kupu-kupu; dan Amel, murid yang perkataannya sering menjadi kenyataan, saya tambahkan sosok Pak Rudy, sang jagawana.

Selain revisi di atas, saya juga mesti menambahkan fakta unik tentang kupu-kupu, Bantimurung, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penangkaran. Tujuannya supaya pembaca novel ini, mendapatkan tambahan pengetahuan tentang kupu-kupu dan juga Indonesia. Asik, kan?

Saya ingat, waktu itu, saya minta waktu sampai akhir Januari karena awal Januari saya berangkat umroh. Saya pikir, saya sempat mengutak-atiknya sebelum berangkat, supaya setelahnya tinggal membaca ulang dan self editing. Nyatanya, saya baru bisa total merevisi naskah setelah pulang. Lega dong, setelah saya kirim. Ternyata… Mbak Dikha kembali mengirimkan e-mail revisi.

Jujur saja, kepala saya mulai cenut-cenut. Begini risikonya punya editor superteliti, ada yang nggak konsisten sedikit dia akan tahu. Okelah, saya pun merevisi lagi. Ada beberapa bab yang diubah total. Berharap revisi ini lebih baik dari sebelumnya, karena saya mengubah kurang lebih sepertiga bagian isinya, saya pun mengirimkan kembali.

Tahukah apa yang terjadi kemudian?
Tepat di tanggal 14 Februari, Mbak Dikha mengirimkan kembali naskah saya beserta poin-poin yang harus saya revisi, dengan catatan, waktu revisi hanya seminggu. Doeeng! Rasanya mau pingsan.

Saya tidak langsung menjawab e-mail itu. Butuh beberapa hari sampai saya berani menjawab e-mail itu. Saya bilang pada Mbak Dikha, saya butuh waktu lebih dari seminggu mengingat dua kali revisi ternyata hasilnya kurang memuaskan. Tetapi, jika penerbit tidak bisa memberikan waktu lebih, lebih baik saya menarik naskah tersebut.

Deg-degan rasanya menunggu jawaban selanjutnya. Namun saya berusaha ikhlas. Rupanya, naskah itu masih menjadi rezeki saya. Saya diberi waktu hingga 3 minggu untuk menyelesaikannya.

Di revisi ketiga, saya tidak mau menyiakan kesempatan itu. Niat saya, naskah ini harus mulus supaya saya tidak diminta revisi lagi. Revisi terus bikin capek hati, Sodara-sodara! Saya pun mulai dari awal. Saya buat mindmap untuk mengurai benang kusut di otak. Nggak tanggung-tanggung, mindmap saja sampai beberapa kali saya ganti hehe. 

Mindmap yang berubah beberapa kali
Terakhir, barulah saya tulis ulang ceritanya. Catat, tulis ulang alias rewrite, bukan revisi saja. *nyengir lebar. Akhirnya, menjelang batas waktu yang ditentukan, naskah tersebut sudah mengalami perombakan besar-besaran. Sekitar 75% berbeda dari naskah awal. Puaskah saya? Belum, karena saya belum dengar komentar Mbak Dikha.

Setelah mengirim e-mail, saya gelisah luar biasa. Rasanya seperti nunggu hasil tesis dulu, hehehe. Dan saya baru bisa tersenyum ketika Mbak Dikha bilang yess!

Buat teman-teman yang ingin baca novel ini, tunggu tanggal terbitnya, ya. Novel ini dijadwalkan terbit 14 April 2014. Novel yang tadinya berjudul Misteri Taman Kupu-kupu ini diubah judulnya menjadi Misteri Taman Berhantu bukan tanpa sebab. Baca sendiri, deh.


15 comments :

  1. Kisah di balik pembuatan buku seru biasanya memang tak kalah seru. Keren, Mbak! Btw, tokoh utamanya bernama Sekar? Sebagai ibunya Sekar, kayaknya saya harus punya, nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbak Vero. Oh putrinya namanya Sekar, Mbak? Kebetulan anakku yang kembar nama belakangnya "Larasati", makanya aku buat tokoh yang namanya Laras, satunya Sekar hehehe...

      Delete
  2. Wah beberapa kali revisi pasti keren selamat ya mbak fita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, moga pembaca berpikir begitu, Mak hehehe... Terima kasih sudah mampir ya :)

      Delete
  3. Selaamat ya Mba Fita akhirnya dah dibuatin cover dan tinggal naik cetaaak yaka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Tinggal nunggu terbitnya nih, mak. Makasih yaaa

      Delete
  4. Huaaaa selamat mba, ih kapan yaaa aku bisa bikin novel anak? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya. Ayo mulai bikin dong. pasti bisa :)

      Delete
  5. wuaduh, sharingnya keren abis Fita (y) Jadi penasaran pengen baca pas dah terbit nanti ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbak Aira. Moga bermanfaat ya :)

      Delete
  6. Setiap mampir ke blog ini, selalu kepanasan. tabokin aku dong, mak, biar bisa pecah telor 1 buku tahun ini ^_^

    ReplyDelete
  7. Mak Fita yang udah punya banyak buku aja revisinya bisa berkali2. Apalagi kalau saya yg ngalamin, ya. Berarti gak boleh patah semangat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, jangan patah semangat, Mak :)

      Delete
  8. Fitaaaa...aku antri buku yg ada tanda tangannya yah. I'm your loyal fans lah hihihii...
    Pengin banget bisa bikin postingan kayak begini hiks... kapan yaaa :D *ngidupin kipas sate to the max....panaaasss

    ReplyDelete