Saturday, November 3, 2012

[Cerpen] Cermin, Aku dan Ibuku



Cerpen ini menjadi Karya Favorit dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja Lip-Ice Selsun 2009. Idenya, berasal dari sebuah buku yang pernah saya baca sebulumnya, tentang seorang remaja yang mati-matian berdiet supaya tampil lebih langsing. Sebenarnya cerita yang saya baca itu sedikit kocak. Tapi saya menulis cerpen ini dari sudut pandang yang berbeda. Jadi kesannya gloomy. 


Cermin, Aku dan Ibuku

        
            Ibu, betapa aku ingin sekali membahagiakanmu.
Aku ingin melihatmu tersenyum, dengan ujung bibir yang melengkung sempurna. Bukan senyum yang dipaksakan. Tetapi senyum yang tulus, benar-benar nyata dari dalam hati.
          Aku rindu senyummu itu, Ibu.
Entah sudah berapa lama aku tak melihatmu tersenyum seperti yang kuinginkan. Hari ini, aku akan mencoba sebaik mungkin, agar aku bisa membuatmu bangga. Kebanggaan yang membuat senyuman terlukis di bibir merah jambumu.
Pagi ini, puluhan kali sudah aku mematut diri di depan cermin. Bayangan tubuhku terlihat jelas di dalamnya. Sesosok gadis berusia tujuh belas tahun yang berparas jelita tanpa cela. Orang-orang bilang aku cantik rupawan. Kulitku putih bersih menurun dari kulit ayah yang berkebangsaan Belanda. Hidungku mancung, tanpa harus melakukan operasi plastik. Rambutku kecoklatan bergelombang alami. Dan tubuhku termasuk tinggi untuk ukuran gadis seusiaku. Kakiku panjang bak peragawati.
            Tapi apa yang kumiliki tidak juga membuatku bersyukur. Aku bahkan merasa Tuhan tidak menyayangiku. Lihat saja, badanku gemuk sekali! Aku tidak suka itu. Aku terlalu gemuk hingga gaun yang dibelikan ibu tak cukup kupakai.
         Aku menghela napas panjang, berusaha menghapus aroma kebencianku pada badanku. Gagal. Aroma kebencian kian kuat merasuk masuk melalui hidungku, lalu menjelajah ke dalam tubuh melalui kerongkongan. Karenanya, aku justru merasa semakin benci pada badanku yang menggelambir di sana-sini. Aku benci pada timbunan lemak yang semakin hari semakin bertambah meski aku tak menginginkannya. Karena lemak itu, paha dan lenganku jadi kelihatan seperti guling baru yang biasa dipakai Kyra, adikku. Besar dan empuk.
            Semakin lama aku menatap bayangan tubuhku di dalam cermin aku menjadi semakin muak. Isi perutku seperti diaduk-aduk, mual sekali. Sambil menahan rasa mual di dalam perut aku berpikir keras, bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan buntalan-buntalan lemak dalam tubuhku.
            Aku memaki bayangan tubuhku di cermin itu. Kulontarkan kata-kata kasar. Tapi tetap saja bayangan di dalam cermin itu tak berubah menjadi lebih baik. Hanya sesosok gadis bertubuh gemuk yang nampak olehku. Aku berteriak. Aku mencaci lebih keji. Namun, bayangan yang kuharapkan tak kunjung datang. Dia diam tak bergeming.
            Aku pun murka!
            Cermin sialan! Kenapa kau harus memperlihatkan tubuhku yang gemuk ini?
            PRAANG…!!
            Kulemparkan sepatuku pada cermin itu hingga dia pecah berkeping-keping membentuk potongan-potongan kecil tak beraturan bentuk.
            Aku puas.
Untuk sesaat.
*
            Aku berusaha bergaya mengikuti arahan fotografer itu. Kepalaku pening, tapi kucoba memfokuskan konsentrasiku pada perkataannya.
            “Agak miring ke kiri, Sya… Dagu turun sedikit. Nah, begitu sudah bagus, tahan sebentar,” perintahnya sambil buru-buru menekan tombol di kameranya.
            Aku mendesah perlahan. Menahan rasa sakit yang mendera kepalaku. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku dan aku gemetar. Sepertinya tubuhku seperti tidak bisa diajak kompromi. Kulihat ibu duduk di dekat fotografer itu, memusatkan perhatiannya padaku. Matanya menatapku sunguh-sungguh, seakan khawatir jika aku berbuat salah hingga mengacaukan pemotretan ini.
            “Duh, konsentrasi, Sya! Pandangannya jangan kosong begitu!” bentak fotografer itu mulai tak sabar. Rasanya sudah berjam-jam sesi pemotretan ini berjalan tapi tidak juga kunjung selesai. Aku sendiri sudah merasa tak sabar.
            Ibu sontak berdiri, membisikkan sesuatu pada fotografer lalu berkata padaku setengah berteriak, “Meisya, istirahat dulu, Sayang.” Rupanya Ibu meminta break pada fotografer.
Ibu, apakah engkau mengkhawatirkan keadaanku?
Ibu menyuruhku minum segelas air dingin yang dibawakannya entah darimana. Kami duduk berhadapanan, saling memandang satu sama lain.
            “Kalau kau tidak berkonsentrasi penuh, sesi pemotretan ini tidak akan pernah selesai, Meisya,” kata Ibu datar.
            Aku mengangguk setuju, tapi sejurus kemudian aku berkata, “Tapi, Bu… Kepalaku pusing, rasanya aku tak enak badan.”
            “Meisya! Selesaikan tugasmu dulu, baru kamu bisa beristirahat,” Ibu mendesis pelan. Lembut tapi penuh penekanan. Ciri khas Ibu. Aku tahu itu berarti aku tidak bisa membantahnya. Aku harus melakukan apa yang dikatakannya, agar Ibu tidak kecewa.
            “Mengerti?” tegas Ibu lagi.
            Aku mengangguk kaku.
*
            Ibu, aku berusaha memahami mengapa engkau berbuat seperti itu padaku.
Aku tahu bagaimana susahnya mencari uang untuk menjalankan kehidupan kami bertiga. Aku, Kyra, dan Ibu. Ayah menghilang entah kemana sejak Kyra masih dalam kandungan. Aku mengerti bahwa kami sangat kekurangan. Makan, sekolah, tempat tinggal, semuanya butuh uang. Dan mungkin, bagimu kebahagiaan juga harus dibeli dengan uang.
            Kata Ibu, “Kalau kamu mau menjadi model, kita bisa mendapatkan uang yang cukup untuk kehidupan kita. Kalau berkecukupan, kamu bisa pergi berjalan-jalan ke manapun kau mau, bergaul dengan teman-teman yang menghargaimu, bukan teman yang menyepelekanmu seperti sekarang,”
            Maka, aku tanamkan dalam benakku untuk menjadi seorang model. Aku berjuang mati-matian mengikuti berbagai casting. Bahkan pulang hingga dini hari aku jalani. Demi Ibu dan Kyra. Demi kehidupan kami. Demi aku juga. Karena aku ingin dianggap oleh teman-temanku. Aku tidak mau terus-terusan mendengar cemoohan mereka.
            “Huh, memangnya kamu siapa mau berteman dengan kita?” begitu kata salah seorang teman sekolahku. Pedih rasanya mendengarnya. Bukankah bagi seorang remaja teman dan lingkungan pergaulan itu penting? Sayangnya, aku tak pernah merasa dianggap diantara teman-teman.
            Ibu membuatku mau merubah diri mati-matian demi menjadi model. Memang aku harus bekerja keras, tapi imbalan yang kudapatkan pun setimpal. Uang, ketenaran, dan pengakuan dari teman-temanku.
            Aku bahagia bisa menyenangkan Ibu dan Kyra. Aku bisa membeli sebuah rumah yang megah. Membelikan mainan mahal untuk Kyra. Menghadiahkan sebuah tas bermerek yang telah lama diidam-idamkan Ibu di hari ulang tahunnya. Semuanya dengan uang hasil jerih payahku. Aku bahagia melihat orang-orang yang kucintai merasa bahagia.
            Tapi lama kelamaan, aku merasa Ibu mulai berubah. Semakin hari Ibu makin menekanku dengan membebaniku dengan berbagai pekerjaan.
            “Meisya, kamu harus ikut casting iklan shampoo itu. Honornya pasti banyak. Ibu yakin kamu bisa.”
            “Jangan terlalu banyak mengeluh, uang tidak datang seketika. Kau harus banyak-banyak jalan di catwalk kalau mau punya banyak uang.”
            “Ayo, Meisya kamu punya janji pemotretan hari ini. Ada dua pemotretan, malamnya kamu sudah ditunggu untuk syuting iklan.”
            “Ibu sudah bilang iya, kamu harus datang kesana. Kalau tidak nanti mereka tidak mau membayarmu. Ingat kamu kan sudah teken kontrak!”
            Uang. Uang. Lagi-lagi karena uang!
            Aku mulai kesal pada Ibu. Tapi aku tak bisa menolaknya karena aku paham bagaimana rasanya tidak punya uang.
*
            Cermin, katakan apakah aku kelihatan cantik?
            Tidak. Kau tidak kelihatan cantik. Kau gemuk. Tubuhmu semakin hari makin besar. Seperti balon yang ditiup perlahan-lahan. Menggelembung… menggelembung… dan siap meletus.
            Begitu kata cermin.
            Cermin selalu mengatakan yang sesungguhnya.
            Aku meyakini hal itu. Bayangan yang ada di dalam cermin itu pastilah bayanganku yang sesungguhnya. Aku gemuk. Itulah yang terlihat disana. Aku jadi benci sekali pada cermin. Entah sudah berapa kali aku pecahkan cermin di rumah ini. Tapi, meski benci aku selalu ingin berkaca. Memastikan bahwa diriku tak kurang suatu apa. Tidak kurang cantik, tidak kurang menawan dan tidak gemuk!
            Huh! Tapi tetap saja aku kelihatan gemuk. Bahkan semakin hari aku semakin gemuk.
            “Coba diet, Sya. Model harus berperawakan tinggi langsing. Kalau tidak kurus nanti tidak ada yang mau pakai kamu jadi model lagi,” saran Ibu.
            Tanpa Ibu bilang pun aku sudah tahu. Aku pun berdiet mati-matian. Ibu bilang pakaian yang dibelikannya harus bisa kupakai.
            Harus.
            Kata yang wajib aku patuhi. Tak perlu aku tanyakan mengapa. Aku sudah tahu alasannya.
            Karena aku model. Model harus kurus. Model harus menarik agar bisa mendapatkan banyak pekerjaan. Banyak pekerjaan berarti banyak uang. Banyak uang bisa membahagiakan Ibu dan Kyra. Semua alasan itu seperti lingkaran setan yang tak ada putusnya. Berputar-putar mengelilingiku setiap saat.
            Lalu bagaimana denganku? Apakah aku bahagia atau tidak? Tidak ada yang mempedulikan perasaanku. Kyra masih terlalu kecil untuk mengerti. Dia baru berusia lima tahun. Apalagi Ibu? Ibu hanya peduli pada penghasilanku. Berapa aku dibayar untuk melakukan pekerjaanku. Ibu hanya peduli pada kesehatanku karena jika aku sakit maka tidak akan ada yang menghasilkan uang untuk kami.
            Ibu tak peduli pada perasaanku. Ibu tak tahu bahwa aku sering merasa kecapekan bekerja seharian. Ibu tak mengerti bagaimana aku merindukan kebebasan berjalan kemanapun aku pergi tanpa harus ada fans yang mengikutiku. Ibu tak paham bahwa aku sering merasa jenuh dengan rutinitas ini.
            Aku memandang cermin di hadapanku. Cermin baru yang pagi tadi dipasang Ibu. Melihat sosok tubuh gemukku aku jadi mual. Perutku meronta-ronta bergejolak dan terasa melilit, ingin mengeluarkan cairan yang pahit. Aku terlalu banyak makan tadi pagi, keluhku dalam hati. Padahal aku seharusnya mengurangi porsi makanku. Aku menjadi merasa bersalah karena telah makan banyak. Tanpa kusadari, kemudian aku melakukan sesuatu yang akhirnya nanti kulakukan terus menerus.
            Jari-jariku bergerak masuk ke dalam mulut dengan lincah. Merogoh lebih dalam ke ujung lidah hingga hampir masuk ke kerongkongan. Cairan pahit di dalam perutku mulai naik perlahan tapi pasti. Sebentar lagi makanan yang tadi pagi aku makan akan keluar, pikirku. Mataku melotot saat cairan itu sampai di ujung lidah.
            Aku berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutku ke dalam kloset. Aku menangis kesakitan. Berpeluh di sekujur tubuh. Telapak tanganku sedingin es. Tubuhku terasa lemas, terasa ringan. Pasti karena semua makanan yang ada di dalam perutku sudah keluar. Sebentar lagi aku bisa kurus jika tidak makan berlebihan. Dan aku akan selalu mengeluarkan makanan-makanan yang membuat tubuhku semakin berlemak itu.
            Aku membaringkan tubuhku ke lantai. Rasanya seperti tak bertenaga. Tapi aku tertawa. Senang. Setidaknya sekarang aku tahu, bagaimana cara mengeluarkan lemak-lemak dari dalam tubuhku.
Memuntahkannya. Itu saja.
*
            Ibuku tersayang,
            Aku tidak habis pikir mengapa engkau seperti tidak ada puasnya mencelaku. Aku kurang begini. Aku kurang begitu. Dan yang paling sering engkau ucapkan adalah uang yang kuhasilkan kurang banyak sementara kebutuhan kami semakin banyak. Kepercayaan diriku merosot tajam seiring kecaman Ibu. Aku tak lagi gadis tujuh belas tahun yang ceria dan bersemangat menjalani hari-hariku. Aku menjelma menjadi seorang yang pemurung dan pemberang. Tekanan hidup yang membuatku seperti ini. Sekarang aku bahkan tidak hanya memecahkan cermin, tetapi juga menghindari semua barang yang bisa menghasilkan bayangan tubuhku. Aku semakin benci melihat bentuk tubuhku.
            Aku harus berjuang lebih keras lagi. Bekerja keras dari pagi hingga dini hari. Duniaku bukan lagi dunia remaja yang berwarna-warni. Duniaku terasa suram dan gelap. Aku tak tahu arah. Limbung. Aku tidak bisa memperjuangkan keinginan diriku sendiri.
Terkadang aku merasa bagaikan sebuah robot yang bergerak mengikuti perintah pemiliknya. Aku melakukan sesuatu bukan atas kemauanku sendiri. Jiwa dan ragaku tidak seirama. Ragaku bergerak mengikuti kemauan Ibu meski jiwaku menolaknya.
            Aku tergugu di malam sepi. Saat seisi orang di rumah ini tidur, aku menangis kesepian, meratap pada sang nasib. Aku memiliki harta yang berlimpah, tapi mengapa aku tak bahagia? Aku bertanya berulang-ulang. Namun aku tak jua menemukan jawabannya.
            Malam semakin dingin. Sepi. Aku yakin Ibu dan Kyra telah tidur, lama sebelum aku tiba di rumah. Seharian ini aku telah menapakkan kakiku kemana-mana, berusaha mencari uang dengan mengikuti berbagai casting.
            Aku terduduk dalam diam. Mencerna apa yang terjadi dalam hidupku perlahan-lahan. Sungguh, aku merasa putus asa tidak bisa menjadi seperti yang diinginkan oleh Ibu. Kontrakku diputus oleh salah satu produk iklan. Pasti karena aku tidak sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Aku terlalu gemuk.
            Sedetik kemudian aku menangis. Lirih. Aku sudah membuat keputusan besar dalam hidupku. Keputusan yang terbaik untuk diriku. Bukankah setiap orang pantas merasa bahagia?
            CESSS!
            Kurasakan nyeri di urat nadi pergelangan tanganku. Darah mengalir perlahan-lahan dari sana. Tak lama kemudian aku melihat malaikat maut menjemputku. Meninggalkan ragaku disana. Membawaku terbang. Tubuhku terasa sangat ringan. Aku melayang bersama malaikat mautku.
Aku melihat ke bawah. Dan barulah aku tahu kenyataan yang sesungguhnya.
Seorang gadis yang pucat tinggi semampai terbaring kaku di bawah sana. Tubuhnya kurus kering seperti tak pernah makan. Wajahnya kuyu dan sangat tirus hingga pipinya terlihat cekung.
Itu aku? Aku bertanya tak percaya. Aku ingin kembali, tapi semuanya sudah terlambat. Tak mengapa. Toh aku tak bahagia di dunia.
*
Pagi hari yang kelabu.
Aku sedih melihat Ibu menangis di depan ragaku. Sementara Kyra dengan kepolosannya menanyakanku terus menerus. Aku tahu Ibu menyesal membuatku menderita. Aku mengerti Ibu merasa bersalah karena membiarkanku mengalami eating disorder. Ibu pasti juga merasa berdosa menyalahkanku terus menerus serta memaksaku memakai pakaian yang selalu lebih kecil dari ukuran tubuhku. Aku berkorban, agar Ibu sadar hingga tak mengorbankan Kyra, menjadi sepertiku.
Ibu, jangan bersedih. Aku bahagia disini… Aku sayang kalian. Selamanya.
***

4 comments :

  1. Merinding bacanya mba..
    Well, pembelajaran buat kita nih para ortu. Berguna jg story nya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak :) Aku juga masih merinding kalau baca :))

      Delete
  2. anorexia dan bulimia :(

    ReplyDelete