“Main
gadget jangan lama-lama, nanti matanya rusak.”
“Iya
… iya … kan Kakak mau lihat caranya bikin bando rajutan ini, Bun,” *sambil
ucek-ucek mata.
“Nah
tuh, sudah berhenti sekarang. Waktunya sudah habis!”
Oke,
mungkin saya kelihatan seperti nenek sihir kalau sudah ngomel panjang lebar.
Bagi saya, aturan tetaplah aturan. Di rumah kami, main gadget hanya boleh saat
weekend, selama maksimal 3 jam. Kenyataannya, seringkali lebih dari itu. Tapi …
belakangan ini, saya lihat si Kakak (demikian saya memanggil sulung kami)
sering terlihat ucek-ucek mata sebelum batas waktu main gadget-nya berakhir.
Kalau nggak ucek-ucek mata, dia melototin ponsel saya sambil mencureng hingga
kedua alisnya nyaris bertaut. Di waktu lain, pernah juga mengeluh matanya
capek. Duh, kenapa pula ini?



