Wednesday, September 4, 2019

Berkolaborasi Mendukung Kegiatan Anak di Bidang Literasi

Bismillahirrahmanirrahim.

“Siapa yang suka baca?”
“Siapa yang ingin menulis buku seperti ini?”
“Siapa yang ingin ikut lomba menulis?”

Sebagai seorang pekerja lepas di bidang literasi, inilah yang sering saya tanyakan pada murid-murid saya. Ya, selama kurun waktu lebih dari 10 tahun, berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan dunia literasi saya lakukan. Mulai dari menulis, mengedit naskah, mendongeng, serta mengajar kelas-kelas menulis. Berkat kegiatan-kegiatan di bidang yang saya sukai ini, saya bertemu banyak orang yang sama-sama berkecimpung di bidang literasi anak. Mulai dari penulis cilik dan keluarganya, pustakawan, sekolah-sekolah yang menjalankan program literasi, dan masih banyak lagi. Dari mereka, saya belajar banyak, bahwa kerjasama antara keluarga, masyarakat dan sekolah, bisa melejitkan potensi anak di bidang literasi, bahkan mendorong mereka berprestasi. 
Menurut World Economic Forum 2015, ada 6 Literasi Dasar yaitu literasi bahasa, literasi numerasi, literasi digital. Literasi finansial, literasi sains serta literasi budaya dan kewargaan. Namun mungkin benar bahwa kunci awal untuk semuanya adalah literasi bahasa. Kita bisa memulainya dari rumah, dengan cara yang sederhana dan sedikit ketelatenan.

Membangun Budaya Literasi dalam Keluarga
Dari mana anak-anak mendapatkan pendidikan pertamanya? Keluarga, tentu saja, terutama kedua orangtuanya. Pernah suatu kali di toko buku, saya melihat seorang anak sedang membaca buku yang disukai. Tampak sekali bahwa dia sangat menikmati komik sains yang dibaca. Tiba-tiba, saya dengar sang ibu berkata, “Baca komik melulu. Kenapa nggak baca buku pelajaran, sih? Lebih bermanfaat.”
Apa yang dilakukan sang ibu kemudian? Alih-alih mencari tahu alasan mengapa si anak suka buku tersebut, dia membelikan anaknya buku kumpulan soal. Saya bisa melihat wajah kecewa si anak saat itu. Orangtua memang berperan besar dalam memilihkan bacaan untuk anak-anaknya. Tetapi sangat disayangkan, jika kita sebagai orangtua tidak membuka diri terhadap hal-hal yang disuka anak-anak sebagai generasi yang hidup di zaman yang berbeda dengan kita dulu.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua untuk membangun budaya literasi dlaam keluarga? Mari kita simak bersama-sama, ya:

Menjadi role model untuk anak-anaknya
Pernah saya bertemu dengan seorang ibu yang mempertanyakan, “Mengapa anak saya malas membaca? Kalau lihat buku, bawaannya ngantuk melulu.”
Saya tanya balik ke beliau, “Ibu sendiri, suka baca nggak?”
Yang dijawab dengan gelengan kepalanya. Memang terkadang mudah bagi kita sebagai orangtua menyuruh anak melakukan sesuatu, sementara kita sendiri nggak mau melakukannya. Padahal, dari siapa sih anak-anak meniru? Tentu saja dari orangtuanya. Jadi, kalau mau anak-anak suka membaca, dia harus melihat orangtuanya juga suka membaca. Jangan berharap anak-anak kita mau membaca jika lebih sering melihat kita memegang gadget daripada memegang buku.

Menyediakan berbagai bacaan 
Sebagai pengajar kelas menulis, saya banyak bertemu dengan para orangtua inspiratif, yang mau bersusah payah menyediakan berbagai macam bacaan untuk putra dan putrinya. Tidak semuanya mampu membelikan buku. Saya juga mengenal beberapa orangtua yang rajin mengajak anak-anaknya ke perpustakaan, berjam-jam asyik membaca buku di akhir pekan. Mereka juga telaten mencari buku-buku bekas yang masih layak baca. Ada pula yang mau berinvestasi mahal untuk membeli buku-buku berkualitas. Adakah cara lain selain membeli dan meminjam? Ada. Kita bisa juga lho, bertukar buku dengan teman. Intinya, ada banyak cara bagi orangtua yang mau berusaha menyediakan bacaan untuk anak-anaknya.

Menyediakan waktu untuk membaca dan mendongeng
Mendongeng dan membacakan cerita merupakan kegiatan yang bisa kita lakukan di rumah secara rutin. Tidak perlu waktu lama kok, cukup 15-30 menit setiap hari. Walau sebentar, kegiatan ini berarti banget dan banyak manfaatnya. Antara lain: merekatkan bonding orangtua dan anak, mendekatkan anak-anak pada kebiasaan membaca, transfer nilai-nilai baik pada anak melalui cerita, dan masih banyak lagi.

Membacakan cerita untuk anak
Sejalan dengan hal ini, kita bisa mengikuti GERNAS BAKU yaitu Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku yang mulai dicanangkan tahun ini. Seperti yang saya baca di web Sahabat Keluarga ujuan dari gerakan ini adalah membiasakan kegiatan membaca buku di rumah bersama anak-anak. 
Sedikit tips membaca dan mendongeng dari saya:
  • Pilih cerita/buku yang disukai anak-anak. Tokoh binatang merupakan salah satu favorit anak-anak. Jenis cerita yang bisa kita pilih misalnya dongeng, cerita rakyat, fabel, cerita islami, maupun cerita manca negara.
  • Membaca/mendongeng dengan suara keras dan jelas. Mainkan intonasi suara supaya lebih ekspresif.
  • Setelah selesai membaca/mendongeng, tanyakan pada anak-anak tentang cerita yang didengar. Biarkan mereka mencoba bercerita versi mereka.

Mendukung minat dan potensi anak-anak di bidang literasi
Anak-anak yang suka membaca terkadang punya potensi besar di bidang menulis maupun mendongeng. Selama beberapa tahun mendampingi anak-anak menulis di kelas menulis, saya banyak bertemu orangtua yang rajin sekali mendampingi anak-anaknya berkegiatan di bidang literasi. Mereka mau mandampingi anak-anaknya menyelesaikan menulis cerita, membaca ulang cerita anak-anaknya, mendiskusikan dan mengirimkannya ke penerbit atau panitia lomba menulis.
Pada usia 6 tahun Mutiara Sya’bani, seperti diceritakan oleh ibunya, mulai menulis. Seperti yang diceritakan oleh ibunda Muti, demikian panggilannya, Muti bisa membaca di usia 5 tahun. “Sejak usia 1 tahun, saya membelikannya buku-buku. Saya membacakan buku hampir setiap hari. Terkadang juga mendongeng tanpa buku. Ketika Muti masuk SD, Muti mulai berlangganan majalah Bobo,” tutur ibu Muti.

Karya Muti
Sekarang, Muti yang duduk di kelas 5 SD sudah menghasilkan 27 buku, terdiri dari 5 buku solo dan 22 buku komik antologi, yang terbit dalam kurun waktu 2 tahun. Masya Allah, hebat ya!
“Awalnya, waktu ke toko buku, Muti bilang, mau punya buku yang tertulis namanya di sampul depan. Sampai rumah, dia tunjukkan hasil tulisannya. Saya membantunya mengetik tulisannya tanpa mengubah isinya. Sebelumnya, saya sortir dan tanyakan dulu pada Muti, jika ada tulisan yang mirip atau mengikuti tulisan yang sudah pernah terbit, kami buang tulisan itu,” tambah ibu Muti.
Ibu Muti adalah sosok yang berperan besar pada keberhasilan Muti menelurkan karya. Lihat, bagaimana melejitnya potensi Muti dengan dukungan kedua orangtuanya.

Peran Sekolah Mendidik Anak di Bidang Literasi
Selain keluarga, untuk anak-anak yang bersekolah, sekolah dan guru punya peran besar mengenalkan mereka kebiasaan membaca, mendongeng dan menulis. Di sekolah tempat saya mengajar Ekskul Menulis, ada beberapa program literasi yang dijalankan secara serius dan kontinyu, seperti Book Week, yang diisi dengan banyak kegiatan bekerjasama dengan orangtua dan pihak lain seperti penulis dan penerbit.

Apa saja yang bisa dilakukan sekolah di bidang literasi? Di bawah ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh sekolah.

Menggagas program-program literasi
Ada banyak program literasi yang bisa dilakukan di sekolah seperti:
  • Festival buku, dimana murid-murid bisa melihat pameran buku atau mendengarkan talkshow dengan narasumber orang-orang yang berkarya di bidang literasi misalnya penulis, illustrator, editor dan lain-lain.
  • Lomba menulis cerita, yang diikuti murid-murid.
  • One day one book atau one week one book, merupakan kegiatan yang mengarahkan murid-murid pada kebiasan membaca. Setelah membaca buku, murid-murid diminta menulis ringkasan atau intisari buku dan membagikan isi bukunya pada teman-temannya.
Salah satu acara di Book Week

Saya, ketika diminta mengisi Parents Day, berbagi tentang profesi penulis pada anak-anak

Adanya Ekskul Menulis untuk memfasilitasi potensi dan minat murid
Setiap sekolah punya kegiatan ektrakurikuler untuk mendukung potensi murid-muridnya. Tetapi tidak semua semua sekolah memiliki Ekskul Menulis. Di sekolah tempat saya mengajar, murid-murid yang mengikuti Ekskul Menulis ditugaskan menulis minimal sebuah tulisan yang akan dikumpulkan dan dicetak menjadi buku. Hingga sekarang Alhamdulillah sudah terbit 6 buku karya anak-anak Ekskul Menulis. Buku-buku tersebut dicetak oleh sekolah.

Belajar menulis cerita di Ekskul Menulis
Selain menerbitkan karya, Ekskul Menulis juga mengadakan kunjungan ke toko buku dan penerbit untuk mengajak peserta eskul melihat lebih dekat proses penerbitan buku sampai memasarkan. Sekali dalam satu semester, kami mengundang narasumber ke kelas. Kegiatan ini snagat ditunggu anak-anak. Saat itulah mereka bisa bertemu penulis, editor, tokoh-tokoh ahli di bidangnya (sesuai tema buku yang akan ditulis oleh peserta ekskul), wartawan, dan lain-lain.

Alhamdulillah, International Online Essay Competition mangantarkan saya dan murid-murid ke Penang

Mendorong para guru menambah ilmu di bidang literasi
Mau murid-muridnya memiliki kecerdasan literasi tentu harus mau mendorong guru-guru untuk ugrade ilmu juga, dong. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan yaitu mengadakan workshop menulis untuk guru, dimana para guru juga didorong menghasilkan karya. Sekolah juga bisa mengikutsertakan guru-gurunya dalam kegiatan literasi yang lain seperti talkshow tentang membacakan cerita dengan nyaring (read aloud), dan semacamnya. 

Menciptakan Budaya Literasi di Masyarakat
Saat berkunjung ke luar negeri, saya melihat tempat peminjaman buku yang unik. Lemari berisi buku di pinggir jalan, bisa diakses oleh siapa saja yang mau meminjam buku. Menurut saya, idenya keren. Kalau saja bisa dilakukan di Indonesia ya. 
Di sini, kita juga bisa melakukan banyak hal, lho. Kira-kira apa saja?

Workshop Menulis yang diadakan oleh komunitas literasi, hasil dari workshop ini berupa buku antologi
Menggagas Komunitas Baca Tulis
Di Depok, tempat saya tinggal, ada beberapa komunitas yang sering mengadakan kegiatan berkaitan dengan membaca dan menulis. Kegiatan mereka antara lain mendongeng dan belajar menulis cerita. Kadang-kadang juga diskusi tentang buku yang dibaca. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan anak-anak tetapi juga orangtua.

Menghidupkan Rumah Baca
Berapa banyak anak yang masih suka main ke Rumah Baca untuk membaca buku? Bagi sebagian orang yang sudah punya banyak koleksi buku di rumah, membaca di Rumah Baca mungkin bukan pilihan utama. Tetapi ada banyak anak yang masih setia membaca di Rumah Baca karena di sana ada teman-teman yang juga berkunjung. Rumah Baca bisa menjadi tempat bagi anak-anak untuk bersosialiasi, bermain, dan membaca.

Ada banyak cara bagi kita untuk berkontribusi positif dalam masyarakat. Kira-kira, apakah yang bisa kita lakukan. Yuk, silakan berbagi saran kegiatan yang asyik untuk anak-anak di bidang literasi.

#sahabatkeluarga
#literasikeluarga

24 comments :

  1. Bunda Fita, tulisannya memantik inspirasi dan motivasi untuk terus memastikan semua anak kita memiliki budaya literasi baca. salut bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jazakillah khoiron khatsiro atas supportnya untuk kegiatan kami, Bu.

      Delete
  2. Terima kasih sudah berbagi tips-nya ya Mbak Fita

    ReplyDelete
  3. Setuju mbak. Children see, children do. Kalau mau anaknya suka baca, orang tuanya dulu yang senang baca. Cuma nggak enaknya, jadi saingan pas belanja di toko buku. 😁😁 #kekepindompet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bener banget. Saingan berat di toko buku.

      Delete
  4. Assalamualaikum bunda Fita, terima kasih sudah menginspirasi. Memang saya ini bukan pecinta buku apalagi baca, tapi alhamdulillah anak-anak minat bacanya sangat kuat. Saya hanya bisa memfasilitasi, jika ada workshop saya ikutkan, sebulan sekali pasti wajib ke toko buku. Lama kelamaan saya juga tertarik dengan bahan bacaan mereka, yang berakhir dengan diskusi. Ternyata diskusi sebuah buku ini meningkatkan bonding saya dengan anak :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam, Bu. Alhamdulillah, anak-anak disupport banget ya.

      Delete
  5. Masya Allah. Tulisan yang bernas dan inspiratif sekali, Bunda Fita. Semoga anak-anak Indonesia lebih gemar membaca dan menulis ketimbang bermain gadget. Semua itu bisa terwujud jika ada sinergi yang baik antara anak, orang tua, sekolah dan lingkungan. Sukses selalu, Bunda Fita. Salam literasi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam, Bunda Muti. Sukses ya buat MUti. Mudah-mudahan bukunya terus bertambah dan bermanfaat untuk pembaca.

      Delete
  6. Jazaakillah bunda Fita, menggali dan melejitkan minat dan bakat serta potensi siswa SDIT Darul Abidin, siswa menghasilkan karya-karya terbaiknya. Sehat dan sukses selalu ya bunda

    ReplyDelete
  7. Semoga menambah minat baca anak2 & generasi muda serta membantu memperkaya literasi di kalangan anak sekolah khususnya & Indonesia umumnya.

    Salam Literasi,
    ST Agung Sujatmoko
    Penulis Buku :
    "Sehat Dan Sukses Dg HIV" (2015)
    "Kembali Kodrati" (2016)
    "Catatan Praktis Pebisnis" (2018)

    ReplyDelete
  8. Saya suka baca. Sewaktu kecil, Dulu kalo mau bacaan menarik, saya selalu pinjam saja ke teman atau tetangga yang punya majalah atau koran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya. Saya juga dulu waktu kecil baca Bobo dan koran :D

      Delete
  9. Semangat terus tante fita untuk anak2 kita supaya merek suka membaca... muaacchhh

    ReplyDelete
  10. keep sharing and inspiring mbak.. :)

    ReplyDelete
  11. Fita keren ih. Kegiatan literasinya banyak dan sudah ditularkan pada orang banyak lewat peofesi guru ekskul menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah tabarakallah, terima kasih atas supportnya Mbak Ade :)

      Delete
  12. Alhamdulillah, senang rasanya kalau banyak pegiat literasi yang kompeten di bidangnya, jadi apa yang dibagi benar.

    ReplyDelete
  13. Setuju. Semua dimulai dari keluarga

    ReplyDelete