Thursday, March 27, 2014

[Rainy's Days] Prolog


Rainy's Days, Pemenang 1 Lomba Menulis Novel Bluestroberi Penerbit Ice Cube

Gadis itu duduk pada ayunan bertali yang dililiti tanaman rambat. Tubuhnya bergoyang pelan. Kepalanya terkulai lemas seperti boneka yang patah leher. Dan, matanya kehilangan sinar.

Berhari-hari sudah peristiwa buruk itu terjadi pada lelaki yang disayanginya. Namun, dia masih mengingat betul semuanya. Terlalu banyak kata “seandainya” muncul di otaknya. Pada akhirnya dia tahu, itu tak akan mengubah apapun.

Tanpa bisa dicegah sebuah kenangan manis melintas. Saat bersama seorang lelaki di suatu senja. Waktu itu, mereka berdua berada di tempat tersebut bersama wangi bunga-bunga. Hanya beberapa menit, namun waktu seakan berhenti seketika.

“Hujan itu tak berarti sedih, Rainy,” kata sang lelaki.

“Meski hujan selalu datang di saat-saat buruk?” tanyanya serupa bocah yang menuntut penjelasan. Dia tak pernah punya kenangan menyenangkan di saat hujan.

Sang lelaki mendorong ayunan yang didudukinya lebih keras, membuat rambut tipis Rainy tertiup angin.

“Hujan akan berlalu. Dan saat itulah, kamu akan melihat pelangi. Tanpa hujan, pelangi tak kan muncul. Hujan tak seburuk yang kaubayangkan. Kamu tahu, ada satu lagi yang kusuka dari hujan.”

“Apa?”

“Bau tanah usai hujan. Harum dan segar.”

Sang gadis memejamkan mata, ayunan itu membuat tubuhnya bergerak naik turun. Dia menyukai sensasinya. Menyenangkan sekali berada di ayunan. Saat meluncur turun, rasanya jantungnya ikut jatuh. Saat naik, rasanya seperti terbang.

“Berjanjilah untuk tersenyum, Rain,” kata sang lelaki ketika ayunan melambat geraknya. “Berjanjilah untukku.”

Tepat ketika ayunan berhenti dan gadis itu membuka mata, sang lelaki berjongkok di hadapannya, di antara bunga-bunga. Gadis itu tersenyum. Wajahnya bersemu merah.

Titik-titik hujan tiba-tiba turun membasahi bumi, membuyarkan lamunan sang gadis. Matanya menghangat seketika mengingat ucapan lembut lelaki yang kini tergolek lemah tanpa daya itu. Namun, dia tak juga beranjak menghalau titik-titik hujan dari rambutnya. Untuk kali ini saja, dia ingin larut dalam hujan.

Lalu, hujan pun menyembunyikan air matanya yang ikut turun bersamaan dengan titik-titik air.[Fita Chakra]


Penasaran gimana kelanjutannya? Yuk, dibeli!

Oya, kalau teman-teman ingin datang kenal lebih dekat dengan Seri Bluestroberi dan para penulisnya, silakan hadir di acara berikut ini:

Be there!

11 comments :

  1. Paragraf awal bikin mupeng baca Fita... pesen dong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Wati, boleh. Inbox alamat ke aku ya :)

      Delete
  2. ciiiee romantis ya kata2 nya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha *tutup muka, aslinya gak romantis lho :)

      Delete
  3. “Hujan itu tak berarti sedih, Rainy,” kata sang lelaki.

    Iya hujan itu juga kegembiraan bagiku...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga senang hujan, asal nggak bikin banjir :))

      Delete
  4. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete