“Ini sekolahku, Bu?”
aku menatap Ibu, tak percaya.
Ibu mengangguk mantap.
“Benar. Sekolah ini
sekolah terbaik,” jawab Ibu.
Bangunan sekolah itu
retak-retak di segala sudut. Lantainya bahkan beralaskan bergelombang tak rata.
Ruang kelasnya gelap, kotor lantainya oleh tanah becek yang terbawa kaki-kaki
kecil para murid, dan bangkunya yang memanjang sebagian besar berisi tiga orang
murid yang duduk berdesakan. Bagaimana mungkin ini sekolah terbaik?
“Ibu harap kamu senang
sekolah di sini,” kata Ibu lembut namun tegas, membuatku tak kuasa berkata yang
sebenarnya.
Ketika lonceng
berbunyi, murid-murid seolah dimuntahkan keluar dari ruang kelas mereka. Ada
seorang gadis yang nampak menarik perhatianku. Bukan karena dia terlihat lebih
rapi atau cantik. Tapi karena dia nampak aneh.

