Friday, January 29, 2021

Kado untuk Ibu


Lima belas jam lagi.

Lima belas jam menjelang pergantian hari, dan aku belum menemukan kado yang tepat untuk Ibu. Seharian aku resah. Aku ingin sesuatu yang istimewa untuk Ibu. Aku bertanya pada kakak-kakakku, mencari tahu apa yang mereka berikan untuk Ibu di hari ulang tahunnya besok. Kupikir, jawaban mereka bisa membuatku mendapatkan ide. Sayangnya, tidak demikian. Aku justru makin gundah, seperti besok akan menghadapi ulangan sedangkan aku belum belajar.


Mas Arya bilang akan memberi mesin jahit, untuk menggantikan mesin jahit Ibu. Mesin jahit itu hanya perlu tangan untuk menjalankan, tidak seperti mesin jahit kuno yang perlu gerakan kaki. Aku yakin Ibu akan menyukainya. Ibu suka menjahit. Mesin jahit itu akan memudahkan kaki-kaki rentanya, yang mudah lelah ketika menjahit terlalu lama.


Lalu Mbak Wening sudah menyiapkan kado istimewa untuk Ibu. Sebuah cincin mungil yang cantik. Cocok untuk Ibu yang sederhana, berpenampilan simpel, dan trengginas*


Ibu memang tidak pernah mengharapkan kado apapun dari anak-anaknya. Tahun-tahun sebelumnya, aku pun tidak pernah memberi kado. Tapi kali ini berbeda. Bulan ini aku mendapatkan gaji pertamaku. Aku ingin memberikan sesuatu untuk Ibu dari hasil kerjaku sendiri.


Jarum jam bergerak selambat siput yang berjalan. Begitulah yang kurasakan saat menunggu waktu pulang kerja tiba.  Ada yang merisak hati sebelum aku menemukan kado untuk Ibu. Aku tak sabar ingin segera pergi begitu jarum tepat di angka 4. Waktu semakin sempit. Sedangkan, aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan kado untuk Ibu nanti saat pergantian hari.


Delapan jam lagi.

Ketika langit mulai lindap, aku bergegas pergi. Aku belum tahu akan membeli apa. Namun aku berharap nanti aku bisa mendapatkan ide yang bagus. Aku berpikir keras melihat barang-barang yang dijual di sana. 


Setelah berkeliling selama beberapa jam, akhirnya aku mendapatkan barang yang kuinginkan. Hatiku senang, langkahku ringan. Aku membayangkan senyum Ibu saat menerimanya. Bukan hadiah yang mahal. Namun aku yakin Ibu membutuhkan dan menyukainya.


Lima jam lagi.

Pukul 7 malam, akhirnya tiba di rumah. Sampai di rumah, aku langsung membungkus rapi kado itu. Kami makan malam bersama setelahnya. Ibu tampak baik-baik saja. Kami sempat ngobrol sebentar. Selepas shalat Isya, kami masuk ke kamar masing-masing. 


Aku berbaring, walau tak yakin bisa mengejam mata. Sambil menunggu, aku malah sibuk mendengarkan derak dahan yang jatuh di keheningan malam. Suara berkertak di luar kamar mengingatkanku pada suatu peristiwa, betapa bandelnya aku saat kecil hingga tak menghiraukan larangan Ibu untuk naik ke pohon. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri membayangkan saat itu. Tentu saja aku kapok melanggar larangan Ibu setelah jatuh dan merasakan sendiri akibatnya.


Tengah malam tiba.

Aku buru-buru merapikan diri, lalu menuju kamar Ibu.


“Bu… Ibu,” kataku sambil mengetuk pintu. Ibu tak pernah mengunci pintu. Aku masuk perlahan. Ruangan itu temaram. Aku mengerjapkan mata, beradaptasi dengan minimnya sinar.


“Bu, ini Raras,” bisikku sambil memegang tangan Ibu. Ibu diam saja. Mungkin Ibu lelah, pikirku. Biasanya Ibu mudah terbangun.


“Bu, selamat ulang tahun ya. Raras punya sesuatu utuk Ibu. Bangun, Bu,” kataku dengan suara lebih keras. 


Ibu masih diam saja. Kuguncang tubuh Ibu lebih keras. Ah, kenapa Ibu susah sekali bangun? Aku menyalakan lampu. Wajah Ibu tampak tenang. Bibirnya tersenyum. 


“Bu…,” panggilku sambil mendekat lagi. Aku baru tersadar, tangan Ibu dingin. Aku tercekat, cemas datang tanpa bisa kucegah. 


“Bu! Bangun!” seruku sambil mengguncang-guncangkan tubuh. Ibu masih bergeming. Rasa khawatir menyergapku. Bagaimana kalau….

                  

“Ada apa, Ras?” tiba-tiba Mbak Wening masuk, disusul Mas Arya. Wajah mereka tampak khawatir.

                  

“Ibu… Ibu, Mbak…,” kataku terbata, tak kuasa berkata-kata.

 

Mas Arya dengan sigap mengecek Ibu. Lalu memandang padaku dan Mbak Wening. “Innalillahi wa innailahi rojiun. Ibu sudah kapundhut**…,” katanya lirih.


Mas Arya menelepon anak-anak Ibu yang lain, mereka yang kuanggap kakak-kakakku. Mbak Wening menyiapkan pemakaman Ibu. Dia melakukannya dalam hening. Sekarang, hanya kami bertiga yang tinggal bersama Ibu.


Ya, anak Ibu banyak. Kami semua anak yatim piatu, yang diselamatkan Ibu dari banyak tempat. Ada yang sengaja dititipkan pada Ibu karena orangtuanya tak mampu. Ada yang ditinggalkan di rumah sakit tempat Ibu bekerja. Ada yang sepertiku… ditinggalkan begitu saja di semak-semak. Ibu tidak punya anak kandung, tapi dia merawat anak-anak orang lain dengan kasih sayang seperti orangtua kandung.


Kakiku mendadak lemas. Lunglai. Aku hanya berdiri diam, sementara kakak-kakakku sibuk. Adegan demi adegan berputar di benakku bagai film yang diputar ulang. Ibu yang membujukku supaya mau makan waktu aku kecil. Ibu mengantarkanku sekolah sebelum bekerja. Ibu yang mencariku kemana-mana saat aku tahu bahwa aku bukan anak kandungnya dan bertekad ingin mencari Ibu kandungku. Saat menemukanku, Ibu memelukku erat-erat. Rasa hangat menyelinap di hatiku seketika. Sejak itu, aku yakin tak ada wanita lain yang pantas kusebut Ibu selain dia. 


Tiba-tiba, air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Tak ada tengara kepergian Ibu hari ini. Kado yang sedari tadi aku pegang, terlepas jatuh di lantai, boksnya terbuka. Selembar sajadah baru, sebagai pengganti sajadah Ibu yang usang. Ibu tak akan pernah memakainya. Tak ada yang menyangka hari ulang tahun Ibu adalah hari dimana Ibu akan kembali pada-Nya. 


*trengginas=lincah dan terampil

**kapundhut=meninggal


5 comments :

  1. Sedih �� tapi bagus cerpennya, Fit

    ReplyDelete
  2. Mengandung bawang, hiks. Bagus, Fit.

    ReplyDelete
  3. Yaa Allaah.. ikut berlinang bacanya :')
    Sukses terus buuuu! 👍🏻👍🏻👍🏻

    ReplyDelete