Monday, January 29, 2018

Suasana Romantis di Praha

Bismillahirohmanirrohim.

Tiba-tiba teringat kenangan beberapa waktu lalu saat diberi rizki oleh-Nya untuk berjalan-jalan ke Praha. Awalnya, kota ini tidak ada dalam rencana. Tetapi, mendekati hari H keberangkatan kami sekeluarga ke Jerman, adik saya mengabarkan bahwa dia mesti menghadiri sebuah konferensi di Praha di saat kami tiba di sana. Mumpung dia di sana, kami ikut juga.

Kota Praha, menarik perhatian saya ketika tak sengaja membuka tayangan cuplikan film berjudul Surat dari Praha. Kotanya yang indah, dengan ciri khas bangunan tua Eropa. Semakin mendekati hari keberangkatan, semakin saya tak sabar melihat Praha dengan mata kepala saya sendiri. Saya selalu suka melihat tempat yang baru.

Perjalanan kami sekeluarga ke Praha berawal dari Linz. Kami naik kereta ke Praha. Tiba di sana, kami disambut gerimis. Untungnya, anak-anak masih bersemangat berjalan kaki. Kami menunggu trem di halte dan naik trem dari stasiun, menuju penginapan. Sengaja, kami menyewa apartemen dengan tiga kamar, mengingat kami seluruhnya 11 orang. Suasana kota saat itu, tak terlalu ramai, seperti yang telah kami lihat di kota-kota lain sebelumnya. Bedanya, Praha lebih menyerupai kota yang tua, tidak tampak sibuk seperti kota modern.


Sepanjang hari sampai keesokan harinya rupanya hujan masih betah menyapa. Akhirnya seharian itu kami tak keluar penginapan. Apalagi suhunya dingin banget. Keesokan harinya menjelang sore, barulah kami berjalan-jalan. Tak lupa membawa berbagai macam perlengkapan, mulai dari jas hujan, payung, jaket, dan syal. Cuaca tak bisa ditebak. Seketika hujan, seketika terang. Namun angin berhembus cukup dingin, sehingga kami terpaksa membungkus diri dengan pakaian tebal.



Tujuan kami hari itu pergi ke pusat keramaian seperti para turis pada umumnya. Kami naik trem, turun di sekitar Charles Bridge, berjalan menyusuri sungai, lalu karena lapar (dan kedinginan tentunya), kami mencari jajanan. Kami pun masuk ke lorong dimana di daerah tersebut banyak kafe dan restoran berderet. Sementara Bapak membeli souvenir, saya dan anak-anak beli kue dan cokelat hangat. Kue khas yang banyak kamu temui bernama trdlenik (entah bagaimana bacanya hahaha). Bentuknya seperti gelang, ditaburi gula pasir, dan di dalamnya bisa diisi krim sesuai yang kita inginkan, misalnya cokelat atau vanila. Makan satu saja sudah cukup kenyang, karena ukurannya yang besar.

Selain makanan, di sepanjang jalan tersebut, banyak pula penjual souvenir, seperti gantungan kunci, pena, hiasan meja dan sebagainya. Keponakan saya sempat menangis karena minta permen dan tidak dibelikan oleh adik saya. Pasalnya, permen itu adalah permen yang tak biasa, bisa membuat seseorang berhalusinasi. 

Menjelang malam, perut kami mulai keroncongan. Akhirnya kami mampir ke sebuah restoran yang menyediakan makanan Jawa. Nama restorannya Javanka. Menu yang disediakan antara lain, pecel, sup, lodeh, opor, dan berbagai wedang. Enakkah rasanya? Hehehe, tak seenak yang aslinya di sini sih. Tapi cukuplah mengobati kerinduan kamu akan masakan Indonesia. Yang lucunya, sempat terucap dari si Kakak, "Bun, pelayannya kayak Ed Sheran." Hahahaha.




Esok paginya, kami berjalan-jalan ke Old Town. Nah, karena saya penasaran banget sama yang namanya Astronomical Clock, maka tujuan pertama kami adalah tempat itu. Ternyata, di sana ... rameee banget. Mau foto di depannya pun susah. Akhirnya foto seadanya deh.

Jalan-jalan kami berakhir dengan keliling kota naik trem. Ada sebuah taman dengan piano di tengahnya. Orang-orang bisa memainkannya. Asyik ya. Kata orang, kota Praha itu romantis. Menurut saya, ini ada benarnya. Suasana hangat dan tenang, apalagi ditambah gerimis, membuat suasana makin romantis. [Fita Chakra]




No comments :

Post a Comment