Thursday, April 28, 2016

This is Us, Not Just Me and You

Salah satu hal menyenangkan yang saya dapatkan dari blog adalah ketika saya mendapatkan pelajaran berharga dari blog teman. Ketika beberapa waktu lalu saya berkunjung ke blog Mbak Reni (demikian saya biasa menyebutnya), ada satu postingan yang membuat saya menghela nafas berkali-kali. Postingan itu berisi cerita tentang pasangan suami istri yang keluarganya tidak harmonis hubungannya. Digambarkan dalam postingan itu bahwa sang suami (maaf) sangat egois. 

Terus terang saja, membaca postingan itu membuat saya gemas sekaligus kesal. Kalau memang mau semaunya sendiri (tidak mau ikut mengurusi anak maupun rumah tangga, malas-malasan, dan tidak bekerja), buat apa ya dia menikah? Kalau dia tidak punya penghasilan, at least berusahalah. Jujur saja, saya jadi mempertanyakan usahanya. Menurut saya, kalau kita berusaha sungguh-sungguh, Allah pasti memberikan jalan keluarnya. 

Baiklah, daripada kesal, saya sedikit beralih topik ya. Jarang-jarang saya menulis soal pernikahan dalam blog hehehe. Walaupun begitu, mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita sedikit tentang kami. Dari awal menikah, saya dan suami sepakati bahwa pernikahan adalah kami, bukan hanya saya dan dia. This is us, not just me and you. Alhamdulillah, tahun ini kami memasuki tahun ke-14 pernikahan dan banyak hal yang saya syukuri karenanya. Berikut ini beberapa di antaranya.


Mengerjakan Tugas Rumah Tangga Bersama-sama
Saya dan suami saling membantu mengerjakan tugas rumah tangga. Tidak ada pembagian yang jelas siapa mengerjakan apa. Tetapi, suami saya tidak keberatan menjemur pakaian, memasak, mencuci piring, dan menyiram tanaman. Untuk bersih-bersih rumah dan menyetrika, dia angkat tangan. Tetapi, bantuannya dalam hal lain sudah sangat melegakan saya. Kami sepakat untuk mempekerjakan orang khusus menyetrika di hari tertentu.

Mengasuh Anak-anak
Dari anak-anak bayi, kami bergantian memegang anak-anak. Suami saya lumayan luwes menggendong, menyuapi dan mengajak main anak-anak. Bahkan dia bisa menggantikan baju dan mengganti diapers. Sekarang, jika saya ada kegiatan di luar, suami saya pun mau mengajak anak-anak pergi ke toko buku atau taman sembari menunggu saya. Apa kata anak-anak saat bersama ayahnya? Seru, kata mereka hehehe. Ya, itu karena ayahnya memperbolehkan mereka main apa saja walaupun kotor. Sementara saya sudah jejeritan kalau lihat mereka kotor atau berantakan. 

Membagi Waktu
Kami punya kesepakatan soal waktu. Paling tidak ada, tiga waktu yang kami sepakati. Pertama, waktu untuk keluarga besar dan anak-anak. Kedua, waktu untuk pasangan. Ketiga, waktu untuk diri sendiri.
Waktu untuk keluarga besar dan anak-anak adalah waktu dimana kami sekeluarga bersama-sama. Yang sering kami lakukan misalnya, berenang, makan bersama keluarga (entah di rumah atau di luar rumah), mengunjungi kerabat, belanja bersama, dan seterusnya.
Waktu untuk pasangan adalah waktu kami bersama, tanpa anak-anak. Yang sering kami lakukan misalnya menonton film, makan malam berdua di restoran, pergi ke kondangan (karena anak-anak sudah nggak suka kami ajak ke kondangan), jalan kaki berdua di sekitar rumah, dan seterusnya. 


Waktu untuk diri sendiri adalah me time untuk saya maupun dia. Kalau saya, seringnya menghabiskan me time dengan pergi ke salon (paling-paling 2-3 bulan sekali baru terlaksana), pergi makan bersama teman, atau pergi ke toko buku sendiri.Sedangkan suami saya biasanya pergi bersepeda atau main futsal bersama teman-temannya.
Kenapa pembagian waktu ini penting buat kami? Karena diakui atau tidak, kami sering terjebak pada kesibukan yang rutin. Kalau itu dilakukan terus menerus dikhawatirkan akan menjadi masalah di kemudian hari. Saya sendiri paling cepat marah kalau harus menghadapi anak-anak terus menerus tanpa ada teman curhat. Apalagi dalam keadaan capek. Kalau sudah marah-marah, nanti nyesel jatuhnya. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan. Tapi sementara ini cukup segini dulu deh. Bagaimana dengan teman-teman? Apa yang kalian syukuri dari pernikahan? [Fita Chakra]

6 comments :

  1. Alhamdulillah banyak hal yang bisa disyukuri dari pernikahan kami. Paket lengkap deh mbak :)

    ReplyDelete
  2. alhamdulillah mba fita..tahun ini juga tahun ke-14 kami dan kok samaan yang yang saya syukuri dalam pernikahan dengan mba fita, bedanya buat ke salon jarang2 bgt setahun sekali or 2 kali saja, biasanya me time saya jalan2 sendiri window shopping, sedikit shopping dan makan di ITC ambass sendirian saja

    ReplyDelete
  3. Dia... yg ada dalam kisah yang kutuliskan di blogku akhirnya memilih untuk berpisah dari suaminya... mungkin sdh sedikit terlambat, apalagi pernikahan mereka sdh lebih dari 20 tahun, tapi itulah keputusan yg dirasakannya paling tepat saat ini.

    ReplyDelete
  4. Jadi sama-sama saling mengerti dan memahami serta memberikan tanggung jawab ya, Mbak. Pernikahan adalah kami semua, bukan aku, atau kamu saja

    ReplyDelete
  5. Beneer banget mbaaa... Aku dan suami juga berbagi semua. Kalau tidak, ngg sanggup menyelesaikan tanggung jawab untuk keluarga, 2 anak, kerja full time, no ART di negeri orang :)

    ReplyDelete
  6. Lika liku dinia pernikahan kaya gitu ya mbak....harus saling berbagi tugas agar tidak ada yang merasa lebih rendah atau lebih tinggi

    ReplyDelete