Friday, April 29, 2016

Ketika Ibu Nggak Bisa Masak Terpaksa Masak

Saya nggak bisa masak.



Iya, Ibu saya dulu nggak ngajari saya masak karena beliau juga nggak terlalu suka masak. Lalu siapa dong yang masak? Alhamdulillah, waktu masih tinggal bersama orangtua, selalu ada ART walaupun berganti-ganti. Mereka yang memasak untuk kami saat Ibu bekerja. Ketika ART tersebut pulang, biasanya Ibu mengajak saya memasak. Masaknya sederhana saja. Nggak pernah yang ribet. 

Setelah menikah dan tidak lagi tinggal bersama orangtua, saya pun mengikuti alur tersebut. Mempekerjakan ART, meminta mereka memasak untuk keluarga kami selalin bersih-bersih. Bisa dibilang saya lebih banyak memegang anak, sedangkan urusan rumah itu menjadi pekerjaan ART. Suami saya nggak pernah minta saya masak ini itu. Dia tahu pada dasarnya saya nggak suka masak. Tetapi, ketika saya memasak sesekali, dia mengapresiasinya dengan menghabiskan masakan saya. Walaupun saya yakin, rasanya pas-pasan hehehe.

Saya yakin sih, kalau saya mau belajar memasak, saya akan mahir masak. Masalahnya, hati saya nggak tergerak sedikitpun. Jujur saja, saya kurang suka memasak dengan beberapa alasan. Pertama, saya malas bersih-bersih dapur dan segala perkakas memasak setelah masak. Bagi saya, memasak membutuhkan effort. Ketika setelahnya masih harus beres-beres, itu sangat melelahkan. Jadi daripada saya uring-uringan melihat dapur yang kotor, lebih baik saya jaga mood saya dengan tidak memasak. 

Kedua, untuk memasak, saya perlu persiapan ekstra. Belanja, cari resep, mengupas, memotong, mengoreksi rasa dan sebagainya. Ketika itu bukan menjadi passion saya, rasanya berat melakukannya. Dulu sih, saya suka membandingkan memasak dengan menulis. Misalkan saya memasak selama dua jam, saya mengkonversikan waktu dua jam itu menjadi berapa halaman ketik yang bisa saya selesaikan hahaha. Akibatnya, saya merasa kok nggak produktif amat ya saya tinggalin nulis untuk masak? Belum tentu juga rasanya enak.

Ketiga, suami saya nggak pernah nuntut saya masak. Ini alasan terbesar saya susah move on. Suami saya mau makan apa saja dan tidak mempermasalahkan asal masakan itu. Dulu sebelum menikah sih dia pernah bilang bahwa saya harus bisa masak karena siapa tahu kami membutuhkannya kelak. Dengan alasan tersebut akhirnya saya belajar masak yang mudah-mudah seperti masak sop, sayur tumis, dan semacamnya. 

Dari tahun ke tahun, level kepandaian saya memasak begitu-begitu saja. Nggak sedikitpun hati saya tergerak belajar memasak. Puncaknya terjadi tahun lalu ketika ART saya resign. Bertahun-tahun selalu ada ART di rumah kami, bikin saya rada galau juga ketika harus mengalami ini. But, the show must go on. Nggak mungkin lah ya saya tahan-tahan ART yang sudah nggak mau kerja sama kami. Konsekuensinya, memasak menjadi tanggung jawab saya. Oke, untuk makan siang dan malam saya bisa pesan catering. Bagaimana dengan sarapan? Sarapan sih mudah. Anak-anak nggak harus makan nasi.

Masalah terjadi ketika anak-anak ternyata nggak terlalu suka masakan catering yang saya pesan. Terpaksa saya turun tangan. Tetap saja saya nggak mau sering-sering masak, jadi sesekali saja saya memasak. Itulah momen dimana saya terpaksa belajar memasak.

Beruntunglah ibu-ibu era digital sekarang ini punya akses internet. Saya belajar masak dari internet. Salah satu blog yang jadi rujukan saya adalah blog Mbak Lianny. Nah, karena sudah kenal, kalau ada yang ditanyakan, saya kontak saja lewat WA. Dia dengan senang hati menjelaskan. Untungnya Mbak Lianny ini sabar. Bikin saya nggak keder tanya-tanya. 

Blog Mbak Lianny yang menggiurkan :)

Apakah sekarang saya jadi mau masak? Belum bisa dibilang suka menurut saya. Kadang-kadang, saya masih terpaksa memasak. Tetapi, yang kadang-kadang itu bikin saya senang karena ternyata anak-anak memujinya setinggi langit. Setiap kali mereka saya bawakan bekal, mereka memeluk, mencium, dan mengatakan dengan bangga bahwa mereka bawa bekal masakan saya. So sweet

Ya, anak-anak memang kekuatan luar biasa untuk saya. Ternyata merekalah alasan terbesar saya untuk memasak. Dan sekarang, alhamdulillah, level memasak saya sudah bisa naik sedikit dibanding sebelumnya, walaupun tetap belum bisa dikatakan level mahir (saya akui, saya masih baru dalam tahap mau belajar, masak belum menjadi passion saya). See? Ternyata ketika saya tidak punya pilihan, saya bisa melakukan sesuatu yang saya kira nggak bisa. Kuncinya hanya mau atau tidak.











17 comments :

  1. bener bgt mba..kuncinya mau atau tidak ya untuk memasak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kadang kita nggak bisa move on karena nggak mau, bukan karena nggak bisa.

      Delete
  2. Ternyata ketika saya tidak punya pilihan, saya bisa melakukan sesuatu yang saya kira nggak bisa. Kuncinya hanya mau atau tidak <-- suka kalimat iniiii.

    Nggak sempet masak, tinggal beli aja deh haha. Tapi memang, ada kebahagiaan tersendiri kalo kita sudah susah2 masak, suami dan anak-anak suka dg masakan kita, ya.

    Kalo aku , pinginnya nih belajar nulis sama Fita :)

    ReplyDelete
  3. mbak li sih udah pinter masaknya skr ya, rajin masak kue pula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bingung mau masak apa, melipir ke blognya hehehe.

      Delete
  4. Betul Mba, kuncinya adalah mau atau tidak kita melakukan sesuatu itu?

    ReplyDelete
  5. Nggak bisa masak tinggal beli aja deh hihihi. Tapi emang sih kalo kita sudah susah payah masak, meskipun masak yang sederhana, terus suami & anak2 suka masakan kita, bahagianya itu luar biasaaaa :)

    ReplyDelete
  6. Hehe tukeran tinggal disini sebentar wae yuk mbak Fit.. :) Aku pengen seminggu gak usah masak, tinggal beli di pojokan gang. Hehe. Aku ini juga judulnya terpaksa kok, cuman sekarang kalau ada tamu kok seneng cari cari resep,ribet sendiri di dapur. Btw, mungkin ada rencana mau beli dishwasher ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iyo, Dek, males banget cuci-cucinya. Kalau pakai dishwaser bersih nggak, Dek?

      Delete
  7. Sama Mbak, suamiku juga gak nuntut masak, tapi kalau beli terus kasihan juga pengeluaran membengkak, jadi mau gak mau masak seadanya,

    ReplyDelete
  8. aku malah doyaaaan banget masak. Karena doyan makan mungkin ya :)

    ReplyDelete
  9. Jadi inget meme yg tenggelamkan itu. Hoho, aku jg gk bs masak mba, tp cinta membuat kita mau melakukan banyak hal di luar batas kemampuan kita yaa

    ReplyDelete
  10. Hayuuuk mba Fita semangat memasak untuk keluarga, tenang aja ada makli yang siap membantu teman yang kerepotan memasak. Heheheh

    ReplyDelete
  11. Emang jadi ibu itu mau gak mau harus bisa banyak hal... apapun itu ^^

    ReplyDelete