Tuesday, February 23, 2016

Mengelola Barang Tak Terpakai di Rumah

Saya suka geregetan lihat rumah penuh barang tak terpakai. Barang tak terpakai yang saya maksud adalah pakaian bekas, sepatu bekas, botol kaca, kardus-kardus, kantong plastik, dan sebagainya. Pokoknya barang-barang yang sudah jarang sekali kami pegang (atau bahkan kami ingat).

Kenapa saya geregetan? Pertama, karena pada dasarnya saya suka melihat rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Kedua, menurut saya, daripada barang-barang tersebut nggak terpakai akan lebih baik kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Ketiga, saya tidak mau rumah kami penuh dengan barang. Pinginnya sih, mulai belajar hidup simpel.

Jadi, apa yang saya lakukan untuk mengatasi masalah ini? Saya memilah barang tak terpakai di rumah menjadi beberapa bagian untuk mempermudah menyalurkannya.

Pakaian, Sepatu, Tas, dan Mainan Bekas
Saya menyortir lemari secara berkala. Sekitar 3-6 bulan sekali. Saya lakukan bertahap. Misalnya lemari saya dan suami dulu, setelah itu baru lemari anak-anak, dan seterusnya. Dari penyortiran tersebut, saya mendapatkan banyak barang bekas. Saya taruh dalam gudang. Ketika ada kesempatan, saya tawarkan pada orang lain, seperti si Mbak yang menyetrika di rumah saya, satpam kompleks, atau tukang parkir di tempat les anak saya. Menyenangkan sekali ketika melihat balok-balok mainan anak-anak saya yang sudah tidak lagi mereka mainkan saat usia mereka semakin besar, menjadi lebih berguna untuk orang lain.
Setelah mereka memilih, sisanya saya sumbangkan untuk kegiatan ramadhan di kompleks dan di sekolah anak-anak. Menjelang ramadhan biasanya mereka membuat event bazaar barang murah. Hasil penjualannya dikumpulkan untuk kegiatan amal lainnya.

Kardus, Botol Kaca, Besi, dan Barang Plastik
Ember rusak, plastik bekas kemasan sabun pencuci piring, botol-botol kaca bekas kecap dan sirup, barang-barang elektronik yang rusak, dan semacamnya, saya kumpulkan. Kardus, botol dan plastik sudah dibersihkan. Seminggu sekali, di kompleks perumahan kami ada Infak Sampah. Setiap Senin, ibu-ibu aktivis Infak Sampah ini menyortir sampah. Syukurlah, mereka mau ngambil di rumah saya. Jadi, setiap Senin, saya tarus sampah yang mau diinfakkan di teras. 
Hasil penjualan Infak Sampah ini, digunakan untuk kegiatan masjid dan kegiatan muslimah di kompleks kami. Terus terang, saya senang sekali dengan program ini. Setelah rajin memilah sampah, saya jadi tahu bahwa sampah dari rumah kami saja dalam seminggu bisa terkumpul dalam dua kardus besar. Bayangkan kalau sekompleks, sampahnya seberapa?

Kantong Plastik
Suatu kali, pernah saya bertanya pada ibu pengurus Infak Sampah, apakah mereka menerima kantong plastik bekas? Ternyata nggak. Itu karena kantong plastik bekas tidak bisa dijual. Kebetulan, di rumah, saya punya banyak kantong plastik ukuran kecil terutama. Heran juga ya, ternyata masih banyak saja plastiknya. Padahal saya termasuk jarang minta kantong plastik saat belanja. Sudah beberapa bulan lalu saya mulai berbelanja memakai kantong kain yang saya bawa sendiri. Sedangkan untuk belanja bulanan, saya biasanya minta kardus bekas.
Setelah saya ngobrol banyak dengan ibu-ibu kompleks, saya disarankan memberikan kantong plastik bekas pada penjual sayur keliling. Solusi lainnya, saya berikan kantong plastik bekas pada sekolah anak-anak saya. Kebetulan, mereka memang kadang-kadang membuat prakarya dari barang bekas. 

Nah, itu tadi cara saya mengelola barang-barang tak terpakai di rumah. Bagaimana dengan teman-teman?



14 comments :

  1. kalau belanja di warung sebelah aku gak pakai plastik soalnya kebanyakan males bersinnya

    ReplyDelete
  2. klo plastik, sementara ini msh saya simpan sendiri mba... utk wadah sampah...

    ReplyDelete
  3. Ya Allah, aku pengin banget disini ada infak sampah. Rumahku penuh pernak pernik tak berguna, sampai bingung & capek mungutinnya.

    ReplyDelete
  4. kreatif banget ya perumahannya ada infaq sampah

    ReplyDelete
  5. cara yang bagus mbak memang harus dipilah untuk memudahkannya

    ReplyDelete
  6. Saya banyaknya sampah kertas-kertas Mak. Struk atm, struk belanja, struk warung makan. Belum lagi kalo pergi2an anak-anak bawain brosur-brosur. Ih, pantesan aja sampah kertas makin numpuk. hehe.

    ReplyDelete
  7. Tempatku udah tiga tahun ini tiap rumah ngumpulin sampah botol plastik, kardus, majalah atau koran di rumah kosong. Duitnya masuk bank sampah, buat piknik satu RT, seru jadinya.

    ReplyDelete
  8. Klao gw mending langsug buang, karna kejadian nya niat mau ngolah tapi ujung2 nya jadi rongsokan ngak kepake alesan males hahaha

    ReplyDelete
  9. Kantong plastik sebenernya berguna juga buat tempat sampahku. Jadi sampah2 kumasukin dulu ke kantong plastik baru kuletakkan di keranjang sampah.Soalnya suka diobrak-abrik kucing, jadinya sampah kececeran semua kalo nggak dimasukin plastik terlebih dulu.

    ReplyDelete
  10. kreatif bgt kompleksnya ada infak sampah mba..

    ReplyDelete
  11. Aku banget untuk melihat rumah rapi, tapi sekarang keknya belum saatnya, anak-anak masih kecil. Yang kulakukan dengan barang tidak terpakai ya gitu...ditumpuk dulu, kalau lama gak dikasih orang...dibuang..hiks

    ReplyDelete
  12. bagus nih caranya..mksh mb sharingnya

    ReplyDelete
  13. Waah pengen juga rapi2 ternyata banyak barang yang enggan terpakai nih. Idenya perlu dicontoh, thanks mbk

    ReplyDelete