Monday, February 22, 2016

Belajar Fokus

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah, saya terbiasa mengerjakan segala sesuatu secara multitasking. Mana yang ada di hadapan saya, itulah yang saya pegang duluan. Saya juga sering kemaruk dengan mengambil banyak pekerjaan di luar pekerjaan utama saya sebagai ibu, seperti mengajar, job review, dan menulis buku. Habisnya, tawaran menulis itu begitu menggiurkan untuk dilewatkan. Jangan-jangan begitu saya tolak, besok-besok nggak ada lagi kesempatannya. Ya, memang susah sih menolak pekerjaan yang disukai *pembelaan hehe.



Tetapi, lama kelamaan, saya merasa ada yang salah di sini. Ketika semua pekerjaan yang sudah saya catat dalam to-do-list hari itu beres, mestinya saya puas dong. Kenyataannya tidak demikian. Masih ada sesuatu yang harus saya revisi sesudahnya, masih ada hal yang belum sempurna di mata saya, dan masih ada penyesalan kenapa hasilnya “cuma begitu” di akhir hari.







Ternyata, saya pikir-pikir, pekerjaan multitasking membuat saya nggak bisa menikmati prosesnya. Saya begitu terburu-buru ingin mencoret to-do-list yang berderet supaya cepat selesai. Saya ingin pekerjaan itu cepat selesai sehingga tidak melakukannya sungguh-sungguh. Padahal, seharusnya saya bisa melakukan lebih dari itu. Di akhir hari, saya kelelahan.

Akhirnya saya berpikir, mungkin saya harus belajar fokus. Memang sih, ada konsekuensinya. Belajar fokus berarti saya harus lebih selektif menerima pekerjaan. Tetapi, saya akui, setelah berjalan beberapa saat, saya merasa lebih tenang dan tidak terburu-buru. Dan yang penting, saya merasa lebih puas dengan hasilnya.

Jadi apa saja yang saya lakukan?

Membuat Skala Prioritas
Saya membuat skala prioritas. Sering, jadwal yang saya buat bubar jalan karena saya mendapat ajakan mendadak dari teman-teman untuk makan siang bareng, ngobrol-ngobrol, atau terlalu lama membaca socmed. Sebisa mungkin, saya fokus pada hal yang akan saya kerjakan hari tersebut. Tetap saja, ada beberapa hal yang bisa mengalahkan skala prioritas saya, yaitu hal-hal yang saya anggap urgent. Misalnya, anak-anak sakit dan perlu dibawa ke dokter.

One by one
Dulu, saya bisa menerima banyak orderan dalam sebulan. Sekarang, saya membatasi diri dan belajar mengukur kemampuan. Kalau yang satu belum selesai saya kerjakan, saya menahan diri untuk tidak mengambil yang lainnya. Terutama jika effort saya untuk pekerjaan tersebut lumayan besar, misalnya mengedit dan menulis naskah buku. Kalaupun saya benar-benar tertarik dengan tawaran tersebut, saya bilang pada orang yang menawarkan, “Mbak, saya masih ada pekerjaan, estimasinya dua minggu lagi selesai. Kalau masih bisa menunggu, saya akan kerjakan setelah pekerjaan ini beres. Kalau tidak, Mbak bisa tawarkan pada penulis lain. Bagaimana?”
Ternyata, ini lebih melegakan buat saya. Rezeki nggak akan kemana. Alhamdulillah, beberapa kali pekerjaan tersebut masih berjodoh dengan saya. Kalau tidak, saya ikhlaskan saja.

Menentukan Fokus Hari Ini
Dulu, saya buat to-do-list berderet di hari-hari sibuk saya. Pekerjaan rumah tangga, mengajar, urusan anak-anak, urusan menulis, semua tumplek dalam satu hari tersebut. Saya campur adukkan pekerjaan di dalam dan di luar rumah. 
Sekarang, saya coba memilah pekerjaan di luar rumah dan pekerjaan di dalam rumah. Soalnya, kalau sudah kecapekan di jalan, saya males nulis. Ternyata lebih efektif. Di hari saya harus berangkat untuk berlatih yoga misalnya, sekalian saya atur jadwal kegiatan di luar rumah seperti belanja bulanan dan ke bank. Sedangkan di hari lain saya atur supaya saya bisa efektif di depan laptop sekitar 3-4 jam. Hasilnya lumayan, kalau fokus, ternyata setengah jam saya bisa dapat satu postingan sekitar 400-500 kata.

Menjauh dari Gangguan
Gangguan yang saya maksud bisa berupa godaan untuk membuka sosmed, grup WA, dan TV. Sebisa mungkin, saya matikan internet dan tidak membuka ponsel saat mengetik. Kalau sudah selesai baru saya buka internet, sekaligus untuk blogwalking. Untuk TV, saya jarang sekali menyalakannya karena mendengar suara TV sering membuat saya kehilangan fokus. 

Belajar Menerima Diri Sendiri
Saya belajar menerima kemampuan diri saya sendiri. Kalau merasa tak sanggup menerima pekerjaan, lepaskan. Demikian halnya dengan pekerjaan rumah. Kalau saya merasa hari ini cuma sanggup masak dan mencuci, sisanya saya lepaskan. Saya berusaha menurunkan standar kebersihan dan kerapian (susah sih buat saya, tetapi mau gimana lagi) supaya saya nggak emosi jiwa hanya karena melihat remah-remah makanan bertebaran di lantai, atau legging dilempar begitu saja oleh mereka. Belajar menerima kekurangan diri sendiri dan bersyukur, membuat saya lebih lega. [Fita Chakra]






12 comments :

  1. Znice sarannya mbak, kalau boleh kapan2 mau belajar ho to be editor dan penulis naskah ya mbak :)
    oh ya dulu pernah kirim msg fb tp blm ada kelanjutannya lagi nih mbak :)

    ReplyDelete
  2. Aku sering gak fokus Mba.. Kadang2 jadual nulisku amburadul.. Kadang2 mood-nya tinggi sekali ..kadang2 melempem..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku biasanya kalau kecapekan acara di luar rumah, nulisnya jadi berantakan Mbak. Sekarang rada ngerem, jaga kesehatan juga.

      Delete
  3. Thank you tipsnya. Belakangan ini pace-ku berantakan, prioritas kacau. Harus ditata lagi :)

    ReplyDelete
  4. bener multitasking kadang buat cape sendiri, sedikit2 mulai belajar menyelesaikan satu persatu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Lid. Capek pikiran jadinya ya.

      Delete
  5. setuju yg soal fokus itu... Saya sering ilang konsentrasi kalau ada acara atau kegiatan lain... Mesti punya catatan utk self reminder apa yg jadi prioritas utk dikerjakan

    ReplyDelete
  6. Makasih tipsnya mbak, kadang pengennya cepet selesai. Tapi malah hasilnya nggak maksimal.

    ReplyDelete
  7. Bener banget, Fita. Aku juga sering gitu, pengennya semua cepet diberesin, eh tahu-tahu jadi gampang capek. Harus pinter milih-milih sekarang, hehe

    ReplyDelete
  8. Kadang kita nya serakah dan ngak mau kalah, akhir nya ngak menerima kondisi diri sendiri

    ReplyDelete