Sunday, March 8, 2015

[Review] Mendidik Karakter dengan Karakter




Judul      : Mendidik Karakter dengan Karakter
Penulis    : Ida S. Widayanti
Penerbit : Arga Tilanta
Cetakan  : 1, Februari 2012


Have you seen my Childhood?
I'm searching for the world that I come from
'Cause I've been looking around
In the lost and found of my heart...
No one understands me

(Childhood-Michael Jackson)

Buku ini dibuka dengan penggalan lagu berjudul Childhood yang dinyanyikan oleh King of Pop alias Michael Jackson, yang ketika saya mencoba mendengar lagunya, saya bisa ikut merasakan kesedihannya. Berkaca dari Michael Jackson kita semua tahu bahwa masa kecil merupakan pondasi awal kehidupan manusia. Masa kecil Jacko yang habis untuk berlatih dan tampil membuatnya tak punya kesempatan bermain. Jacko yang mengaku tak pernah punya masa kecil yang bahagia ini, tumbuh menjadi sosok pencari kebahagiaan. Jacko membangun Neverland (sebuah taman bermain yang diimpikan), mengganti-ganti wajah dan melakukan apa saja yang disukai dengan uang yang diperoleh. Nyatanya, dia tetap merasa hampa. Itulah sebabnya dikatakan oleh penulis buku ini bahwa, kebahagiaan masa kecil tampaknya sepele, namun sungguh sangat penting (hal 8).

Selanjutnya, penulis menyajikan ilustrasi cerita pada setiap bab beserta pembahasannya. Saya akan ceritakan dan kutipkan beberapa cerita yang menarik perhatian saya. Pada cerita berjudul "Citra" penulis memberikan ilustrasi bagaimana lingkungan sekitar dan keluarga sangat memengaruhi pemikiran dan perilaku anak. Seorang ibu yang selalu membawa serta anaknya di salon untuk bekerja ternyata memberikan gambaran kuat tentang perempuan pada anak lelakinya. Tak heran, ketika dewasa, si anak cenderung memilih profesi yang dekat dengan wanita yaitu fashion designer. Sekilas tak ada yang salah dengan profesi ini. Bukankah wanita atau pria berhak menjadi fashion designer? Tunggu dulu... , rupanya si anak ini  merasa gelisah karena menyukai sesama jenis. Dia tahu bahwa hal ini berbeda, namun tak kuasa menghentikan perasaannya. Di dalam buku ini dikatakan, Ibu dan wanita dewasa di sekeliling anak pada masa kecil akan menjadi perwakilan dari (citra) wanita secara umum. (hal 35). Apabila ibu dan wanita dewasa di sekelilingnya tampak mulia dan terhormat di matanya, begitupun citra yang akan tercipta di pikiran si anak. Sebaliknya, jika ibu dan wanita dewasa di sekelilingnya memberikan citra yang negatif, kita akan paham apa yang dipikirkan anak.

Cerita lain yang tak kalah menarik berjudul "Anak dan Kegiatan Menulis". Seorang ibu terkejut ketika membaca tulisan anaknya yang berbunyi, "Bercanda itu tujuannya menyenangkan teman. jika kita bercanda lalu teman kita merasa tidak nyaman, itu berarti bukan bercanda." Tenryata, diam-diam, anak ini punya persepsi tentang bercanda berdasarkan pengalamannya. Sedangkan di tempat lain, seorang guru mengetahui anak didiknya sedang memiliki masalah saat melihat coret-coretan anak tersebut. Rupanya, ada hubungan yang erat antara anak dan kegiatan menulis. Kegiatan mencurahkan isi hati (self disclosure) dapat berpengaruh positif pada perasaan, pikiran, dan kesehatan tubuh dalam jangka panjang juga berpotensi melindungi tubuh dari kerusakan akibat stres yang tersimpan di dalam diri (hal 51). Saya senang mengetahui kegiatan menulis ini sangat bermanfaat. Sejujurnya, di kelas menulis yang saya bimbing, saya menemukan banyak sekali curahan hati anak-anak yang tergambar dari goresan tangannya. Misalnya, saya tahu seorang anak lelaki punya minat besar pada pesawat terbang ketika dia selalu menulis cerita tentang berbagai jenis pesawat; saya tahu si anak punya keluarga yang hangat dari caranya menceritakan ayah, ibu dan kakak-kakaknya; saya tahu si anak merasa disishkan karena kelahairan adiknya, juga melalui tulisan mereka. 

Bagaimana dengan bullying? Dalam cerita berjudul "Kasih Sayang dan Kelembutan" diceritakan bagaimana seorang sahabat bertanya pada Rasulullah mengapa induk anak merpati yang dimasukkan ke sakunya mau masuk ke dalam saku untuk memberi makan sedangkan ada risiko dia akan tertangkap. Rasullulah menjawab "Cinta induk merpati dengan segala risiko memberi makan agar anaknya selamat, masih jauh lebih besar cinta Allah pada manusia, makhluk terbaik ciptaan-Nya. Segala risiko ditanggung Allah pada manusia, maka segala pemberiannya adalah yang terbaik (hal 130). Oleh karenanya, semarah apapun, dengan alasan apapun orang tua seharusnya bisa memberi keteladanan pada anak tanpa kekerasan.

"Menolong Diri Sendiri, Menolong Dunia" adalah salah satu bab yang saya sukai. Ilustrasi cerita di dalam bab ini cukup menyentil saya. Diceritakan seorang Ibu menyuapi anaknya yang sudah duduk di SD sambil mengomel, "Sudah besar masih disuapi, pakai baju, pakai sepatu masih dibantu, mandi masih dimandikan. Kapan mau melakukannya sendiri?" Padahal, semabri mengomel, sang Ibu tetap menyuapinya. Ya, kapan bisa mandiri kalau kita, orangtua, selalu siap membantunya? Orangtua harus memberi kesempatan pada anak-anak untuk melakukan semuanya sendiri. Jangan terlalu mengkhawatirkannya karena anak-anak akan belajar dari proses. Saya kutip satu kalimat menarik di akhir cerita ini yang disampaikan oleh seorang guru, "Orangtua sering kali lebih bangga anak-anaknya menyelesaikan soal-soal rumit matematika daripada kemampuan dasar, seperti tali mengikat sepatu dan membereskan tempat tidur. Bagaimana ia akan menolong dunia jika menolong diri sendiri saja tak bisa?" (hal 100).

It takes a village to raise a child, begitu kata Hillary Clinton. Ya, walaupun tanggung jawab membesarkan anak yang terbesar ada pada orangtua, semua orang di sekitar anak tersebut ikut memengaruhi pikiran dan tindakannya. Karena itu, orangtua sebaiknya bekerjasama dengan guru, sekolah, tetangga, dan lingkungan sekitar agar anak tumbuh dalam lingkungan terbaik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah walaupun di sekolah orangtua menyerahkan anak-anak untuk menuntut ilmu. Anak-anak mendapatkan pelajaran pertamanya dari orangtua. Seberapa keras kerja guru di sekolah, orangtua adalah role model yang dilihat oleh anak-anak. Bagaimana orangtua bersikap dan berbicara akan menjadi tolok ukur bagi anak-anaknya. 

Sesungguhnya, buku ini tak cukup saya ulas dalam beberapa paragraf saja. Ada banyak hal yang membuat saya sebagai orangtua sekaligus guru, merasa tertohok. Misalnya, bab tentang pentingnya mendengarkan ketimbang menceramahi atau memberikan role model yang baik ketimbang menasihati. Membaca buku ini, membuat saya ingin membaca judul lain dalam seri ini. Saya berharap semua orang tua dan pendidik  membaca buku ini karena menanamkan karakter seharusnya memang dilakukan saat usia dini. 

Before you judge me,
try hard to love me,
Look within your heart then ask,
Have you seen my childhood?

(Childhood-Michael Jackson)

14 comments :

  1. Membaca review parenting book yang sangat detail ini tentunya akan memberikan inpirasi besar orang tua bijak dan penuh ketulusan dalam mendidik buah hatinya. TFS ya mbak Fitachakra it's worth banget :)

    ReplyDelete
  2. orang tua memang harus selalu belajar, belajar, dan belajar..dan anak-anak bisa jadi guru terbaik :)

    ReplyDelete
  3. Anak-anak belajar melalui modeling yaa. Percuma ngomong banyak kalau contoh yg ditunjukkan tdk sesuai. Jadi penasaran baca buku ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada tiga judul dari seri ini, Mak. Aku baru baca yang ini :)

      Delete
  4. kak seto pernah bilang bahwa seharusnya lingkungan anak-anak menjadi sahabat yang mendukung perkembangan karakter anak...y mbk

    sallam kenal dari Bali^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal balik, Mak :) Setuju sekali.

      Delete
  5. Aah terimakasih sharingnya mak. Harus terus belajar jadi role model yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak. Jadi orangtua harus siap belajar terus. :)

      Delete
  6. Anak bercermin pada orang tuanya dan memberi kesan sangat kuat ya mbak. contohnya aku sendiri. Ibu bapakku pedagang yg pergi fajar pulang sore. aku selalu sendirian di rumah. kalau malas sekolah ya bolos saja. tidak dicek lagi kok. ketika jadi ibu, aku lebih memilih menyimpan gelar pendidikanku dan berdagang di rumah. Kenapa? krn aku mengalami banyak bullying ketika sendirian di rumah, dan pelakunya adalah orang terdekatku atau tamu yg datang mencari bapakku

    ReplyDelete
  7. Iya bener banget, Mak. Kedua orangtuaku juga bekerja. Aku paham rasanya. Sedihnya baca cerita, Mak Susindra :(

    ReplyDelete
  8. kita nggak mengajar anak-anak, justru kita yang belajar banyak dari mereka ya fit...

    ReplyDelete