Thursday, July 24, 2014

Jika Aku Memakai Sepatumu

Katamu, "Gambarku bagus kan, Bun," sambil menunjukkan dinding bercoretkan krayon.
Kataku, "Aduh, jadi kotor deh dindingnya. Besok lagi, menggambar di kertas ya, Dek."
Esoknya ketika kamu menggambar di kertas dan menempelkannya di dinding, aku memberimu peraturan baru, "Menempel gambar hanya boleh di kamar masing-masing."

Katamu, "Bunda, kapan selesai kerjanya?"
Kataku, "Sebentar lagi. Main saja dulu." Kuminta kamu menunggu tanpa mengalihkan mataku dari huruf-huruf di layar monitor.
Saat aku selesai bekerja, kamu sudah tertidur karena tak kuasa menungguku.

Katamu, "Beneran aku sudah mandi dan gosok gigi. Aku nggak bohong."
Kataku, "Kalau sudah gosok gigi harusnya giginya sudah bersih. Gosok gigi, ya."
Sampai di kamar mandi, aku menemukan sikat gigi yang basah, pertanda usai digunakan.

Katamu, "Aku nggak mau sekolah. Temanku mengejekku. Katanya aku kecil."
Kataku, "Kakak harus berani. Ayo, sekolah."
Setelah kamu berangkat, aku menemukan kertas bertuliskan ketakutanmu pada temanmu itu karena dia tak hanya mengejek, tapi juga memaksamu membelikan makanan dan mengerjakan tugas.

Jika aku memakai sepatumu, aku akan paham kamu butuh dihargai. Bukan dikritik.
Jika aku memakai sepatumu, aku akan mengerti kamu ingin aku sungguh-sungguh menemanimu bermain. Bukan sekadar berada di sampingnya sementara pikiranku melayang pada pekerjaan.
Jika aku memakai sepatumu, aku akan belajar memercayaimu. Bukannya mencurigaimu terus.
Jika aku memakai sepatumu, aku akan mendengarkan dengan hati. Aku akan bicara dari hati ke hati untuk memahami ketakutanmu. Bukan hanya mengharuskanmu melakukan mauku.

Anakku, kurasa aku harus belajar banyak darimu.
Setiap saat.
Setiap waktu.
Sampai kelak kau dewasa, jika Dia memperkenankan dan memanjangkan usia kita.

Anakku, maafkan aku jika terlalu banyak meminta.
Terlalu banyak menyalahkan.
Terlalu banyak mengkritik.
Terlalu banyak mengabaikanmu untuk pekerjaan dan hal-hal lainnya.

Anakku, kuharap engkau tahu, aku tetap menyayangimu.
Terima kasih untuk kesedianmu menunggu.
Terima kasih untuk pelukan dan ciuman bertubi di pipiku.
Terima kasih untuk surat-surat mesramu.
Terima kasih untuk tetap mengatakan, "Aku sayang Bunda berjuta-juta kali! You're the best mom in the world," di saat aku merasa tak pantas menerimanya.

Peluk cium untuk kalian

Bunda.

Surat ini dibuat dalam rangka Hari Anak Nasional 2014.
Untuk anak-anak Indonesia, semoga selalu sehat dan bahagia.

24 comments :

  1. Mrembes mili, Mbak :'(
    Anak-anakmu luar biasa. Jadi pengen ketemu. Semoga pas mudik bisa ngobrol seru yaa :) *cium2krucils*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moga cocok waktunya ya, Taro. Aku juga pingin nangis jadinya :(

      Delete
    2. *peluk*

      Aamiin. Ntar kabar-kabaran yak, Mbak. Keisya operasi tanggal berapa? Semoga lancar yaaa :)

      Delete
    3. Awal Agustus, Tar. 2 atau 3. Aamiin. Nanti dikabari yak

      Delete
  2. wuaaaaaaa.... mengharukan. sebenernya anak2lah yang banyak mengerti kita ya mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mak Ade. Dari mereka justru aku belajar.

      Delete
    2. Bener mak Ade. Aku justru belajar dari mereka.

      Delete
  3. Dari anak-anak, kita belajar ya Mak Fit. Belajar segala hal termasuk belajar untuk mengerti diri kita sendiri

    ReplyDelete
  4. Baca komen mak ade.... justru anak2 yg banyak mengerti kita. Hiks. Bener banget, Mak. :(

    ReplyDelete
  5. Ho oh, kadang kita sebagai orang tua terlalu banyak menuntut kepada anak kita dengan dalih demi kebaikan mereka :)

    ReplyDelete
  6. Makkkk... mengharukan sekaliiii...
    Rasanya aku juga terlalu banyak menuntut, terlalu minta dimengerti, terlalu mengkritik

    ReplyDelete
  7. Mak Pit berpelukan yuk.... Ada 1 bagian yg menampar aku banget dan bikin mewek beneran.. Great share anyway :* Btw, Keisya mau operasi apa Mak Pit? Maaf ketinggalan beritanya nih. Semoga semuanya dilancarkan ya, Mak :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. *hug. Amandel, Mak Ges. Insya Allah awal Agustus di Semarang.

      Delete
  8. Tulisan Fita selalu inspiratif, ciri khas penulis keren :)
    Anak-anak adalah sekolah bagi orangtua untuk menjadi orangtua yang baik, katanya lho :D

    ReplyDelete
  9. Benar, orang tua semestinya mampu melihat dari kacamata anak. Mencari tahu "behind the scene" kenapa si kecil berlaku di luar kemauan orang tua. Jangan sampai otoritas sebagai orang tua menjadi senjata pendalih yg membuat kita kehilangan kepekaan dlm menjalin hubungan sepanjang hayat: orang tua-anak.

    Aku juga punya satu tulisan sederhana, Mbak. Karena masih single, isinya ya seperti ini heheheh

    http://aksaratri.blogspot.com/2014/04/jikalau-pelangi-tak-indah-lagi.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, benar. Makasih sudah mampir ya. Nanti aku mampir deh ke sana :)

      Delete
  10. Replies
    1. Mak Gurcil, mungkin tulisan ini mewakili isi hatiku, jadi aku pun membacanya pingin nangis :(

      Delete