Friday, June 28, 2013

[Resensi] The Timekeeper, Pelajaran Berharga Tentang Waktu


Judul                                   : The Timekeeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis                                : Mitch Albom
Alih Bahasa                        : Tanti Lesmana
Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                              : Oktober 2012
Jumlah Halaman                  : 312 halaman

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya. –Dor (halaman 288)

Masih dalam rangka menghapus “dosa” (karena saya sering menumpuk buku, menunggu punya waktu "menghabiskannya”), ini adalah salah satu buku yang saya baca. The Timekeeper saya beli atas saran seorang teman, Dyah Rini. Dan ternyata, saya puas membacanya. Banyak kalimat bermakna yang saya sukai di dalam buku ini hingga saya tak kuasa untuk tidak menandai quote-qoute keren itu.
Setelah membaca The Timekeeper, yakin deh, bakal tergoda membeli buku-buku karya Mitch Albom yang lainnya, yaitu Tuesday with Morrie, For One More Day, dan Five People You Meet in Heaven. Saya sedang membaca Tuesday with Morrie dan terkesima dengan pelajaran bermakna dari Morrie, guru Mitch.
Nah, ini sinopsis The Timekeeper. Happy reading!

Dor
Sejak kecil Dor menyukai Alli. Demikian juga sebaliknya, meski Alli tahu Dor punya kebiasaan yang berbeda. Dor suka menghitung segalanya.

Dia menandai batu-batu, menakik tongkat-tongkat, menyusun ranting-ranting, kerikil-kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya (halaman 22)

Dor dan Alli menikah. Sementara Nim, teman sepermainan mereka menjadi seorang raja. Dor dan Alli punya tiga anak. Sedangkan Nim membangun menara yang tinggi. Dor menghabiskan harinya bersama tulang dan kayu, mengamati bayangan matahari, dan memperkirakan waktu. Sedangkan Nim menyerbu desa-desa tetangga untuk merampas kekayaan mereka.
Suatu ketika, hidup Dor berubah untuk selamanya. Alli terkena penyakit yang tak diketahuinya dan meninggal. Dor berlari menuju menara yang dibangun Nim. Tujuannya satu, dia ingin menghentikan waktu. Namun Dor malah terkurung di dalam gua, dihukum karena telah lancang mengukur waktu. Dia harus tetap di sana sampai dia memahami konsekuensi mengukur momen.

“Bagaimana caranya?” tanya Dor.
“Dengan mendengarkan penderitaan yang ditimbulkannya.” (halaman 68)


Sarah Lemon
Di belahan bumi lainnya, Sarah Lemon punya masalah lain. Gadis yang tidak populer ini jatuh cinta. Sarah bisa saja cerdas dalam pelajaran, tetapi dia buta soal lelaki.  Hidupnya terasa berwarna ketika mengenal Ethan, cowok yang dikenalnya di tempatnya bekerja.

Kalau sedang bersamanya, Sarah ingin menit-menit berlalu lebih lambat, tetapi kalau sedang menunggu-nunggu bertemu dengannya, waktu berjalan terlalu lambat. (halaman 37)

Maka ketika suatu ketika Ethan mengajaknya bercanda, minum, dan mabuk, Sarah bingung.
Apakah dia telah bertindak benar, bertindak salah, atau salah bertindak dengan melakukan hal yang benar? (halaman 138)

Sarah ingin memberikan Ethan sebuah hadiah. Jam tangan yang bermakna, bertuliskan: “Waktu serasa terbang bersamamu.”
Di toko itulah, dia bertemu Dor, yang ditugaskan mencari seseorang yang menginginkan waktu berhenti dan seseorang lainnya yang menginginkan satu masa kehidupan lagi.


Victor Delamonte
Victor adalah pengusaha yang sedang sakit keras. Usianya 80 tahun. Dan dia dinyatakan sebaai orang terkaya keempat belas di dunia. Ketika dokter memberikan vonis bahwa usianya sebentar lagi berakhir, Victor menolaknya. Dia terbiasa berpikir, menemukan masalah, dan memecahkannya. Jadi, dia memilih mencari cara supaya bisa hidup lebih lama.
Krionika adalah jawabannya. Dengan memberikan sejumlah uang, Victor mendapatkan tempat berupa tabung untuk mengawetkan tubuhnya. Dia akan dibangkitkan kembali saat pengobatan sudah lebih maju. Victor merencanakannya dengan baik. Bahkan, istrinya pun tak tahu.
Sebelum mengabadikan tubuhnya, Victor pergi ke toko jam. Dia ingin membeli sebuah jam saku paling tua. Ketika penjaga toko mencarikannya, dia berkata:

“Yah, tapi jangan sampai makan waktu seumur hidup. Atau satu masa kehidupan lagi.” (halaman 160)

Begitulah, akhirnya Dor menemukan kedua orang yang dicari. Tapi cerita tak berhenti hanya di sini.
Sarah Lemon, hampir bunuh diri, ketika mendapati dirinya menjadi bahan ledekan Ethan. Di social media, Ethan mempermalukannya. Sarah putus asa dan malu.
Victor, sudah berangkat ke ruang krionika untuk membuat dirinya kekal.
Dor bertugas memberikan gambaran tentang apa yang terjadi jika Sarah meninggal dan jika Victor hidup lebih lama.
Sarah terkejut, mendapati hidup Ethan tetap berlanjut. Dia tak merasa kehilangan Sarah. Justru, ibunya yang tidak dipedulikan sangat kehilangan Sarah.  Jadi, apa gunanya dia mati?
Victor mendapati, hidup di masa depan bukanlah sesuatu yang enak. Dia dijadikan tontonan oleh orang-orang yang hidup bukan di masanya. Mereka menonton ingatan-ingatannya. Warisan yang ditinggalkan untuk istrinya tak berarti karena hukum sudah berubah seiring waktu. Jadi, apa gunanya dia hidup lebih lama?

“Kenapa?”
“Supaya ingat bagaimana caranya merasa.” (halaman 286)

Dor, Sarah, dan Victor sama-sama belajar mengenai waktu. Begitupun saya.

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”
“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.” (halaman 288)

3 comments :

  1. resensimu bagus banget seperti biasanya Fit :)
    aku jadi pengin belajar ngresensi biar bisa seperti ini

    ReplyDelete